
Afna masih terdiam, mencoba untuk meyakinkan pada dirinya sendiri. Meski berat, Afna berusaha untuk optimis.
"Bagaimana, kamu mau?" tanyanya sambil melambaikan tangannya untuk membuyarkan lamunan sang istri.
"Iya, aku mau ikut. Tapi...
kalau aku di pojokkan bagaimana? aku takut wanita itu akan mentertawakan aku."
"Ada aku, kamu tidak perlu khawatir. Sekarang kita bersiap siaplah, setelah ini kita berangkat ke tempat perawatan." Ucapnya kemudian segera menghabiskan makanan yang berada di piringnya, Afna hanya mengangguk.
"Biar aku saja yang mencuci piring kotornya, kamu lebih baik bersiap siap." Ucap Zayen sambil menahan piring kotor yang hendak Afna membereskannya.
"Biarkan saja aku membantumu, aku pun ingin melakukan pekerjaan ini."
"Sudah aku katakan. Kalau kaki kamu sudah sembuh, kamu dapat melakukan apapun yang kamu mau."
"Baiklah, aku akan berusaha untuk sembuh. Aku tidak ingin terus terusan menyusahkan kamu, kasihan kamu yang harus menahan rasa capek."
"Aku tidak merasa capek, aku senang melakukannya. Sekarang, masuklah ke kamar dan bersiap siap." Perintahnya sambil membersihkan meja makan.
"Terimakasih, dan maaf sudah merepotkan kamu. Kalau begitu, aku masuk ke kamar." Jawabnya yang kemudian segera bangkit dari tempat duduknya.
Zayen segera membereskan semuanya, dan segera mencuci piring kotor dan yang lainnya.
Sambil berdiri di dekat lemari baju, Afna masih bingung harus berpenampilan seperti apa, pikirnya. Dirinya takut akan salah kostum, dan akhirnya Afna memilih berpenampilan yang terbilang cukup sederhana. Kebetulan juga, Afna pun menjadi penasaran jika dirinya terlihat sederhana.
Afna mencoba memilih pakaian yang menurutnya sederhana dan tidak terlihat glamor. Afna berusaha mengimbangi penampilan sang suami yang hanya mengenakan pakaian kaos oblong yang dibalut dengan jaket biasa dan juga celana jeans.
Sedangkan Zayen diambang pintu kini tengah memperhatikan sang istri yang sedang merubah penampilannya. Zayen tidak menyangka, jika istrinya mengenakan penampilan yang terlihat cukup sederhana.
"Kamu lagi tidak takut denganku, 'kan?" kedatangan Zayen yang secara tiba tiba membuat Afna kaget dan gugup. Afna pun segera menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Emmmm maksud kamu, aku belum mengerti apa maksud dari pertanyaan kamu." Afna sangat gugup dan malu, tatkala jika sang suaminya ternyata sudah lama berdiri diambang pintu. Ditambah lagi saat mengganti pakaiannya tidak mengunci pintunya.
"Kenapa kamu terlihat gugup, aku sudah melihat semuanya." Tiba tiba Afna melotot dan tercengang saat mendengar ucapan suaminya. Tubuhnya gemetaran dan terasa sangat malu saat dirinya ceroboh begitu saja.
"Maksudnya?" Afna masih penasaran dengan yang diucapkan suaminya.
"Tidak ada maksud apa apa. Kalau sudah bersiap siap, segera keluar. Aku ingin mandi sebentar, badanku terasa lengket."
"Ba ... ba .... baik." Terbata bata Afna menjawabnya. Zayen hanya tersenyum saat istrinya menjadi salah tingkah karena ucapan dari Zayen.
Afna segera keluar, dan menunggunya di ruang tamu. Setelah cukup lama menunggu, kemudian Zayen keluar dari kamar dengan penampilan yang cukup sederhana. Afna yang memperhatikan pun tidak menyangka bahwa dirinya bersuamikan yang cukup sederhana. Meski terkadang membuat Afna sangat penasaran dengan sosok suaminya sendiri.
"Ada apa dengan penampilanku, ada yang salah?" Zayen yang merasa dirinya diperhatikan sang istri pun merasa risih.
"Tidak ada yang salah, semua terlihat rapi. Hanya saja ..." ucapnya terhenti begitu saja, Afna selalu takut untuk berkomentar. Dirinya takut akan salah berucap dan dapat menyinggung perasaan suaminya.
"Hanya saja apa, rambutku?" Zayen mencoba menebaknya. Karena Afna pernah menyuruhnya untuk potong rambut, tetapi Zayen masih menolaknya.
"Suatu saat akan aku potong, tapi tidak untuk sekarang."
"Sudahlah, ayo kita berangkat. Nanti telat, dan kita tidak jadi ikut makan malam. Karena perawatan saja memakan waktu yang cukup lama, jadi kamu harus lebih awal untuk melakukan perawatan."
"Sebenarnya tidak melakukan perawatan juga tidak apa apa. Kita hanya makan malam bersama, 'kan? tidak ada acara lainnya.
"Aku tidak ingin melihatmu terlihat lesu dan juga kusam, setidaknya kamu terlihat segar dan tidak terlihat bersedih. Kalau soal penampilan itu nomor terakhir, apapun yang kamu kenakan tetap terlihat cantiik." Ucapnya yang tanpa sadar tengah memuji istrinya, Afna sendiri hanya bisa tersenyum.
"Sudah, jangan banyak pertanyaan. Ayo, kita berangkat." Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menggendong istrinya sampai di teras rumah.
Setelah berada di teras rumah, Zayen menurunkan istrinya ke tempat duduk. Zayen segera mengunci pintunya dan mengambil motor yang ada di samping rumah.
Zayen kembali menggendong istrinya dan menurunkannya di atas motor, kemudian menyuruhnya untuk memegangi tongkat penyangga tubuhnya. Zayen segera menaiki motornya, dan setelah itu meminta tongkat penyangga nya untuk diletakkan di depannya.
__ADS_1
Tanpa diperintah oleh sang suami, dengan cepa Afna melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya.
"Pegangan yang kuat, jangan takut."
"Iya, aku sudah membuang rasa takutku itu."
"Baguslah, kamu jangan memejamkan kedua mata kamu lagi. Nanti jika ada pemandangan yang indah kamu tidak dapat melihatnya, sangat di sayangkan." Ucap Zayen, kemudian menyalakan mesin motornya dan melajukan dengan kecepatan sedang.
Dengan fokus, Zayen mengendarai motor besarnya. Afna masih dalam posisinya yang melingkarkan kedua tangannya, dan juga menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya. Afna merasa nyaman dalam posisinya, hingga dirinya semakin mengeratkan pelukannya.
Zayen yang masih fokus mengendarai motornya hanya tersenyum lebar tanpa sepengetahuan Afna yang duduk dibelakangnya.
Tidak lama kemudian, Afna dan Zayen telah sampai di tempat tujuannya.
Zayen segera menggendong istrinya sampai didalam ruangan, sedang motornya sudah diurus oleh tukang parkir.
Semua karyawan membungkukkan badannya tatkala Zayen masuk ke dalam, tidak ada seorang pun yang berani berdiri tegak dihadapannya. Afna yang melihat suasana di dalam ruangan pun sangat heran dengan pelayanan yang diberikan kepada dirinya dan juga suaminya.
"Turunkan, cepat turunkan aku. Kamu tahu, aku sangat malu. Aku tidak ingin terlihat manja, kamu dengar." Bisik Afna di dekat telinga suaminya sedikit mengangkat.
Zayen langsung menoleh kearah istrinya yang masih berada pada gendongannya.
Cu*p. tanpa sengaja, Zayen mengecupnya bagian bi*bir ranum milik istrinya saat menoleh kearah istrinya. Afna masih bengong, begitu juga dengan Zayen yang masih merasakan manisnya rasa itu, keduanya pun masih belum melepaskan sesuatu yang masih menempel. Ditambah lagi Afna masih melingkarkan kedua tangannya ke bagian leber suaminya, Afna takut sewaktu waktu dirinya akan jatuh.
"Maaf." Ucap Zayen reflek, kemudian segera menurunkan istrinya ke tempat duduk. Sedangkan Afna langsung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dirinya benar benar tidak menyangka, jika akan terjadi sesuatu yang tidak di duganya.
Zayen segera duduk disamping istrinya tanpa ada canggung atau tidak enak hati dengan istrinya. Namun, Zayen tetap bersikap biasa biasa saja. Seolah olah tidak ada masalah apa apa, Zayen tetap cuek dan terlihat santai.
Afna yang memperhatikannya pun merasa heran, dan sedikit kesal.
'Lihatlah, laki laki ini saja masih terlihat cuek dan dingin. Aku yakin, pasti dia sudah sering melakukannya dengan wanita lain. Sampai sampai sikapnya terhadapku saja seperti tidak bersalah. Hanya bicara Maaf, katanya. Menjengkelkan, awas kamu.' Gumam Afna berdecak kesal.
__ADS_1