Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Merasa Hina


__ADS_3

Afna dan Zayen masih dalam perjalanan menuju kediaman orang tua Afna. Selama perjalanan, Afna hanya menikmati semilirnya angin menjelang sore. Sedangkan Zayen menambah kecepatan saat melajukan motornya, Afna sendiri masih pada posisinya yang sedang memeluk tubuh suaminya semakin erat sambil menyandarkan ke punggung suaminya.


Zayen tersenyum, tatkala sang istri memeluknya dengan erat. Begitu juga dengan Afna, semakin ketagihan menaiki motor bersama suaminya. Entah karena perasaannya yang mulai tumbuh atau karena dapat menikmati udara luar yang semilir, Afna lah yang mengetahui akan perasaannya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini Afna dan Zayen telah sampai di depan pintu gerbang. Afna sedikit jengkel, tidak ada satu orang pun yang mau membukakan pintu gerbangnya.


"Kenapa sih, semua gak ada yang mau membuka pintu gerbangnya. Apa penampilan kita terlalu hina, sehingga tidak membukakan pintu untuk kita."


"Jangan berprasangka buruk, tidak baik. Mungkin saja takut ada mata mata ataupun yang lainnya, wajar saja mereka tidak mau membukakan pintu gerbang. Mereka tidak mengenalimu, dan lihatlah penampilanku yang tidak jauh dari preman."


"Iya, aku tahu. Setidaknya lihat kita terlebih dahulu, sehina itukah orang yang berpenampilan seperti kita. Aku harus memberikan peringatan kepada papa dan Mama, agar lebih menghargai orang lain."


"Jangan berburuk sangka, tidak baik. Semua pasti ada alasannya, biar aku saja yang bertanya dengan salah satu satpam atau pengawal lainnya."


Ting ting ting ting ting, Zayen mengetuk pintu gerbang dengan kontak motornya berkali kali. Sampai sampai dua penjaga dan satu satpam langsung mendekati Zayen yang sedang berdiri dibalik pintu gerbang.


"Berisik! pergilah, tuan besar sedang tidak menerima tamu. Jangan meminta sumbangan lagi, tuan besar sudah membagikan setiap bulannya."


Zayen yang mendapati ucapan dari salah satu penjaga rumah milik orang tua Afna hanya bisa terdiam. 'Sehina itukah jika aku berpenampilan layaknya preman jalanan,' gumamnya yang tiba tiba dirinya teringat saat anak anak jalanan meminta minta belas kasihan.


Afna yang mendengarnya pun terasa sakit, meski yang didatanginya adalah rumah kedua orang tuanya. Namun, Afna dapat merasakan jika menjadi posisi orang lain yang benar benar sangat membutuhkan bantuan.


'Perasaan papa selalu menyediakan makanan dan juga uang di tempat khusus satpam untuk orang yang membutuhkan, tetapi kenapa ini berbeda.' Gumam Afna yang tiba tiba teringat sesuatu yang menjadi kebiasaan dari keluarganya.

__ADS_1


Afna sudah paham akan sikap keluarga Danuarta kepada orang orang membutuhkan. Namun, kenapa saat dirinya berpenampilan sederhana di usirnya. Afna merasa ada sesuatu yang tidak beres terhadap salah seorang penjaga rumahnya.


"Kita pulang saja, aku tidak membawa ponsel. Kita tidak bisa menghubungi papa ataupun mama, bagaimana? kita pulang saja, ya."


"Biar aku yang bilang, kalau aku Afnaya putrinya."


"Percuma, sepertinya penjaga baru dan satpam baru, karena aku tidak mengenalinya."


"Kita belum mencobanya, lagian kalau terjadi kegaduhan pasti mama akan keluar."


"Jangan macam macam, kita pulang saja. Bukankah masih ada hari esok? sudahlah, ayo kita pulang."


"Justru, aku ingin mengetahui mereka bekerja seperti apa. Siapa tahu mereka tidak beres, karena penjaga yang aku kenal tidak berani mengusir orang yang meminta minta. Justru akan diberi beberapa uang dan makanan, karena papa selalu menyediakannya tanpa kurang."


Zayen pun langsung menggendong istrinya sampai didepan pintu gerbang, berkali kali Zayen mengetuk ngetuk pintu gerbang memakai kontak motornya.


Beberapa penjaga merasa terganggu dengan suara yang membuat gendang telinganya kebisingan. Salah satu penjaga dan satpam langsung membuka pintu gerbang karena sudah emosi.


"Heh!! apa kalian berdua ini tuli, apa kalian tidak mendengar ucapanku. Sudah aku katakan, jangan meminta bantuan di rumah ini. Pergilah, sebelum kami bertindak kasar terhadap kalian." Ucap salah satu penjaga dengan nada emosi.


Zayen dan Afna hanya saling pandang, dipikirannya seperti ada yang tidak beres dengan ketiga penjaga dan satu satpamnya.


"Aku ini putri dari keluarga Danuarta, tepatnya aku adalah saudara kembar Kazza. Kenapa aku dilarang untuk masuk, memang kalian siapa." Ucap Afna sedikit kesal.

__ADS_1


"Jangan bermimpi, nona Afna tidak pincang seperti kamu. Oooh! jangan jangan kamu ada sesuatu yang terselubung."


"Jaga bicara kamu, jangan asal bicara dengan istriku. Apa perlu aku mema*tahkan lehermu, hah!!" Ucap Zayen dengan sorot matanya yang tajam, rahangnya pun mengeras, darahnya ikut mendidih. Tatkala sang istri di hina terang terangan didepannya, Zayen langsung mengepalkan kedua tangannya sangat kuat. Namun, Afna segera menggenggam tangan milik suaminya. Seakan memberi isyarat untuk tidak emosi, dan segera meredekan emosinya.


"Kalian berdua cocok, satu pinc*ang dan yang satunya preman pasar." Ucap pak satpam ikut mengejek, Afna pun sangat geram saat mendengar ejekan dari satpamnya sendiri. Meski di ejek, Afna sangat bersyukur karena dapat mengetahui keburukan pak satpam dan penjaga yang lainnya.


"Kita pulang, percuma kita beradu argumen dengan mereka. Kita tidak mempunyai bukti, dan juga mereka belum mengenal kamu."


"Baiklah, aku nurut saja denganmu. Mungkin kita sedang diperlihatkan andai kita bukan golongan orang berpunya. Aku dapat merasakan dengan kondisi mereka mereka yang jauh dari kata kaya, tetapi memiliki jiwa yang kuat dan sabar saat orang orang menghinanya."


Tin tin tin tin suara mobil mengagetkan Afna dan Zayen yang masih berdiri di depan pintu gerbang. Keduanya menoleh ke sumber suara, sedangkan pintu gerbang langsung terbuka lebar.


Zayen langsung menggendong Afna untuk segera menyingkir, tatkala mobil mewah akan segera masuk kehalalan rumah. Namun sebelumnya, mobil tersebut berhenti dan pemiliknya langsung melepaskan sabuk pengaman. Kemudian segera turun dan menghampiri Afna dan Zayen yang sedang berdiri dipojok pintu gerbang.


Ketiga penjaga dan satu satpam berdiri diambang pintu gerbang, kemudian salah satu penjaga ikut mendekatinya.


"Maaf Tuan ... mereka berdua sudah saya usir, tetapi masih saja tidak mau pergi. Ditambah lagi mengaku sebagai nona Afnaya, benar benar tidak mempunyai rasa malu dan takut, Tuan." Ucap salah satu penjaga mencoba menjelaskan.


"Dia putriku, dan ini menantuku. Kenapa kamu tidak percaya dengannya, hah!! kalaupun dia pengemis, kenapa tidak kamu beri uang dan makanan. Bukankah sudah aku beri stok yang cukup banyak, kenapa kamu tidak memberikannya." Jawabnya dengan kesal dan juga geram. Sedangkan ketiga penjaga dan satu satpam tiba-tiba wajahnya berubah menjadi pucat.


Tubuh salah satu penjaga rumah gemetaran saat mendengar penuturan dari bos nya.


"Sekarang kalian berempat, cepat kemasi barang barang kalian. Saya sudah cukup diam dengan kesalahan kalian, dan sampai sekarang kalian masih saja berbuat tidak jujur." Ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2