Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Makan siang yang sederhana


__ADS_3

Setelah selesai pijat, ibu Marna pulang diantar oleh Viko. Dan kini, tinggallah Zayen dan Afna berduaan dirumah.


Keadaan rumah pun kembali sepi, dan tidak terasa sudah waktunya untuk makan siang. Lagi lagi Afna menatap jam dinding, seakan memberi kode kepada suaminya. Zayen yang mengerti akan maksud dari istrinya, kemudian Zayen segera menyambar kunci motornya.


"Aku mau mengajakmu makan diluar, tapi hanya sederhana. Apakah kamu mau ikut? jika tidak, aku tidak akan memaksamu."


"Aku ikut, aku ingin makan diluar. Walaupun sederhana sekalipun, aku tidak akan menolaknya."


"Sekarang ganti pakaianmu, aku tunggu diluar. Aku mau memanaskan motorku terlebih dahulu, berpenampilan lah yang sederhana. Aku tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, walaupun terkenal kaya sekalipun." Ucap Zayen mengingatkan.


"Tenang saja, aku tidak akan berlebihan dalam berpenampilan." Jawabnya, kemudian segera meraih tongkat penyangganya yang tidak jauh dari tempat tidur.


Sedangkan Zayen segera keluar dari kamarnya sambil menyambar jaket yang tergantung pada gantungan pakaian.


Afna sendiri sedang berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. Sesekali dirinya mencoba menggerakkan pada pergelangan kakinya, tiba tiba sedikit tidak percaya. Apa yang dilakukannya benar benar tidak disangkanya, bahwa kakinya tidak terasa sakit yang begitu berat.


Afna mencoba untuk berdiri dengan tegak didepan cermin, mencoba untuk tidak menahan dengan tongkat penyangga. Rasa penasarannya pun semakin menggebu, Afna mencoba menyandarkan tongkat penyangganya di meja.


Afna berusaha untuk berdiri tanpa sebuah alat bantu, Afna terus mencobanya untuk tidak meraih tongkat penyangganya. Afna menatap kebawah, pandangannya fokus kearah bawah. Tepatnya pada kakinya, yaitu pergelangan kakinya sebelah kanan.


"Aku tidak lagi bermimpi, 'kan? apakah ini kenyataan, dan apakah aku ini benar benar sembuh. Meski baru tadi aku melakukan pemijatan, aku pun sangat penasaran akan hasil pijatan dari ibu Marna." Gerutunya serasa tidak percaya.


"Aaawww!! sakit." Teriak Afna tidak begitu kencang, Afna masih menahan sedikit rasa sakit.


"Setidaknya sudah ada perubahan pada kakiku yang cidera ini, aku harus terus berusaha untuk sembuh. Aku yakin, sakitku ini pasti dapat disembuhkan. Aku harus bersabar serta semangat untuk sembuh dan juga nurut apa kata ibu Marna dalam menasehatiku." Afna masih saja menggerutu didepan cermin.


Setelah berusaha untuk bertahan dari rasa sakitnya, Afna segera mengambil alat bantu penyangga tubuhnya. Afna pun segera bersiap siap untuk keluar dan menghampiri suaminya yang sudah menunggunya diluar.


Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya. Afna terus berusaha untuk bisa berjalan, meski terkadang harus menggantinya dengan alat bantu.


Sesampainya dipintu, Afna kembali mengenakan tongkat penyangganya. Dirinya takut jatuh, dan juga akan mendapatkan akukan dari sang suami.

__ADS_1


"Aku sudah siap," ucap Afna mengagetkan.


Zayen menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya sang istri yang sudah berdiri di teras rumah.


"Baiklah, jika kamu sudah siap. Ayo, kita berangkat. Naik motor tidak apa apa, 'kan?"


"Justru aku lebih suka naik motor, itu milikmu sendiri. Dari pada naik mobil, tetapi bukan milik sendiri."


Zayen tersenyum saat mendengar jawaban istrinya yang tidak merasa malu atau gengsi sekalipun.


"Sebentar, aku mau mengunci pintunya dulu." Ucap Zayen, yang kemudian segera mengunci pintunya.


Lagi lagi Afna memperhatikan penampilan suaminya yang terbilang sangat sederhana. Zayen hanya mengenakan kaos oblongnya dan celana jeans, penampilan suaminya tidak membuat Afna merasa malu maupun minder.


"Bagaimana keadaan kaki kamu, apakah masih terasa sangat sakit?" tanya Zayen sambil melihat kebawah pada kaki milik istrinya.


Dilihatnya, pergelangan kaki tengah digerakkan oleh Afna. Zayen pun kemudian tersenyum, Afna yang melihat suaminya tersenyum hanya tersipu malu.


"Aku janji, aku akan bekerja keras untuk membelikan kamu mobil. Agar kamu tidak lagi kesusahan seperti ini, setidaknya kamu bisa duduk dengan nyaman dalam perjalanan." Ucap Zayen sambil berjalan menuju motornya, tepatnya disamping rumah.


Dengan pelan, Zayen menurunkan istrinya di atas jok motor. Afna sendiri merasa sangat bersyukur, andai dirinya tidak mengalami cidera pada kakinya. Bisa jadi, Afna tidak akan pernah merasakan ketulusan dan perhatian yang begitu besar dari suaminya. Afna sendiri tidak perduli dengan penampilan suaminya, meski terlihat menyeramkan dan menakutkan. Namun, kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan dan dilihat dari penampilan.


Afna benar benar tidak menyangka, jika suaminya sangat baik memperlakukan istrinya. Bahkan, membentaknya pun tidak pernah. Jangankan membentak, rasa cinta pun tidak dimiliki oleh perasaan keduanya dikala itu. Tetapi Zayen mampu membuat istrinya merasa nyaman, walau terkadang Afna terlihat takut dengan penampilan suaminya.


"Jangan lupa, pegangan." Ucap Zayen mengingatkan sambil meraih kedua tangan milik Afna untuk melingkarkan ke pinggang milik suaminya.


Afna hanya mengangguk, dengan pelan Afna menyandarkan kepalanya pada punggung suaminya. Zayen pun tersenyum, tatkala sang istri tidak lagi merasa malu.


Selama perjalanan Afna hanya diam, begitu juga dengan Zayen yang terus fokus mengendarai motornya.


"Ternyata naik motor itu menyenangkan juga, ya." Ucap Afna tiba tiba membuka suara.

__ADS_1


"Apakah kamu baru menyadarinya?"


"Iya, karena selama ini aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya naik motor."


"Aku kira kamu tidak menyukai motor, ternyata tebakanku salah." Ucap Zayen yang masih fokus mengendarai motornya, dan tidak terasa kini telah sampai di warung makan langganan Zayen.


Dengan pelan, Zayen menggendong Afna sampai didalam ruangan. Semua orang yang melihatnya pun kaget dibuatnya, tatkala kondisi Afna yang sangat memprihatinkan. Tidak ada yang tidak berbisik, semua yang melihatnya tidak luput membicarakan pasangan Afna dan Zayen. Sedangkan Zayen maupun Afna tidak memperdulikan nya, keduanya tetap santai meski mendengar ucapan yang tidak mengenakkan dihati keduanya.


"Kamu mau pesan apa? soto apa ayam bakar, atau... yang lainnya." Tanya Zayen sambil menatap wajah istrinya.


"Aku pesan ayam bakar saja, sepertinya sangat enak." Jawab Afna sedikit tidak nyaman saat dirinya menjadi pusat perhatian.


"Tunggu disini, aku akan memesannya." Ucapnya, Afna pun hanya mengangguk. Sedangkan Zayen segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera memesan makanan.


"Eeeeh, nak Zayen. Sudah lama tidak pernah mampir, sibuk dengan istri barunya nih.." ucapnya sembari meledek. Zayen sendiri hanya tersenyum tipis, kemudian segera memesan makanan.


"Ah! Ibu bisa saja meledek. Oh iya, saya pesan ayam bakarnya dua dan minumnya teh hangat tidak terlalu manis, itu saja." Jawab Zayen memesan.


"Baiklah, ditunggu ya nak Zayen. Silahkan untuk duduk kembali." Ucapnya kembali mempersilahkan Zayen untuk duduk.


Sedangkan Zayen segera kembali ke tempat duduknya bersama istrinya.


"Zayen!" seru seseorang menghentikan langkah kakinya. Zayen pun segera menoleh ke sumber suara.


"Dodi! benarkah kamu Dodi?" Zayen segera memeluk seorang laki laki yang setara umurannya.


"Benar sekali, aku dengar kamu menikah dengan keluarga konglomerat. Benarkah isu itu? atau... hanya gosip." Bisik Dodi dideket telinga Zayen.


"Tahu dari mana, kamu.Seyn? atau.. papaku."


"Sudahlah, kita atur pertemuan kita seperti biasa. Aku tunggu nanti malam, jang lupa." Jawabnya masih sedikit berisik, lalu segera pergi meninggalkan Zayen.

__ADS_1


__ADS_2