Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Berbagi sembako


__ADS_3

Sesampainya di rumah yang cukup sederhana, Zayen dan Afna turun dari mobil. Dilihatnya rumah yang terlihat kecil, namun mampu membuat sepasang suami istri menjadi saling menyukai.


Zayen berdiri tegak di sebelah istrinya sambil menatap lekat sebuah rumah yang menjadi saksi bisu dalam hubungan rumah tangga Zayen dan Afna.


Disaat itu juga, Afna mengubah posisinya dan kini tengah menghadap kearah suaminya. Zayen yang mendapati tatapan dari istrinya, ia langsung memicingkan alisnya seperti akan mendapati sebuah pertanyaan.


"Aku merasa bahwa rumah ini sama sekali tidak ada yang berubah sedikitpun. Apakah kamu memerintahkan seseorang agar tetap terlihat berpenghuni?" tanya Afna menatap lekat suaminya.


"Aku akan selalu menjaga rumah ini, karena di rumah inilah aku mendapatkan apa yang aku mau. Termasuk kamu, aku berhasil mendapatkan kamu." Jawab Zayen dan tersenyum menggoda.


"Hem ..." Afna hanya berdehem tanpa mengucapkan kalimat lainnya.


"Nak Zayen ..." seru salah seorang bapak bapak yang tengah memanggilnya. Afna dan suami menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya bapak paruh baya tersenyum lebar pada Zayen yang tengah mendekatinya.


"Pak Kumis, apa kabarnya?" sapa Zayen dengan ramah dan mengulurkan tangannya, pak Kumis pun menerima uluran tangan milik Zayen. Keduanya saling bersalaman.


"Tambah sukses saja, kamu ini." Ucap pak Kumis memujinya, Zayen sendiri tersenyum mendengarnya.


"Pak kumis bisa saja, saya masih saja seperti yang dulu." Jawab Zayen yang tidak suka ada sesuatu pujian untuknya.


"Istri kamu hamil? wah, selamat nak Zayen. Oh iya, ngomong ngomong nak Zayen datang ke rumah ini ada apa? apakah rumah ini mau dijual?" tanya pak Kumis penasaran.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Saya dan Afna sama sama merindukan tempat yang dimana kita pernah memulai rumah tangga dari nol." Jawab Zayen.


"Bapak kira mau di jual, sayang sekali kalau mau dijual." Ucap pak Kumis.


"Wah ... rupanya kedatangan Bos muda, nih." Seru seorang laki laki yang tiba tiba datang.


"Jangan berlebihan, pak Ridwan." Jawab Zayen merasa risih dengan sebutan Bos ketika berada dilingkungan sederhana.


"Maaf Tuan, semua barang barang sudah tersusun rapi." Ucap seorang suruhan dari Zayen.


"Baiklah, kamu dan yang lainnya boleh pergi sekarang juga. Biarkan aku dan pak Ruli yang akan membereskannya." Jawab Zayen memerintahkan, sedangkan orang suruhannya hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Kedua bola mata pak Ridwan dan pak Kumis tertuju pada sebuah tumpukan barang barang sembako didepan rumah sederhana milik Zayen.


"Ada acara bagi bagi sembako untuk warga sekitaran sini, pak ... meski tidak sebera nilainya. Semoga bisa mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga beberapa hari." Jawab Zayen menjelaskan.


"Nak Zayen dari dulu tidak pernah berubah sampai sekarang, walaupun sudah berstatus orang kaya sekalipun. Nak Zayen tetap tidak ad ada perubahan, justru semakin baik yang tidak pernah kita sangkakan. Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan nak Zayen untuk warga sekitar." Ucap pak Kumis yang bangga dengan sosok Zayen yang tidak pernah sombong, dan selalu ingat akan kesusahan orang lain.


"Benar sekali, kamu tidak pernah sombong nak Zayen. Bahkan, kamu masih peduli dengan warga sini. Saya benar benar salut dengan kepribadian nak Zayen, semoga akan terus seperti ini." Ucap pak Ridwan ikut memuji.


"Jangan berlebihan, pak. Oh iya Pak, Kalau begitu saya serahkan sama pak Kumis dan pak Ridwan untuk membagikan bingkisan sembakonya pada warga sekitar. Jika masih kurang, pak Ridwan dan pak Kumis bisa menghubungi nomor saya ini. Nanti akan segera datang barang barang sembakonya." Jawab Zayen, kemudian memberikan kartu namanya pada pak Kumis.

__ADS_1


"Baik, nak Zayen. Sekali lagi, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga keselamatan dan keberkahan selalu nak Zayen dapatkan." Ucap pak Ridwan dan memberinya doa, Zayen pun mengangguk dan tersenyum mendengarnya.


Sedangkan Afna yang merasa dianggurin, pada memilih duduk diteras rumah. Afna kembali teringat saat mendapati suaminya yang sedang mengelap motornya. Selintas, bayangan kerinduan seakan tidak ingin meninggalkan rumah yang tengah membuatnya nyaman dan bahagia.


"Kamu sedang melamunin apa, sayang?" tanya Zayen yang tiba tiba sudah duduk didekat istrinya. Afna sontak kaget mendengar dan mendapati suaminya yang sudah duduk di dekatnya.


"Aku merindukan masa masa itu, aku tidak bisa berpaling dengan masa lalu yang menurutku sangat sulit untuk aku tinggalkan tempat ini. Kamu tahu? aku sangat bahagia berada dirumah ini. Bahkan, aku tidak bisa melukiskannya. Aku merindukan penampilan kamu dan gayamu yang biasanya itu, dan ucapanmu yang menakutkan itu dan penuh ancaman untukku. Bahkan, sikap dinginmu padaku membuatku rindu." Jawab Afna sambil menatap lurus kedepan tanpa menoleh kearah suaminya yang jelas jelas disebelahnya.


"Semua itu akan menjadi kenangan untuk kita. Begitu juga denganku, aku pun sama. Aku merindukanmu dengan kepolosanmu. Meski kamu tidak pernah kekurangan dalam segi materi dan kasih sayang dari keluarga kamu sendiri, namun kamu masih memiliki rasa takut. Benar benar aku tidak menyangka nya, biasanya orang kaya akan terpaku dengan kekayaannya. Tapi, kamu tidak sama sekali. Bahkan kamu bersedia menjadi istriku untuk tinggal ditempat yang sangat sederhana. Apakah karena kamu selalu fokus dengan masa masa mudamu dengan belajar, hingga kamu jadi sepolos ini? hebatnya lagi kamu dapat membuatku gila." Ucap Zayen sambil merangkulkan tangannya pada istrinya dan mengingat tatkala dirinya mulai merasa ingin memiliki Afna sepenuhnya.


"Aku sendiri tidak tahu kenapa. Disaat aku bersanding denganmu ketika kamu mengucapkan kalimat sakral, tubuhku seperti ada magnet dan terasa ditarik olehmu." Jawab Afna yang sedang mengingat masa lalunya saat dirinya harus menikah dengan sosok laki laki yang tidak pernah dikenalnya dan tidak pernah terbayangkan olehnya.


"Sudahlah, obrolannya kita lanjut lagi dirumah. Sekaligus, aku mau menggodamu nanti." Ucap Zayen untuk menghentikan obrolannya.


"Terus, setelah ini kita mau kemana?" tanya Afna sambil bersandar pada suaminya.


"Kita akan pulang, sepertinya Viko dan Adelyn akan datang ke rumah. Kalau tidak nanti siang, mungkin malamnya." Jawab Zayen, kemudian membantu istrinya untuk berdiri.


"Mau membahas soal tinggal di Amerika?" tanya Afna mencoba menebaknya.


"Iya, dan kamu tidak perlu khawatir. Karena papa tidak meminta kita untuk tinggal di Amerika, papa takut terjadi sesuatu pada calon cucunya. Mau tida mau, Viko dan Adelyn yang akan menggantikan kita." Jawab Zayen meyakinkan istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku ya, sayang. Karena kondisiku ini yang sedang hamil dan perutku yang terlihat semakin membesar, jadi aku tidak bisa mengabulkan permintaan orang tua kamu. Jika kita masih diberi kesempatan, aku siap kok untuk tinggal di Amerika bersama kamu." Ucap Afna dengan tenang, bahkan tidak ada tanda tanda untuk menolaknya.


__ADS_2