
Zayen dan Afna masih sabar menunggu didepan pintu gerbang. Dirinya tidak mengeluarkan sepatah katapun kepada kedua satpam, begitu juga dengan kedua satpam tersebut tidak menanyakan siapa dan siapanya keluarga Wilyam.
"Sayang, kita bicara saja kepada satpam itu. Aku yakin, pak satpam akan percaya dengan kita.
"Kita tunggu saja sebentar, jika memang tidak ada tanggapan kita lebih baik pulang." Jawabnya.
"Iya deh, terserah kamu." Jawabnya pasrah.
Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil mewah datang dan mengagetkan Afna maupun Zayen.
"Afna, kenapa kalian tidak masuk." tanya sang ibu yang tiba tiba mengagetkan.
"Mama ... kita berdua belum diizinkan masuk. Mama tahu sendiri, 'kan? penampilanku yang sederhana ini."
Kedua orang tua Afna pun geram, saat putrinya sampai kepanasan menunggu pintu gerbang di buka. Ingin marah, pastinya. Namun, ayah Afna memilih untuk menahan emosinya. Dirinya tidak mau terlihat buruk didepan menantunya, ditambah lagi sang menantu begitu sabar menghadapi satpam yang tidak jeli melihat siapa yang datang.
Tidak lama kemudian, seorang laki laki paruh baya bersama salah satu satpamnya telah menghampiri Afna dan Zayen.
"Tuan Tirta, kenapa tidak masuk." Ucapnya yang tanpa melihat Afna dan Zayen berada di pojok pintu gerbang.
"Kenapa satpam kamu tidak jeli melihat tamu yang datang." Jawabnya sedikit kesal, sedangkan ibunya Afna dan juga Kazza hanya diam tanpa berucap.
"Tamu? maksudnya?"
"Apa kamu tidak melihat, dipojok sana ada siapa?" jawabnya sambil menunjuk kearah Zayen dan Afna. Keduanya pun segera menghampirinya.
"Paman Ganan, apa kabarnya?" sapa Afna seramah mungkin.
"Afna .... benarkah kamu Afna? ini suami kamu?"
"Iya, paman. Saya suami Afna, nama saya Zayen. Maaf, jika saya sudah mengganggu paman. Gara gara kedatangan saya dan istri saya merepotkan paman harus mengecek tamu yang datang." Jawab Zayen menimpali.
"Jadi ... yang mengendarai motor, itu kamu dan Afna. Paman benar benar tidak mengetahuinya, paman benar benar meminta maaf atas kesalahan satpam rumah maupun kesalahan paman yang tidak begitu jeli mendapati tamu yang datang. Sekali lagi, maafkan paman ya, nak Zayen." Ucapnya merasa tidak enak hati, sedangkan Tuan Tirta segera masuk ke halaman rumah keluarga Wilyam.
"Tidak apa apa, Paman. Kita dapat memakluminya, kewaspadaan itu penting. Karena musuh bisa datang kapan saja, dan bisa melakukan apa saja yang diinginkannya." Jawab Zayen sebaik mungkin, dirinya pun tidak merasa kesal karena tidak langsung dibukakan pintu gerbang saat dirinya sudah berada didepan pintu gerbang. Baginya suatu hal yang lumrah untuk menjaga keamanan.
__ADS_1
Ditambah lagi, jaman yang serba bisa melakukan apa saja dengan apa yang sudah di rencanakan. Zayen tetap tidak merasa kesal dan benci, dirinya tetap bersikap sewajarnya.
"Kalau begitu, ayo kita masuk. Semua keluarga sudah berkumpul didalam, paman Alfan, tante Zeil, dan juga Adelyn sudah ada didalam." Ajaknya dengan ramah.
"Iya, Paman." Jawab keduanya mengangguk dan tersenyum.
"Pak Dino, tolong motornya bawa masuk kedalam." Perintah tuan Ganan ke salah satu satpamnya.
"Baik, Tuan." Jawabnya, sedangkan Zayen hanya bisa nurut, dirinya tidak mau menyinggung perasaan tuan Ganan.
Zayen memilih pasrah dan mengikuti langkah tuan Ganan sambil menggandeng tangan istrinya. Afna yang begitu bahagia mendapatkan perlakuan dari suaminya yang sangat perhatian.
'Rupanya ini, rumah keluarga Wilyam. Keluarga yang sering diceritakan Viko, yang memiliki banyak kekayaan.' Batinnya sambil berjalan mengikuti langkah tuan Ganan.
"Afna ....." seru perempuan cantik dan sangat anggun menghampiri Afna dan langsung memeluknya.
"Adelyn ...." Afna pun menerima pelukan dari saudaranya. Keduanya saling melepas rindu satu sama lain, sedangkan Zayen masih berdiam diri disamping istrinya. Setelah merasa cukup berpelukan, Adelyn maupun Afna saling melepas pelukannya.
"Ini suami kamu?" tanya Adelyn sambil menunjuk ke arah Zayen.
"Iya, ini suamiku namanya Zayen."
"Adelyn." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Zayen." Jawabnya yang kemudian menerima uluran tangan dari Adelyn. Keduanya pun saling diam, seperti ada yang sedang dipikirkannya.
'Kenapa aku merasa dekat dengan laki laki ini, tangannya pun terasa hangat. Tidak hanya itu, wajahnya pun aku merasa tidak asing. Seandainya kak Adevin masih ada, mungkin setampan pria ini.' Batin Adelyn teringat dengan sang kakak yang pernah hilang.
'Wanita ini, kenapa tangannya terasa hangat. Bahkan melebihi hangatnya istriku, bukan merasa ada cinta, tetapi aku merasa dekat dengannya.' Batin Zayen dengan penasaran.
Afna yang melihat suaminya yang tidak segera melepaskannya pun langsung melepaskan tangan suaminya dengan paksa.
"Kalian berdua?" ucap Afna dengan kesal, kemudian langsung pergi begitu saja.
"Afna! maafkan aku, bukan maksud aku untuk membuatmu marah." Ucap Adelyn yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Sayang!" panggil Zayen yang baru tersadar dari lamunannya, kemudian langsung mengejar Afna yang pergi begitu saja dan meninggalkan suaminya.
Sedangkan Afna kini sudah berada di samping ibunya dan ayahnya. Afna memasang muka masamnya, dan memperlihatkan kekesalannya.
Dilihatnya Zayen berdiri disamping Adelyn, semua melihat keduanya terheran heran.
Secara tiba tiba, sosok wanita paruh baya tengah menghampiri Zayen dan Adelyn yang sedang berdiri berdampingan.
'Tante Zeil, ada apa dengan tante Zeil? apa tante juga mau memarahi putrinya, yang tidak lain Adelyn. batin Afna yang tiba tiba penasaran saat melihat sosok tantenya yang tiba tiba menujukkan ekpresi kesedihannya.
Dengan pelan, kedua tangan ibunya Adelyn mengusap pipi Zayen dengan lembut. Sedangkan Zayen sendiri merasa risih dibuatnya, bahkan ingin segera menepis tangan milik ibunya Adelyn.
"Kamu begitu mirip dengan putriku, bahkan kegagahanmu tidak jauh dari suamiku. Kamu mengingatkanku dengan putraku yang entah dimana dia sekarang. Aku sangat merindukannya, namun tidak dapat aku temukan." Ucapnya lirih dan menitikan air matanya sambil mengusap lembut kedua pipi Zayen. Sedangkan Zayen sendiri tiba tiba melakukan penolakan dari sikap ibunya Adelyn.
Disaat itu juga, detak jantung Zayen berdegup sangat hebat. Zayen sebdiri baru pertama kalinya mendapatkan sentuhan hangat dari seorang wanita paruh baya. Seumur hidupnya, dirinya hanya mendapat perlakuan kasar dari ibu asuhnya.
'Kenapa lagi ini, perasaanku begitu kuat. Bahkan aku merasa dekat dengannya, aku merasa ada kehangatan dari wanita ini. Aaah! kenapa aku menjadi terbawa suasana, niat datang ke acara keluarga kenapa berubah menjadi drama begini.' Batin Zayen mengutuki dirinya sendiri yang tiba tiba menjadi lemah tidak berdaya.
Semua yang ada disekelilingnya pun melihat Zayen dan ibunya Adelyn sangat haru. Begitu juga dengan Afna, yang awalnya kesal terhadap suaminya tiba tiba Afna berubah sedih karena pemandangan yang begitu mengharukan.
"Tante, jangan menangis lagi." Ucap Zayen, kemudian melepaskan tangannya yang masih memegangi kedua pipinya.
"Bagaimana tidak menangis, tante telah kehilangan anak laki laki yang sudah lebih dari dua puluh tahun. Mungkin saja sekarang sudah sebesar kamu, dan tampan seperti kamu." Jawabnya sedih.
"Yang sabar ya, tante .. saya doakan, semoga putra tante segera ditemukan dan berkumpul lagi bersama tante. Semua tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Saya yakin, pastinya akan ada masanya tante akan dipertemukan. Semua itu hanya butuh kesabaran, tante." Ucap Zayen mencoba menenangkan.
"Terimakasih ya, Nak. Ngomong ngomong, nama kamu siapa?"
"Perkenalkan, saya Zayen istrinya Afna, Tante .."
"Jadi, kamu suaminya Afna?"
"Iya, tante ..."
"Tante ibunya Adelyn, nama tante Zeil."
__ADS_1
"Dan paman suaminya tante Zeil, yaitu paman Alfan. Paman orang tua yang kehilangan anak laki laki. Yang tidak lain adalah kembarannya Adelyn yang bernama Adevin." Ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya Zayen, paman. Salam kenal dari saya, semoga putra paman segera ditemukan." Jawab Zayen dan tersenyum.