
Pagi yang cerah, secerah kebahagiaan Afna dan Zayen. Keduanya saling melengkapi satu sama lain.
"Sayang, hari ini ada acara di kediaman keluarga Wilyam. Apakah kita akan pergi kesana?" tanya Afna sambil menyisir rambut panjangnya. Sedangkan Zayen sedang sibuk dengan laptopnya sambil bersandar diatas tempat tidurnya.
Disaat itu juga, Zayen teringat akan ucapan dari Viko soal keluarga Wilyam. Zayen pun sedikit penasaran dengan keluarga mertuanya.
"Jika kamu ingin mendatangi acara di tempat saudara kamu, aku pun tidak keberatan untuk menemani kamu." Jawabnya sambil menatap layar laptopnya.
"Benarkah? baiklah, aku akan menyiapkan baju yang akan kamu kenakan."
"Jangan berlebihan, siapkan saja pakaian yang sederhana mungkin. Aku tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, kamu mengerti?"
"Iya, aku mengerti. Lantas denganku?" Afna mencoba meminta pendapat dari sang suami.
"Jika kamu lebih suka berlebihan, maka kurangi sifat kamu itu. Jika kamu tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, aku beruntung." Jawabnya santai, namun ngena dihati sang istri.
"Baiklah, aku mengerti." Ucap Afna, kemudian segera bangkit dari tempat duduknya dan mencari pakaian yang pantas untuk dikenakan suaminya dan juga dirinya. Berkali kali Afna memilih baju untuk suaminya dan dirinya, namun tidak kunjung ia dapatkan yang menurutnya sederhana dan serasi.
"Sudah, kamu ambil yang mana saja akan aku pakai. Aku bukan artis papan atas, ataupun juga orang yang terkenal." Ucap Zayen yang semakin bosan memperhatikan istrinya yang sedang memilih baju untuknya.
"Maaf, jika aku sudah membuatmu menungguku sangat lama."
"Tidak apa apa, aku tahu itu. Kamu ingin membuat penampilanku sekeren mungkin, iya 'kan?" Jawab Zayen sambil mematikan laptopnya, sedangkan Afna hanya tersenyum malu malu.
"Ini pakaian untukmu, seperti yang kamu minta. Jika kamu merasa tidak nyaman, kamu bisa pilih yang lainnya."
"Apapun pilihan kamu, aku tidak akan menggantinya. Sini, aku pakai bajunya. Dan kamu, cepatlah ganti pakaian kamu."
__ADS_1
"Baiklah, kita naik motor 'kan?"
"Memang kita punya mobil?" tanya Afna balik.
"Ah! iya, kita tidak punya mobil. Maaf, bukan maksudku untuk menyinggung kamu. Serius, aku tidak bermaksud membuat kamu kesal." Jawabnya merasa bersalah akan ucapannya, sedangkan Zayen hanya tersenyum. Dirinya tidak pernah mempermasalahkan dengan ucapan ucapan dari sang istri. Zayen dapat memaklumi akan sikap istrinya, cukup merasa bersalah saja dan meminta maaf itu sudah jauh lebih baik.
Dengan cekatan, Zayen sudah rapi dengan penampilannya. Zayen langsung manyambar jaketnya yang ada disofa. Afna sendiri masih sibuk merapikan penampilannya. Meski dengan penampilannya yang sederhana, Afna berusaha untuk terlihat rapi.
"Sayang, aku mau memanaskan motornya. Kalau kamu sudah beres semuanya, jangan lupa kunci kamar dan pintu depan." Perintah dari sang suami, Afna mengangguk sambil fokus didepan cermin.
Zayen sambil memanaskan motornya sambil mengelapnya, agar tidak terlihat kotor. Saat sedang jongkok, tiba tiba ada mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya. Setelah itu turun dari mobil tanpa Zayen sadari akan kedatangan orang tersebut.
"Maaf, Tuan. Permisi ..." ucapnya mengagetkan.
Zayen pun segera menoleh kebelakang, kemudian segera bangkit dari posisinya.
"Anda siapa, ya?" tanya Zayen penasaran.
"Ooh! maaf, Pak. Sepertinya kami akan mengendarai motor, sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Saya meminta maaf, jika saya dan istri saya lebih memilih untuk mengendarai motor." Jawab Zayen sebaik mungkin.
"Yakin, Tuan? kalau Tuan mau mengendarai motor?" tanya sang supir untuk mendapat jawaban yang pasti.
"Saya yakin, Pak. Lebih baik, bapak silahkan untuk pergi meninggalkan tempat ini. Karena sebentar lagi saya akan berangkat bersama istri saya."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, Pak. Terimakasih sebelumnya, salam saja buat papa dan mama. Kami akan segera berangkat, jangan mengkhawatirkan kami."
__ADS_1
"Iya, Tuan ..." jawabnya kemudian pergi, dan segera kembali ke kediaman keluarga Danuarta. Sedangkan Zayen segera mematikan mesin motornya, dirasa sudah cukup memanaskan motornya.
Disaat itu juga, rupanya sang istri telah keluar dari dalam dan mengunci pintu rumah.
"Sayang, aku sudah siap. Oh iya, tadi aku mendengar kamu sedang mengobrol dengan seseorang. Siapa yang datang kemari? apakah teman kamu itu, si Viko." Ucapnya dan bertanya.
"Bukan Viko, tetapi supir dari keluarga kamu.
Baru saja pulang, tadi datang kesini berniat untuk menjemput kita. Tetapi aku menolaknya, aku tetap pada pendirianku. Aku lebih nyaman menggunakan milikku, itu lebih baik bagiku. Bukan berarti aku tidak mau menerima perhatian dari keluarga kamu, tetapi aku ini seorang suami. Aku masih punya harga diri, dan itu tidak akan pernah goyah. Terkecuali, yang datang kesini adalah keluargaku sendiri. Aku tidak akan menolaknya, itupun masih aku pikirkan berulang ulang." Jawabnya menjelaskan.
Afna yang mendengar penjelasan dari sang suami, hatinya pun terpikat akan prinsip suaminya yang begitu kuat.
"Kamu benar benar suamiku idaman, kamu benar benar memiliki jiwa tanggung jawab dan juga memiliki pendirian yang sangat kuat. Aku berharap, semoga anak laki laki kita akan memiliki sifat seperti kamu." Ucapnya dan tersenyum mengembang.
"Jangan berlebihan dalam memuji, tidak baik. Jika kita diberi amanah anak perempuan maupun laki laki, kita tetap mengajarinya tentang kebaikan. Sebisa mungkin, kita jauhkan dari sifat buruk." Jawabnya mengingatkan.
"Sudahlah, jangan bahas itu dulu. Lebih baik kita berangkat, nanti kita terlambat bagaimana?" Ucapnya lagi.
"Ah! iya, aku sampai lupa." Jawabnya, sedangkan Zayen segera menaiki motornya, begitu juga dengan Afna. Duduk di belakang dan memeluk suaminya, kemudian menyandarkan kepalanya dipunggung suaminya.
Zayen segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sedangkan Afna masih dengan posisinya. Keduanya terlihat sangat serasi, meski hanya bermodal kesederhanaan.
Tidak terasa, keduanya menempuh perjalanan yang lumayan cukup jauh. Namun, tidak membuat Afna maupun Zayen merasa capek. Justru keduanya sangat menikmati perjalanannya. Tanpa keduanya sadari, kini sudah berada di depan pintu gerbang utama. Kedua satpam merasa bingung mendapati tamu dengan penampilannya yang sangat sederhana. Ditambah lagi tidak mengenali Afna maupun Zayen, kedua satpam tersebut saking uu ddyberbisik dan bertanya tanya.
"Bagaimana ini? aku takut salah menerima tamu. Bukannya tidak percaya, tetapi takut ada modus." Ucap satpam tersebut sedikit cemas.
"Iya, aku juga takut. Apa kita tanya ke Tuan dulu, ya."
__ADS_1
"Iya, aku mau tanya ke dalam. Kamu cegah dulu, jangan sampai memaksanya untuk masuk." Ucapnya, kemudian segera menemui pemilik rumah untuk mendapat jawaban yang tepat, pikirnya.
Zayen yang mengerti dari sikap Pak satpam, hanya bersabar untuk menunggu sampai dibukanya pintu gerbang. Zayen mengerti akan peraturan sang pemilik rumah, dirinya berusaha untuk sabar. Begitu juga Afna, dirinya pun tidak berani untuk berkomentar.