
Zayen masih terus memikirkan tentang buah mangga yang dimintai sang istri, begitu juga dengan Viko yang ikut cemas memikirkan.
'Semoga saja aku tidak ikut dikerjain sama wanita hamil. Jika ia, maka habislah nasibku nanti.' Batin Viko yang juga ikut membayangkannya.
Saat menoleh keluar jendela, disaat itu juga kedua mata Afna berbinar.
"Stop!! hentikan mobilnya ." Ucap Afna sedikit keras.
Ssstttt.
"Aw! sakit,Vik." Ucap Zayen reflek karena kaget, lalu menoleh kearah sang istri disampingnya.
Pikiran aneh pada Zaten maupun Viko mulai terbayang bayang sesuatu yang membuatnya memikirkan yang tidak tidak, bahkan pikiran yang aneh saja sudah hinggap di dalam pikirannya.
"Sayang, kenapa kamu menghentikan mobilnya dengan cara mendadak? untung saja di depan sedang tidak ada orang." Tanya Zayen penasaran.
"Sayang, lihatlah pohon mangga itu." Jawab Afna sambil menunjukkan pohon mangga yang tidak jauh dari pandangannya. Kedua bola mata Zayen dan Viko sama sama tercengang melihatnya, kemudian keduanya menelan salivanya sambil menahan ngilu.
"Tapi itu milik orang, sayang. Kita beli saja, bagaimana? toko buahnya tidak jauh kok,sayang." Ucap Zayen beralasan, karena ia paling enggan untuk meminta kepada orang lain. Zayen lebih menyukai membeli, selain lebih aman dan juga tidak mendengar omongan orang yang tidak menyukainya.
"Aku tidak mau, aku maunya buah mangga yang baru metik. Rasanya pasti sangat segar dan pas untuk dilidah. Kalau beli tidak ada rasanya, kemarin aja kak Kazza yang aku suruh makan. Aku lebih memilih melihat kak Kazza meringis menahan asam, serius." Jawab Afna disertai senyum, lagi lagi Zayen hanya menelan salivanya.
"Baiklah, aku akan meminta Viko untuk mendatangi pemilik rumah. Jika di izinkan untuk mengambil buah mangganya, maka aku akan meminta Viko untuk memanjat pohonnya." Ucap Zayen meyakinkan.
"Kok cuman Viko yang memanjat pohon buah mangganya sih, sayang ... yang meminta bukannya calon anak kamu. Kenapa mesti Viko sih? memang ini anak yang aku kandung adalah anaknya Viko? hem." Jawab Afna sambil menunjukkan muka masamnya, Zayen sendiri merasa bersalah dengan ucapannya sendiri. Cepat cepat, segera ia meminta maaf pada siang istri.
"Iya ya, sayang ... aku pun akan memanjatnya demi kamu dan si buah hati kita. Tetapi jika tidak diizinkan sama pemilik rumah, kita beli saja di toko buah." Ucap Zayen meyakinkan kembali pada sang istri.
"Nah ... gitu dong, sayang. Buruan turun, aku tunggu didalam mobil saja." Jawab Afna dengan senyumnya yang berbinar, Zayen pun mengangguk dan segera melepaskan sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Viko segera turun menuruti permintaan Afna.
Setelah itu, Zayen dan Viko segera meminta buah mangga kepada sang pemiliknya. Sesampainya di depan pintu gerbang yang cukup sederhana, kedua bola matanya terpenganga melihat dua peliharaan yang terlihat begitu menyeramkan.
'Mam*pus kita, Bos. Lihat itu, mana pemilik pohon mangga mempunyai anj*ing galak galak lagi.' Batin Viko dengan perasaan was was.
__ADS_1
"Vik, yang benar saja itu. Lihatlah, didalamnya ada anjingnya. Serius nih kita akan meminta buah mangganya? aku tidak berani untuk masuk, Vik." Ucap Zayen bergidik ngeri melihatnya.
"Iya Bos, kita yakin nih? aku rasa kita akan gagal." Jawab Viko yang juga pesimis.
"Ah, kita coba dulu saja. Aku tekan belnya, setelan pemiliknya kuar kita meminta izin. Jika pemiliknya mengizinkan, kita akan masuk." Ucap Zayen tetap berusaha, Viko pun hanya pasrah dan nurut dengan apa yang dimintai dari Zayen. Setelah selesai berunding, Zayen segera menekan tombol belnya.
Tidak lama kemudian, pemilik rumah tersebut keluar dari rumahnya dan menemui Zayen dan Viko yang sedang berdiri di depan pintu gerbang.
"Selamat sore, Bu ..." sapa Zayen seramah mungkin.
"Sore juga, ada perlu apa kalian berdua?" tanya sang pemilik rumah dengan sangat hati hati, takut yang datang ke rumah bukan orang baik baik. Tidak lama kemudian Afna turun dari mobil dan segera menghampiri suaminya yang terlihat sedang menemui pemilik pohon mangga.
"Begini Bu, saya sedang hamil muda dan menginginkan sesuatu. Kebetulan saya lewat didepan rumah ibu, dan terlihat jelas buah mangganya dari jalanan. Disaat itu juga, saya meminta suami untuk meminta izin sama ibu untuk meminta buah mangganya. Namun, jika tidak boleh juga tidak apa apa." Ucap Afna seramah mungkin, dan juga sesopan mungkin.
"Ooh ... kamu sedang ngidam? ayo masuk, nanti suami kamu yang memetiknya." Jawab pemilik rumah dan tersenyum, terlihat jelas senyum mengembang pada kedua sudut bibirnya.
Zayen, Afna dan juga Viko segera masuk kehalaman rumah sang pemilik pohon mangga dengan perasaan sedikit takut. Dikarenakan sang pemilik rumah memiliki hewan peliharaan yang membuat ketiganya ketakutan.
"Jangan takut, jojo dan Reli tidak akan menggigit kalian." Ucap sang pemilik pohon mangga meyakinkan, berharap tidak ada rasa takut sedikitpun.
Sedangkan Viko dan Zayen berhimpitan karena takut akan mendapat gigitan dari jojo dan Reli.
"Bos, yang benar saja ini. Kalau kita beneran digigit, bagaimana ini Bos?" tanya Viko dengan perasaannya yang benar benar takut dengan jojo dan juga Reli.
"Ah, lupakan saja Vik. Kata si empunya, tidak bakalan gigit. Palingan juga hanya mengejar ngejar kamu, percayalah." Jawab Zayen sambil meledek, Viko yang mendengarkannya pun terasa geli.
Tidak lama kemudian, si ibu tengah datang sambil membawa kantong plastik.
"Ini, kantong plastiknya. Maaf, ibu tidak mempunyai alat untuk mengambil buah mangganya. Hanya bisa dengan cara memanjat, karena kemaren kayunya patah." Ucap sang ibu sambil memberikan kantong plastiknya, Zayen pun menerimanya. Mau tidak mau, Zayen dan Viko memanjat pohon mangganya.
Dengan sangat hati hati, Zayen memanjat pohon mangganya. Begitu juga dengan Viko dengan sangat hati hati, ia takut terpeleset. Ditambah lagi pohon mangganya yang lumayan cukup besar dan juga tinggi, membuat keduanya gemetaran diatas pohon mangga.
"Viko, bagaimana ini? apa aku bisa turun. Lihatlah, aku sampai lupa melepaskan sepatuku." Tanya Zayen yang baru tersadar dengan sepatu yang ia kenakan.
__ADS_1
"Gampang itu, Bos. Dilepas juga bisa, bukankah kita sudah sering manjat beginian." Jawab Viko mengingatkan masa masa yang sudah dilewati ketika menghadapi polisi yang sedang beroperasi.
"Ah, iya ya. Kenapa aku baru menyadarinya, pintar kamu." Ucap Zayen sambil meraih buah mangga yang tidak jauh darinya, kemudian segera ia memetiknya.
"Bos, setelah ini kita disuruh manjat apa lagi ya, Bos? ngidamnya istri Bos benar benar ekstrim." Tanya Viko asal.
"Hem ... jangan mikirin yang aneh aneh, nanti jadi nyata." Jawab Zayen sambil memasukkan buah mangganya ke kantong plastik.
Setelah di rasa sudah cukup, Zayen dan Viko segera turun. Lagi lagi Zayen dan Viko sama bingungnya untuk turun, keduanya kembali lupa untuk melepas sepatunya.
"Bos aku duluan yang turun." Ucap Viko yang sudah tidak sabar ingin turun.
"Enak saja, aku duluan dong, Vik." Jawab Zayen yang juga tidak mau kalah.
Sedangkan Afna dan si ibu sedang duduk di teras rumah sambil mengobrol, sedangkan Viko dan Zayen sedang berebut untuk turun lebih duluan.
BUG!!
BUG!!
Keduanya pun jatuh bersamaan, sakitnya lagi Zayen yang tertindih Viko.
"Aww!! pinggangku." Seru Zayen meringis kesakitan, begitu juga dengan Viko yang juga merasakan sakit pada pinggangnya.
"Sayang!!" teriak Afna reflek karena kaget. Kemudian, segera ia membantu sang suami untuk berdiri. Sedangkan si ibu membantu Viko untuk berdiri, keduanya sama sama terasa sakit pada pinggangnya masing masing.
"Aduh! Bos, pinggangku sakit." Ucap Viko meringis kesakitan.
"Kenapa kalian berdua bisa jatuh seperti ini, sih?" tanya Afna sambil menuntun sang suami untuk duduk di teras rumah.
"Itu, si Viko. Sudah dibilangin aku duluan yang turun, dianya masih saja ngeyel." Jawab Zayen membela diri.
"Hem ... suami takut istri." Ledek Viko sambil meninggikan satu alisnya.
__ADS_1
"Sialan, awas kamu Vik. Aw! sakit." Ucap Zayen sambil memegangi bagian pinggangnya yang terasa sakit.