Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Suasana yang sangat mencekam dan menegangkan


__ADS_3

Afna dan ibu mertuanya kini tengah berhasil masuk kedalam ruangan yang sangat tersembunyi keberadaannya.


"Afna, apa kamu sudah gila. Apa kamu tidak kasihan terhadap suami kamu yang sedang dalam bahaya, bahkan nyawanya sudah berada di ujung tanduk." Ucap sang ibu mertua ikut kesal karena ulah menantunya yang tengah memisahkan dirinya dengan suami dan juga kedua anaknya.


"Ma, kita ini wanita. Kita tidak bisa menghadapi orang orang yang ditangannya ada senjata apinya. Percayalah pada Afna, smua akan selamat. Afna yakin, diluar sana sudah ada Viko dan juga paman Ganan mapun anak buahnya.


"Kita harus yakin, Ma. Kita hanya bisa berdoa untuk yang lainnya, semoga semuanya selamat." Ucap Afna mencoba untuk meyakinkan ibu mertuanya, berharap sang ibu mertua dapat mempercayai ucapannya.


Seketika itu juga, ibu mertuanya hanya bisa mengangguk pasrah. Mau tidak mau, dirinya pun tidak boleh egois dengan menantunya. Karena Afna pun hanya sebatas menuruti perintah dari sang suami. Afna segera memeluk ibu mertuanya, berharap tidak akan membencinya dan dapat menenangkan pikiran yang benar benar sedang dihantui kecemasan.


Sedangkan didalam ruang tamu masih sangat genting, Zayen dan Ayahnya kini benar benar sedang di todong pistol dari anak buah tuan Dana. Kakek Zio hanya bisa berdiam diri, karena rasa takut untuk ikut melawannya. Selain kondisinya yang juga sudah tua, kakek Zio mengaku tidak pernah berkelahi seperti keponakannya, yaitu Ganan dan sang kakak yaitu tuan Angga.


"Jika kamu membunuhku, maka anak buahku pun akan membunuhmu." Ucap tuan Dana yang bisa menunjukkan senyum mengejek.


"Kamu pikir, aku ini bo*doh. Apa kamu lupa, siapa aku." Jawab tuan Alfan sambil menekan ujong pistolnya dibawah dagu milik tuan Dana sangat kuat. Selain kesal, tuan Alfan benar benar sudah tidak sabar ingin melenyapkan lawannya.


Namun, tuan Alfan menyadari. Tidak ada gunanya mengotori tangannya hanya untuk memb*unuh orang yang tidak ada gunanya, tuan Alfan hanya menggertaknya. Berharap, tuan Dana cepat menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Zayen yang sedang mengarahkan ujung pistolnya dibawah dagu seorang laki laki tua yang sepadan usianya seperti kakeknya sendiri, Zayen pun tetap berusaha tenang menghadapi lawannya yang kini sedang mengepung dirinya dengan cara menodongkan pistolnya tepat pada bagian kepalanya.


Zayen maupun tuan Alfan saling melirik satu sama lainnya, keduanya seakan sama mengkode untuk melakukan aksi selanjutnya. Keduanya yakin, bahwa Viko dan yang lainnya sudah berada didekatnya. Hanya saja mengumpat dengan caranya yang penuh lihai, sebelumnya Viko sudah diperkenalkan seluk beluk cara memasuki rumah milik orang tua asuhnya.


Hanya dalam sekejap, tuan Alfan dan Zayen segera membalikkan tubuh lawannya untuk menjadi penyangga saat menyengklang kaki para anak buah tuan Dana dengan cara berurutan sesuai posisi berdirinya. Semuanya terjatuh begitu saja dilantai.


DOR! DOR! DOR! "jangan bergerak!!" teriak beberapa banyak polisi dan anak buah tuan Alfan maupun Zayen yang sudah mengepungnya. Viko pun langsung menolong Adelyn yang tengah terikat dan mulut yang tengah sisumpal dengan kain.


Anak buah tuan Dana hanya bisa tiarap dan angkat tangan, karena semuanya tidak ada yang berani melawan. Selain sayang dengan nyawanya, anak buah tuan Dana tidak ingin memiliki masalah lebih lanjut.


"Brengs*ek!! kamu, Alfan. Lihat saja, aku akan terus membalaskan dendamku ini. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia, aku akan terus menghantui keluarga kamu." Ucap tuan Dana yang masih saja belum menyadari akan kesalahannya.


"Brengs*ek!! kamu, Alfan. Kamu benar benar licik, sudah merebut Zeil yang kenyataannya mencintaiku. Dan kini kamu juga tengah memenjarakan ku, jangan harap kamu akan selamat nantinya." Ucap tuan Dana dengan percaya dirinya, sedangkan tuan Alfan hanya tersenyum mendengarnya.


"Sudahlah, jangan pakai emosimu itu. Lebih baik kamu itu sadar, dan menyesali atas perbuatan kamu itu. Aku tahu, ot*ak kamu itu sudah dicuci oleh laki laki tua itu." Jawab tuan Alfan, kemudian menunjuk pada sosok laki laki tua yang juga sedang terkunci tubuhnya oleh putranya.


Tuan Dana hanya menoleh kearah tuan Ciko, kemudian menatap wajah tuan Alfan dengan tatapan yang masih penuh amarah dan kebencian.

__ADS_1


Dor! Dor! suara tembakan tengah mengudara keatas, Zayen dan tuan Alfan yang melakukannya sebelum pistolnya mengarah pada dirinya sendiri. Tuan Alfan dan Zayen segera merampasnya, kemudian diberikannya pistol tersebut kepada salah satu polisi yang ada didekatnya.


"Kamu masih beruntung, sebuah peluru tidak melayang pada bagian tubuhmu. Cepat bertobatlah, sebelum terlambat." Ucap tuan Alfan pada tuan Dana.


Setelah mengatasi anak buah tuan Dana maupun anak buah tuan Ciko, tidak lama kemudian beberapa anggota polisi segera mendekati tersangka dan langsung membrogol kedua tangan milik tuan Dana dan juga tuan Ciko.


Kini, masalah pun telah dapat diatasinya dengan mudah tanpa adanya pertumpahan darah seperti masalah yang sudah lampau. Yakni, masalah keluarga Wilyam dengan anak asuhnya dan juga dengan keluarga Danuarta hanya karena harta warisan dan asmara. Dan kini telah terulang kembali pada keluarga Wilyam dengan permasalahan asmara.


Kakek Zio dan kakek Angga maupun tuan Ganan segera mendekati tuan Alfan dan juga Zayen.


"Syukurlah, kalian berdua baik baik saja. Maafkan Papa dan juga kakek kamu ini, Zayen. Gara gara masalah yang sudah lampau itu, kalian berdua yang harus menanggung akibatnya." Ucap sang kakek Zio yang merasa sangat bersalah.


"Tidak, Pa. Papa tidak bersalah, karena masalah datang pun tidak hanya masa lalu Papa saja. Tetapi, masa laluku juga yang tengah menikahi Zeil." Jawab tuan Alfan yang juga ikut merasa bersalah.


"Tidak begitu juga, Alfan. Kamu sudah dijodohkan oleh paman Zio dari kamu masih kecil, dan didekatkannya dengan cara kamu uuntuk mendampingi Zeil kemanapun Zeil pergi. Bahkan orang tuamu pun sudah menyetujuinya." Ucap tuan Ganan ikut menimpali dan mengingatkan tuan Alfan yang pernah menjadi kaki tangan tuan Ganan.


"Zayen, dimana istri kamu dan Mama kamu?" tanya tuan Ganan yang baru teringat dengan sepupunya dan juga keponakannya.

__ADS_1


"Iya, dimana anakku dan cucu menantuku." Tanya kakek Zio yang juga teringat akan kondisi putrinya dan cucu menantunya itu.


Disaat itu juga, Zayen baru tersadar akan keberadaan istrinya yang berada didalam ruangan rahasia.


__ADS_2