
Afna terkejut mendengarnya, dirinya masih berdiri tidak jauh dari pandangan suaminya untuk menjadi pendengar setia suaminya dengan kedua orang tuanya.
"Maksud papa?" tanya Zayen penasaran, meski dirinya dapat menebaknya.
"Besok kamu akan memulai waktumu di balik jeruji besi, papa akan berusaha penuh untuk melakukan yang terbaik untuk kamu." Ucap sang ayah sambil meletakkan tangan kanannya diatas pundak sebelah kiri milik putranya.
Kedua mata sang ibu pun berkaca kaca, seakan tidak rela bila mana putranya harus pergi dari pandangannya. Ditambah lagi dengan kondisinya yang benar benar belum sembuh total.
"Mama, kenapa menangis lagi? Zayen akan baik baik saja. Disana juga tidak akan sendirian pastinya, disana juga banyak temannya." Ucapnya berusaha meyakinkan ibunya dan memeluknya. Disaat memeluk sang ibu, kedua mata Zayen tertuju pada istrinya yang juga ikut bersedih. Kedua matanya pun terlihat jelas, bahwa istrinya ikut menangis.
"Sayang, kemarilah." seru Zayen memanggilnya, kedua orang tua Zayen menoleh kebelakang. Dilihatnya Afna yang juga ikut bersedih dan menitikan air matanya.
"Afna, kemarilah. Jangan larut dalam kesedihanmu, suami kamu tengah memanggilmu." Panggil ibu mertua yang sebenarnya pun tidak tega melihat anak dan menantunya harus berpisah dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.
Dengan pelan dan nafasnya yang berat, Afna mendekati suaminya. Seakan tidak percaya, jika tinggal satu malam ia bersama suaminya. Setelahnya harus berpisah, entah berapa waktunya akan dikumpul bersama kembali. Afna benar benar benar tidak dapat memikirkannya, pikirannya semakin kacau dan juga tidak tenang.
Kedua orang tua Zayen sedikit menjauh Dato putranya, agar dapat memberi waktu yang leluasa kepada anak dan menantunya.
"Sayang, kenapa kamu menangis lagi? kasihan calon buah hati kita, jika kamu terus terusan bersedih. Kamu harus bersabar dan juga tetap bersemangat demi calon buah hati kita." Ucap Zayen, kemudian mengusap air matanya dan memeluknya.
"Tenangkan pikiran kamu, aku tidak sendirian disana. Pastinya ada banyak hal pelajaran yang bisa aku petik nantinya, anggap saja aku sedang mencari ilmu tentang kebaikan yang bisa aku bawa pulang untuk dijadikan pelajaran dalam kehidupan nantinya. Percayalah, kita akan berkumpul kembali seperti harapan yang kita nantikan." Ucapnya sambil memeluk sang istri untuk menenangkan kegelisahan dan kesedihan pada istri tercintanya.
Setelah itu, Zayen melepas pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya. Kemudian mencium keningnya dengan lembut dan tersenyum. Afna yang mendapati perlakuan dari suaminya hanya bisa tersenyum dengan paksa, dirinya tidak dapat membohongi perasaannya sendiri jika pada kenyataannya hati Afna sangat bersedih.
"Afna, benar apa kata suami kamu. Kita harus berlapang dada untuk menerimanya, suatu saat nanti kita akan kembali berkumpul. Sekarang kita hanya bisa berusaha dan mendoakan suami kamu, agar segera lepas dari hukumannya." Ucap Ibu mertua sambil merangkulnya, Afna pun segera memeluk ibu mertuanya untuk meluapkan kesedihannya.
"Sudah sudah ... jangan bersedih, masih ada mama yang akan menemani kamu. Ada Adelyn yang akan menjadi teman tidurmu, kamu bisa tinggal bersama mama." Ucapnya sambil mengusap pelan punggung milik menantunya.
Afna kembali melepaskan pelukannya, dan menatap wahaha ibu mertuanya dan mengangguk.
"Sekarang kamu harus menerimanya dengan lapang dan bersemangat untuk calon cucu kesayangan mama." Ucapnya kembali, lalu mengusap air mata milik menantunya dan tersenyum.
__ADS_1
"Ma, Zayen lapar." Ucap Zayen mencoba mengalihkan situasi yang sedang bersedih.
"Sebentar lagi sarapan pagimu datang, bersabarlah.
Tok tok tok terdengar suara ketukan pintu tengah mengagetkan Zayen maupun yang lainnya.
"Biar Papa yang akan membukanya." Ucap sang ayah kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintunya.
Ceklek, pintu pun terbuka. Dan dilihatnya sosok laki laki dan wanita paruh baya tersenyum Rama.
"Selamat pagi ..." sapanya dengan ramah.
"Pagi juga, silahkan masuk." Jawabnya dengan ramah dan tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu nak Zayen?" tanya sang ayah mertua didekat putrinya.
"Keadaan Zayen seperti yang Papa lihat, Zayen baik baik saja." Jawabnya.
"Wah, kebetulan sekali. Zayen juga sudah lapar, sedari tadi Zayen menunggu sarapan pagi namun tidak datang datang juga." Ucap Zayen tanpa malu malu lagi dengan mertuanya.
"Kamu ini, terlalu jujur. Bikin malu Mama dan Papa saja, hem." Jawab ibunya sambil mencubit pinggang milik putranya.
Semua tertawa kecil melihat Zayen yang kegelian saat ibunya mencubitnya.
Sedangkan di Restoran Mandiri Jaya, Kazzs sedang melamun di tempat duduk yang dimana para pelanggan duduk dan menikmati makanannya.
"Bos!! bangun Bos, jangan mimpi. Masih pagi, kamu tidak kangen apa sama wanitamu." Ledek Gio mengagetkan.
"Reseh lu, gangguin orang saja. Eh! tadi kamu bilang apa, wanitamu? hem." Jawab Kazza sambil memainkan kedua sumpit ditangannya.
"Lah, bukannya Vella itu ..." ucapnya menggantung.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa! Vella? apa perlu aku jitak kamu." Jawab Zayen sambil menatapnya tajam.
"Bos, jangan begitu lah. Aku hanya bercanda, serius." Ucapnya sambil senyum pepsodent.
"Vella, kemarilah." Seru Gio memanggil Vella yang sedang merapihkan beberapa kursi yang menurutnya kurang rapi. Vella pun segera menghampiri Gio yang sedang duduk dengan pemilik Restoran.
"Ada apa, pak?" tanya Vella yang sudah berdiri didekat Kazza dan Gio.
"Kamu pikir, aku sudah bapak bapak. Seenaknya saja kamu panggil aku bapak, panggil aku sekretaris Gio. Kamu mengerti?" jawabnya mengerjai.
"Hem ... bukannya sekarang sudah menjadi bagian di Restoran ini?" ucapnya sedikit kesal.
"Diam! berisik saja kalian berdua. Vella, duduk." Perintah Kazza sedikit geram mendengar dua orang yang ada depannya selalu bertengkar jika sudah bertemu.
"Ada apa ya, Bos? pentingkah? atau ..." jawabnya sambil memposisikan duduknya dengan sopan.
"Aku menyuruhmu untuk diam, apa kamu tidak mendengarnya?" ucap Kazza dengan sorot matanya terlihat menakutkan. Vella yang mendapati tatapan mata dari Bosnya pun segera menunduk.
"Mulai besok, kamu yang akan menjadi asistenku. Kamu tidak boleh menolaknya, aku membutuhkan kamu." Ucapnya dengan serius.
"Untuk apa ya, Bos? bukankah sudah ada Gio?" tanyanya penasaran.
"Jangan banyak tanya dan protes, kamu mengerti?" Ucapnya.
"Mungkinkah untuk menjadi teman Nona Afnaya?" tanyanya mencoba menebak tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Bisa jadi, sekarang kamu pergilah dan kembali dengan pekerjaan kamu." Ucapnya, kemudian Kazza langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari Restoran. Sedangkan Vella sendiri bingung dibuatnya.
"Pak Gio, Bos Kazza kenapa? sepertinya banyak beban di pundaknya." Tanya Vella yang penasaran akan Bosnya yang terlihat aneh dan terlihat semakin sadis, pikirnya.
"Kurang tahu, hanya sering murung saja akhir akhir ini. Mungkin sedang ada masalah, atau yang lainnya." Jawabnya mencoba menerkanya.
__ADS_1