Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Perbincangan


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan sang ayah, Zayen segera menyusul istrinya masuk ke kamar. Sesampainya dikamar, dilihatnya sang istri sedang merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Zayen mendekati Afna dan ikut merebahkan dirinya disamping sang istri.


"Apakah kamu bahagia hari ini? jawablah dengan jujur." Tanya Zayen, kemudian menoleh kearah samping. Afna pun ikut menolehnya, keduanya saling menatap satu sama lain. Afna tersenyum, kemudian mengangguk.


"Aku sangat bahagia, bahkan aku sendiri tidak menghitungnya. Dan, kamu? apakah kamu juga bahagia hari ini? jawab juga dengan jujur." Jawab Afna, kemudian balik bertanya kepada suaminya.


"Tentu saja, aku pun sangat bahagia. Kini, sudah tidak ada lagi penghalang untuk kita menikmati kebahagiaan yang sudah kita gapai bersama." Jawab Zayen, kemudian semakin mendekatkan posisinya didekat istrinya.


Dengan pelan, Zayen mendaratkan ciu*mannya pada sang istri sangat lembut. Afna pun tidak melakukan penolakan, keduanya pun sama sama melepaskan rindu yang sesungguhnya. Tidak lagi ada beban sedikitpun pada keduanya, Afna maupun Zayen kini benar benar menikmati momen kebahagiaannya tanpa adanya satu masalah sedikitpun.


Setelah menikmati momen bahagianya, Zayen segera membersihkan diri bersama sang istri. Keduanya saling bergantian membantu menggosok tubuhnya dibagian yang sulit untuk dijangkau. Dengan sangat hati hati, Zayen memperlakukan istrinya dengan lembut.


Zayen menyadari, pada diri istrinya ada janin dan yang akan menjadi calon sang buah hati mereka berdua.


Waktu pun sudah cukup lama, antara Afna dan Zayen membersihkan diri. Kemudian, keduanya segera keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian santainya.


Meski hanya mengenakan pakaian sederhana, Afna tetap terlihat cantik. Zayen pun tidak ada henti hentinya memperhatikan sang istri yang sedang bercermin sambil menyisiri rambut panjangnya.


Zayen kembali teringat dengan masa masa saat dirinya tinggal di rumah sangat sederhana bersama sang istri.


"Sini, biar aku bantu kamu menyisiri rambut. Kamu tahu? aku masih merindukanmu. Jangan protes, biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan." Ucap Zayen yang tiba tiba meraih sisir ditangan sang istri, Afna pun hanya tersenyum melihat suaminya lewat cermin.


"Kenapa aku dilarang untuk protes? aku pun masih bisa untuk melakukannya, aku sudah tidak lagi sakit. Lihatlah, aku sudah sehat. Kakiku pun sudah bisa berjalan dengan normal, jika mual dan pusing itu sudah dari bawaan hamil." Jawab Afna yang merasa tidak enak hati dengan suaminya.


"Sudah aku bilang, jangan protes. Aku merindukanmu, bahkan aku ingin selalu memberi perhatian penuh untukmu." Ucap Zayen sambil menyisiri rambut istri tercintanya.


"Aku menyerah, percuma juga aku terus merayu. Yang ada aku akan merasa kesal sendiri, karena kamu lebih pintar dariku." Jawab Afna pasrah dengan apa yang akan dilakukannya oleh sang suami, Zayen pun tersenyum. Kemudian membungkukkan badannya dan mencium pipi kiri milik Afna.


"Aku mau keluar sebentar, papa ingin berbicara sesuatu denganku." Ucapnya didekat telinga istrinya, Afna pun mengangguk.


Setelah itu, Zayen segera keluar dari kamarnya dan menemui sang ayah di ruang kerjanya. Dengan santai, Zayen menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Kak, dimana kakak ipar?" tanya Adelyn.


"Ada di kamar, kenapa?" jawabnya bertanya balik.


"Tidak, aku habis bikin kueh. Siapa tahu saja kakak ipar suka, itu saja. Ngomong ngomong aku boleh menemui kakak ipar, 'kan? soalnya aku kesepian." Jawab Adelyn sedikit merayu.


"Temui saja di kamar, mau atau tidaknya kakak tidak tahu." Ucap Zayen, kemudian segera menuju ruang kerjanya sang ayah.


Sedangkan Adelyn segera menemui kakak iparnya, berharap mendapatkan masukan yang positif.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Afna yang baru saja mau membuka pintu.


Ceklek.


Afna pun membuka pintunya, dan dilihatnya ada Adelyn yang sudah berdiri dihadapannya.


"Tidak ada apa apa, aku hanya mau memanggil kak Afna untuk turun dan menemaniku ditaman belakang menikmati kueh buatanku." Jawab Adelyn menjelaskan.


"Kamu bisa membuat kueh? wah ... ternyata kamu pintar juga, tidak sepertiku yang pemalas." Ucap Afna yang menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan apapun, bahwa sedari kecil sang kakak selalu memanjakannya.


"Aku juga baru belajar, semoga saja rasanya tidak mengecewakan." Jawab Adelyn berusaha meyakinkan dirinya sendiri, sedangkan Afna menaroh kecurigaan terhadap Adelyn yang tiba tiba belajar membuat kueh.


'Apa ada hubungannya dengan seseorang? ah, kenapa aku jadi penasaran.' Batin Afna, kemudian tersenyum tidak jelas didepan Adelyn.


"Hem ... senyum senyum, ayo kita turun." Ucap Adelyn yang sudah tidak sabar ingin menunjukkan kueh buatannya. Afna pun mengangguk, kemudian mengikuti langkah Adelyn menuju ke suatu tempat.


Sedangkan Zayen sendiri kini sedang berada di ruangan kerja sang ayah. Meski sedikit canggung, Zayen berusaha untuk bersikap tenang.


"Papa memintamu untuk menemui Papa di ruang kerja ini, ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan untuk kamu." Ucap sang ayah membuka suara.


"Susuatunya itu apa, Pa?" tanya Zayen penasaran.

__ADS_1


"Papa menginginkan kamu untuk mengelola perusahaan, dan Papa juga ingin meminta Viko untuk menjadi sekretaris kamu. Tidak hanya itu, Viko akan menjadi teman kemanapun Adelyn pergi. Papa tidak yakin dengan adik kamu itu, sekali keluar bisa lupa waktu." Jawab sang ayah penuh harap.


"Kalau soal Viko sepertinya Zayen kurang yakin deh, Pa. Kita tunggu Viko saja, Pa. Agar lebih jelas, dan tidak diragukan lagi dengan jawaban dari Viko. Tapi, bagaimana dengan kak Seyn? apakah kak Seyn sudah bisa dibebaskan? Zayen sangat mengkhawatirkannya." Ucap Zayen yang tiba tiba teringat dengan sosok kakaknya itu.


"Kamu tidak perlu khawatir, Seyn akan segera bebas dari masa hukumannya. Kalau tidak nanti sore, berarti besok pagi. Papa sudah meminta Viko untuk menjemputnya, kemudian akan papa serahkan salah satu perusahaan untuk dikelolanya. Tempat tinggalnya pun masih sama seperti dulu. Apakan kamu mengizinkannya? katakan saja." Jawab sang ayah menjelaskannya, dan meminta persetujuan dari putranya.


"Tentu saja Zayen tidak melarangnya, Pa. Mau bagaimana pun, Zayen sudah dibesarkan oleh papa Arganta." Jawab Zayen meyakinkan.


"Papa bangga memilikimu, meski kamu sudah diperlakukan buruk oleh orang tua asuh kamu. Sedikitpun kamu tidak menaruh dendam maupun benci, dan kamu tetap bersikap baik dengan saudara kamu. Baiklah, kalau begitu Papa tidak lagi cemas memikirkan kamu. Papa yakin, kamu anak Papa yang dapat Papa banggakan." Ucap sang ayah dengan bangga memiliki seorang anak laki laki yang berhati baik.


"Papa tidak perlu mengkhawatirkan Zayen. Apapun keputusan dari Papa, pasti itu yang terbaik. Zayen pun percaya dengan Papa, bahwa Papa pun sosok orang tua yang patut dibanggakan." Jawab Zayen yang juga ikut bangga memiliki seorang ayah yang begitu bijak dalam setiap mengambil keputusan.


Sedangkan Adelyn dan Afna sedang menikmati kueh buatan Adelyn sendiri.


"Kak, bagaimana rasanya?" tanya Adelyn sedikit kaki memanggil Afnaya dengan sebutan kakak. Mau tidak mau, Adelyn tetap hormat sebagian mestinya.


"Sangat enak dan juga menggoda selera, kapan kapan ajarin aku, ya ..." Jawab Afna sambil menikmati kueh.


"Hem ... bukannya tante Nessa sangat pintar membuat kueh, bahkan Mamaku saja ikut belajar dari Mama kamu." Ucap Adelyn mengingatkan.


"Ah, benar juga kata kamu. Tapi jauh, mending sama kamu saja." Jawab Afna dan tersenyum.


"Maaf Nona, permisi ..." ucap salah satu pelayan dirumah tengah mengagetkan Afna maupun Adelyn.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Adelyn.


"Ada tamu didepan, Nona. Sedangkan tuan sendiri sedang sibuk di ruang kerjanya, dan tidak bisa di ganggu sebelum pintu terbuka." Jawabnya.


"Oooh, baiklah. Dipersilahkan duduk, dan katakan padanya untuk menunggu sebentar." Ucap Adelyn, kemudian segera ia mencuci tangan dan masuk ke rumah untuk menemui tamu yang baru saja datang.


"Adelyn, kamu tidak tanya siapa yang datang?" tanya Afna.


"Aku lupa, mungkin saja tukang servis. Aku temui sebentar ya, Kak." Jawab Adelyn, kemudian segera menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2