
Didalam sel tahanan, Zayen menyandarkan tubuhnya pada tembok yang sangat tidak ia sukai sambil melamun. Begitu juga dengan Seyn yang juga ikut duduk disebelahnya, keduanya sama sama memiliki kerinduannya masing masing.
"Kamu pasti sangat merindukan istrimu, 'kan? bersabarlah. Kamu pasti mampu untuk melewatinya, dan aku yakin sebentar lagi kamu akan segera dibebaskan." Ucap sang kakak mencoba untuk meyakinkannya.
"Entahlah kak, aku sendiri tidak yakin. Aku hanya memikirkan keadaan Afna dengan kondisinya yang sekarang ini, aku sangat takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Afna sedang mengandung anakku, keselamatannya sangat berarti untukku." Jawabnya sambil menatap lurus kedepan, tepatnya pada tembok pembatas.
"Berdoalah, hanya itu yang bisa kita lakukan. Aku mengerti perasaanmu saat ini, tidak sedikit yang kamu pikirkan. Aku hanya ada cara satu untuk membebaskan kamu, aku minta terimalah caraku ini." Ucap Seyn, kemudian menoleh kearah Zayen yang tidak lagi bersemangat. Zayen pun ikut menoleh kearah sang kakak, dan ditatapnya dengan serius.
"Cara apa yang akan kak Seyn berikan kepadaku, katakan." Tanya Zayen semakin penasaran.
"Berikan saja laporan tentangku dan Papa yang selama ini telah mengancammu, dan buat laporan bahwa kamu hanya sebagai remot kontrolku. Bukankah anak buah kamu semuanya meloloskan diri, dan rekaman CCTV di markas ada pada anak buah kamu. Sudahlah, kamu jangan bohongi aku. Sebenarnya aku tahu, kamu tidak mau untuk melakukannya. Makanya, kamu bertahan dibalik jeruji besi ini sebenarnya kamu tidak ingin melihatku sendirian seperti ini." Ucap Seyn berusaha mencarikan solusi demi sang adik dapat dibebaskan.
"Tapi kak, aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa kita akan bebas dari tempat ini bersama. Aku tidak mau melakukannya, aku tidak bisa." Jawabnya yang tidak mempunyai keberanian untuk melukai perasaan sang kakak.
"Apa kamu lupa, ada istri dan calon anak kamu yang sedang membutuhkan perhatian penuh darimu. Kamu jangan gi*la, Zayen. Kamu sendiri bilang, bahwa kamu sangat mengkhawatirkan keselamatan istrimu dan juga calon anakmu. Suami macam apa kamu, yang lebih mementingkan aku dari pada anak dan istrimu." Ucap Seyn sedikit membentak, berharap sang adik mau menerima alasan darinya.
"Tapi ..." jawab Zayen terhenti.
"Aku bukan lagi anak kecil yang butuh teman, aku bisa sabar menunggu sampai didapatkannya dalang dibalik penculikan kamu ketika masih bayi. Sekarang, kakak mohon sama kamu untuk menerima permintaan kakak ini. Kakak ingin membalas perbuatan kakak yang pernah berbuat buruk terhadapmu, terimalah cara terakhir ini agar kamu bisa secepatnya meninggalkan tempat ini." Ucap Seyn memohon sambil menepuk pelan punggungnya berkali kali dan berharap Zayen mau menerima ide yang diberikan dari sang kakak.
__ADS_1
"Jika kakak benar benar tidak keberatan, akan aku lakukan. Tapi ..." jawabnya kembali terhenti.
"Sudah, jangan pikirkan keadaanku. Tetapi pikirkan keadaan istri dan calon anakmu yang sangat membutuhkan perhatian penuh darimu, soal aku tidak perlu memikirkannya. Aku disini tidak sendirian, banyak teman yang baik untuk dijadikan teman." Ucapnya mencoba meyakinkan, Zayen pun mengangguk dan sedikit ada rasa kecemasan.
"Sudahlah, ayo kita istirahat. Besok, Papa kamu dan mertua kamu pasti datang. Kita akan diskusikan kembali apa yang sudah kita bicarakan barusan, sekarang tinggal berdoa dan berusaha." Ucapnya dan mengajaknya untuk beristirahat, Zayen hanya mengangguk dan segera ikut merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit didalam jeruji besi.
'Bukan aku tidak mau menuruti kemauan kamu kak Seyn, aku hanya takut saja jika ada seseorang yang mendatangimu akan menghasutmu kembali. Aku bisa saja keluar dari tempat ini, tapi siapa yang akan menggantikanku untuk melakukan penjagaan. Aah! bodohnya aku, bukankah jika ada aku didekat kak Seyn tidak akan ada yang mendatanginya. Benar kata kak Seyn, aku harus keluar dari tempat ini. Dan aku harus membuat rencana selanjutnya, agar aku dapat menemukan titik terangnya.' Batinnya sambil mencari ide.
Setelah cukup lelah, Zayen mencoba memejamkan kedua matanya. Berharap, hari esok akan menjadi lebih baik lagi dan didapatkan kemudahan untuk segera keluar dari tempat yang menurutnya sangatlah terk*utuk.
Didalam kamar, tepatnya di kediaman keluarga Danuarta. Afna duduk didepan cermin, ditatapnya wajah yang tidak lagi bersemangat. Ia terus memikirkan suaminya yang berada dibalik jeruji besi, sungguh tidak dapat diutarakan rasa perih yang menusuk hingga ke ulu hatinya.
Ceklek, pintu pun terbuka. Dilihatnya sosok Afna yang sedang melamun didepan cermin, membuat hati seorang ibu tidak kuasa melihatnya. Lagi lagi harus mendapati putrinya dengan kesedihan yang terpendam, air mata seorang ibu jatuh begitu saja tanpa ia minta.
"Mama ..." seru Afna memanggilnya, sang ibu pun segera menghapus air matanya saat sedang berdiri diambang pintu.
Afna segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian mendekati ibunya.
"Mama menangis? ada masalah apa? katakan, jangan bilang jika kak Kazza memberontak tidak mau dijodohkan." Tanya Afna sambil mengusap air mata ibunya.
__ADS_1
"Tidak, Mama hanya terharu saja. Sebentar lagi kakak kamu akan segera menikah, pasti Mama merindukan masa masa remaja kalian berdua yang selalu membuat isi rumah ini ramai." Jawabnya beralasan, Afna pun tersenyum.
"Kenapa Mama bersedih, seharusnya Mama bahagia dong. Karena dirumah ini pasti akan ada anak anak kak Kazza yang akan menggantikan Afna dan Kak Kazza." Ucap Afna berusaha untuk meyakinkan ibunya, berharap tidak ikut larut dalam kesedihan.
"Kamu merindukan suami kamu, 'kan? besok paman Alfan dan Papa akan menjenguknya kembali. Apakah kamu mau ikut? akan mama temani."
"Benarkah? tapi ... Afna takut." Jawabnya sedikit lesu.
"Takut kenapa? katakan pada Mama, sayang." Tanya sang ibu penasaran.
"Afna takut akan semakin tidak kuat menahan rasa rindu ini, Ma. Afna semakin tidak tega dan tidak kuasa melihat suami Afna yang berada dibalik jeruji besi, hatinya Afna terasa teriris." Jawabnya, tanpa ia sadari kedua matanya tengah mengajak sungai hingga membasahi pipi mulus miliknya.
Sang ibu segera memeluk putrinya untuk memberi ketenangan, semakin hari semakin tidak tega melihat putrinya yang semakin tersiksa karena kerinduannya, dan ditambah lagi dengan kondisinya yang sedang hamil muda. Sungguh, sangat menyayat hati untuk yang menahannya.
"Kamu bersabar ya, sayang. Semoga pertemuan besok akan membuahkan hasil, dan suami kamu akan segera dibebaskan. Semua butuh proses untuk menyelesaikan sebuah masalah, semoga apa yang kita harapkan akan segera tergapai. Berdoalah, semoga akan ada jalan untuk membebaskan suami kamu." Ucap sang ibu berusaha untuk meyakinkan putrinya, kemudian segera melepaskan pelukannya.
Dengan pelan, sang ibu menghapus air mata putrinya. Berharap, putrinya tetap bersabar dan kuat untuk melewati ujian beratnya.
"Tenangkan pikiranmu, Mama yakin bahwa kamu pasti bisa melewatinya. Percayalah, papa dan paman Alfan akan segera membebaskan suami kamu. Lebih baik sekarang Mama bantu kamu untuk bersiap siap. Sebentar lagi tamunya akan segera datang, tidak baik menunjukkan kesedihan." Ucapnya, Afna pun hanya bisa mengangguk.
__ADS_1