Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Salah tingkah


__ADS_3

Di kediaman keluarga tuan Alfan, semua sedang sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Adelyn sendiri sedang sibuk bersiap siap untuk pergi ke Kantor, sedangkan Afna sedang sibuk membantu suami memakaikan dasi.


"Sayang, aku merindukan mama dan papa. Apakah kamu ada waktu untuk menemaniku? aku sangat merindukan keluargaku, termasuk kak Kazza." Ucap Afna memulai pembicaraan.


"Tentu saja, sayang. Akan aku usahakan untuk pulang lebih awal, jika kamu tidak keberatan kamu bisa ikut aku ke Kantor. Setelah itu, kita bisa langsung berangkat. Aku bisa meminta Viko untuk mengganti pekerjaanku, agar kita memiliki waktu yang panjang dirumah orang tua kamu." Jawab Zayn untuk mengajaknya ke Kantor, ia pun sebenarnya ingin memperkenalkan statusnya dan sosok wanita yang sangat ia cintai.


"Benarkah? aku takut mengganggu pekerjaan kamu. Dan membuatmu tidak konsentrasi dalam bekerja, dan kamu mendapat teguran dari Papa." Ucap Afna takut menambah beban dan juga masalah.


"Tidak, sayang. Justru aku ingin memperkenalkan kamu sebagai istri tercinta ku, agar tidak ada yang salah paham." Jawabnya mencoba meyakinkan istrinya.


"Tapi ... lihatlah, tubuhku yang berbadan dua ini terlihat sangat gemuk." Ucap Afna yang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya.


"Kata siapa? justru kamu terlihat cantik. Sudahlah, sekarang kamu bersiap siap untuk berangkat. Aku tunggu kamu di ruang kerja, kalau sudah selesai temui aku. Oh iya, kenakan pakaian yang membuatmu nyaman. Tidak perlu harus tampil sempurna, aku tetap mencintaimu dan calon buah hati kita." Jawabnya, kemudian segera mendekati istrinya lebih dekat lagi dan mencium kening milik istrinya dengan mesra.


Afna pun segera memeluk suaminya, ia merasakan ketenangan dan kenyamanan saat berada dipelukan suaminya. Sungguh bahagia yang sangat sulit untuk dilukiskan, Afna pun kembali melepaskannya dan segera bersiap siap.


Setelah selesai bersiap siap, Afna segera menemui suaminya yang sedang sibuk di ruang kerjanya. Zayen yang melihat penampilan istrinya pun seperti tidak percaya, ia segera bangkit dari posisi duduknya dan mendekati istri tercintanya.


"Kamu cantik sekali, sayang. Apakah kamu sudah siap? jika iya, ayo kita turun dan sarapan bareng keluarga." Ucap sang suami memuji dan mengajak istrinya untuk segera turun ikut sarapan pagi bersama keluarga.


Dengan pelan, keduanya menuruni anak tangga, semua yang berada di ruang keluarga benar benar tidak percaya dengan penampilan Afna yang terlihat begitu cantik dengan balutan kain yang sangat cocok dengan kulitnya.


"Afna ... kamu cantik sekali, sayang. Mama seperti tidak percaya melihatmu, jangan jangan anak kamu nanti perempuan." Ucap sang ibu mertua memujinya dan mencoba menebaknya.

__ADS_1


"Zeil, tebakan kamu menurut Papa salah. Menurut Papa, calon anaknya Zayen dan Afna yaitu laki laki." Ucap kakek Zio ikut menimpali.


"Menurut Adelyn, anaknya kak Zayen kembar dua. Laki laki dan perempuan, titik." Ucap Adelyn ikut menimpali juga.


"Hem ... sudah sudah, nanti juga kelihatan jawabannya. Sekarang sudah waktunya sarapan pagi, ayo kita menuju ruang makan. Nanti terlambat berangkat kerjanya, nanti Papa hukum jika anak anak Papa tidak bisa memberi contoh yang baik untuk para karyawan." Ucap tuan Alfan sambil menarik tangan istrinya, sedangkan yang lainnya hanya bisa nurut dan mengikuti langkah tuan Alfan seperti sedang mengantri makanan.


Setelah sudah berada di ruang tamu, semua hening. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang dapat di dengat. Satu pun tidak ada yang membuka suara, semua menikmati makanannya masing masing. Setelah selesai sarapan pagi, kini kembali hening. Seraya akan ada yang mau di diskusikan, tuan Alfan pun mencoba untuk membuka suara.


"Jadi begini, Adelyn, Zayen. Kalian berdua adalah harapan Papa, tidak ada yang lain. Papa minta, tetap jaga kekeluargaan kita ini sebaik mungkin. Jangan sampai ada kecemburuan yang dapat menyakiti diri sendiri, tetaplah saling mendukung satu sama lain. Apakah kalian berdua mengerti?" Ucap tuan Alfan pada kedua anaknya.


"Iya, Pa ..." jawab keduanya serentak.


"Tujuh hari lagi, Adelyn akan segera menikah."


"Apa!!!" teriak Adelyn dengan sok.


"Yang benar saja, Pa?" tanya Adelyn serasa tidak percaya mendengarkannya.


"Papa tidak bohong, sudah dari kemarin undangan sudah dicetak tanpa memberi tahumu. Hari ini juga, undangan akan disebar. Jadi, siapkan diri kamu saat memasuki area Kantor." Ucap sang ayah menakut nakuti.


"Biasa saja, kali. Tidak perlu memasang ekspresi sekaget gitu. Bukankah semakin cepat semakin baik, biar tidak terus terusan ngejomblo. Tidak motor terus yang kamu elus elus, hem."


"Ih, kak Zayen. Sok tahu, jika aku suka ngelus ngelus motor." Jawab Adelyn sambil memanyunkan bibir manisnya.

__ADS_1


Semua yang berada diruang makan menahan tawa melihat ekspresi Adelyn yang terlihat bahagia, namun ia tidak berani menunjukkannya.


Setelah itu, semua kembali ke tempatnya masing masing. Sedangkan Afna ikut berangkat bersama suaminya sampai untuk pergi ke Kantor, begitu juga dengan Adelyn yang juga mengikuti langkah saudara kembarannya.


Sesampainya didepan rumah, lagi lagi Adelyn sok dibuatnya. Bagaimana tidak sok, didepan rumahnya sudah ada sosok laki laki yang sudah membuatnya jatuh cinta. Adelyn pun malu menatapnya, ditambah lagi pernikahannya yang tinggal menghitung hari membuat Adelyn salah tingkah.


Viko yang melihat perubahan ekspresi calon istrinya pun merasa heran.


"Kamu kenapa? ada masalah?" tanya Viko penuh keheranan. Tanpa Viko sadari, ada Zayen yang masih berdiri didekatnya.


"Adelyn sedang gugup menghadapi hari pernikahannya yang tinggal menghitung hari, bahkan sudah dapat dihitung dengan jari jarinya. Jadi, sok dianya." Jawab Zayen menimpali.


"Oooh ... begitu. Aku kira ada angin ribut tengah menghampirinya." Ujar Viko asal ucap, Adelyn yang mendengarnya pun langsung masuk kedalam mobil begitu saja.


Zayen dan istrinya maupun Viko, terkekeh melihat Adelyn yang terlihat sangat menggemaskan. Apalagi saat menunjukkan muka cemberutnya, membuat ketiganya menahan tawa.


Viko pun segera masuk kedalam mobil, ia takut jika Adelyn akan bertambah kesal dan sulit untuk dirayunya kembali.


Sedangkan Afna dan Zayen pun segera masuk kedalam mobil, dengan pelan pak supir mengendarainya mobilnya. Pak supir mengerti akan kondisi majikannya yang tengah hamil, ia tidak berani mempercepat perjalanannya.


Afna yang merasa jenuh didalam mobil, ia bersandar di dada bidang milik suaminya. Zayen pun tidak luput untuk memeluk istri tercintanya, ia selalu berusaha untuk memberi kenyamanan pada istrinya.


Afna pun merasakan sentuhan lembut dari suaminya, dan semakin membuatnya nyaman berada dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


Berbeda didalam mobil yang Viko dan Adelyn naiki, keduanya sama sama terdiam. Bahkan tidak ada satupun yang membuka suara, Viko sendiri sengaja membuat Adelyn semakin salah tingkah. Sedangkan Adelyn melirik berkali kali, Viko pun hanya menahan tawanya saat melihat Adelyn menunjukkan wajah cemberutnya.


"Apa kamu tidak capek? dari tadi menahan kesal gitu, hem." Tanya Viko sambil melirik, Adelyn sendiri melototinya.


__ADS_2