
Tuan Tirta masih diam, Berusaha berpikir untuk memberikan jawaban kepada putranya. Ditambah lagi, putrinya yanh kini sudah sembuh berkat kesabaran dari menantunya. Tuan Tirta benar benar masih berusaha untuk menimbang nimbang keputusannya, dan tidak mudah untuk memvonis seseorang begitu saja. Semua butuh pemikiran yang positif, dan tidak merugikan pada salah satu pihak.
"Pa, kenapa diam. Ayo dong pa, jawab. Kazza tidak ingin menunggu keputusan dari papa yang terasa lama." Ucap Kazza yang sudah tidak lagi sabar, entah ada apa dengan Kazza hingga begitu semangatnya untuk menjatuhkan adik iparnya sendiri.
Sedangkan tuan Alfan sendiri menaruh curiga terhadap keputusan Kazza, apalagi bukan pesan yang diterima oleh Kazza. Melainkan sebuah panggilan masuk yang Kazza terima, sungguh benar benar membuat tuan Alfan sendiri semakin curiga. Seperti ada dalang dibalik kejadian semua ini, tuan Alfan sangat menyayangkan atas kelalaiannya yang tidak memerintahkan anak buahnya untuk selalu berjaga di tempat markas tersebut.
Mau tidak mau, tuan Alfan terpaksa mengikuti Kazza tanpa sepengetahuannya. Jika Kazza memaksakan dirinya untuk melaporkan adik iparnya, sebisa mungkin tuan Alfan untuk mencegahnya.
"Kazza, hentikan rencanamu untuk melaporkan perbuatan adik ipar kamu sendiri. Ingat! jangan gegabah dalam melakukan penggerebekan tanpa penyelidikan yang akurat. Ambillah sisi baiknya, jangan hanya memvonis dari sisi buruknya." Jawab sang Ayah berusaha untuk menenangkan pikiran putranya yang sedang dikuasai oleh emosi dan amarahnya.
"Tidak, pa. Jika kita masih membiarkannya untuk melakukan aktivitas buruknya, maka hancurlah masa depan cucu papa. Apa papa lupa, tidak hanya Seyn yang ikut andil didalamnya. Tetapi ada juga tuan Arganta yang harus kita penjarakan." Ucap Kazza yang masih pada pendiriannya.
"Apa kamu lupa, siapa yang menyembuhkan sakit pada kaki adik kamu yaitu Afna? setega itukah dirimu tanpa berpikir panjang dengan akal sehatmu." Ujar tuan Alfan berusaha mengingatkan keponakannya, agar tidak mudah terhasut oleh seseorang yang sengaja menghancurkan keluarga Danuarta.
"Kazza tau, paman. Bahwa Zayen lah yang menyembuhkan Afna. Seharusnya, papa dan paman curiga terhadap Zayen. Kazza rasa bahwa Zayen lah yang menyebabkan kecelakaan itu. Maka, mau tidak mau Zayen harus bermain topeng didepan kita." Jawab Kazza mencoba meyakinkan paman dan ayahnya dengan caranya yang menebak.
"Paman rasa, ucapan kamu itu salah." Ucap tuan Alfan yang kini justru curiga terhadap keponakan sendiri, bukan curiga akan kejahatan Kazza. Melainkan, siapa yang sudah membuat Kazza tidak dapat mencernanya dengan baik.
__ADS_1
"Iya, Kazza. Apa yang dikatakan paman kamu itu ada benarnya, sekarang kamu pahami kembali. Jangan sampai kamu akan menyesal setelahnya, apa kamu tega melukai perasaan saudara kembar kamu sendiri."
"Aaah! kenapa sih, paman dan papa susah untuk berpikir kedepannya. Afna, pa! kasihan Afna. Apa iya, kita akan membiarkan Zayen untuk melakukan pekerjaan itu terus terusan. Bukankah papa sudah tahu sendiri, Zayen tidak mau terjun ke perusahaan papa. Zayen tetap memilih dengan pekerjaan gelapnya itu." Ucap Kazza berusaha mengingatkan sang ayah tentang adik iparnya yang menolak ajakan sang ayah untuk terjun ke perusahaannya.
Tanpa pikir panjang, Kazza langsung masuk kedalam kamarnya. Pikirannya benar benar sangat kacau, dilain sisi tidak ada satupun yang menyetujui rencananya untuk melakukan penangkapan kepada adik iparnya.
"Pintar sekali kamu Zayen, mengambil hati ayahku dan paman Alfan. Bahkan kamu mengenal paman Alfan baru kemarin, tapi kamu mampu menghipnotisnya. Sampai sampai tidak mau mempercayai, justru lebih membelamu. Yang jelas jelas perbuatan kamu itu sangatlah salah, dan harus dibuat jera." Gerutunya penuh kekesalan, dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Kazza kembali dengan laptopnya maupun ponselnya yang dijadikan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang selalu memberi kabar tentang Zayen.
'Aku harus melakukannya sendiri, akan aku buktikan kepada keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta. Bahwa aku mampu menyelesaikan masalahnya dengan mudah.' Batin Kazza yang masih dipenuhi emosi.
***
Didalam markas milik Zayen, Seyn dan ayahnya masih duduk santai layaknya sebagai Bosnya para komplotan. Sedangkan Zayen dan Viko sedang berpikir keras untuk memberi sebuah jawaban yang tepat.
Pikiran Zayen semakin tidak karuan, bahkan jantungnya berdegup sangat cepat. Bukan karena jatuh cinta, tetapi kekesalan dan emosi yang semakin memuncak.
__ADS_1
"Bos! apa yang akan Bos katakan untuk menjawab pertanyaan dari Seyn, apa Bos Zayen akan menyerahkan Nona Afna."
"Jika aku menyerahkan istriku, percuma. Aku tetap tidak akan bisa berjumpa dengan kedua orang tuamu, aku yakin itu."
"Tapi, Bos. Kita harus bagaimana? apa iya, Bos akan menyerah."
"Pistol, iya! aku akan melayangkan pelurunya hingga tembus pada dada sombongnya, dan juga otak busuknya. Bahkan, aku akan membelah dadanya dengan senjataku untuk aku ambil hati dan jantungnya lalu dibakar." Ucap Zayen dengan sorot matanya yang tajam, melebihi tajamnya pisau belati.
"Bos! ingat, Bos. Jangan lakukan itu, mereka berdua bukan ayam potong." Ucap Viko mengingatkan, dirinya pun merinding mendengar penuturan Bosnya sendiri yang terdengar sangat sadis.
Meski memiliki markas barang barang senjata tajam maupun senjata api sekalipun, Zayen tidak pernah menggunakannya. Hanya pistol yang selalu ia gunakan, dan tidak untuk senjata tajamnya.
Zayen semakin prustasi dibuatnya, dirinya benar benar tidak memiliki jawaban untuk dipilihnya. Keduanya adalah pilihan yang sulit, benar benar tidak dapat untuk memilihnya.
"Jika aku memilih istriku, aku tidak bisa jamin istriku baik baik saja. Begitu juga jika aku memilih kedua orang tuaku, aku tidak menjamin kedua orang tuaku akan baik baik juga. Aku yakin, pelaku sebenarnya bukanlah kak Seyn dan papa. Tetapi ada dalang dibelakang mereka berdua. Seorang pelaku tidak akan pernah menunjukkan langsung batang hidungnya, bahkan memiliki permainan yang sangat halus. Aku yakin pelakunya sedang bermain dibelakang kak Seyn dan juga papa." Ucapnya sangat lirih.
Karena sudah tidak sabar, Zayen langsung memberanikan diri untuk menghadapi ayah asuhnya dan juga Seyn sebagai kakaknya.
__ADS_1
"Wah .. sepertinya kamu akan menyerah, dan aku sangat yakin bahwa kamu akan memilih kedua orang tuamu. Karena apa, karena kamu pasti sangat penasaran dan pastinya sangat merindukan kedua orang tuamu. Iya ya, aku dapat memahaminya. Dua puluh tahun lebih kamu tidak pernah berada dipangkuan ibumu. Pastinya, kamu sangat merindukannya, 'kan?" ucap Seyn sambil berdiri tegak mengitari Zayen yang terlihat sangat kesal dengan sorot matanya yang sangat tajam, namun tidak membuat Zayen takut.