Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Semakin penasaran


__ADS_3

Bapak tersebut masih berusaha untuk tenang, agar dirinya tidak lagi dalam ketegangan.


"Baik, saya akan segera turun. Saya minta, jangan rusak mobil saya." Ucap bapak paruh baya dengan tenang, seolah olah tidak memiliki kecemasan maupun ketakutan.


"Antarkan bapak ini kerumahnya, pastikan bukan seorang pengintai bayaran." Perintah Zayen kepada salah satu anak buahnya.


"Baik, Bos. Akan saya antarkan sampai didepan rumahnya, bahkan bila perlu sampai didalam rumahnya." Jawabnya, kemudian mempersilahkan laki laki paruh baya untuk segera masuk ke mobil.


Setelah anak buahnya pergi mengantarkan pulang laki laki paruh baya tersebut, kini Zayen dan Viko maupun yang lainnya memeriksa dalam mobil. Zayen yakin, bahwa didalam mobil masih ada seseorang yang mengumpat.


"Periksa didalam mobil ini, pastikan masih ada seseorang yang berada didalam." Perintah Zayen.


"Baik, Bos." jawabnya, kemudian segera memeriksanya.


Berkali kali memeriksa dalam mobil tidak menemukan adanya seseorang didalamnya.


"Tidak ada, Bos. Sepertinya sudah melarikan diri." Ucap salah satu anak buahnya. Tanpa pikir panjang, Zayen langsung tiarap. Dengan teliti, Zayen memeriksa dibawah mobil. Namun, tetap saja tidak ada seseorang bawah mobil tersebut.


"Sial!! kurang ajar! siapa yang berani beraninya mau menantangku. Lihat saja, aku pastikan akan temukan siapa pelakunya." Ucap Zayen dengan kesal, dirinya merasa masuk jebakan. Kedua tangannya pun mengepal, seraya ingin melayangkan tinjuannya kepada lawannya.


"Bos! bagaimana ini, barangnya sudah datang." Ucap Viko menunjukkan pesan yang masuk dari ponselnya.


"Kamu yang urus semuanya, Vik. Aku merasa kita masih dalam pengawasannya, lebih baik aku kembali pulang. Kamu urus barang yang datang, dan ditemani anak buah kamu cukup dua orang."


"Tapi, Bos. Jika aku yang diikuti bagaimana? bukankah aku dianggap remot kontrolnya Bos Zayen." Jawab Viko yang juga merasa cemas.


"Pakai dong ot*ak kamu, Vik. Kamu cukup mengintai anak buah kamu, dan kamu jangan satu mobil dengan anak buah kamu. Alihkan posisi kamu dengan sebaik mungkin, jangan gegabah untuk pindah posisi." Ucap Zayen mengingatkan.


"Ooh! baiklah, Bos. Kalau begitu, kita semua berpencar nih."

__ADS_1


"Iya, tapi jangan menunjukkan posisi kita masing masing. Buat mereka yang mengikuti kita terkecoh dengan posisi kita." Ucap Zayen terus memberi saran.


"Baik, Bos. Hati hati diperjalanan, Bos. Jawab Viko, kemudian dirinya segera melakukan aksinya untuk mengelabuhi orang orang yang tengah mengintainya.


Sedangkan Zayen terpaksa harus pulang, dirinya menggunakan mobil salah satu milik anak buahnya.


"Kamu, antar mobil ini kerumah bapak yang tadi. Biar aku yang membawa mobil kamu, sekarang cepatlah kamu antar mobil ini." Perintah Zayen ke salah satu anak buahnya.


"Siap, Bos." Jawabnya, kemudian segera mengantarkan mobil ke rumah bapak tersebut. Sedangkan Zayen sendiri langsung masuk kedalam mobil milik anak buahnya. Dengan kecepatan tinggi, Zayen melajukan mobilnya.


'Sebenarnya siapa yang sudah berani beraninya mengikutiku, apakah anak buah kak Seyn? aku rasa bukan. Aku paham taktik anak buah kak Seyn jika menyerang, lebih berani dan lebih arogan. Dan pastinya, pistol yang akan menjadi andalannya. Sedangkan tadi seakan akan sangat halus permainannya, bahkan pistol tidak dibutuhkannya. Membuatku penasaran saja, siapa dalangnya.' Batin Zayen yang terus berusaha menerka nerka.


Dengan kecepatannya yang tinggi, Zayen telah sampai didepan rumahnya. Diperiksanya didalam rumah, semua tidak ada perubahan. Bahkan masih terlihat rapi dan tidak ada pergeseran pot bunga maupun jejak kaki yang masuk ke pekarangan rumahnya.


'Kenapa bapak bapak tadi tidak aku tahan saja, dan aku jadikan tawanan. Aaah! bo*doh sekali aku, pasti bapak tersebut akan merasa senang jika aku tahan. Makan gratis, tidak bekerja. Eeeh! dapat gaji dari Bosnya, cih!! aku yang rugi. Tidak mudah untuk menghadapi permainan yang halus, dan kalau bisa akupun harus lebih halus dan lembut untuk menghadapi mereka.' Batinnya yang masih berdiri didepan pintu.


Dengan pelan, Zayen membuka kunci pintunya. Zayen melangkahkan kakinya berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, dan berusaha untuk tenang.


Karena merasa aman aman saja dan tidak ada yang mencurigakan, Zayen mematikan laptopnya. Setelah itu, segera mematikan lampu ruang tamu. Zayen yang merasa sangat lelah dan sangat mengantuk, dirinya segera masuk kedalam kamar.


Dilihatnya sangat istri yang sedang tidur pulas, serasa tidak tega untuk mengganggu tidurnya. Dengan pelan, Zayen mendekati istrinya. Kemudian, dengan lembut Zayen mencium kening dan berpindah ke pipi mulus milik sangat istri.


Afna yang merasakan sentuhan lembut, dirinya mencoba membuka kedua matanya. Dilihatnya sang suami yang sudah berada di dekatnya, Afna pun segera bangun dari posisi tidurnya. Afna memeluk suaminya dengan manja.


"Baru pulang ya, sayang. Kamu pasti sangat capek dan juga lelah pastinya, aku buatkan kamu minuman, ya." Ucap Afna menawarkan minum kepada suaminya.


"Tidak, aku tidak terbiasa. Aku hanya butuh kamu untuk menemani aku tidur, aku ingin istirahat. Badanku terasa sangat capek, itu saja." Jawabnya beralasan.


"Baiklah, aku ambilkan air hangat untuk mencuci kaki kamu." Ucap Afna yang kemudian beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air hangat.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku yang akan ke kamar mandi. Lebih baik kamu kembali ke posisi tidurmu, aku masih bisa melakukannya. Sekalian, aku mau mengganti pakaianku. Apa iya, aku memakai celana jeans untuk tidur." Jawabnya sedikit lesu.


"Baiklah, aku akan menunggumu." Ucap Afna berusaha untuk tersenyum, sedangkan Zayen langsung masuk ke kamar mandi dan segera mencuci muka dan mengganti pakaiannya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Zayen kembali ketempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya disamping sang istri.


"Besok aku akan pergi kerumah paman Alfan, apakah kamu mau ikut?"


"Benarkah?"


"Iya, bukankah aku sudah mengatakannya. Bahwa aku ingin membantu paman Alfan untuk mencari putranya yang hilang, siapa tahu saja aku dapat membantunya. Lagian besok aku tidak ada kesibukan, jadi tidak ada salahnya jika aku meluangkan waktuku untuk membantu paman Alfan." Jawab Zayen meyakinkan istrinya.


"Terimakasih, sayang. Kamu benar benar suami yang ter ter ter pokoknya." Ucap Afna tersenyum mengembang.


"Sudah, jangan ngobrol terus. Sini, aku peluk kamu. Kamu tahu? agar kita tidur pulas dan berharap mimpi kita sama." Jawabnya, Afna pun tersenyum mendengarnya. Kemudian, Zayen langsung memeluk istrinya dengan mesra. Sampai tidak terasa, keduanya terlelap dari tidurnya.


****


Pagi yang masih petang, kebiasan Zayen yang tidak pernah bangun kesiangan. Zayen selalu tepat waktu dalam membagi waktunya. Meski dirinya tidur lewat larut malam, Zayen tetap bangun dengan kebiasaannya.


"Sayang, ayo bangun. Aku sudah membuatkan kamu minuman jahe, agar tubuh kamu terasa hangat." Ucap Zayen membangunkan istrinya, Afna pun kaget.


"Kenapa kamu repot repot membuatkan aku minuman jahe sih, sayang. Aku kan bisa membuat sendiri, dan seharusnya aku yang membuatkan kamu minuman jahenya. Maafkan aku yang sudah merepotkan kamu, dan aku bangun terlambat."


"Tidak apa apa, lagian kamu telat bangun juga baru pagi ini. Apakah kamu kecapekan? kalau iya, biar aku pijat kamu nanti."


"Tidak, mungkin karena cuaca yang dingin. Jadi, membuat tubuhku terasa nyaman untuk tidur."


"Sudah, ayo bangun. Nanti kita terlambat ke rumah paman, bagaimana?"

__ADS_1


"Ah! iya, aku lupa." Jawabnya, kemudian segera bangkit dari posisi tidurnya.


__ADS_2