Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tetap Sederhana


__ADS_3

Setelah cukup lama mengobrol, Zayen dan kedua orang tuanya segera bangkit dari posisi duduknya.


"Zayen, tunggu." Panggil sang ayah saat putranya hendak melangkahkan kakinya keluar.


Zayen pun segera menoleh kebelakang dan memutarbalikkan badannya, kemudian menghadap ayahnya.


"Iya Pa, ada apa?" tanya Zayen.


"Adelyn masih di rumah, 'kan?" tanya sang ayah balik.


"Adelyn? baru saja pergi, Pa." jawab Zayen.


"Papa kira masih di rumah, ya sudah kalau begitu. Istri kamu diajak untuk bersiap siap, kita akan segera berangkat ke kediaman rumah orang tua asuh kamu." Ucap sang ayah.


"Kalau istri kamu tanya mau kemananya, jawab saja yang jujur. Jangan bohongi istri kamu, kasihan sedang hamil muda." Ucap sang ibu u ikut menimpali.


"Baik Pa, Ma. Kalau begitu Zayen mau masuk ke kamar untuk bersiap siap." Jawab Zayen, kedua orang tuanya pun mengangguk.


Kini tinggal lah kedua orang tua Zayen yang masih berdiri sambil menarik nafasnya masing masing, berusaha untuk menenangkan pikiran buruknya.


"Sayang, apa yang harus kita lakukan untuk mencari tahu tentang penculikan Zayen. Aku sangat takut, jika Afnaya dan calon cucu kita yang akan menjadi sasaran empuknya. Benar benar sangat menakutkan, sungguh." Ucap sang istri penuh kecemasan, suaminya pun segera memeluknya.


"Putra kita sudah dewasa, pasti bisa melindungi istri dan juga calon buah hatinya. Aku yakin itu, Zayen adalah sosok laki laki yang bertanggung jawab. Bahkan, dirinya pun sedang menyelidiki kasusnya sendiri dimasa dirinya masih bayi." Jawabnya dengan meyakinkan sang istri untuk tidak begitu dilema karena memikirkan masalah yang masih sulit untuk dipecahkan.


" Iya, aku tahu itu. Tapi ... siapa yang pantas kita curigai, aku masih belum bisa menebaknya." Ucapnya yang semakin tidak bersemangat, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap wajah suaminya yang sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


"Mungkinkah masa lalu orang tua kamu. Atau ... masa lalu kamu, bisa jadi." Jawab sang suami mulai mencoba menebak.


"Orang tuaku? aku juga tidak pernah tahu, yang aku tahu hanya berebut wanita cantik dengan paman Angga. Ayah dan paman Angga sama sama mencintai satu wanita, dan Papa yang harus mengalah. Karena kenyataannya, paman Angga dan tante Qinan sudah saling mencintai.


Sedangkan papa sibuk dengan pendidikannya di Amerika, saat pulang sudah menjadi suami istri yang sah." Ucapnya panjang lebar.


"Setelah itu, apakah papa kamu menikah dengan wanita yang dicintainya? atau ... karena perjodohan." tanyanya terus menyelidik.


"Papa menikah dengan wanita yang sama sekali belum pernah dicintainya, papa menikah dengan kondisi yang darurat." Jawabnya mencoba mengingat cerita dari ibunya.


"Sekarang aku tambah yakin, pasti ada dendam dimasa lalu Papa kamu.Jelaskan, kondisi yang darurat seperti apa." Ucapnya mulai merasa curiga.


"Pada saat itu, Mama akan menikah dengan seseorang pilihan dari kakek. Calon suami mama dari keluarga yang terbilang terkaya di daerahnya, sedangkan mama sendiri sebenarnya menolak pernikahan itu. Mama hanya mencintai papa secara diam diam dari waktu sekolah, tapi saat itu papa hanya mencintai tante Qinan. Disaat pernikahan akan dilangsungkan, tiba tiba ada beberapa anggota polisi yang tengah mengepung calon suami mama." Jawabnya menjelaskan secara rinci dan detail.


"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang, kenapa tidak dari dulu. Secepatnya aku akan mencari tahu keberadaannya, semoga saja masih bisa di temukan." Ucapnya dengan penuh yakin dengan apa yang tengah ia pikirkan.


"Kamu jangan khawatir, aku tidak menuduhnya. Aku hanya akan menyelidikinya dengan sangat hati hati, semua akan berjalan dengan mulus." Jawabnya meyakinkan.


"Iya sayang, aku hanya bisa berdoa. Semoga secepatnya segera ditemukan siapa pelakunya, dan keluarga kita tidak lagi dalam kecemasan dan ketakutan." Ucap sang istri berusaha untuk tegar dan kuat.


"Bersabarlah, kita sedang diuji. Kita pasti bisa melewatinya, buktinya saja kita bisa bertemu dengan putra kita. Jadi, kamu tidak perlu begitu pusing memikirkannya." Jawabnya untuk meyakinkan istrinya, sang istri pun mengangguk sambil menatap suaminya.


Setelah cukup lama mengobrol, tuan Alfan dan istrinya kembali ke kamarnya untuk bersiap siap pergi menemani putranya pulang ke rumah orang tua asuhnya.


Sedangkan Zayen dan istrinya sedang mengganti pakaiannya, keduanya nampak simbuk untuk bersiap siap.

__ADS_1


"Sayang, kita mau kemana? jawab dong ..." tanya Afna penasaran.


"Kita akan pergi ke rumah papa yang pernah mengasuhku, yaitu papa Arganta." Jawab Zayen sambil menyisiri rambutnya.


"Bukannya sudah disita?" tanyanya semakin penasaran.


"Semua yang pernah aku miliki, rupanya dibeli kembali oleh Papa. Sebenarnya aku tidak menginginkannya, aku sudah merelakan apa yang selama ini aku punya. Karena aku sadar, hasil yang selama ini aku dapatkan adalah hasil dari perbuatan burukku." Jawabnya sambil meraih jaket yang ada di kursi sofa.


"Tidak apa apa, apa yang dilakukan Papa tidak ada yang salah. Lagian orang tua kamu mampu untuk membelinya, berpikiran yang positif. Papa melakukan ini pasti ada sebabnya, coba kamu ingat kembali." Ucap Afna memcoba mengingatkan suaminya.


"Aku belum mengerti sama sekali yang kamu katakan, coba kamu jelaskan padaku." Tanya Zayen yang masih belum mengerti.


"Bukankah kamu memiliki seorang kakak?" jawab Afna sambil menatap lekat, berharap suaminya dapat menebaknya.


"Iya, aku punya seorang kakak. Lalu, apa hubungannya? aku masih belum mengerti, sayang ..." tanya Zayen yang masih belum dapat mencerna ucapan dari istrinya.


"Apakah kamu tega melihat kakak kamu setelah keluar dari penjara tidak memiliki tempat tinggal? katakan." Jawab Afna mengingatkan, seketika itu juga Zayen baru menyadarinya. Disaat itu juga, Zayen baru mengerti apa yang diucapkan istrinya.


"Apakah kamu diberi tahu sama Papa? katakan." Tanya Zayen dengan tatapan serius, Afna yang mendapati pertanyaan dari suaminya hanya tersenyum.


"Hem ... lalu untuk apa kamu berpura pura tanya mengenai rumah sudah disita, baguslah. Sedikit demi sedikit kamu mendapatkan ilmu dari Papa mertua kamu, bagus." Ucap Zayen kembali, kemudian menunjukkan jempolnya didepan istrinya, Afna pun tersenyum lebar dan mencium pipi kanan milik suaminya. Zayen hanya gregetan melihat tingkah istrinya yang menggemaskan, sebisa mungkin Zayen segera menepis pikiran kotornya.


"Ah, sudahlah. Ayo kita turun kebawah, kasihan Papa dan Mama sudah menunggu kita." Ajak Zayen, Afna pun mengangguk dan meraih tas kecilnya untuk dibawa.


Sedangkan Zayen hanya berpenampilan apa adanya, hanya mengenakan kaos oblong dan juga jaket biasa. Zayen tetaplah Zayen yang dulu, dirinya tetap menunjukkan jati dirinya yang sederhana. Begitu juga dengan Afna, tetap berpenampilan sederhana. Namun, dirinya tetap terlihat anggun. Sejak Afna menjadi istri Zayen, dirinya pun lebih menyukai kesederhanaan.

__ADS_1


Dengan pelan, keduanya menuruni anak tangga. Kedua orang tuanya menatap anak dan menantu yang terlihat begitu serasi dengan penampilan yang sama sama sederhana.


Sang ibu teringat masa mudanya, tiba tiba terlintas seseorang yang masuk dalam pikirannya.


__ADS_2