
Setelah mandapatkan keputusan dari sang ayah, Viko kembali ke kamarnya. Sedangkan Zayen masih duduk sambil memikirkan keselamatan istrinya.
"Zayen, apakah kamu sudah membawa istrimu untuk periksa ke Dokter?" tanya sang ibu yang tiba tiba sudah berada di hadapannya. Seketika, Zayen kaget mendengarnya.
"Mama bilang apa, tadi?" tanya Zayen yang belum mengerti dengan apa yang ditanyakan dari ibunya.
"Hem ... jangan kebanyakan melamun, tidak baik untuk kesehatan kamu. Sebentar lagi kamu akan segera menjadi seorang ayah, dan kamu harus siap dalam segala hal. Termasuk egomu itu harus bisa di tenangkan ketika suatu masalah datang padamu. Jadi, apakah kamu sudah membawa istrimu untuk periksa ke Dokter?" Jawab sang ibu, lalu kembali memberi pertanyaan yang sempat tidak ditanggapi oleh putranya.
"Zayen benar benar penat memikirkan siapakah dalang yang sudah tega melakukan ini semua pada keluarga Wilyam. Apakah paman Jojo, maksud Zayen paman Jordana. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Tapi, Zayen masih bingung untuk menebaknya." Ucap Zayen dengan lesu dan tidak lagi bersemangat.
"Tidak, Dana tidak mungkin melakukannya lagi. Suruhan papa selalu aktif untuk mengawasinya, dan sudah banyak perubahan yang positif padanya. Mungkin saja mantan istri Seyn, tapi itu masih tebakan Papa." Ujar sang ayah ikut menimpali, dan beranggapan positif akan perubahan dari seorang laki laki sebayanya.
"Zayen akan segera menghubungi kak Seyn, siapa tahu saja ada masa lalunya." Jawabnya mencoba menerka nerka tentang semuanya.
"Silahkan, jika kamu ingin menghubunginya. Ingat, perhatikan terus istri kamu. Jangan sampai lengah, Afna sangat membutuhkan perhatian penuh dari kamu. Jadi, segera masuklah ke kamar. Kamu juga perlu istirahat yang cukup." Ucap sang ibu ikut menimpali, ia tidak ingin melihat putranya dan menantunya maupun calon cucunya sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Baik Ma, kalau begitu Zayen mau istirahat. Pa, Zayen duluan." Jawab Zayen, yang kemudian segera masuk ke kamarnya dan segera istirahat.
Kini, tinggal lah sepasang suami istri yang tidak lagi muda. Sebentar lagi akan menjadi seorang kakek dan nenek. Usianya yang sudah terbilang paruh baya, namun keduanya tetap harmonis dan romantis. Cinta pada kedua orang tua Zayen dan Adelyn tidak jauh beda dengan Viko dan Adelyn. Keduanya berawal dari seorang supir sekaligus kaki tangan dari keluarga Wilyam, dan pada akhirnya keduanya terjerat dengan perasaannya masing masing. Hanya saja, Viko maupun Adelyn tidak memiliki masa lalu soal perasaannya dengan orang lain.
__ADS_1
Berbeda dengan tuan Alfan dan sang istri, masalah rumah tangganya harus diuji dengan penculikan putranya yang bernama Zayen dan dilakukan kejahatan tersebut oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab, yaitu oleh Jordana. Laki laki yang pernah disukai oleh ibunya Zayen, namun tidak mendapatkan balasan. Sehingga ibunya Zayen memilih untuk jatuh cinta pada tuan Alfan, yaitu seorang supir sekaligus kaki tangannya tuan Ganan. Ayah dari Reynan, Zakka, dan Neyla.
"Sayang, benar nih? jika Viko dan Adelyn akan kita tunda dulu keberangkatannya?" tanya sang istri pada suaminya.
"Benar, kita menunggu semua masalah selesai. Tapi, jika masih belum terungkap juga, Papa aku pasrah dengan semuanya." Jawab tuan Alfan dengan lesu, pikirannya kembali terus berusaha untuk mengorek semua permasalahannya.
"Bersabarlah, mungkin memang seperti ini kita mendapatkan ujian. Percayalah, tidak lama lagi kita akan mendapatkan kebahagiaan yang utuh dan tidak lagi mencemaskannya." Ucap sang istri mencoba untuk meredakan emosi yang bisa muncul kapan saja pada suaminya itu.
"Iya, aku percaya itu. Buktinya saja, Zayen dapat kita temukan dengan suasana haru dan tentunya kita tidak pernah menyangkanya jika kita akan bertemu dalam situasi yang genting." Jawab tuan Alfan yang teringat akan pertemuannya dengan putra kesayangannya yang sangat dirindukan dikala itu.
"Ah! sudahlah, bisa bisa kedua mataku menjadi sembab jika mengingat Zayen saat masih baru lahir dan disaat bertemu dengannya ketika sudah tumbuh dewasa, bahkan sudah beristri." Ucapnya yang tidak ingin mengingat masa lalu yang penuh derita untuknya dan suaminya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita istirahat." Ajak tuan Alfan pada istrinya, kemudian keduanya kembali ke kamar dan beristirahat.
Seyn yang baru saja membersihkan diri, ia segera keluar dari kamar mandi. Seyn hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada bagian pinggangnya.
Seketika itu juga ,Neyla yang baru saja bangkit dari posisi duduknya dan segera ingin menyiapkan pakaiannya. Secara tidak langsung tanpa ia memperhatikan yang ada didepannya, Neyla tercengang saat melihat postur tubuhnya yang benar benar telah membuatnya tergoda.
Seyn yang melihat ekspresi istrinya pun tersenyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
"Hem ... suami kamu tampan juga, 'kan?" ledek Seyn pada istrinya.
"Hem ... biasa saja, tidak tampan dan juga tidak jelek. Hanya ..." ucapnya terhenti, lalu segera masuk kamar mandi dan menguncinya.
Seyn sendiri hanya tertawa kecil saat melihat sikap istrinya yang terlihat kikuk, kemudian Seyn segera mengenakan pakaiannya dan menyisiri rambut hitamnya.
Sedangkan Neyla yang berada didalam kamar mandi terbayang bayang wajah suaminya itu yang terlihat menggoda.
"Neyla, kamu sadar dong. Kamu baru menikah, kenapa isi otak kamu tiba tiba travelling." Gerutunya sambil mengacak acak rambutnya.
Karena tidak ingin berlama lama di kamar mandi, Neyla segera membersihkan dirinya.
Sedangkan Seyn menyandarkan dirinya dikepala ranjang tempat tidur, kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya.
Ketika membuka kunci layar ponselnya, terlihat ada banyak panggilan ke nomornya.
"Zayen? ada apa dia menelfon ku?" ucapnya lirih, kemudian segera ia menghubunginya. Namun, berkali kali ia terus menelfonnya tanpa bosan. Tetap saja, tidak ada jawaban dari Zayen. Karena tidak ingin menjadi lebih penasaran, Seyn mengirimi pesan pada Zayen untuk mengajaknya pertemuan disuatu tempat. Setelah pesan tersebut sudah terkirim, Seyn meletakkan ponselnya diatas meja.
Karena sang istri yang tidak kunjung keluar, Seyn memilih untuk merebahkan badannya dengan benar. Berharap, penat yang ada dalam pikirannya segera teratasi. Dan, tidak akan lagi ada yang berani mengusik rumah tangganya maupun keluarga yang lainnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Neyla keluar dengan badannya yang terlihat segar. Karena sang suami terlihat sudah tidur, dengan terburu buru ia segera mengenakan pakaiannya. Takut, jika sang pemiliknya akan mengetahuinya dan akan meminta haknya. Disaat itulah, Neyla dengan gesit mengenakan pakaiannya.
Namun sayang disayang, Seyn jauh lebih gesit dari sang istri. Hingga tanpa Neyla sadari sudah ada sosok suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya. Seketika itu juga, Neyla kaget melihatnya ketika ia menoleh ke belakang. Wajahnya berubah pucat pasi, hingga dirinya masih mematung tidak percaya ketika didapati sang suami yang sudah menatapnya dengan lekat.