
Dilain tempat, Viko sudah mengarahkan anak buahnya maupun anak buah Zayen dan juga pengawal dari tuan Alfan sendiri.
Dengan kecepatan tinggi, Viko segera mendatangi rumah keluarga Wilyam. Sesampainya di depan pintu gerbang, Viko ditahan untuk masuk.
"Maaf, kami tidak bisa membukanya. Tolong patuhi peraturan dirumah ini, saya akan menghubungi pemilik rumah terlebih dahulu." Ucap dari salah satu penjaga rumah.
"Saya tidak butuh waktu lama, ini penting." Jawab Viko yang sudah tidak bisa menahan kesabaran.
"Maaf, tunggu sebentar." Ucapnya yang masih berusaha menahan Viko yang sedang berdiri didepan pintu gerbang.
"Cepat! buka! nyawa tuan Alfan beserta anak dan menantunya tengah dalam bahaya, apa kalian tidak mendengarku." Ucap Viko yang sudah tidak lagi sabar, tanpa basa basi Viko langsung menunjukkan pistolnya karena sudah tidak lagi bisa menahan kesabarannya.
"Cepat! buka! apa perlu pistol ini melayang pada kalian." Ucap Viko dengan sorot mata yang tajam.
"Ba--ba-ik," jawabnya sedikit terbata karena takut. Sebelum membukanya pun, tuan Angga sudah menghampirinya. Viko kembali menyumputkan kembali sebuah pistolnya.
"Viko, masuklah." Ucap tuan Angga penuh curiga terhadap Viko yang tiba tiba mendatangi rumahnya.
Viko pun segera masuk, mobilnya pun tetap berada didepan pintu gerbang.
"Katakan, ada apa kamu datang kemari?" tanyanya penuh curiga.
"Maaf Tuan, waktu saya tidak banyak. Maafkan kelancangan saya datang ke rumah tuan dengan kasar, karena ini sangat penting untuk disampaikan. Bahwa saya sangat membutuhkan tuan Zio untuk ikut bersama saya, suasana di rumah tuan Arganta sangat mencekam. Tuan Alfan beserta istri dan kedua anaknya dan juga menantunya berada di sana." Jawab Viko menjelaskan.
"Apa!!! Alfan beserta kedua anaknya dan istrinya maupun Afna menantunya sedang dalam bahaya. Tunggulah disini, aku akan memanggil adikku untuk ikut bersamamu." Ucapnya, kemudian segera masuk kedalam rumah untuk memanggil sang adik yang tidak lain adalah kakek Zio.
"Papa tunggu, kenapa Papa terlihat cemas?" tanya putranya yang baru saja keluar dari kamar.
"Paman kamu ada dimana?" tanya sang ayah.
__ADS_1
"Paman ada di kamarnya." Jawabnya.
"Cepat panggil dan kita akan segera berangkat." Perintah ayahnya.
"Ada apa? kenapa kamu terlihat gelisah." Tanya sang istri penasaran.
"Jangan banyak tanya, dan jangan menanyakan pada Ganan. Aku berangkat, jaga rumah dengan baik. Jangan biarkan orang asing memasuki rumah ini, pastikan pada penjaga rumah ini untuk siap siaga." Perintahnya, kemudian segera keluar dari rumah.
Begitu juga dengan kakek Zio dan keponakannya segera keluar dari rumah dengan terburu buru.
Sesampainya di luar rumah, Semua berangkat dengan satu mobil yang di kendarai oleh Viko.
Dengan kecepatan tinggi, Viko terus melajukan mobilnya. Tuan Ganan masih terlihat tenang, bahkan dirinya hanya menatap luar jendela dengan santai.
'Semoga saja, Zayen dan istrinya baik baik saja. Begitu juga dengan Alfan dan Zeil, semoga tidak ada satupun yang terluka. Semoga anak buahku datang dengan tepat waktu.' Batin tuan Ganan penuh harap.
"Tunjukkan! siapa kamu sebenarnya, jika kamu seorang laki laki." Ucap tuan Alfan penuh kesal bercampur emosi.
Tanpa menjawab pertanyaan dari tuan Alfan, kedua laki laki itu langsung membuka penutup kepalanya dan tertawa lepas dihadapan tuan Alfan.
Seketika itu juga, tuan Alfan maupun istrinya dan juga Zayen terbelalak melihatnya.
"Ordan."
"Dana."
"Paman Jojo."
Kedua orang tua Zayen maupun Zayen telah meyebutkan nama yang dikenalnya.
__ADS_1
"Sudah Puas, 'kan?" tanya seorang Dana yang dikenal baik, namun kenyataannya sangat busuk hatinya. Sungguh sangat disayangkan, sifat baiknya telah hilang begitu saja.
"Brengsek! kamu, Dana! rupanya kamu yang selama ini telah mengambil kebahagiaan istriku." Ucap tuan Alfan dengan nafasnya yang terasa berat dan juga panas, kedua tangannya pun mengepal sangat kuat.
Sosok tuan Dana dan lelaki tua yang berada disampingnya tertawa lepas tanpa ada beban di pundaknya.
"Siapa laki laki tua yang ada disampingmu, itu! Dana." Ucap tuan Alfan sambil menunjuk dengan tatapan kebencian pada laki laki tua yang berada disamping tuan Dana. Tuan Dana terus tertawa puas mendengar pertanyaan dari tuan Alfan.
"Kamu ingin tahu siapa aku? aku adalah lelaki yang sudah dipenjarakan oleh ayah mertua kamu. Gara gara ayah mertua kamu menjadi pahlawan kesiangan, pernikahanku gagal begitu saja." Jawabnya menimpali, sedangkan tuan Alfan sendiri baru mengerti akan rencana pada keduanya yang sama sama ingin menghancurkan keluarganya.
'Lalu maksud dari OR itu siapa? bukankah Jordana, kenapa ada dua orang yang dendam dengan dendam yang berbeda. Ada hubungan apa pada mereka berdua.' Batin tuan Alfan mencoba berpikir untuk mencari tahu.
"Siapa nama tuan? kenapa tuan bisa mengenal tuan Ordan." Tanya tuan Alfan penasaran dengan tatapan penuh kebencian.
Sedangkan Zayen baru teringat dengan sosok laki laki tua yang berada dihadapannya.
'Aku ingat laki laki ini, bukankah laki laki tua ini adalah kakek dari Reina. Iya, aku tidak salah lagi. Aku pernah melihatnya saat berada di Restoran, keduanya terlihat akrab. Bahkan Reina memanggilnya dengan sebutan kakek.' Batin Zayen mencoba mengingatnya.
Zayen maupun Afna masih berdiam diri tidak jauh dari sang ayah. Zayen sendiri bingung harus berbuat apa, hanya Viko yang diharapkannya, tidak ada yang lain. Zayen pun tidak menyangka jika dirinya tengah diikuti oleh musuh dari ayahnya. Zayen pun sangat yakin, jika Viko akan segera datang.
'Viko, kenapa kamu belum datang juga. Awas saja kamu, kalau kamu ingkar janji dalam berteman. Aku pastikan, kamu akan kujadikan makanan lezat di kebon binatang.' Batin Zayen yang sudah tidak sabar menunggu teman sekaligus kaki tangannya.
Zayen sendiri mengakui, bahwa dirinya tidak berani melawan musuh yang ada depannya. Dikarenakan, lawan didepannya semua memiliki senjata api masing masing. Sedangkan Zayen sendiri tidak memiliki apapun selain pasrah, itu saja.
Tiba tiba kedua bola mata Zayen tertuju pada sebuah lemari yang berkode yang cukup besar ada disampingnya, yakni terdapat pintu rahasia menuju ruangan tersembunyi yang sulit untuk dilacaknya. Tidak hanya itu saja, pada lemari tersebut terdapat laci rahasia berkode. Hanya pemilik rumah lah yang dapat mengetahuinya, bahwa ada laci rahasia yang sangat sulit untuk ditebaknya.
Kedua sudut bibir milik Zayen pun tersenyum tipis saat melihat lemari rahasia dan laci yang ada didekatnya. Alih alih Zayen menggeser posisi berdirinya untuk mendekati.
'Bagaimana ini, mana mama jaraknya lumayan beberapa langkah lagi. Bagaimana aku harus menarik mama untuk memasukkannya kedalam lemari ini. Mana Afna sedang hamil muda, ada nyawa didalam tubuhnya. Apa yang harus aku lakukan, sungguh sangat sulit.' Batin Zayen yang terus mencari cara untuk menyelamatkan istrinya, calon buah hatinya dan juga ibunya.
__ADS_1