
Di sebuah rumah yang kokoh dan masih terlihat begitu megah, sosok laki laki yang sedang duduk dikursi santainya sambil menumpangkan kedua kakinya diatas meja.
Tidak hanya itu, ada sosok wanita cantik yang tengah menemaninya duduk dipangkuan laki laki paruh baya tersebut.
"Bagaimana menurutmu? apakah kamu mau melakukan rencanku? kamu tidak perlu khawatir, aku akan memberimu apa yang kamu inginkan setelah dendamku terbalaskan." Ucapnya sambil mengusap pipi mulus milik wanita yang ada di pangkuannya.
"Aku pasti akan melakukannya, serahkan saja semuanya padaku." Jawabnya lirih didekat telinga laki laki paruh baya tersebut.
"Bagus, kamu layak menjadi andalanku. Selain aku mendapatkan kepintaranmu, aku dapat memilikimu sepenuhnya." Ucapnya, kemudian tertawa lepas.
'Da'sar, laki laki tua. Kalau bukan karena uang, aku pun tidak sudi masuk ke duniamu. Sudah tau aku pintar, kenapa masih memeliharaku. Aku pastikan nyawanya tidak akan lama lagi bertahan di dunia ini.' Batinnya dengan senyum licik.
Sedangkan di dalam tahanan, suasana sangat genting. Kini tidak hanya satu ataupun dus orang yang berada di dalam ruangan. Terlihat jelas seperti sedang belajar kelompok saat menunjukkan bukti bukti yang akurat, semuanya ikut tegang dan juga cemas.
Zayen berkali kali mengacak rambutnya karena pikirannya yang kacau, seakan terasa prustasi. Zayen takut, semua laporannya dan juga bukti buktinya tidak akan di terima.
"Pak, bagaimana keputusannya? apakah semua bukti ini dapat diterima? mohon jawabannya." Ucap tuan Alfan dengan perasaan cemas dan juga takut jika beberapa bukti tidak diterima.
"Bukti ini saya terima, tetapi keputusan tetap keputusan." Jawabnya dengan tegas.
"Tunggu," ucap seseorang laki laki yang sudah terlihat tua yang tiba tiba berada didalam ruangan. Petugas yang ada didalam ruangan tersebut pun kaget saat melihat sosok laki laki yang tidak begitu asing dari media manapun. Semua ikut menoleh kearahnya, seperti tidak percaya akan kedatangannya
"Selamat pagi Tuan Angga, kenapa anda ikut masuk kedalam ruangan ini? apakah Tuan ada masalah?" tanyanya heran dan juga takut campur gugup.
"Katakan sejujurnya, dibayar berapa kalian ini oleh cecu*nguk untuk mempersulit laporan mengenai cucuku? katakan! cepat! apa perlu yang bertengger di pundakmu lepas begitu saja." Ucapnya dengan gayanya yang masih terlihat gagah.
__ADS_1
"Tuan tahu dari mana?" tanyanya gemetaran.
"Bukankah anda itu yang pernah menemui orang tuamu ditaman, saat kedua orang tuamu berpura pura menjadi korban dari ketiga cucuku?" jawabnya.
Deg!!! seketika itu juga jantungnya terasa mau copot.
"Jadi ... Zayen yang sebagai tersangka adalah cucu Tuan Angga?" tanyanya kembali serasa tidak percaya.
"Benar, Zayen adalah cucu dari tuan Zio adikku. Katakan siapa orangnya yang tengah berani menodai amanah yang berperan di atas pundakmu itu." Ucapnya mengintrogasi.
Semua yang ada disekeliling tuan Angga seperti tidak percaya mendengarkannya, semua tidak menyangkanya jika sosok tuan Angga ikut dalam penyelidikan tanpa diketahui yang lainnya.
"Maaf Tuan, saya tidak mengetahui keberadaan seseorang yang dimaksud Tuan. Saat itu saya hanya sedang dalam kesulitan biaya besar, dan terpaksa melakukannya. Dan saya tidak mengetahui bahwa Zayen adalah bagian keluarga Wilyam, dan berita yang ditunjukan di media sosial hanya bohongan semata." Jawabnya berusaha berterus terang.
"Sekali lagi aku mendapati keganjalan, siapkan diri untuk menggantikan posisi cucuku." Ucapnya mengancam.
"Jadi, selesaikan secepatnya permasalahan tentang cucuku. Ingat! pesanku yang sudah aku berikan kepadamu, seharusnya kamu menjadi contoh yang baik. Karena kamu juga sudah tua seperti keponakanku ini, dan kamu sekarang tidak lagi muda." Ucapnya sambil menepuk punggung tuan Tirta, yang tidak lain keponakan kakek Angga sendiri.
"Baik Tuan, saya akan melakukannya yang terbaik." Jawabnya sedikit gemetaran.
Setelah selesai menunjukkan beberapa bukti, kakek Angga maupun yang lainnya kini telah keluar dari ruangan panas dingin itu.
"Afna, lihatlah anggota keluarga kita seperti pemain basket saja." Ucapnya dan tersenyum, Afna pun ikut tersenyum melihatnya.
"Mama bisa saja, Afna juga merasa seperti yang Mama katakan." Jawab Afna dan tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa kalian berdua tersenyum begitu, ada yang lucu?" tanya kakek Angga.
"Tidak, semua terlihat tampan. Termasuk Paman Angga yang masih terlihat gagah, sama seperti Papa." Jawab keponakannya memuji.
"Hem ... begitu, ya." Ucapnya.
"Oh iya, bagaimana hasilnya? apakah laporannya diterima?" tanyanya penasaran.
"Tentu saja, dan kedatangan paman kesini karena ada sesuatu yang akan menyulitkan bebasnya Zayen dari tahanan. Paman telah meminta bantuan kepada putra teman Paman untuk menyelidiki kasus Zayen, dan rupanya memang benar adanya yang mendapat bayaran untuk menahan Zayen untuk tetap berada disini." Jawabnya menjelaskan.
"Begitu sulit untuk kami pecahkan, Paman. Terkadang kita hanya ingin menyerah, kita benar benar tidak mengetahui seberapa hebatnya penjahat itu. Kenapa bisa sulit untuk dilacak keberadaannya, sungguh penuh teka teki." Ucapnya merasa sedih, putranya pun segera mendekati ibunya.
"Mama, seharusnya Mama semangat. Kita tinggal selangkah lagi untuk menggapai impian kita, doa Mama dan Afna sangat berarti untuk putramu, Ma." Ucap Zayen sambil menatap ibunya dengan lekat, sang ibu langsung memeluk putranya begitu erat.
"Mama takut akan kehilangan kamu yang kedua kalinya, Mama benar benar mencemaskanmu." Jawab ibunya sambil menangis sesenggukan, sungguh sangat sakit dan terasa teriris hatinya harus berpisah kembali dengan putranya.
Dengan terpaksa, Zayen melepaskannya. Dan ditatapnya kembali ibunya yang masih berada dihadapannya.
"Mama tidak perlu mengkhawatirkan Zayen yang berlebihan, Zayen pasti akan segera pergi meninggalkan tempat ini. Kita akan kembali berkumpul bersama lagi seperti yang Mama inginkan." Ucap Zayen mencoba menenangkan pikiran ibunya.
"Bagaimana Mama tidak mengkhawatirkan kamu, sayang ... lebih dari dua puluh tahun kita berpisah, dan sekarang pun kita masih berpisah karena waktu yang menentukannya. Mau tidak mau, Mama harus menerima kenyataan ini dengan sabar dan juga lapang." Jawab ibunya yang masih mencemaskan keadaan putranya.
"Zayen mengerti akan maksud Mama, tidak hanya Mama yang merindukannya. Zayen pun sangat merindukan kebersamaan bersama keluarga." Ucap Zayen meyakinkan ibunya, berharap tidak terlalu cemas memikirkannya.
"Sudah sudah ... kalau begini terus terusan, yang ada kita kita seperti menonton film ikan terbang. Menyedihkan, sungguh terla--lu." Ucap kakek Angga sedikit melucu.
__ADS_1
Semua tidak lagi sedih dan terharu, justru semuanya tertawa kecil mendengar ucapan dari kakek Angga. Sedangkan Zayen kembali mendekati istri tercintanya, ia merasa sudah mengabaikan sosok wanita yang sedari tadi ikut berdiri.