
Waktu acara pesta pernikahan hampir selesai, semua para tamu undangan semakin berkurang. Tidak terasa, waktu yang sudah dilewati terasa begitu lama dalam satu hari.
Adelyn dan Viko mulai bersiap siap untuk segera pulang, begitu juga dengan kedua orang tua masing masing. Semua sibuk dengan kesibukannya masing masing.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Adelyn dan Viko kembali berkumpul bersama kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya.
"Viko, Adelyn. Maafkan kita berdua, jika malam ini Papa dan Mama tidak bisa mengantarkan kalian berdua pulang. Hati hati dalam perjalanan. Dan, jangan lupa untuk istirahat. Dikarenakan besok malam kalian berdua harus datang ke rumah, ada sesuatu hal yang ingin Papa sampaikan kepada kalian berdua." Ucap tuan Alfan pada putrinya dan menantunya.
"Oh iya, dan kamu Adelyn. Sekarang status kamu sudah menjadi seorang istri, kamu tidak lagi menjadi anak yang mudah bermanja dengan Papa dan Mama. Kamu harus taati suami kamu, jika kamu bersalah tetap lah mengaku bersalah. Jangan sampai keras kepala kamu itu mudah kamu pancing dengan emosi kamu sendiri, ingat! itu." Pesan sang ayah kepada putrinya.
"Iya Pa, Adelyn akan terus berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik dalam segi apapun." Jawab Adelyn, kedua orang tua Adelyn mengangguk sambil menatap putrinya.
Sedangkan tuan Alfan mendekati besannya, kemudian keduanya berbicara sama seriusnya. Setelah itu, kedua belah pihak sama sama saling berpamitan untuk pulang ke rumah masing masing.
"Viko, ingat pesan Papa. Sekarang Papa serahkan Adelyn pada kamu, tegur saja jika sulit untuk kamu nasehati." Ucap tuan Alfan pada Viko menantunya.
"Iya Pa, Viko akan berusaha melakukan yang terbaik untuk istri Viko yaitu Adelyn. Kalau begitu, Viko pamit pulang." Jawab Viko berpamitan pulang, kedua pengantin tersebut mencium punggung tangan milik tuan Alfan dan istrinya.
Setelah usai berpamitan, Viko dan istri dengan kedua orang tuanya masuk dalam mobil yang berbeda. Selama perjalanan, Viko dan Adelyn saling diam. Tidak ada satupun yang membuka suara dalam keheningan didalam mobil.
Viko sendiri sengaja tidak membuka suara, ia mencoba mengerjai Adelyn yang terlihat masam dalam raut wajahnya. Sambil menahan tawa, Viko terus menatap luar lewat jendela kaca mobil.
__ADS_1
Begitu juga dengan Adelyn, dirinya pun ikut menatap luar lewat jendela kaca mobil.
'Suami macam apa dia, sedari tadi aku hanya dicuekin. Apa iya, didalam kamar suasanya akan terasa dipenuhi salju dan es batu beserta es balok lainnya. Heran aku, kenapa juga aku bisa jatuh cinta dengannya. Jelas jelas orangnya bisa sangat kaku mendadak, dan tentunya membuatku geram.' Batin Adelyn penuh geram atas sikap suaminya itu yang terlihat sangat dingin, bahkan hayalan yang sangat romantis tiba tiba berubah menjadi horor.
Viko yang sedari tadi menahan tawa pun tidak juga berubah menjadi ramah, bahkan semakin terlihat dingin. Adelyn sendiri hanya melirik dengan sekilas, perasaannya pun terasa dongkol. Namun, mau bagaimana lagi. Terkadang Viko berubah sikap lembut dengan secara tiba tiba. Maka, Adelyn tidak dapat memungkiri akan sikap suaminya itu.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, mobil yang dinaiki oleh Adelyn dan Viko telah sampai di depan rumah milik Viko yang terlihat tidak begitu besar. Namun rumah milik Viko tetap terlihat mewah.
Mobil pun telah berhenti dihalaman rumah, Viko dan Adelyn segera melepaskan sabuk pengamannya. Entah kenapa, tidak seperti biasanya. Tiba tiba Adelyn kesulitan untuk melepas sabuk pengamannya, berulang ulang mencobanya untuk melepaskannya. Namun, tetap saja masih kesulitan.
Viko sendiri hanya memperhatikan istrinya yang terlihat kesulitan, kemudian segera ia membantu istrinya untuk melepaskannya.
Sedikit membungkuk, Viko melepaskan sabuk. pengaman pada istrinya. Namun hal yang lain yang tidak diduganya pun terjadi.
Detak jantung Adelyn semakin tidak karuan, pikirannya pun melanglang entah kemana. Viko semakin terhanyut dengan hayalannya, tanpa pikir panjang dan tanpa pikir kedua kalinya. Viko mengambil kesempatannya yang terlihat menggodanya.
Seketika itu juga, Viko tersadar. Kemudian tersenyum, dan mendekatkan bibirnya di dekat telinga Adelyn.
"Jangan terbawa suasana, aku tidak menyukai tempat seperti ini. Sangat sulit untukku merayumu, dan tentunya kamu tidak merasa nyaman." Bisik Viko didekat telinga istrinya, seketika Adelyn membelalakan kedua bola matanya.
Sedangkan Viko tersenyum mengembang, kemudian kembali pada posisinya seperti semula.
__ADS_1
"Ayo turun, aku sudah sangat capek. Aku ingin segera istrahat, dan tidur pulas." Ucap Viko, kemudian segera keluar dari mobil.
Setelah keduanya sudah keluar dari mobil, dengan secara tiba tiba Viko mengagetkan Adelyn dengan cara menggendongnya. Disaat itu juga, Adelyn tersentak kaget dan langsung melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher suaminya.
"Lepaskan aku, ini sangat memalukan." Ucap Adelyn yang tiba tiba pandangannya tertuju dengan kedua mertuanya yang ternyata sudah sampai bersamaan.
"Kenapa mesti malu, mereka berdua kedua orang tuaku dan menjadi kedua orang tuamu. Sebagian pelayan sudah aku perintahkan untuk kembali ke ruangannya masing masing. Hanya pelayan tertentu yang masih terlihat oleh kedua mata kita." Jawab Viko sambil menggendong istri yang dicintainya.
"Iya, aku tahu itu. Tapi menurutku sangat memalukan menunjukkan kemesraan didepan orang tua. Tidak hanya itu saja, tetapi sangat tidak sopan." Ucap Adelyn yang merasa sangat malu.
Sedangkan Viko tidak mempedulikannya, Viko terus melangkah sampai didalam kamarnya. Sesampainya didalam kamar, Viko menurunkan istrinya di atas tempat tidur dengan sangat hati hati. Kemudian, Viko membantu melepaskan sesuatu yang menempel pada kedua kakinya. Viko masih membungkukan badannya di atas istrinya yang terbaring di atas tempat tidur.
"Aku dulu, atau ... kamu dulu yang akan mandi. Atau tidak, kita mandi bareng. Sepertinya akan lebih seru dari masa kecil yang kurang bahagia." Ucap Viko sedikit bergurau, Adelyn sendiri hanya menatapnya heran. Sedangkan Viko hanya mengernyitkan dahinya, kemudian tersenyum menggoda.
"Tidak segitunya juga, kali. Baiklah, aku yang akan mandi duluan." Ucap Viko kembali, tanpa malu malu Viko melepaskan pakaiannya hingga tersisa kolor yang menempel dibagian tubuhnya. Adelyn menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya dengan ekspresi malu malu.
Viko yang melirik kearah Adelyn hanya tersenyum tipis, kemudian segera ia masuk kedalam kamar mandi.
'Yang benar saja, benarkah aku ini sudah menikah? kenapa aku baru menyadarinya? bagaimana ini, mana dikamar hanya berduaan lagi. Kalau dia menggodaku, bagaimana? pasti sangat memalukan.' Batin Adelyn dengan pikiran polosnya yang tiba tiba membuatnya seakan seperti mimpi.
Setelah dirasa sudah cukup membersihkan diri, Viko segera keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada bagian pinggangnya.
__ADS_1
Seketika itu juga, Adelyn yang baru saja bangkit dari posisinya. Kedua matanya menatap tubuh suaminya seakan terhipnotis olehnya.