
Tuan Alfan yang merasa sudah cukup membicarakan tentang keluarga tuan Dana, akhirnya memilih untuk berpamitan pulang.
"Tuan Dana, aku rasa sudah cukup membahas masalah ini. Kalau begitu, aku dan putraku izin pamit untuk pulang. Aku serahkan pada Zayen, karena Guntara adalah temannya. Aku rasa akan sangat mudah untuk mempertemukanmu dengan adik kamu." Ucap tuan Alfan berpamitan.
"Iya Paman, Zayen yang akan menemui Guntara. Paman tidak perlu khawatir, cukup siapkan diri untuk bertemu dengannya. Semoga Guntara tetap menerima paman sebagai kakaknya." Sahut Zayen menimpali.
"Terima kasih ya, Zayen. Maafkan Paman yang sudah membuatmu ikut andil dalam masalah yang paman miliki." Ucap tuan Dana merasa tidak enak hati.
"Zayen sudah memaafkan paman dari dulu, sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya untuk bisa mempertemukan paman bersama sang adik." Jawab Zayen.
"Ya sudah kalau begitu, aku dan putraku pamit pulang. Siapkan dirimu dengan yakin, semoga pertemuan kalian berdua nantinya akan menyatukan kembali persaudaraan kalian berdua yang sempat terpisah." Ucap tuan Alfan menimpali dan berpamitan.
"Baik lah, aku nurut saja dengan kalian berdua. Hati hati diperjalanan." Jawab tuan Dana, sedangkan tuan Alfan maupun putranya mengangguk dan tersenyum.
Setelah berpamitan untuk pulang, dalam perjalanan Zayen terus memikirkan sesuatu yang dapat mempermudahkannya dalam mencari cara untuk mempertemukan tuan Dana dengan adik laki lakinya.
"Apakah kamu sudah mengetahui alamat kediaman Guntara?" tanya sang ayah membuka suara.
"Masih, Pa. Tapi, itupun jika Guntara tidak berpindah tempat." Jawab Zayen sambil fokus dengan setirnya.
"Semoga saja, Guntara masih mau menerima tuan Dana sebagai kakaknya." Ucap sang ayah.
"Iya, Pa. Semoga saja, Guntara tetap mengakui paman Dana sebagai kakaknya." Jawab Zayen, kemudian ia menambah kecepatannya. Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di halaman rumahnya.
"Pa, sepertinya Zayen langsung berangkat saja untuk menemui Guntara." Ucap Zayen.
"Terserah kamu saja, Papa serahkan semuanya padamu. Jika cara kamu itu lebih baik, kenapa tidak? ya sudah, Papa masuk ke rumah. Hati hati diperjalanan, semoga berhasil." Jawab sang ayah, kemudian Zayen segera melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kediaman Guntara, Zayen kembali memikirkan cara untuk menemui Guntara. Karena ia merasa tidak mungkin untuk mendatangi rumah Guntara, Zayen mencoba menghubungi Viko yang berada di luar Negri untuk memberi tahu alamat kantor milik Guntara.
Setelah ia mendapatkan alamat kantor milik Guntara, Zayen kembali menimbang nimbang nya.
"Apa lebih baik aku temui Guntara di kantornya saja? aku rasa itu lebih baik." Ucapnya lirih sambil fokus pandangannya lurus kedepan.
Dengan yakin, Zayen memilih untuk mendatangi kantor milik Guntara setelah mendapat alamatnya.
Dengan kecepatan tinggi, Zayen melakukan kendaraan mobilnya. Tidak memakan waktu lama bagi Zayen, kini telah sampai di depan gedung yang cukup besar dan menjulang tinggi.
Zayen segera melepaskan sabuk pengamannya, kemudian ia keluar dari mobilnya.
"Ternyata benar, apa yang dikatakan Viko waktu itu. Jika Guntara adalah pemuda sukses yang belum lama ini, tapi ... kenapa aku penasaran dengan kesuksesannya? mungkinkah perusahaan ini adalah bagian dari paman Dana?" Ucapnya lirih dan mencoba menerka nerkanya.
Karena tidak ingin membuang buang waktunya, Zayen segera memasuki kantor milik Guntara.
Sesampainya berada di dalam Kantor, semua karyawan menatap Zayen dengan terpesona. Semua membicarakan kedatangan Zayen, semua tengah berbisik memuji ketampanannya.
"Saya tidak memiliki janji pada tuan Guntara, saya hanya ingin bertemu dengannya. Sampaikan pada Bos kamu, jika di luar ada tamu yang ingin bertemu. Zayen Arganta, teman sekolah Bos kamu." Ucap Zayen yang selalu menggunakan nama yang terdahulu, meski sudah diganti dengan nama Wilyam. Zayen tetap tidak akan pernah melupakan seseorang yang sudah pernah menjadi sosok ayahnya, meski ayah asuh sekalipun.
"Baik, Tuan. Silahkan duduk, akan saya sampaikan pesan dari Tuan." Jawabnya dan segera menemui Bosnya, lalu menyampaikan pesannya.
Sesampainya didalam ruang kerja Bosnya, karyawan tersebut menyampaikan pesan yang ia terima.
"Keluarlah, katakan padanya. Aku mengizinkannya untuk menemuiku, cepat bawa kesini." Perintah Guntara pada karyawannya.
"Baik, Bos." Jawabnya, kemudian ia segera keluar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Zayen sudah berada didepan pintu. Kemudian, pintu pun dibukakan oleh karyawan tersebut.
"Silahkan masuk, Tuan." Ucapnya sambil membungkuk.
Zayen pun segera masuk, kemudian berhadapan langsung dengan Guntara yang kedua kalinya selama tidak bertemu.
"Apa kabarnya, Guntara?" sapa Zayen dengan ramah dan tersenyum.
"Kabarku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Kamu sendiri?" jawabnya dan balik menyapa.
"Kabarku sama sepertimu, baik dan sehat." Jawab Zayen.
"Silahkan duduk, jangan sungkan. Katakan padaku, apa maksud kedatangan kamu ke Kantorku ini? apakah kamu mau mengajakku bekerja sama? atau ... ada hal yang lainnya?" Ucapnya dan bertanya dengan penasaran.
"Aku mau meminjam modal dengan kamu, apakah kamu mau membantuku? sepertinya kamu sudah sukses sekarang ini. Boleh lah, jika aku meminjam modal denganmu?" jawab Zayen beralasan.
"Hem, sombong. Bukankah kamu sudah menjadi pewaris yang tajir melintir, sekarang ini. Kamu kira aku tidak mengetahuinya, hem." Ucap Guntara dengan senyum dibuat sinis.
"Hebat sekali kamu, dapat mengetahuiku dalam waktu yang sangat dekat. Kamu sendiri, sangat cepat untuk sukses. Apakah aku bisa mendapatkan ilmunya dari kamu? ayolah bantu aku untuk menjadi lebih sukses lagi." Jawab Zayen mencoba untuk memancingnya.
"Kamu salah menilaiku dengan kata sukses, aku belum pantas untuk mendapatkan pujian itu." Ucapnya, kemudian memijat pelipisnya.
"Maksud kamu? aku sama sekali tidak mengerti akan maksud kamu itu." Tanya Zayen yang masih penasaran.
"Ini perusahaan bukanlah milikku sepenuhnya, ini ada sebagian milik kakak ku. Tapi ... sampai sekarang pun, aku tidak dapat menemukan keberadaan kakakku. Aku bukan detektif handal, yang dimana dapat menemukan saudara laki laki ku itu." Jawab Guntara menjelaskannya.
"Kakak kamu? siapa namanya?" tanya Zayen pura pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Jordana, kata ayahku sering dipanggil Dana. Kata ayah, kakakku menghilang sejak diriku masih bayi. Kak Jordana prustasi karena pernikahannya yang gagal akibat kecelakaan pesawat yang dinaiki calon istrinya. Namanya kak Elin, perempuan yang sangat dicintainya. Ketika restu itu ada pada ayah, kak Elin harus pergi untuk selama lamanya." Jawab Guntara menjelaskan dengan raut wajahnya yang sedih.
"Maafkan aku, jika pertanyaanku membuatmu sedih. Aku tidak berniat untuk mengingatmu kembali dengan masa lalu." Ucap Zayen yang semakin yakin, jika pertemuan kakak beradik akan mengharukan. Keduanya sama sama merindukannya, dan tidak ada sedikitpun kebencian pada diri Guntara, pikir Zayen dengan yakin.