
Setelah tersadar akan keberadaan istri dan ibunya, Zayen segera berlari menuju lemari yang dianggapnya sangat rahasia. Sedangkan yang lainnya ikut menyusul Zayen yang tengah berlari kecil.
Zayen langsung menekan tombol rahasianya, tidak lama kemudian pintu pun terbuka.
"Afna, bertahanlah. Afna bangun, sayang ... Afna! jangan tinggalkan Mama. Afna! bangun, Nak ..." ucap sang ibu mertua berulang ulang sambil berteriak.
Zayen terbelalak dan tercengang saat melihat kondisi sang istri yang tengah pingsan dan terlihat sangat pucat. Sang ibu menangis histeris melihat menantunya yang tidak sadarkan diri.
"Afna!!" teriak Zayen sangat keras, segera ia menggendong istrinya dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Semua ikut panik melihat kondisi Afna yang tidak sadarkan diri dan sangat mengkhawatirkan.
Kedua orang tua Zayen maupun yang lainnya mengikuti Zayen sampai di rumah sakit. Sebelum berangkat, kedua orang tua Afna dan saudara kembarannya kini telah sampai dikediaman orang tua asuh Zayen.
"Tuan Alfan, dimana putriku dan Zayen? bagaimana keadaannya? tidak terjadi apa apa dengan mereka, 'kan?" tanya tuan Tirta yang mencemaskan keadaan anak dan menantunya.
"Afna pingsan, sekarang sedang dibawa ke rumah sakit oleh Zayen. Kita tidak mempunyai waktu lama, ayo berangkat." Jawab tuan Alfan langsung masuk kedalam mobil, sedangkan kakek Zio dan kakek Angga dengan putranya pergi ke kantor polisi untuk memberi keterangan.
Kedua orang tua Afna dan kedua orang tua Zayen maupun Viko dan juga Adelyn segera pergi ke rumah sakit.
Didalam perjalanan, Zayen menangis penuh sesal saat mendapati kondisi sang istri yang tidak lagi sadarkan diri. Kondisi Afna benar benar lemah, ditambah lagi sedang hamil muda. Pikiran Zayen semakin tidak karuan memikirkan kondisi sang istri.
"Sayang, kamu yang kuat sayang... kamu pasti bisa melewatinya. Bertahanlah, maafkan aku yang begitu ceroboh tidak mengingat dirimu yang berada di ruangan lorong kecil." Ucap Zayen yang terus menitikan air matanya yang tidak tega melihat kondisi sang istri yang lemah dan terlihat sangat pucat.
Berkali kali Zayen memeluk tubuh istrinya penuh sesal dan air mata. Tidak lama kemudian, Zayen telah sampailah di rumah sakit. Segera ia berlari sambil menggendong sang istri, sungguh tidak kuasa melihat wanita yang dicintainya dalam keadaan sangat memprihatinkan.
__ADS_1
Setelah berada di dalam rumah sakit, Afna segera ditangani oleh Dokter. Zayen berkali kalo bolak balik kesana kemari karena pikiran kacaunya yang tengah memikirkan keadaan istrinya, ia pun mengusap wajah dengan kasar.
Kedua orang tuanya pun telah sampai di rumah sakit, dengan langkah yang lebar segera menemui putranya.
"Zayen, bersabarlah. Afna pasti selamat, yakinlah. Berdoalah untuk istrimu, semoga segera sadarkan diri dari pingsannya." Ucap sang ayah mencoba menenangkan putranya sambil memeluknya.
"Ini semua gara gara Zayen, Pa. Seandainya Zayen tidak menyuruhnya untuk bersembunyi, mungkin tidak akan terjadi seperti ini." Jawab Zayen penuh sesal dan masih menganak sungai di kedua matanya.
Tidak dapat dipungkiri, Zayen begitu mencintai dan menyayangi Afna sepenuh jiwa dan raganya. Bahkan air matanya tidak cukup baginya untuk membuktikannya, Zayen selalu merasa kurang dalam memberi kasih sayang dan perhatian kepada istrinya.
"Sabarlah, Zayen. Kamu tidak bersalah, apa yang sudah kamu lakukan itu benar. Lelaki mana yang tega membiarkan istrinya ikut terkepung dalam situasi yang sangat menengangkan. Ini, karena Afna sedang hamil muda. Membuat kondisi fisiknya lemah, ada janin didalam rahimnya. Wajar saja, jika istrimu tidak dapat menahan nafasnya didalam ruangan yang cukup kecil." Ucap ayah mertua mencoba untuk menenangkan menantunya.
Tuan Tirta takut jika sang menantu akan terus menyalahkan diri sendiri, ditambah lagi ada janin yang sedang dikandung oleh Afna. Membuat Zayen semakin prustasi dan merasa sangat bersalah.
"Nak ... kamu yang sabar, istrimu pasti bisa melewati ini semua. Percayalah sama Mama, kamu pun pasti bisa melewati ujian ini. Cinta kalian sama besarnya, pasti akan ada bahagia setelah ini." Ucap sang ibu sambil menatap wajah putranya, kemudian menghapus air matanya.
"Maafkan kita semua, Nak ... gara gara masalah orang tua kamu dan masa lampau kakek kamu, istrimu dan kamu harus menjadi korban oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap sang ibu kembali, Zayen pun langsung memeluk ibunya. Kemudian melepaskan kembali, dan ditatapnya wajah sang ibu yang sudah berjuang untuk melahirkannya.
Meski tidak pernah merawatnya, Zayen tetap hormat dan menyayangi ibunya maupun sang ayah dan juga sang kakek dan ommanya.
"Semua tidak ada yang salah, Zayen percaya itu. Memang beginilah perjalanan hidup kita, Ma. Zayen pun menjadi yakin, istri Zayen pasti bisa melewatinya." Jawab Zayen berusaha untuk tenang, meski dalam pikirannya masih menyimpan kekhawatiran.
"Duduklah, Zayen. Afna pasti segera sadarkan diri, kamu cukup yakin dan berdoa. Semua akan baik baik saja, dan kita tidak lagi ada kecemasan." Ucap Kazza mencoba meyakinkan adik iparnya, Zayen pun mengangguk tanpa berucap dan segera duduk.
Adelyn yang melihat saudara kembarannya terasa rapuh, Adelyn langsung duduk didekatnya.
__ADS_1
"Kak Zayen, percayalah sama Adelyn. Bahwa Kakak ipar pasti akan segera sadarkan diri, dan dapat melewati semua ujian ini." Ucap Adelyn mencoba ikut menenangkan saudara kembarannya, Zayen pun segera menoleh kesamping.
"Terima kasih, lain kali itu bawa pengawal jika kamu mau pergi." Jawab Zayen, kemudian mendongak keatas dan dilihatnya Viko yang sudah berada di dekat saudara kembarannya.
"Oooh." Ucap Zayen datar.
"Hem ..." balas Viko sambil menatap Zayen.
Tidak lama kemudian, seorang Dokter keluar dari ruangan. Zayen langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera menghampiri sang Dokter. Semua ikut tegang saat melihat sang Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Zayen disertai kecemasan. Sang Dokter hanya tersenyum melihat ekspresi Zayen yang terlihat sangat gelisah.
"Istri Tuan baik baik saja, dan juga sudah sadarkan diri. Saya ingatkan, jangan di beri banyak pertanyaan. Cukup hibur dan diajaknya mengobrol ke hal hal yang positif. Disamping sedang hamil muda, istri Tuan juga harus banyak istirahat." Jawab sang Dokter memberi penjelasan, Zayen pun mengangguk.
"Terima kasih Dok, kalau begitu saya akan segera menemui istri saya." Jawab Zayen dan tersenyum penuh kelegaan, kecemasan yang sedari tadi ia pikirkan telah ia lewati.
Dengan pelan Zayen membuka pintunya, berharap sang istri tidak pingsan lagi.
Ceklek.
Zayen pun membuka pintunya, dan dilihatnya sang istri yang tengah menoleh kearah sang suami yang baru saja membuka pintunya.
Zayen pun segera masuk, sedangkan yang lainnya menunggunya di luar. Kedua orang tua masing masing maupun yang lainnya tidak ingin mengganggu momen bahagia pada pasangan suami istri yang cukup lama menghadapi berbagai masalah.
"Biarkan Zayen dan Afna melepas kerinduan dan kelegaan yang selama ini mereka tunggu, cukup lama mereka berdua harus melewati tahap demi tahap untuk menggapai kebahagiaan yang mereka berdua impikan." Ucap tuan Tirta mengingatkan pada yang lainnya.
__ADS_1