
Afna yang mendengar penuturan dari Zayen pun langsung duduk didekat suaminya di sofa.
"Maaf, sayang ... aku kira kamu akan mengerti maksudku. Ternyata, tidak sama sekali." Ucap Afna sedikit lesu, Zayen langsung menghadap istrinya.
"Aku yang seharusnya meminta maaf, karena aku sudah membuatmu khawatir. Mungkin, jika aku memanggilmu tidak akan terjadi kegaduhan seperti tadi." Jawab Zayen menyesalinya, kemudian menatap wajah istrinya dengan lekat.
"Lain kali jangan kamu ulangi lagi, sayang ... untung warga disini tidak mudah emosi. Jika ia, sangat berbahaya."
"Iya sayang, maafkan aku. Eeemmmm ....." ucapannya pun terhenti, Afna merasa gugup saat tengkuk lehernya ditahan oleh suaminya. Zayen mulai menatapnya dengan lekat. Afna semakin gugup, meski sudah beberapa kali melakukannya. Namun, tetap saja sangat gugup jika berhadapan dengan suaminya. Ditambah lagi, Zayen yang sudah berubah penampilannya membuat Afna terpesona. Afna berusaha mengatur pernapasannya, dan detak jantungnya agar tidak terdengar saat berdegup sangat kencang.
Dengan lembut, Zayen menci*um bi*bir milik istrinya yang ranum yang terasa manis dan menjadi candu untuk suaminya.
"Aku menginginkannya." Bisik Zayen didekat telinga istrinya sambil menjelajah ke sembarang arah yang diinginkannya. Afna pun mengangguk, Zayen pun langsung mengangkat tubuh istrinya untuk pindah di atas tempat tidur. Dengan liar, Zayen melakukannya. Hingga keduanya terhanyut dalam asmaranya dan nafsunya.
Setelah ritualnya terpenuhi, Zayen segera menyelimuti tubuh Afna hingga sampai lehernya. Kemudian Zayen mengecup keningnya dengan lembut.
'Terimakasih ,sayang ... kamu sudah memberikan segalanya untukku. Sedangkan aku masih menjadi misteri untuk kamu, dan aku tidak tahu kapan semua akan aku jelaskan kepadamu. Untuk saat ini, aku benar benar belum siap untuk melakukannya. Mungkin diriku ini tidak layak menjadi suami kamu, aku yang tidak lain adalah seorang pecundang. Maafkan aku sayang ... aku sudah mengambil barang berharga milikmu, sedangkan aku sangat misterius di hadapan kamu.' Gumamnya sambil memeluk istrinya.
Karena rasa kantuknya yang tidak bisa ditahan, Zayen pun akhirnya tidur dengan pulas bersama istrinya dalam satu selimut.
*****
Di pagi buta, Zayen terbangun dari tidurnya. Dengan pelan, Zayen membuka kedua matanya dan mengeceknya. Dilihatnya sang istri yang masih terlelap dari tidurnya, Zayen segera bangun dan membersihkan diri karena ritualnya yang semalam.
__ADS_1
'Sungguh, kebahagian seperti ini benar benar aku merasakannya. Apakah aku bisa mempertahankannya, apa jadinya jika kak Seyn mengetahui Afna yang sudah bisa berjalan. Aku benar benar tidak bisa menjamin akan baik baik saja dengan pernikahanku, pasti akan ada saatnya kak Seyn melakukan hal gila terhadapku dan Afnaya.' Batinnya dengan gelisah.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Afna yang tiba tiba mengagetkan suaminya yang sedang duduk disampingnya. Afna pun mengganti posisinya untuk duduk didekat suaminya sambil bersandar dan memegangi selimutnya agar tidak lepas dari tubuhnya, karena Afna maupun Zayen tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Baru saja, kamu sendiri kenapa bangun? jika kamu masih ngantuk, tidurlah."
"Aku merasa gerah, aku ingin mandi."
"Mandi? kebetulan, aku juga belum mandi." Ucapnya sambil senyum menggoda.
"Tidak jadi, entah kenapa aku merasa dingin. Jika kamu ingin mandi, cepatlah. Aku mau tidur lagi, aku mandinya nanti saja." Jawab Afna langsung mengumpat didalam selimut untuk menghindari ritualnya.
"Hemm!! bohong, kamu pasti beralasan. Ayo kita mandi, aku tidak akan melakukannya. Hari ini aku akan mengajak kamu datang kerumah kamu, ada kejutan untuk kamu."
"Benarkah? kejutan apa? awas! kalau sampai bersengkongkol dengan mama dan papa. Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan jatah dariku."
Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menggendong Afna sampai didalam kamar mandi. Afna pun hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Benar saja, Zayen hanya membantu istrinya untuk menggosok tubuh istrinya di bagian area yang tidak dapat dijangkau oleh tangannya.
Setelah selesai membersihkan diri, Zayen dan Afna segera mengenakan pakaiannya. Keduanya kini terlihat sangat serasi dengan penampilan suaminya yang baru.
"Sayang, aku rasa kamu tidak pantas dengan penampilan kamu yang sekarang."
__ADS_1
"Bukannya ini yang kamu inginkan, kenapa kamu sekarang berubah pikiran?" tanyanya penuh keheranan.
"Aku takut, banyak wanita akan melirikmu. Sekarang kamu terlihat tampan, ditambah lagi dengan penampilan kamu yang sekarang." Jawabnya terlihat menyesalinya.
"Sini, aku peluk. Aku bukan laki laki bod*oh yang mudah jatuh cinta, aku hanya laki laki pecundang yang hanya memberi sebuah nama buruk dalam keluarga." Ucapnya sambil memeluk erat istrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Setelah itu, Afna melepaskan pelukannya dan menatap serius wajah suaminya.
"Maksud kamu?" Afna balik bertanya dengan penasaran.
"Iya, bukankah aku ini terkenal preman. Berarti aku ini, memberi sebuah nama buruk terhadap keluarga."
"Ooh, aku kira apaan. Aku yakin, suatu saat nanti akan ada jawabannya. Makanya, aku ingin merubah penampilan kamu agar tidak terlihat menakutkan dengan gaya kamu yang seperti preman. Meski resikonya sangat menakutkan untukku, setidaknya orang lain tidak menganggapmu buruk."
"Hemm ... mertuaku saja tidak memandangku buruk, kenapa meski memikirkan orang lain untuk menilai."
"Tidak begitu sih, intinya aku tidak ingin suamiku menjadi bahan cemoohan orang orang yang tidak bertanggung jawab."
"Terimakasih ya, sayang ... kamu sudah banyak perhatian untukku. Begitu juga denganku, aku sendiri merasa was was jika kesembuhan kamu diketahui banyak orang. Aku pun sangat takut kehilangan kamu, karena aku sudah terpaut denganmu seorang. Aku takut, mimpi buruk akan menghampiriku." Ucap Zayen kembali memeluk istrinya, seakan tidak ingin melepaskannya.
'Sayang, selanjutnya mungkin kita akan memulai mendapatkan konflik. Tapi percayalah, aku akan berusaha untuk menjagamu. Meski nyawaku yang akan dijadikan taruhannya.' Batin Zayen sambil mengusap rambut panjang milik istrinya.
"Percayalah, kamu adalah suamiku untuk selamanya. Aku akan terus menjadi milikmu, dan tidak akan tergantikan." Jawab Afna yang masih dalam pelukan suaminya.
"Terimakasih, sayang ... atas semua semua yang aku dapatkan dari kamu. Cinta kamu dan mahkota kamu. Aku akan selalu menjagamu sampai aku hanya meninggalkan sepenggal nama." Ucap Zayen dengan yakin untuk meyakinkan istrinya, kemudian melepaskan pelukannya. Zayen kembali menci*um keningnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Sayang, beneran nih kita mau ke rumah papa?" tanyanya penasaran.
"Benar, aku tidak bohong. Setelah ini, kita langsung berangkat." Tadi malam, disaat aku sedang dalam perjalanan ke salon untuk mencukur rambut tiba tiba papa menelfonku. Papa berpesan, pagi ini kita dimintai untuk datang. Katanya sih akan ada kejutan untuk kamu, aku sendiri sih tidak tahu." Jawab Zayen menjelaskan.