
Guntara menarik nafasnya dengan pelan, kemudian membuangnya kasar.
"Kamu tidak bersalah, dan kamu tidak perlu meminta maaf. Oh iya, ngomong ngomong kaku datang kesini ada perlu apa?" ucap Guntara dan bertanya atas kedatangan temannya.
Zayen tersenyum melihat temannya, setelah mendapat pengakuan dari Guntara, Zayen merasa ada titik kelegaan atas semua yang tengah dikhawatirkannya. Kini, Zayen mulai mulai melakukan rencana yang selanjutnya. Berharap, semua akan baik baik saja dan sesuai yang diharapkannya.
"Aku mau mengajakmu makan malam, bagaimana? tapi tidak dengan istrimu. Aku hanya ingin mengajakmu seorang, ada sesuatu hal ingin aku bicarakan." Pinta Zayen.
"Sesuatu yang ingin kamu bicarakan? soal apa itu, apa soal bekerja sama?" tanya Guntara penasaran.
"Terserah kamu saja, mau mengira apaan. Yang jelas, datanglah ke taman yang biasa kita bolos sekolah. Disana, kita akan bertemu. Ingat, jangan bawa lawan. Karena aku tidak akan melakukan tindakan kriminal, kita akan melakukan dialog yang cukup serius. Jadi, datanglah." Jawab Zayen dan tersenyum.
"Hem, sejak kapan kamu suka memberikan tebakan buatku. Ayen, Ayen ... kamu itu, ya. Dari dulu kamu tidak pernah berubah, sekarang saja kamu masih suka mengerjaiku." Ucap Guntara kembali teringat akan masa lalunya ketika masih berusia belasan.
"Benar benar, benar. Kamu sangat benar, sampai sampai kamu ketakutan sama si Merry." Jawab Zayen, sampai sampai dirinya tidak sadar jika perempuan yang disebutkannya itu sudah berada dibalik jeruji besi. Zayen maupun Guntara sama sama tertawa lepas ketika mengingat masa lalunya.
"Bukankah Merry juga mengejarmu, kenapa kamu menolaknya?" tanya Guntara. Seketika, Zayen teringat dengan sosok Merry yang sudah berada di balik jeruji besi akibat perbuatannya yang sangat buruk dan hampir mencelakai saudara perempuannya.
"Merry sudah berada dibalik jeruji besi, karena perbuatan jahatnya." Jawab Zayen, kemudian narik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Apa! Merry masuk penjara? yang benar saja, Ayen." tanya Guntara yang masih merasa tidak percaya.
"Kenyataannya memang begitu, Gun. Sudahlah, tidak penting membicarakan orang lain. Sekarang juga, aku mau pamit pulang. Jangan lupa, nanti malam datang. Aku akan menunggumu ditempat yang sudah aku janjikan denganmu, jangan bawa istri maupun anak." Jawab Zayen, kemudian ia berpamitan untuk pulang.
"Iya, tenang saja. Nanti malam aku usahakan untuk datang, karena aku sangat penasaran. Ya sudah, hari hati diperjalanan." Ucap Guntara, kemudian keduanya saling berjabat tangan. Setelah berpamitan untuk pulang, Zayen segera keluar untuk kembali pulang ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, perasaan Zayen tidak lagi terasa penat seperti sebelumnya. Sedikit demi sedikit, semua dapat dilaluinya dengan baik. Kini Zayen sendiri dapat bernafas dengan lega, apa yang ditakutkannya telah terlewati dengan mudah.
"Semoga saja, nanti malam adalah malam yang sangat mengharukan dan akan menjadi momen yang sangat terkesan. Bayangkan saja, sudah berapa lamanya tidak pernah bertemu. Yang satu sibuk dengan dunia dendamnya, dan yang satu tidak mendapatkan titik terang. Jelas saja, keduanya tidak dapat bertemu. Meski paman Dana telah mendapatkan kabar tentang adiknya, namun rasa bersalah nya terus menghantuinya. Hingga tidak mampu untuk mencarinya." Ucap Zayen dengan lirih dan sambil menyetir mobilnya.
Sedangkan di dalam kamar, tuan Dana tengah bersandar sambil meluruskan kakinya diatas tempat tidur. Ia merasa dunianya hancur dan gelap. Semua impian, harapan telah lebur begitu saja. Bahkan, satu foto perempuan yang ia cintai telah hilang ketika dendam itu membara dihatinya.
"Andai saja, aku tidak sibuk bermain dengan dendam. Mungkin, saat ini aku masih bisa berkumpul dengan kekuargaku. Karena perbuatanku, semua hilang dengan sekejap. Sekarang, aku tidak lagi punya siapa siap selain harapanku untuk bertemu dengan saudaraku sendiri. Kenapa begitu bodohnya aku ini, padahal aku sudah mendapatkan informasi tentang adikku, tapi kenapa aku abaikan. Guntara, maafkan kakak kamu ini. Karena dendam, hingga membuat data ingatanku hilang." Ucapnya lirih sambil menahan sesaknya bernafas.
Tuan Dana benar benar merasa menyesal atas perbuatannya itu, ia juga merasa sangat bersalah karena telah pergi dari keluarga bertahun tahun hingga kini tidak lagi muda.
Saat hendak bangkit dari posisinya, tiba tiba kedua matanya tertuju pada sebuah ponsel di atas meja yang ada didekatnya. Kemudian, tuan Dana segera meraihnya. Dilihatnya sebuah pesan masuk, dan digeser lah dengan sentuhan pada layar ponselnya.
"Zayen, ada apa dia mengirim pesan padaku?" ucapnya lirih, kemudian dengan seksama membacanya.
Senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya, namun senyumnya itu berubah dengan lesu.
"Nanti malam? apa tidak terlalu buru buru? aku masih merasa tidak percaya diri untuk bertemu dengan adikku. Aku malu dengan perbuatanku, aku tidak berani untuk menunjukkan batang hidungku dihadapan Guntara." Ucapnya lirih, kemudian menarik nafasnya pelan dan membuangnya dengan kasar.
Sambil menunggu tiba waktunya untuk berangkat, tuan Dana memilih untuk beristirahat. Tuan Dana tidak ingin pikirannya semakin kacau, beliau memilih untuk istirahat.
Tanpa disadari oleh tuan Dana, waktu yang sudah ditunggu tunggunya telah tiba waktunya untuk segera bersiap siap.
Karena seluruh badannya terasa lengket, tuan Dana segera membersihkan diri dan bersiap siap untuk datang ke rumah tuan Alfan dikarenakan Zayen meminta tuan Dana untuk berangkat bersama.
__ADS_1
Setelah tidak ada lagi yang kurang, tuan Dana segera meninggalkan rumah dan berangkat ke rumah tuan Alfan. Dalam perjalanannya, tuan Dana terus membayangkan sosok. sang adik yang pernah ia lihat melalui sebuah rekaman video yang diberikan oleh anak buahnya dikala itu.
Tidak memakan waktu yang lama, tuan Dana telah sampai di depan rumah tuan Alfan. Kemudian, tuan Dana segera turun dari mobilnya.
Dilihatnya Zayen dan tuan Alfan serta sangat istri maupun kakek Zio dan sang istri telah menunggunya di luar rumah. Tuan Dana benar benar terharu melihat nya, air matanya puji lolos begitu saja. Penyesalan tinggal lah penyesalan, tuan Dana merasa sakit ketika ia teringat saat dirinya menculik bayi merah Zayen di waktu silam.
Tuan Alfan segera mendekatinya, kemudian memeluk tuan Dana dan menepuk punggungnya berulang ulang dengan pelan dan melepaskannya.
"Semoga apa yang kamu harapkan dan yang kamu nantikan akan segera terwujud. Semoga, pertemuanmu hari ini akan berubah dengan kebahagiaan. Aku akan selalu mendukungmu, semoga kebahagiaan ada padamu." Ucap tuan Alfan, sedangkan tuan Dana mengangguk. Lalu, keduanya saling tersenyum.
Tidak lama kemudian, tuan Ganan serta sang istri dan kedua orang tuanya pun ikut andil dalam menyaksikan pertemuan yang sudah dinanti nantikan oleh tuan Dana. Tidak hanya itu, tuan Tirta serta sang istri pun ikut menemani tuan Dana. Mau bagaimanapun, tuan Dana sudah dianggap bagian keluarga Wilyam maupun keluarga Danuarta.
"Tirta, Ganan, Paman Angga." Panggil tuan Dana pada kedua sahabatnya dan orang tua tuan Ganan.
"Siapkan hatimu untuk bertemu saudara kandungmu, meski kalian berdua tidak dalam satu rahim. Kamu dan adik kamu tetap lah saudara kandung, semoga tidak ada lagi kebencian maupun hal buruk yang lainnya." Ucap kakek Angga mengingatkan, tuan Dana mengangguk mengerti.
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Guntara pasti sudah menunggu, kasihan jika kita datang terlambat." Ajak kakek Zio, sedangkan yang lainnya menjawab dengan serempak dan masuk kedalam mobil masing masing.
Sedangkan Zayen hanya berdua dengan tuan Dana dalam satu mobil, Zayen tidak ingin terdengar berisik ketika mobil yang dikendarainya tidak jauh dari pandangan Guntara.
Perjalanan cukup jauh, namun tidak membuat merasa jenuh dalam perjalanan. Semua sibuk dengan pikirannya masing masing.
Tuan Dana sendiri sibuk memikirkan akan pertemuannya dengan adik laki lakinya, berkali kali tuan Dana mengatur pernafasannya agar tidak terlihat gugup.
Setelah memakan waktu yang cukup lama dan jauh dalam perjalanan, tidak terasa sudah sampai di taman yang tengah dijanjikan nya.
"Paman nurut saja denganmu, Zayen." Jawab tuan Dana, Zayen pun segera turun dari mobil dan menemui Guntara yang terlihat sedang duduk dan sambil menyibukkan dengan ponselnya.
"Wah, kamu benar benar tepat waktu. Bahkan aku sudah membuatmu menunggu, pasti jenuh nih. Maafkan aku, Bro." Ucap Zayen yang tiba tiba langsung duduk didepan Guntara.
Zayen mulai celingukan, takut jika ada seseorang yang ikut menyaksikan pertemuan antara kakak beradik yang sudah lama belum pernah untuk bertemu.
"Hei, kamu mengawasiku? seperti detektif saja, kamu ini. Tenang, aku tidak membawa pasukan. Ada perlu apa sih, sampai sampai kamu mengajakku untuk bertemu di taman ini. Seperti anak muda yang sedang mau berkencan saja, hem." Tanya Guntara, sedangkan Zayen tertawa lepas mendengarnya.
"Begini ceritanya, maksudku pokok intinya. Aku membawa kejutan untukmu, kamu pasti sudah menanti nantikannya. Sekarang juga, kejutan dariku ini tidak akan pernah kamu lupakan." Jawab Zayen.
"Kejutan, aku sedang tidak ulang tahun. Kali jangan bercanda, aku tidak percaya denganmu. Yang aku tahu, kamu itu tetap masih seperti yang dulu. Super jahil dan reseh, suka mengerjai orang." Ucap Guntara yang teringat akan sosok Zayen yang suka jahil dan semuanya.
"Enak saja, itu dulu. Lain dengan sekarang, aku sudah berubah jauh lebih baik dari kamu." Jawabnya dan tertawa lepas.
"Sialan, kamu. Masih sempat sempatnya kamu mentertawakanku, sudah cepetan katakan padaku. Sebebarnya apa maksud dari semua ini, Ayen? bikin kepalaku semakin pening saja." Ucap Guntara yang semakin tidak sabar dengan sikap Zayen yang menurutnya tidak pernah berubah.
"Sebentar, tunggu disini. Ingat, jangan kemana mana. Balikkan badanmu, jangan pernah putar balik sebelum aku menyuruhmu. Kamu ingat? jika tidak, di ingat ingat terus dari sekarang sampai rambutmu memutih bila perlu." Ucap Zayen yang kembali bertingkah layaknya masih umur belasan tahun ketika bertemu teman sekolahnya.
"Reseh, kamu. Awas saja, kalau kamu sampai mengerjaiku." Jawab Guntara pura pura mengancam, sedangkan Zayen hanya tertawa kecil mendengarnya.
Setelah itu, Zayen segera menemui tuan Dana untuk menemui saudara laki lakinya. Sedangkan Guntara hanya nurut dengan apa yang perintahkan Zayen.
"Paman, mari ikut Zayen." Ajak Zayen pada tuan Dana, kemudian tuan Dana segera turun dari mobil dan mengikuti langkah kaki Zayen.
__ADS_1
Keduanya akhirnya berjalan beriringan, antara Zayen dan tuan Dana. Kini, tibalah tuan Dana sudah berada dibelakang Guntara. Sedangkan Guntara sendiri masih dengan posisinya sesuai permintaan Zayen.
Tuan Ganan, tuan Tirta dan yang lainnya ikut menyusul ke taman. Semua ingin menyaksikan kebahagiaan tuan Dana yang akan bertemu dengan saudara kandungnya, yang lain adik laki lakinya.
Zayen sendiri mulai mengatur pernapasannya agar dirinya dapat menyatukan persaudaraan yang berpisah sudah bertahun tahun lamanya. Dengan yakin dan nekad, Zayen menepuk punggung milik Guntara.
"Balikkan badan kamu, dan lihatlah seseorang yang kamu rindukan selama ini. Sesuai janjiku, aku akan memberimu sebuah kejutan yang tidak akan pernah kamu lupakan." Perintah Zayen, Guntara yang mendengarnya pun langsung membalikkan badannya.
Seketika, tuan Dana tercengang melihat sosok adiknya itu yang ada dihadapannya. Tuan Dana merasa seperti mimpi saat melihat sang adik yang ada dihadapannya itu. Guntara sendiri bingung dibuatnya, pikirannya semakin tidak dapat mencernanya. Bahkan terasa buntu untuk menerka nerkanya.
Tanpa disadarinya, butiran air matanya jatuh begitu saja.
"Gun -- tara, benarkah kamu Guntara? putra dari Ganta?" tanya tuan Dana dengan berat.
Guntara sendiri semakin bingung, ia masih diam dan berusaha untuk mencernanya. Karena sudah tidak sabar, Guntara menatap lekat wajah Zayen.
"Katakan padaku, siapa orangnya yang ada dihadapanku ini, Ayen? kenapa mengenal nama Ayahku?" tanya Guntara pada Zayen.
Dengan nekad, Zayen menjawabnya dengan jujur tanpa ada kata kata lainnya.
"Sosok laki laki yang ada dihadapan kamu ini adalah, seseorang yang sangat kamu rindukan selama ini. Apakah kamu belum menyadarinya? kenapa kamu berubah mendadak lupa? apa kamu ingin melupakannya? jahat sekali kamu." Jawab Zayen.
Seketika, otot dan tubuh Guntara mendadak lemas. Dengan tanggap, Guntara dapat mengetahui maksud dari perkataan Zayen.
Kedua matanya menganak sungai, buliran air matanya pun jatuh ketika menatap sosok laki laki yang ia rindukan dan sudah sekian lama ia nanti nantikan pertemuan itu. Kini, apa yang sudah ia nanti nantikan telah berada dihadapannya.
Tuan Dana masih berdiam diri membisu, nafasnya semakin berat. Pikirannya pun ikut sulit untuk mencernanya.
"Ka -- kakak, kak .... Da -- na." Ucap Guntara terbata bata dan langsung memeluk erat sang kakak yang ada dihadapannya. Keduanya pun menangis bahagia, dan saling memeluknya dengan erat. Air matanya pun tidak henti hentinya mengalir dengan deras karena penuh haru dan bahagia.
Begitu juga dengan yang lainnya saat menyaksikan pertemuan antara kakak beradik yang sudah sekian lama tidak pernah bertemu.
"Guntara, kamu benar adikku. Maafkan kakak, maafkan kakak yang sudah mengabaikan kamu karena keegoisan kakak selama ini. Kakak benar benar menyesalinya, kakak sangat menyesal." Ucap tuan Dana yang masih terus menangis karena penyesalan atas perbuatannya diwaktu masa lalunya.
"Sudah lah kak, jangan kakak ungkit kembali masa lalu itu. Jadikan semuanya pelajaran yang sangat berharga. Semua sudah terjadi dan juga sudah dilewati. Sekarang, kita sudah dipertemukan." Jawab Guntara mencoba menenangkan sang kakak, tuan Dana hanya menunduk Karena malu atas perbuatannya sendiri yang pernah ia lakukan dimasa lalunya.
Tuan Ganan maupun yang lainnya ikut menemui tuan Dana dan Guntara, semua ikut bahagia.
"Dana, aku ada kabar. Tapi, aku tidak bisa menjaminnya. Apakah ini kabar bahagia nantinya, atau hanya berita samar. Aku hanya bisa menyampaikan ini, untuk membantumu itu pasti. Tapi, aku tidak bisa janji untuk membuahkan hasil yang baik. Aku, Tirta, Alfan, akan membantumu. Kabar yang aku dapatkan, bahwa Elin tidak ikut dalam pesawat yang dinyatakan kecelakaan. Hanya itu yang aku dapatkan setelah aku mencoba mengorek kembali dimasa lalu." Ucap tuan Ganan menjelaskannya.
Semua tercengang mendengarnya, seketika perasaan tuan Dana berkecamuk tidak karuan. Tuan Alfan pun mendekatinya.
"Kamu masih ada waktu untuk menemukannya, berjuanglah. Setidaknya, kamu memiliki titik terang, meski harus 20 tahun lagi kamu bertemu dengan Elin misalnya. Apa yang tidak mungkin, jika Yang Maha Pencipta sudah berkehendak." Ucap tuan Alfan meyakinkannya, tuan Dana pun tersenyum mendengarnya. Ia pun mengerti maksud dari tuan Alfan, yaitu mengingatkan untuk terus bersabar hingga pada titik kebahagiaan, meski itu akhir dari nafasnya. Karena, tuan Alfan sendiri harus berpisah dengan putranya pun lebih dari 20 tahun. Begitu juga dengan dirinya saat berpisah dengan saudara kandungnya pun lebih dari 20 tahun.
Kini, kebahagiaan telah didapatkan pada setiap masing masingnya. Meski harus kehilangan orang yang dicintainya sekalipun, namun masih ada kebahagiaan yang didapatkannya.
Masih Lanjut kisah Zicko di usia sekolahnya ya...
Yuk baca lagi lanjutannya..
__ADS_1