
Zicko yang sudah berada di dalam kamar, bukannya langsung mengganti bajunya, malah rebahan.
"Ekhem. Anak Mama yang satu ini ya, bukannya mandi, eee malah langsung rebahan."
Zicko langsung terbangun dari posisinya, dan duduk di tepi tempat tidurnya.
"Mama, ngagetin aja deh. Zicko tuh capek banget loh, Ma. Mana tadi kena sial, lagi." Jawab Zicko dengan lesu.
"Hem. Memangnya capek ngapain aja tadi di sekolahan?"
"Nyindir Zicko nih ceritanya, dah ketebak. Tadi tuh bukan salah Zicko, Ma. Tapi salah itu cewek. Siapa juga yang gak geli ketika di deketin perempuan aneh, macam gak pernah lihat cowo kek Zicko aja, dih."
"Oh, jadi karena cewek?"
"Mama, apa-apaan sih. Gak tertarik juga, terlalu over tuh cewek. Zicko mah mau fokus belajar, sama banyak main, titik."
"Awas loh, ntar naksir lagi. Enggak enggak, Mama gak setuju kalau kamu pacaran. Tujuan dan harapan Mama sama Papa itu masih banyak hal yang harus kamu gapai dulu, contoh masa depan kamu. Jadi, fokuslah belajar, dan raih cita cita kamu." Ucap sang ibu yang tidak lupa memberi nasehat kecil kepada putranya.
"Ya, Ma. Zicko janji, bahwa Zicko akan fokus dengan belajarnya, juga tidak akan membuang-buang waktu yang gak ada guna. Tapi, kalau untuk sekedar main, keluar bareng teman-teman tidak ada salahnya 'kan, Ma? Bukankah Papa dimasa mudanya sangat aktif? Zicko ingin seperti Papa, sukses dan menjadi seorang ayah yang patut di acungi jempol."
"Tumben muji Papa, biasanya ngomongin Papa sambil curhat sama ngedumel, hayo ngaku. Enggak usah ditanggapi dengan serius. Mendingan kamu sekarang buruan mandi, hari ini ada tugas untukmu, yaitu ke restoran kakek kamu, ada acara berbagi dengan anak-anak jalanan, sama anak-anak panti asuhan. Jadi, cepetan mandi dan temani Mama kamu ke restoran." Sahut sang ayah ikut menimpali.
Zicko yang terasa capek dan juga gerah, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan apa yang menjadi perintah dari ayahnya. Selain gak ada kegiatan, Zicko memilih mengiyakan.
"Ya, Pa. Kalau gitu, Mama tunggu di bawah, Zicko mau mandi dulu." Jawab Zicko, dan segera mandi.
Sedangkan kedua orang tuanya bergegas keluar dari kamar putranya.
"Kamu yang sabar ya, Pa. Kita harus yakin kalau Zicko pasti akan menjadi anak yang patut dibanggakan. Bukankah kamu juga pernah melewati masa remaja mu, dan bahkan kamu aja terkena preman. Tapi tidak dengan putramu, justru terkenal murid paling aktif, hingga sering membuat onar. Mudah-mudahan mulai sekarang tidak lagi. Cukup tadi dia membuat kesalahan di sekolahannya." Ucap istrinya Tuan Zayen sambil menuruni anak tangga.
Tuan Zayen mengangguk.
"Yang kamu katakan itu memang benar. Aku pun pernah melewati masa remajaku yang bisa dibilang murid yang selalu buat onar. Apa lagi suka main balap motor, alias balap liar. Mama tahu sendiri, masa remajaku hingga tumbuh dewasa hidupku sudah penuh kegelapan, seperti tidak mempunyai masa depan. Makanya, Papa selalu awasi Zicko, karena Papa takut kalau masa suramnya Papa juga bakal dialami Zicko." Jawab Tuan Zayen yang tengah terbayang-bayang dengan masa lalunya yang begitu kelam, dan berurusan dengan hukum.
__ADS_1
Bagi Tuan Zayen cukuplah dirinya yang menjadi korban tidak adanya kasih sayang, layaknya anak yang terbuang.
Saat itu juga, Tuan Zayen berhenti dan mengusap air matanya, beliau menangis saat dirinya teringat masa masa sulitnya dalam menghadapi hidupnya yang dihantui bayang-bayang kesengsaraan hidup.
Namun, sejak pertemuannya dengan istri yang harus menggantikan posisi kakaknya, yakni menikahi sosok wanita yang sama sekali tidak dikenalinya, dan justru mantan tunangan kakaknya sendiri.
Awalnya menikahi karena terpaksa, namun justru tumbuh benih-benih cinta diantara keduanya hingga menjadikan kebahagiaan dalam berumah tangga dan dikaruniai seorang anak laki-laki, yaitu Zicko.
"Yang harus kita lakukan saat ini yaitu, kita harus menjadi penasehat untuk anak kita. Jangan lelah ataupun menyerah, tanggung jawab kita masih panjang." Ucap sang istri, Tuan Zayen mengangguk dan memeluk istrinya dengan erat.
Kemudian, Tuan Zayen kembali melepaskan pelukannya.
"Ya sudah kalau begitu, aku mau menyelesaikan pekerjaan ku. Kalau kamu mau berangkat, berangkat saja. Nanti kalau kerjaan aku sudah selesai, aku akan menyusul kamu di rumah Papa." Jawab Tuan Zayen, dan mengecup kening milik istrinya.
"Ya, Pa. Mama mau siap-siap dulu." Ucap sang istri, Tuan Zayen mengiyakan.
Karena tidak ingin lama-lama, istrinya Tuan Zayen segera bersiap-siap. Begitu juga dengan Zicko, sama halnya buru-buru untuk bersiap-siap.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya selesai juga membersihkan diri. Selanjutnya Zicko bersama ibunya segera berangkat setelah sudah siap semuanya. Lalu, anak sama ibu kini tengah dalam perjalanan menuju restoran ditempat kakeknya.
Ibunya langsung menoleh ke arah putranya, merasa aneh dan mengernyit.
"Kena razia, maksudnya kamu apa?"
"Razia cowok tampan macam Zicko, Ma. Bahkan, putra Mama ini di sekolahan aja dikejar-kejar cewek, dih. Juga nih ya, Ma. Gara-gara Zicko tampan aja ya, Papa juga sampai dipanggil ke sekolahan." Jawab Zicko sambil joged mengikuti irama musik yang di dengar dalam mobil, DJ sesuai yang disukainya.
Bukannya langsung menjawab, justru ibunya tertawa melihat ekspresi Zicko yang benar-benar tidak jauh dengan masa mudanya sang suami yang menjadi kejaran banyak wanita.
Benar-benar tidak berbeda jauh dengan masa muda Tuan Zayen, hanya saja Tuan Zayen sibuk bagaimana caranya mendapatkan kasih sayang dari orang tua asuhnya.
Jika Tuan Zayen masa sekolahnya disukai banyak wanita, namun setelah selesai sekolah menjadi lelaki yang ditakuti oleh banyak wanita karena penampilannya, juga pekerjaannya yang misterius.
Juga, Zayen harus berurusan dengan hukum. Tidak hanya itu saja, Zayen pernah merasakan pahitnya tinggal dibalik jeruji besi. Maka oleh karena itu, tidak ingin jika putranya salah pergaulan dan hidupnya salah memilih jalan masa depannya.
__ADS_1
Zicko yang masih menikmati musik DJ dengan santainya sambil menggelengkan kepalanya, dengan gerakan jari jemarinya yang begitu menikmati irama musiknya.
Pak supir yang tengah fokus dengan setirnya, pun ikut enjoy saat melihat putra majikannya tengah bersantai dalam mobil. Sampai-sampai tidak sadarkan diri kalau sudah memakan setengah perjalanan.
"Ma, kakek Alfan gak balik ke tanah air kah? betah banget perasaan di luar negri. Payah lah itu tante Adelyn, masa gak gantian gitu. Mana kakek Tirta juga tinggalnya sama paman Kaza, di rumah kan, sepi." Ucap Zicko membuka obrolan yang sudah memakan waktu setengah perjalanan.
"Lagi pula kan, kalau kamu ingin main ke rumah kakek Tirta tidak jauh. Kalau kakek Alfan 'kan, memang sudah betah di luar negri, dan sudah diminta untuk menggantikan kakek buyut Zio. Jadi, mereka sudah menjadi warga di sana."
"Ya sih, Ma. Tapi 'kan, Zicko juga pingin bisa tinggal satu rumah bareng sama kakek Tirta ataupun kakek Alfan." Ucap Zicko sambil dibuat cemberut.
"Ya udah kalau kamu pingin tinggal satu rumah sama kakek Tirta, nanti malam kamu nginep di rumah kakek Tirta, gimana?"
"Hem. Zicko kan, pinginnya tinggal di rumah kita, Ma." Kata Zicko.
"Orang tua itu kebanyakan lebih memilih tinggal di rumah sendiri, lebih nyaman katanya. Entah itu mitos atau fakta, tapi kebanyakan memang begitu, Nak. Mama sama Papa aja lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, lebih nyaman dan buat tidur bisa nyenyak. Mau rumahnya bagus, mau rumahnya biasa-biasa saja, ya tetap nyaman di rumah sendiri. Jadi, lebih mengutamakan rumah sendiri untuk dijadikan tempat tinggal."
"Gitu ya, Ma. Terus, kenapa Paman Kaza gak tinggal di rumahnya sendiri?"
"Bukannya gak mau, tapi ada tanggung jawab sebagai anak laki-laki. Paman Kaza penerus keluarga Danuarta, dan yang pastinya tinggal di rumah utama."
"Gitu ya. Terus Zicko?"
"Kamu ya tetap tinggal di rumah bareng Mama, memangnya siapa lagi penerus keluarga kita? cuma kamu. Makanya sekolah yang bener, jangan kecewakan kedua orang tua kamu, terutama sama Papa, jangan sakiti hatinya, apalagi mengecewakan, jangan."
"Ya, Ma. Zicko akan belajar dengan sungguh-sungguh, dan tidak akan mengecewakan Mama sama Papa. Zicko tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti Papa. Zicko akan menjaga nama baiknya Papa. Meski Papa pernah melakukan kesalahan, jangan sampai Zicko mengulangi kesalahan itu." Jawab Zicko meyakinkan ibunya.
"Mama bangga sama kamu, Nak. Meski kamu selalu dinyatakan murid paling aktif dan tidak bisa diem dari sikap onar mu itu, tapi kamu bisa membuktikan kalau kamu ada sisi plu_snya. Jadi, jangan sampai prestasi mu hancur karena kecerobohan mu." Kata sang ibu, Zicko langsung tersenyum lebar pada ibu tercintanya.
"Siap, Ma. Zicko akan belajar menjadi lebih baik lagi. Meski terkadang lupa pulang dengan tepat waktu. Tapi percayalah sama Zicko, itu hanya nongkrong di rumah teman, dan jajan di warung makan." Ucap Zicko, ibunya pun tersenyum mendengarnya.
Tidak terasa dalam perjalanannya yang cukup jauh jarak diantara dari rumah ke restoran keluarga Danuarta hingga memakan waktu yang lumayan melelahkan juga.
"Kita sudah sampai, ayo turu. Tuh lihat, restoran keluarga kita udah dipadati oleh anak-anak." Ucap sang ibu saat melihat kondisi restoran yang sudah dipenuhi oleh anak anak jalanan dan juga anak-anak panti asuhan untuk bersenang-senang dan menikmati makan bersama di dalam restoran yang sudah di persiapkan beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Ya, Ma. Buset dah, rame banget ya, Ma. Ternyata selain terkenal nama restorannya yang enak-enak, tetapi juga nama restorannya pun sangat dikenali dengan sifat dermawannya. Zicko jadi pingin seperti kakek buyutnya Zicko." Jawab Zicko sambil memperhatikan suasana di depan restoran yang rupanya juga sudah dipadati anak anak lainnya.
Kemudian, Zicko bersama ibunya segera turun dari mobil.