Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pesan masuk


__ADS_3

Afna dan suami sedang bersiap siap untuk berangkat ke tempat pamannya dengan penampilan yang sederhana.


"Sayang, sudah selesai belum?" tanya sang suami sambil menyambar jaketnya yang berada diatas sofa.


"Sudah, ayo kita sarapan pagi." Ajak Afna sambil merapihkan penampilannya. Zayen dan Afna segera keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi. Sesampai di ruang makan, Afna mengambilkan suaminya roti beserta selai kacangnya, dan menuangkan su*su kedalam gelas.


"Maaf ya, sayang. Sarapan pagi ini hanya dengan roti dan susu. Soalnya takut paman menunggu lama, jadi aku cari yang mudah untuk dijadikan sarapan pagi." Ucap Afna sambil mengolesi selai kacangnya.


"Tidak apa apa, ini sudah lebih dari cukup. Mamanya sarapan pagi, tidak perlu harus kekenyangan. Cukup pengganjal perut saja sudah lebih dari cukup." Jawab Zayen sambil menikmati rotinya.


"Sayang, bulan madunya kita mau kemana? aku tidak bisa menolaknya." Tanya Afna sambil menikmati sarapan paginya.


"Terserah kamu saja, jika kamu menginginkan ke Luar negri pun tidak menjadi masalah untukku."


"Benarkah?" tanya Afna sedikit tidak percaya dengan ucapan dari suaminya.


"Benar, asalkan jangan di Amerika. Bagaimana kalau kita ke Korea, sepertinya masih ada sisa musim semi." Jawab Zayen memberi pilihan.


"Kamu pernah pergi ke Korea, ya? jawab." Tanya Afna dibuat cemberut.


"Iya, kenapa? liburan ke Korea bukan berarti dengan wanita lain. Aku hanya sekedar liburan saja, mengelilingi negeri ginseng. Meski tidak sepenuhnya aku berkeliling, setidaknya beberapa tempat aku datangi." Jawab Zayen menjelaskan.


"Baiklah, aku akan meminta ke Korea jika papa memberi pilihan." Ucap Afna, setelah itu segera menghabiskan su*sunya.


"Punyaku sudah habis, cepetan dihabiskan susunya. Aku mau keluar memanaskan mesin motornya, jangan lupa dikunci pintunya di keluar." Ucap Zayen mengingatkan.


"Iya, sekalian aku mau membereskan meja makannya." Jawab Afna, kemudian segera membereskan gelas kotor dan lainnya yang ada di atas meja makan.


'Akhirnya, suamiku tidak menolak untuk pergi berbulan madu di negeri orang.' Batinnya merasa bahagia.


Meja makan pun sudah terlihat bersih, tidak ada sisa makanan yang tertinggal. Afna merasa lega dan akhirnya ruang makannya kembali bersih.

__ADS_1


Afna meraih tasnya yang berada disudut meja makan, kemudian meraihnya. Setelah merasa tidak ada yang tertinggal, Afna segera keluar dan berangkat ke tempat pamannya.


Dilihatnya sang suami yabg sedang memanaskan mesin motornya, Afna merasa kasihan dengan suaminya. Dirinya memiliki keinginan untuk bekerja, agar dapat membantu perekonomian suaminya.


"Sayang, kenapa kamu melamun, jangan lupa dikunci pintu rumahnya. Ayo, kita segera berangkat ke rumah paman Alfan." Ajak suaminya yang sudah siap untuk berangkat.


"Iya, aku lupa. Aku kunci pintu rumahnya sebentar." Jawab Afna segera mengunci pintu rumahnya.


Didalam perjalanan, Afna menghirup udara segar. Masih sedikit kendaraan yang lalu lalang, Afna ingin rasanya mengutarakan keinginannya tapi takut sang suami akan marah. Afna yang gelisah, dan hanya memendamnya dalam hari.


Sedangkan suaminya dapat menangkap raut wajah istrinya yang terlihat sedang menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya.


Zayen menurunkan kecepatan laju motornya, Zayen berhenti dibawah pohon yang sangat rindang dan juga sejuk.


"Sayang, kenapa berhenti disini. Apakah motornya bocor? atau ... ada yang lainnya." Tanya sang istri penasaran.


"Aku melihat raut wajahmu sedang gelisah, ada denganmu? katakan saja."


"Tidak ada apa apa, serius. Perasaan kamu saja mungkin, sayabg." Jawab Afna berusaha untuk menitupinya.


"Iya deh, aku jawab dengan jujur. Sebenarnya aku ingin bekerja, aku ingin memiliki kesibukan." Ucapnya, kemudian menutup mulutnya dengan telapak tanganannya. Zayen hanya tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya.


"Aku tidak mengizinkan kamu untuk bekerja, jika sekedar penghilang penat atau yang lainnya aku tidak akan melarang kamu." Jawab Zayen, kemudian segera melepas tangan milik istrinya yang tengah membungkam mulutnya.


"Serius? terimakasih, sayang. Aku akan meniru mama, tetapi bukan untuk belajar membuat kueh. Aku akan belajar pada dunia fashion, itu impianku yang tertunda." Ucap Afna penuh semangat.


"Sudah lega, 'kan? kalau begitu kita lanjutkan perjalanan kita." Jawab Zayen, yang kemudian melajukan motornya kembali.


Afna benar benar sangat bahagia, saat dirinya mendapatkan izin dari suaminya untuk mengembangkan bakatnya dalam dunia Fashion. Apalagi kalau bukan dalam hal membuat baju berbagai model yang bagus dan kualitas tinggi pastinya.


Tidak lama kemudian, Afna dan Zayen telah sampai di rumah kedua orang tua Adelyn yang baru. Rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya yang sekarang. Kedua orang tua Adelyn akan menetap di tanah air sebelum putranya ditemukan.

__ADS_1


"Ini rumah paman Alfan?" tanya Afna tidak percaya.


"Iya, ini yang paman berikan alamatnya kepadaku. Kita coba tanya saja kepada salah satu satpam sedang berjaga." Jawab Zayen sambil turun dari motornya untuk memastikannya.


"Iya, sayang. Tapi aku rasa memang benar ini rumah paman Alfan, lihatlah logonya. Bertuliskan keluarga Wilyam, aku yakin." Ucap Afna sambil menunjukkan logo bertuliskan keluarga Wilyam.


"Kalau begitu, kamu minta kepada pak satpam membukakan pintu gerbangnya." Perintah Zayen pada istrinya, Afna pun mengangguk dan memanggil salah satu satpam yang sedang duduk santai.


"Pak, tolong bukakan pintu gerbangnya. Saya keponakannya pama Alfan, serius." Ucap Afna memanggilnya.


"Buka saja, pak. Dia Afna, saudara Adelyn." Perintah Adelyn yang tiba tiba sudah berada didekat pak Satpam.


"Baik, Nona." Jawab pak satpam dan segera membuka pintu Gerbangnya.


"Afna ... akhirnya, kamu datang juga ke rumah baruku." Ucap Adelyn memeluk Afna dengan erat, kemudian melepaskannya kembali.


"Pak satpam, tolong bawa motor saudaraku." Perintah Adelyn pada pak satpam.


"Tidak perlu, saya bisa membawanya untuk masuk kedalam." Jawab Zayen menimpali, kemudian segera melajukan motornya sampai depan rumah tuan Alfan.


Sesampainya di depan rumah, kedua orang tua Adelyn menyambut keponakannya dengan hangat.


"Ayo, masuk. Ngomong ngomong kalian berdua sudah sarapan belum? jangan pernah bohong, jika belum katakan saja. Nanti pelayan yang menyiapkan sarapan pagi." Ucap sang paman.


"Kita berdua sudah sarapan kok, paman." Jawab Afna sambil memasuki ruang tamu.


Drrrttt drrtttt suara getaran pada ponsel Zayen pun mengagetkannya.


"Maaf Paman dan tante, Zayen permisi sebentar." Ucap Zayen serasa tidak enak hati saat baru masuk kedalam rumah sudah dikagetkan dengan pesan masuk.


Bos! bahaya. Ada jejak yang telah mendatangi tempat persembunyian barang barang kita. Bagaimana ini, Bos! cepatlah untuk segera datang.

__ADS_1


Begitulah pesan yang diterima Zayen dari temannya, yang tidak lain adalah Viko. Pikirannya pun menjadi tidak tenang, gelisah dan pastinya sangat cemas. Mau tidak mau, Zayen harus mendatangi tempat yang dijadikan untuk penempatan barang barang yang menjadi barang dagangannya.


Siap siap untuk besok ya readers... Dar diri dur der dor! 😄😄😄


__ADS_2