Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Semakin penasaran dengan masa lalu


__ADS_3

Setelah selesai menikmati sarapan pagi, Zayen pun teringat akan sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Kamu bersama Adelyn sebentar ya, sayang. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepada Papa dan Mama, aku masih sangat penasaran tentang kehidupan Papa dan Mama dimasa lalu." Ucap Zayen sambil memegangi tangan milik istrinya.


"Kamu yakin? aku takut kamu tidak berhasil mendapatkan informasinya, kenapa tidak tanyakan saja pada paman Ganan. Karena Papa kamu dulunya adalah ajudan paman Ganan, aku rasa lebih baik bertanya pada paman saja. Jika kamu ragu, aku yang akan menemanimu." Jawab Afna mencari solusi.


"Jangan, itu namanya kurang sopan, membericarakan kedua orang tua dengan yang lain. Kamu doakan saja, semoga aku berhasil." Ucap Zayen meyakinkan.


"Demi memecahkan sebuah masalah itu tidak masalah, lagian yang kita tanyakan paman Ganan. Setahuku sih, paman Ganan juga dekat dengan papa kamu." Jawab Afna mencoba meluruskan.


"Lebih baik, kamu masuk ke kamar saja. Berdandan atau ... yang bisa membuatku senang saat aku memasuki kamar." Perintah suaminya, Afna sendiri hanya menelan salivanya.


"Hem ... iya iya ..." jawab Afna singkat. Zayen sendiri tersenyum bahagia, begitu juga dengan Afna.


Rasa penasaran yang benar benar membuat Zayen semakin tidak sabar untuk mengoreknya jauh lebih dalam lagi, ia segera menemui kedua orang tuanya. Berharap apa yang sudah membuatnya penasaran segera terkuak misteri hilangnya seorang bayi yang bernama Adevin, yang tidak lain adalah Zayen. Sedangkan Afna sendiri memilih untuk kembali masuk ke kamar, ia pun segera menuruti keinginan suaminya.


"Afna, tunggu." Panggil Adelyn yang menghentikan langkah kakinya saat hendak menapaki anak tangga pertama, Afna pun menoleh ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Zayen yang ikut menoleh ke arah sumber suara.


"Panggil istriku seperti kamu memanggilku, sekarang Afna sudah menjadi kakak kamu. Jika aku melihatmu masih memanggil sebutan nama, awas." Ucap Zayen memberi peringatan, Adelyn sendiri memasang muka masamnya.


"Iya iya ... kakakku yang paling ganteng, dan mempesona." Jawabnya sedikit memanyunkan bibirnya, Zayen pun tertawa kecil. Kemudian segera pergi untuk menemui kedua orang tuanya.


"Idih, tertawa. Awas pokoknya, akan aku kerjain nanti." Gerutu Adelyn sambil berdecak kesal.

__ADS_1


"Jangan kamu masukkan ke hati, kamu bebas memanggilku. Tadi aku dengar bahwa kamu memanggilku, ada sesuatu kah?" tanyanya penasaran.


"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu keluar. Tapi sepertinya tidak akan mendapatkan izin dari kak Zayen, soalnya takut terjadi apa apa dengan kamu dan juga calon keponakanku. Terkecuali kak Zayen ikut, itu lebih aman." Jawabnya sedikit murung.


"Oooh, itu. Iya benar, keluarga sangat mengkhawatirkan calon buah hatiku. Entahlah, aku sendiri bingung untuk mencernanya. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha, itu saja. Lain waktu saja jika kakak kamu ada waktu luang untuk menemaniku, aku akan ikut bersamamu." Ucap Afna meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu, aku pamit berangkat. Oh iya, apakah ada yang mau dititipin? siapa tahu menginginkan buah masam atau ... asinan." Jawab Adelyn.


"Tidak perlu, aku sudah ada kakak kamu yang bisa aku mintai." Ucap Afna dan tersenyum, Adelyn pun membalas senyumnya. Kemudian, segera ia pergi meninggalkan rumah. Afna sendiri kembali menapaki anak tangga dengan hati hati menuju kamarnya.


Sedangkan Zayen sendiri berniat untuk menemui kedua orang tuanya, berharap sangat ayah maupun ibunya dapat menjawab pertanyaannya dengan jujur.


Berkali kali celingukan di setiap sudut ruangan, Zayen pun tidak mendapati sosok kedua orang tuanya. Ia sendiri baru pertama kalinya singgah di rumah orang tuanya, Zayen pun segera mendekati salah satu pelayan dirumahnya.


"Tuan dan nyonya biasanya duduk santai di ruangan khusus sebelum berangkat ke kantor, tempatnya tidak jauh dari sini. Tuan Muda cukup jalan lurus, setelah itu belok kanan. Jika Tuan Muda menemukan ada ruangan kaca, nah ... disitulah tempat dimana kedua orang tua Tuan Muda duduk bersantai bersama keluarga." Jawabnya sambil menunjukkan arah kepada Zayen.


"Kalau begitu terimakasih ya, Pak." Ucap Zayen, kemudian segera menemui kedua orang tuanya sesuai yang tunjukkan oleh salah satu pelayan rumah.


Kedua orang tua Zayen sendiri sedang duduk santai di ruangan khusus sambil menyibukkan dengan laptopnya masing masing, keduanya tetap terlihat damai. Bahkan Zayen sendiri telah melihat kedua orang tuanya bersenda gurau, meski keduanya sama sama sibuk.


'Ternyata Mama dan Papa sangat sibuk dengan dunianya masing masing. Namun, tetap saja terlihat mesra di manapun tempatnya. Semakin penasaran aku dengan Papa dan juga Mama, seberapa besarnya cinta keduanya. Sampai sampai aku harus diculik oleh orang yang tidak bertanggung jawab, apakah ada yang menaruh dendam? aku rasa seperti itu.' Batinnya sambil mengamati kemesraan dan kesibukan kedua orang tuanya.


Tanpa pikir panjang, Zayen segera masuk kedalam ruangan. Dirinya berharap bisa mendapatkan informasi dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Papa, Mama ... maaf kedatangan Zayen tengah mengganggu Mama dan Papa." Ucap Zayen mengagetkan.


"Tidak, Papa dan Mama tidak merasa terganggu. Katakan saja, ada apa kamu datang kemari? ayo katakan." Jawab sang ayah dan bertanya.


"Ada sesuatu yang ingin Zayen tanyakan, apakah Papa dan Mama ada waktu? hanya sebentar saja."


"Tentu saja, ayo duduk." Ucap sang ayah meminta putranya untuk duduk, Zayen pun nurut dan duduk didekat kedua orang tuanya.


"Katakan saja Nak ... ada perlu apa kamu mencari Mama dan Papa?" tanya sang ibu ikut menimpali.


"Sebelumnya Zayen mau meminta maaf, jika pertanyaan dari Zayen tidak sopan menurut Papa dan juga Mama." Jawab Zayen sebelum menanyakan sesuatu yang menurutnya sangat penting.


"Iya Nak, katakan saja." Ucap sang ibu, ayahnya pun mengangguk.


Dengan sangat hati hati, Zayen mencoba menata kosa kata sebaik mungkin. Berharap tidak salah berucap saat menanyakannya.


"Apakah Papa dan Mama memiliki masa lalu? maksud Zayen, masa lalu sebelum Mama dan Papa saling jatuh cinta. Maafkan pertanyaan Zayen ini, Ma ... Pa." Tanya Zayen sedikit gugup, Zayen sendiri merasa malu menanyakan hubungan kedua orang tuanya dimasa mudanya.


'Pertanyaan macam apa ini, kenapa aku seberani ini untuk mempertanyakan masa lalu Mama dan Papa. Oh! sungguh konyol pertanyaanku ini, siap siap mendapat sentilan dari Papa.' Batin Zayen mengutuki dirinya sendiri.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, ada masalah?" tanya sang ayah yang belum mengerti maksud dari putranya. Sang ibu pun juga ikutan bingung atas pertanyaan dari putranya itu, kedua orang tua Zayen menatap heran kepada putranya.


'Mam*pus aku, pasti aku akan mendapatkan hukuman setelah ini. Benar kata Afna, sangat tidak bijak bertanya kepada orang tua mengenai masa mudanya.' Batin Zayen yang merasa tidak enak hati kepada kedua orang tuanya, dan menyesalinya.

__ADS_1


__ADS_2