
Setelah urusannya selesai, Seyn memilih untuk segera pulang. Sedangkan Viko, pulang bersama tuan Tirta dan juga ayah mertuanya.
Sedangkan Afna kini tengah ditemani oleh ibunya, ibu mertua, adik iparnya dan suami tercintanya.
Sesampainya di rumah sakit, tuan Alfan dan dan tuan Tirta kini sedang menuju ruang yang dimana Afna tengah dirawat. Berbeda dengan Viko, dirinya memilih untuk menengok keponakannya yang berada didalam ruangan NICU. Entah ada angin apa, tiba tiba Viko memilih untuk melihat keponakannya ketimbang mengikuti langkah kaki ayah mertuanya itu.
Sesampainya di depan ruang NICU, Viko meminta izin untuk menemui keponakannya. Namun ia lupa, bahwa dalam tiga hari bahkan lebih dari tiga hari siapapun dilarang untuk melihat putra Zayen dengan dekat. Penjagaannya pun semakin ketat dan sangat sulit untuk ditemui.
"Ah, iya. Aku baru ingat, bahwa tidak ada yang diizinkan masuk kedalam ruangan ini untuk menemui bayi milik Bos Zayen. Hanya kedua orang tuanya lah, yang dapat menemuinya." Gerutu Viko sambil memandangi inkubator yang didalamnya ada sosok bayi yang terlihat menggemaskan.Sedangkan selain itu, hanya bisa memandanginya lewat kaca jendela.
Saat menatap lekat sebuah inkubator yang tidak jauh dari pandangannya, Viko tersenyum bahagia. Meski bukan dirinya yang tengah bahagia karena hadirnya dari sang buah hati, Viko sendiri ikut merasakan kebahagiaan yang dimiliki oleh Zayen dan Afna.
Viko sendiri seperti mimpi, ia tidak pernah menyangka jika dirinya telah menjadi adik dari Bosnya yang pernah menjadi kaki tangannya. Viko sendiri masih terus mengingatnya tentang siapa lah dirinya dahulu. Tanpa pertolongan seorang Zayen, apalah nasib Viko sekarang ini. Begitulah yang sering viko ingat dan selalu berusaha untuk membalas jasanya. Meski dirinya hanya menjadi suruhan, namun Zayen tidak pernah merendahkannya. Zayen tetap menganggapnya saudara hingga pada akhirnya persaudaraan itu menjadi nyata, yakni telah menjadi suami dari saudara kembar Zayen.
Karena merasa sudah cukup memandangi sebuah inkubator, Viko segera menemui sang istri sekaligus menjenguk kakak iparnya.
Sedangkan di sudut yang tidak jauh dari pandangan Viko, terlihat ada seseorang yang tengah memperhatikan Viko. Bahkan, Viko sendiri tetap cuek dan tidak berpikiran tentang sesuatu yang menurutnya mencurigakan.
Dengan santai dan pelan, Viko melangkahkan kakinya dengan sangat hati hati. Ia berharap, tidak ada lagi kecemasan yang mendalam untuk ia pikirkan.
Sedangkan sosok yang tengah memperhatikan Viko, kini tengah berdiri didepan ruangan NICU tanpa Viko sadari.Viko terus pergi cuek begitu saja tanpa ada suatu beban apapun dalam pikirannya.
Saat tidak lagi terlihat bayangan Viko, seseorang tersebut tengah menggunakan masker dan segera mendatangi salah satu perawat untuk meminta izin masuk ke ruang NICU untuk menemui salah satu bayi yang dianggapnya bagian dari keluarganya.
Cukup memakan waktu yang lumayan sedikit lama, seseorang tersebut akhirnya mendapatkan izin untuk masuk ke ruangan NICU tanpa adanya kecurigaan sedikitpun.
"Tunggu!!" seru seseorang tengah memanggilnya.
"Maaf, ada apa ya Pak?" tanyanya dengan santai dan tenang.
"Buka masker kamu, sekarang juga." Perintahnya.
__ADS_1
"Tapi, Pak ... saya sedang flu dan batuk."Jawabnya beralasan.
"Tidak ada alasan apapun, sekarang juga cepetan! dibuka." Perintahnya dengan suara meninggi.
"Ada apa ini, kenapa ada keributan." Tanya salah satu petugas rumah sakit yang tengah ikut mengawasi ruangan NICU.
Mau tidak mau, masker yang dikenakannya pun dibukanya.
"Apakah bapak mengenal saya? tidak mengenalnya 'kan? karena sebenarnya saya ingin melihat keponakan saya yang diberi nama Lira Aulia." Jawabnya sambil menunjuk ke sebuah inkubator yang didalamnya ada sosok bayi perempuan.
"Satu lagi, jika bapak bapak tidak percaya dengan saya, silahkan cek dan tanyakan langsung dengan pihak keluarga bayi itu." Ucapnya yang tidak mau berhenti membela diri.
"Baiklah, mari ikut dengan saya. Jika memang tidak ada ciri ciri yang kami curigai, maka kami akan melepaskan ibu kembali." Jawab seorang petugas pengawasan yang diperintahkan oleh keluarga tuan Alfan.
"Baik, silahkan jika mau memeriksa saya." Jawabnya dengan tenang.
Kini, perempuan yang tengah di curigai oleh salah satu suruhan tuan Alfan sedang dilakukan pemeriksaan.
Dengan cepat, Viko memutar balikkan badannya dan segera mendatangi ruangan yang sedang menahan perempuan yang mencurigakan itu.
Namun, langkah Viko bukannya ke ruangan yang diperintahkan oleh petugas. Viko memilih untuk mendatangi ruang NICU.
'Aku rasa masih ada yang mengganjal di ruangan NICU itu.' Batinnya, kemudian segera mendatanginya ruangan yang ia maksudkan.
Saat Viko sudah berada di depan ruangan NICU, seketika itu juga kedua matanya terbelalak melihatnya. Seperti tidak percaya, namun itulah kenyataannya.
Kedua tangannya pun mengepal kuat, sorot matanya seketika berubah menjadi tajam. Tanpa pikir panjang, Viko segera masuk kedalam ruangan NICU.
"Rupanya kamu orangnya."
DEGGGG!!!
__ADS_1
Seketika, detak jantungnya terasa berhenti.
Seseorang yang berada didalam ruangan itu tetap dengan posisinya, sedikitpun tidak berani menoleh maupun gerak.
Dengan sigap, perempuan itu melakukan aksinya. Ia memutar badannya dan satu tangan kirinya langsung menarik kerah baju Viko dengan kuat. Lalu, sebuah pistol tepat menempel kening milik Viko.
Seketika, Viko kaget dibuatnya. Ia tidak pernah menyangka seorang perempuan yang ada di hadapannya jauh lebih sadis dari dugaannya. Karena tidak ingin terjebak dengan rencananya, Viko berusaha mencari ide, agar dirinya dapat menyingkirkan bibir pistol yang tengah menempel pada keningnya.
"Diam! atau sebuah peluru ini tembus dikepalamu sekarang juga. Aku bisa saja melepaskan pelatuk ini tepat di dikepalamu, jika kamu melawanku." Ancamnya.
"Tenaga kamu cukup kuat rupanya, sejak kapan kamu bisa sekuat ini." Ejek Viko sambil senyum sinis.
"Aku tidak lagi sedang bercanda! sekarang juga, aku akan hempaskan peluru ini. Kamu tahu!" ancamnya dengan tatapan ingin menb*unuh.
Dengan sigap, Viko langsung merampas pistolnya dan melintirkan tangan perempuan itu dengan kuat. Kemudian, memutar tubuh perempuan yang ada dihadapannya dan menjatuhkannya ke lantai dan menahannya dengan sangat kuat. Terpaksa, sebuah peluru tengah dihempaskan begitu saja.
DORRRRR!!!!
Suara tembakan tengah menembus langit langit ruangan NICU, semua yang mendengarnya pun berteriak histeris.
Zayen maupun yang kedua orang tuanya dan kedua mertuanya serta istri dan adik iparnya pun tengah mendengar suara pistol yang tengah dihempaskan. Disaat itu juga, Zayen langsung menangkap suara pistol dari sebuah ruangan ICU.
"Jangan jangan, Viko!" Ucap tuan Alfan yang tidak mendapati sosok Viko bersamanya.
Seketika, tuan Alfan dan tuan Tirta serta Zayen langsung keluar dari ruang rawat Afna dan berlari begitu kencang menuju ke ruangan NICU. Semua yang mendengarnya pun ada yang lari ketakutan dan ada juga yang mencari sumber suara pistol.
Hei Readers setia ... sebentar lagi akan berhenti dihujung sebuah cerita nih, masih adakah yang mau lanjut kisah Kazza dan Vella?
Setelah kisah ini benar benar END, otor mau lanjut kisah putra dari Zayen. Sifat dan karakternya sangat berbeda jauh dengan sang ayah. Entah sifat dari siapa yang menuruninya, sang kakek? sang paman? atau ... sang ibu sendirilah yang tengah memanjakannya? atau Omma nya sendiri yang memanjakannya? penasaran? pastinya akan ada sebuah teka tekinya. Biasalah Otor ini sukanya bikin PR dan tugas dimeja kelas. 😄😄😄😄
Semangat pagi ya, Readers setia ...
__ADS_1