
Karena merasa ada keganjalan yang menguasai pikiran Seyn dan Zayen serta Neyla dan Afna, Seyn memilih untuk segera pulang. Ia takut, jika calon istrinya yang akan menjadi sasaran empuk yang sedang mengincarnya. Begitu juga dengan Zayen sendiri ikut memilih untuk pulang, ditambah lagi sang istri yang tengah hamil besar dan butuh penjagaan yang ketat sejak mendapati pesan dengan nomor yang tidak dikenalnya.
Dalam perjalanan, Seyn maupun Zayen mendapat penjagaan ketat dari sisi manapun.
Seyn terus memutar ingatannya saat Neyla yang selalu mencegahnya, Seyn semakin kuat jika Neyla sendiri pun sudah diberi ancaman.
'Aku yakin jika Neyla sudah mendapatkan ancaman, itu pasti. Sekarang aku mengerti, kenapa dia dengan mudahnya untuk menebak sesuatu dan terbukti dengan jelas.' Batin Seyn terus berpikir tentang siapa dalang yang sudah membuatnya kesal dan geram.
Neyla yang sadari tadi bersandar dikaca jendela mobil hanya melamun, ia pun tidak ada henti hentinya membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.
Setelah cukup lama memakan waktu dalam perjalanan pulang, tidak terasa telah sampai di halaman rumah kediaman keluarga Wilyam.
"Maaf Pak, kenapa saya berhenti di rumah Neyla?" tanya Seyn pada supir pribadi tuan Ganan.
"Nanti Tuan muda akan mengetahuinya didalam." Jawabnya, kemudian segera melepaskan sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil pada kedua majikannya.
Sedangkan Neyla dan Seyn saling menatap bingung, sesuatu yang rumit kembali memecahkan ingatannya.
"Tidak perlu cemas, ayo kita turun." Ajak Seyn diakhiri dengan anggukan.
"Aku takut, Seyn. Pikiranku semakin kacau, aku takut apa yang aku pikirkan akan benar benar terjadi. Aku takut, jika kita akan berpisah." Jawab Neyla berubah dengan kesedihan.
Seyn meraih tangannya, kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Tidak ada yang akan bisa memisahkan kita, percayalah denganku." Ucap Seyn terus meyakinkan Neyla.
"Janji, tidak bohong?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan melakukan kebohongan terhadapmu." Jawab Seyn sambil melepas sabuk pengamannya, Neyla pun mengangguk dan segera melepas sabuk pengamannya.
Dengan perasaan yang berkecamuk, Seyn maupun Neyla segera masuk kedalam rumah dengan pikirannya yang tidak karuan.
Seyn terus menggandeng tangan milik Neyla sambil melangkahkan kakinya, Neyla maupun Seyn merasa ada sesuatu yang berbeda didalam rumahnya. Seperti mimpi, namun itu nyata. Entah sejak kapan, ada perubahan didalam ruangan keluarga yang cukup besar. Seyn dan Neyla terus mencernanya, mencoba untuk menebaknya.
"Maaf Nona, Tuan. Mari ikut kami, tuan Ganan dan yang lainnya sudah menunggunya sedari tadi." Ucap salah satu pelayan dengan santun.
"Memangnya ada apa mbak?" tanya Neyla penasaran.
Karena sudah menjadi amanah dari majikannya, apapun yang terjadi tetap akan disampaikan apabila mendapatkan pertanyaan dari Seyn maupun Neyla.
"Hari ini juga, Nona dan Tuan akan segera menikah. Mau tidak mau, ini pesan dari tuan Ganan. Sekarang juga, Nona Neyla dan tuan Seyn diminta untuk bersiap siap." Jawabnya dengan gemetar, Seyn dan Neyla saling menoleh satu sama lain. Keduanya sama sama tercengang, dan seperti tidak percaya mendengarnya.
"Mbak Eni jangan bercanda deh, tidak lucu."
"Ma, sebenarnya ada apaan sih ... kenapa mbak Eni mengatakan jika hari ini adalah hari pernikahan Neyla, benarkah?" tanya Neyla memastikan.
"Benar, Papa sengaja melakukan semua ini karena sekeluarga takut akan terjadi sesuatu dengan pernikahan kalian berdua." Jawab sang ayah menjelaskan.
"Apa tidak terburu buru, Paman?" tanya Seyn dengan berani.
"Tidak, lebih cepat lebih baik." Jawab tuan Ganan tanpa berbelit.
"Baiklah Paman, saya hanya nurut saja apa keputusan dari paman." Ucap Seyn.
"Sekarang juga, kalian berdua cepetan bersiap siap. Waktunya tidak lama, soal resepsi akan menyusul dikemudian hari jika suasana tidak lagi ada bahaya." Perintah tuan Ganan pada putrinya dan calon menantunya.
__ADS_1
Seyn maupun Neyla mengangguk, kemudian keduanya segera mengikuti langkah kaki dari salah satu pelayan masing masing.
Sedangkan didalam ruangan keluarga, kini akan dijadikan tempat untuk mengucapkan kalimat sakral oleh mempelai pengantin laki laki.
Semua keluarga Wilyam tengah berkumpul, termasuk keluarga kakek Zio. Hanya Zayen dan Afna yang tidak dapat menghadiri pernikahan Neyla dan Seyn.
Sedih? itu pasti. Pernikahan yang sudah direncanakan dan ditunggu tunggunya, kini seakan pudar oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Neyla menatap cermin didepannya, seperti mimpi apa yang terjadi pada dirinya itu. Berkali kali Neyla mencoba menepuk nepuk pipinya, tetap saja Neyla merasakan sakit.
'Iya, ini kenyataan. Aku tidak lagi bermimpi, aku benar benar akan segera menikah. Benarkah secepat ini aku akan menikah?' batinnya seperti mimpi dengan apa yang tengah terjadi pada dirinya itu.
Begitu juga dengan Seyn, dirinya ikut menatap lekat pantulan bayangannya pada cermin. Seyn merasa seperti mimpi, bahkan Seyn berkali kali mencubit pipinya untuk memastikannya antara mimpi dan nyata.
"Kamu tidak lagi bermimpi kak, Seyn." seru seorang laki laki yang sangat Seyn kenali, seketika ia langsung menoleh kearah belakang.
"Viko, sialan kamu. Bikin aku kaget saja, sejak kapan kamu berdiri dibelakangku, hah?" ucap Seyn. Kemudian mengernyitkan dahinya tatkala kepergok oleh Viko yang tiba tiba datang begitu saja tanpa permisi, pikirnya.
"Aku sudah mengetahui semua permasalahannya, aku pun sudah memberi perintah kepada suruhanku. Sayangnya, orang itu tidak mengetahui ciri cirinya karena menggunakan masker. Lelaki misterius itu telah memberi upah yang cukup besar pada pemilik nomor tersebut, makanya lelaki pria itu tidak berpikir resikonya. Yang dipikirkannya hanya uang dan uang. Aku mencoba menyogoknya lebih banyak lagi, lelaki tua itu tidak mau menerimanya." Jawab Viko sambil duduk disebelahnya sambil menemani Seyn yang lagi dirubah penampilannya.
"Aku semakin yakin, tidak lama lagi akan menunjukkan batang hidungnya didepan kita. Sekarang yang harus kita lakukan adalah kerahkan semua anak buah untuk menyelidikinya, jangan sampai lengah."
"Itu pasti, aku semakin curiga. Namun, aku masih belum bisa untuk mengungkapkannya. Yang jelas, istri Zayen pun harus diawasi dengan ketat. Kalau begitu, siapkan diri untuk mengucapkan kalimat sakral. Semoga acara pernikahan kak Seyn berjalan dengan lancar, meski sangat sederhana. Paman Ganan melakukan ini semua agar putrinya ada seorang suami yang terus menemaninya. Takut, jika putrinya yang juga menjadi sasaran empuk." Ucap Viko, kemudian menepuk punggung milik Seyn dengan pelan.
"Terima kasih, kamu masih ada waktu untuk menolongku dalam kesulitan ini." Jawab Seyn.
"Sudahlah, jangan berlebihan. Aku mau keluar untuk berkumpul dengan yang lainnya, aku tunggup di ruang keluarga." Ucap Viko, kemudian ia pergi meninggalkan Seyn yang sedang bersiap siap.
__ADS_1