Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pikiran yang kacau


__ADS_3

Viko yang merasa disindir, langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa.


"Ada perlu apa kamu datang kesini, hah? kenapa kamu datang di jam nanggung seperti ini, hem!" tanya Zayen sambil menatap serius Viko.


"Kebetulan, aku beli ayam geprek. Eh! ngomong ngomong ayam gepreknya belum aku bawa masuk, ya. Astaga! aku lupa, aku ambil dulu ayam gepreknya." Jawab Viko yang baru saja menyadari, jika ayam gepreknya masih tertinggal didalam mobil. Sedangkan Zayen hanya tarik nafasnya panjang, dan mengeluarkannya dengan kasar.


'Itu anak, dari dulu tidak pernah berubah. Datang tiba tiba, pergi pun semaunya. Tapi hanya Viko yang dapat aku percaya, tidak ada yang lainnya.' Batinnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang, siapa yang datang?" tanya sang istri mengagetkan.


"Siapa lagi kalau bukan Viko, entah mau perlu apa dianya datang kemari." Jawabnya sambil memijat mijat pelipisnya.


"Oooh! mungkin mau mengajak berangkat kerja bareng kamu, sayang." Ucap sang istri menebaknya.


"Iya, bisa jadi. Tapi, aku rasa bukan." Jawabnya, dan tidak lama kemudian Viko kembali masuk kedalam rumah.


"Bos, ini ayam gepreknya. Tadi aku beli 4 porsi, takut ada yang mau nambah porsinya." Ucap Viko sambil duduk dan meletakkan 4 porsi ayan geprek.


"Tumben sekali kamu, Vik. Bawa ayam geprek datang kemari, biasanya juga soto ayam atau pecel lontong." Jawab Zayen sambil membuka dua porsi ayam geprek, satu untuknya dan satunya untuk istrinya.


"Iya dong, Bos. Sekali kali bawa ayam geprek, biar dikit melek ini mata." Ucapnya yang juga memulai menikmati ayam gepreknya.


"Makanya, buruan menikah kamu. Kasihan nih ayam gepreknya, tinggal satu yang dianggurin."


"Hemm!! iya ya, Bos. Nanti kalau sudah bertemu jodohnya juga aku bakal menikah, Bos. Untuk sekarang, aku mau bangun istana dulu. Biar anak istriku kelak tidak kekurangan, dan aku tinggal memberikannya cinta yang tidak terbatas." Jawab Viko sambil menikmatinya.


"Ngobrolnya nanti lagi, sekarang habiskan dulu makanan kalian. Nanti tersedak, kasihan jalur pernapasan kalian. Jika kalian berdua sedang makan sambil mengobrol." Ucap Afna mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, sayang. Terimakasih sudah mengingatkan kita berdua." Jawab Zayen, kemudian kembali melanjutkan makannya dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Begitu juga dengan Viko, dirinya pun tidak lagi berucap sepatah katapun. Viko sendiri fokus menikmati ayam gepreknya.


Setelah selesai menikmati ayam gepreknya, Afna segera menbereskan mejanya. Setelah itu, Afna kembali kedalam kamarnya. Sedangkan Viko dan Zayen kembali mengobrol tentang berbagai macam obrolan yang dibicarakan oleh keduanya.


"Bos, nanti malam bagaimana? apa benar benar ada barang yang akan datang, Bos?"


"Iya, nanti malam akan ada barang yang datang. Tapi, aku merasa bahwa diriku sedang diintai. Tapi, aku sendiri tidak memiliki waktu untuk menyelidikinya. Besok saja aku ada pekerjaan baru, tapi bukan pekerjaan yang mendapatkan gaji besar."


"Maksudnya, Bos?" tanyanya penasaran.


"Aku mau membantu saudara istriku, aku mau membantunya untuk menemukan anak laki lakinya yang telah hilang sudah dua puluh tahun. Aku tidak yakin bisa ditemukan, bayangkan saja. dua puluh tahun lebih telah hilang, ditambah lagi sudah beristri."


"Aku masih belum mengerti, Bos?"


"Kehilangan anak laki lakinya dari usia masih bayi, dan mendapat ancaman dari peneror bahwa putranya sudah beristri. Ditambah lagi, masa depannya akan hancur. Begitu maksudnya, Vik."


"Nagaco! kamu, Vik. Jangan bahas kehidupanku dengan kehidupan saudara istriku, sungguh jauh berbeda." Jawabnya sambil menarik nafasnya panjang, dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Namanya juga beranggapan, Bos. Oh! iya, bagaimana dengan Seyn kakaknya Bos Zayen. Apakah masih aktif dengan pekerjaannya? atau ... sudah berhenti."


"Kak Seyn sedang sibuk dengan perusahaannya."


"Apa aku tidak salah dengar, Bos. Perusahaannya Seyn? bukankah itu milik kamu, Bos."


"Aku sudah melepaskannya, aku tidak lagi peduli dengan perusahaan itu. Anggap saja, hutang budiku yang sudah merawatku hingga aku besar."


"Begitu ya, Bos. Sayang sekali, padahal itu kerja kerasnya kamu loh, Bos. Bahkan Bos Zayen sampai mati matian mendapatkannya, dan tidak hanya itu saja. Bos Zayen hampir saja tertangkap oleh polisi, dan sekarang Seyn yang menikmatinya. Sungguh tidak adil itu, Bos."

__ADS_1


"Bagiku adil, aku tidak dapat memiliki perusahan itu. Tetapi aku memiliki istri yang jauh lebih baik dari segalanya. Mungkin saja aku sedang jomlo ngenes akut, jika aku tidak menerima permintaan papaku."


"Iya sih, Bos. Setidaknya Bos Zayen itu tinggal menikmati hasilnya, dan meninggalkan pekerjaan yang sangat beresiko tinggi. Kalau istrinya Bos Zayen mengetahuinya, bagaimana?"


"Aku akan terima apapun itu, meski keputusan pahit sekalipun. Aku tahu, resiko yang kita jalani ini sangatlah berbahaya. Sudahlah Vik, kita ikutin saja perjalanan hidup kita ini. Jangan dibuat sedih ataupun ketakutan, kita pasti akan menemui masa yang sulit meski kita berusaha untuk menghindarinya."


"Iya juga sih, Bos. Kalau begitu, aku mau keluar. Nanti aku jemput Bos Zayen seperti kemarin malam ditempat yang sama."


"Baiklah, terimakasih ayam gepreknya. Lain kali hubungi aku jika mau beliin ayam geprek, jika kamu ulangi lagi. Aku karungin kamu, ngerti."


"Iya Iya Iya, Bos ..."


"Sudah sana pergi, aku mau tidur. Lumayan ada beberapa waktu lagi untukku beristirahat."


"Siap! Bos." Jawab Viko, kemudian langsung pergi dari rumah Zayen. Sedangkan Zayen sendiri segera mengunci pintunya.


Sambil menuju kamar, tiba tiba kedua matanya tertuju dengan ruangan yang sudah lama tidak dibukanya. Sejak Afna menjadi istrinya, ruangan tersebut tidak pernah Zayen buka.


'Bagaimana caranya aku mengeluarkan barang barang yang ada didalam ruangan itu, sedangkan istriku selalu berada di rumah ini. Sebelum polisi mendatangi rumah ini, aku harus mengeluarkan barang barang yang ada didalam. Ah iya, aku terima saja tiket bulan madunya. Biar Viko yang membereskan rumah ini, itu jauh lebih mudah untuk mengatasinya.' Batinnya sambil mencari ide untuk menyelamatkan barang barang yang tersimpan dalam gudang.


Setelah mendapatkan ide yang menurutnya aman, Zayen kembali masuk kedalam kamarnya.


Sesampainya didalam kamar, dilihatnya sang istri yang sudah tertidur pulas. Lagi lagi Zayen tidak tega untuk meninggalkan istrinya dirumah sendirian. Zayen hanya duduk di dekat istrinya hanya terdiam, berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Agar dapat meninggalkan pekerjaannya, dan memulai kehidupannya yang normal pada umumnya. Tidak lagi dihantui dengan rasa ketakutan, bahkan bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan yang tidak tidak.


"Sayang, kenapa kamu belum juga tidur? kenapa juga kamu masih duduk disini. Mau berangkat kerja lagi, ya?" tanya sang istri mengagetkan dan tentunya dengan lesu.


"Tidak apa apa, aku hanya merasa sangat bersalah terhadapmu. Kamu selalu aku tinggal kerja dimalam hari, dan kamu pun sering sendirian tanpa ada aku." Jawabnya sambil menunduk dan tanpa menatap istrinya.

__ADS_1


__ADS_2