Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pertemuan


__ADS_3

Merasa sudah tidak ada lagi yang tertinggal, Afna segera menuruni anak tangga dengan pelan. Ia sadar, dirinya tidak lagi sendirian. Ada janin didalam kandungannya yang harus benar benar dijaga dengan baik.


"Afna, kamu lupa?" seru ibunya memanggil, Afna pun menghentikan langkah kakinya. Kemudian segera menoleh kebelakang, dan dilihatnya sang ibu sedang menenteng tas kecil berisi makanan untuk suaminya. Sang ibu pun segera mendekati putrinya untuk menyerahkan tas kecil yang berada di tangannya.


"Ini, sesuai yang ibu katakan padamu. Ada menu makanan untuk suami kamu dan yang lainnya, jika kamu merindukan kamu bisa memakannya bersama suami kamu. Siapa tahu saja, calon anak yang kamu kandung menginginkan suapan dari ayahnya." Ucap sang ibu berusaha untuk membuat putrinya tidak hanyut dalam kesedihan terus menerus.


"Terimakasih Ma, apa yang diucapkan Mama ada benarnya. Afna sangat merindukan suapan dari suami, kalau begitu Afna pamit untuk berangkat." Jawab Afna, kemudian mencium punggung tangan milik ibunya dan meraih tas kecil berisi berbagai macam menu makanan.


Afna pun segera menemui sang kakak untuk berangkat menjenguk suaminya. Meski berat untuk dihadapinya, Afna berusaha untuk kuat dan tegar demi sang buah hati yang dinanti nantikan bersama suami yang dicintainya.


"Kak Kazza, aku sudah siap untuk berangkat." Ucap Afna yang sudah berada di hadapan kakaknya.


"Yakin? coba diingat ingat, siapa tahu saja ada yang lupa." tanya sang kakak mengingatkannya kembali.


"Serius, sudah lengkap semuanya. Sekarang tinggal giliran kakak yang belum lengkap, ingat?" jawab Afna sambil meledek sang kakak.


"Hem ... mulai. Sudahlah, ayo berangkat. Nanti kita terlambat, karena waktunya hanya sebentar." Ucapnya mengingatkan, Afna pun mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar.


Saat berada didalam mobil, Afna hanya melamun sambil menatap luar jendela. Sang kakak yang melihatnya pun merasa tidak tega dengan nasib adiknya yang harus bersabar untuk mendapatkan kebahagiaan.


"Jangan melamun, tidak baik untuk kesehatan wanita hamil." Ucap Kazza membuyarkan lamunan adik kesayangannya.


"Iya, aku mengerti. Aku hanya tidak menyangka saja, baru saja kemarin aku makan ayam geprek bersama suamiku diwarung langganan. Tapi sekarang seakan akan itu hanya mimpi, mungkinkah akan menjadi nyata? ah! itu mimpi." Jawab Afna yang tidak menyadari yang diajak mengobrol adalah kakaknya sendiri, yang tidak lain yang telah merusak mimpinya.


Kazza yang mendengar penuturan dari sang adik kembali teringat akan kesalahannya, Kazza pun hanya diam dan fokus dengan setir mobilnya. Afna pun baru tersadar akan ucapannya yang baru saja ia ucapkan, segera ia menoleh kearah sang kakak yang sedang fokus pandangannya lurus kedepan.


"Maaf kak, bukan maksudku untuk menyindir kakak." Ucap Afna sedikit cemas, takut sang kakak merasa tersindir.


"Tidak, aku mengerti akan perasaanmu. Mungkin aku pun juga akan melakukan hal yang saat melamun dan tanpa sadar." Jawabnya untuk tidak membuat sang adik merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Kak. Aku tidak akan lagi mengulanginya, aku hanya terbawa suasana saja." Ucap Afna merasa tidak enak hati.


"Tidak apa apa, itu hal yang wajar. Oh iya, tidak apa apa 'kan? jika kakak mencarikan teman untuk kamu." Jawabnya dan bertanya.


"Tidak apa apa, aku sangat senang mendapatkan perhatian dari kakak. Terimakasih ya kak, sudah perhatian denganku." Ucap Afna dan tersenyum.


"Kakak yang seharusnya berterima kasih denganmu, berkat kebaikanmu kakak mendapatkan maaf darimu." Jawab sang kakak yang juga ikut tersenyum.


"Ngomong ngomong, kita menjemput Vella di mana? sepertinya aku mengenal jalan ini deh. Tapi, kapan ya?" Tanyanya dan berusaha mengingat ingat.


"Sama siapa?" tanya sang kakak penasaran.


"Sama suami Afna, tempatnya di Asrama anak anak jalanannya." Jawabnya.


"Ada perlu apa kamu mendatangi tempat itu, apakah dulunya suami kamu berasal dari anak jalanan? atau yang lainnya." Tanyanya lagi yang masih belum mengerti.


"Sebagai donasi, itu saja." Jawabnya yang Afna tau.


"Mana aku tahu, siapa tahu juga suamiku tidak mengenal paman Raska dengan detail. Bukannya paman Raska juga suka menyamar orang biasa biasa saja." Jawab Afna mengingatkan.


"Ah iya, benar juga kata kamu." Ucap Kazza yang baru menyadarinya.


"Eh, bukannya kakak mau di jodohin sama putrinya paman Raska? kok tidak ada kabarnya lagi." Tanya Afna yang tiba tiba teringat rencana kedua orang tuanya yang akan menjodohkan Kazza dengan anak sahabat orang tuanya.


"Kakak tidak minat dari dulu, lagian putrinya paman Raska saja tidak jelas seperti apa anaknya." Jawab Kazza sambil fokus pandangannya lurus kedepan.


"Iya juga ya, Afna juga tidak pernah mengenalnya dari kecil. Mungkin saja anaknya juga tidak mau dijodohkan dengan kakak, orang tua yang sama sama sialnya." Ucap Afna dan tersenyum.


"Hus! tidak baik bilang begitu, kita sudah sampai didepan pintu gerbang. Kakak telfon sebentar, kamu diam saja jangan turun." Jawab sang kakak mengalihkan obrolannya, kemudian segera menelfon Vella sesuai permintaan Kazza.

__ADS_1


Setelah menghubungi Vella, tidak lama kemudian sudah berada didepan pintu gerbang. Vella pun langsung masuk kedalam mobil, tepatnya dibagian belakang. Afna merasa tidak enak hati saat dirinya duduk dibagian depan bersama sang kakak.


"Kak Kazza, aku pindah kebelakang saja. Kasihan Vella duduk dibelakang, bila perlu Vella yang duduk didepan. Biar aku yang duduk dibelakang saja, bagaimana?" ucap Afna, sedangkan Kazza sendiri bingung untuk menjawabnya.


"Tidak perlu Nona, biar aku duduk di belakang saja. Aku ini hanya asisten, jangan berbuat aneh aneh Nona." Ucap Vella merasa tidak enak hati.


'Ini lagi, ngapain juga aku harus duduk didepan.' Batinnya bergidik ngeri saat ia teringat sikap manjanya dari Kazza.


"Terserah kamu saja, kalau mau duduk di belakang silahkan. Waktu kita sudah mepet, nanti kamu tidak mendapat waktu yang leluasa." Ucap Kazza mengingatkan.


"Tenang saja, waktu kita masih panjang. Kalau begitu aku mau duduk dibelakang menemani Vella, kasihan sendirian. Kalau kakak sih sudah terbiasa sendirian, jadi aku tidak khawatir." Jawabnya dengan santai, kemudian segera berpindah tempat ke belakang untuk menemani Vella yang duduk sendirian dibelakang.


Selama perjalanan, Afna banyak bercerita dan mengobrol bersama Vella. Hingga membuat Kazza seperti pak Supir, hanya menjadi pendengar setia selama perjalanan.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa sudah sampai ditempat yang tidak disukai semua orang. Namun anehnya banyak yang mencoba untuk menempatinya, termasuk suami Afna sendiri.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Kazza mengagetkan kedua wanita yang ada dibelakangnya. Seketika itu juga, pandangan Afna seakan begitu seram saat melihat tempat yang sama sekali tidak ingin menginjakkan kakinya. Namun, mau tidak mau Afna harus menginjakkan kakinya demi seseorang yang sangat ia cintai.


Afna benar benar tidak menyangkanya, jika suaminya kini sedang tinggal ditempat yang tidak pernah ia bayangkan.


Dengan pelan, Afna melepaskan sabuk pengamannya. Meski berat, ia berusaha untuk kuat dan bersabar. Berkali kali Vella menguatkan hati Afna, agar tidak larut dalam kesedihannya.


"Ayo, kita masuk kedalam. Percayalah, kamu pasti kuat. Sekarang, tenangkan pikiran kamu dan jangan biarkan emosi kamu menguasai pikiran burukmu." Ucap Kazza mencoba menenangkan saudara kembarannya. Afna pun mengangguk pelan, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan.


Detak jantung Afna berdegup sangat kencang, ia takut saat melihat suaminya tidak sesuai harapannya. Afna terus terbayang bayang akan kondisi suaminya yang terdapat luka pada kedua kakinya, ia terus membayangkannya dengan perasaannya yang sangat cemas.


DEG!!! berkali kali detak jantung Afna berdegup sangat kencang, pandangannya pun tertuju pada suaminya yang sudah duduk dengan penampilan seragamnya. Air mata Afna tidak henti hentinya mengalir begitu deras, sungguh remuk perasaan Afna saat melihat penampilan suaminya jauh dari bayangannya.


Zayen segera bangkit dari tempat duduknya, segera ia memeluk sang istri dengan erat.

__ADS_1


Semua yang ada di dekatnya pun ikut terharu saat melihat pasangan suami istri yang begitu besar rasa cintanya. Tidak hanya itu, ada Seyn yang melihatnya. Perasaannya pun ikut sakit seketika, dirinya begitu bodoh saat menghianatinya. Penyesalan tinggal lah penyesalan yang tidak mungkin untuk dikembalikan seperti semula.


__ADS_2