Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kebahagiaan Afna dan Zayen


__ADS_3

Kedua orang tua Afna hanya membatin melihat sikap manja putrinya yang sedang disuapi suaminya.


'Ma, Pa. Kenapa kalian melihatku seperti itu, ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Percayalah, ini hanya kebetulan.' Batinnya yang merasa malu karena sedari tadi Zayen terus menyuapinya.


"Kalian berdua, selamat menikmati sarapan pagi kalian dengan satu piring berdua. Kalau begitu, mama dan papa mau berangkat ke Restoran." Ucap sang ibu berpamitan dan segera bangkit dari tempat duduknya dan diikuti sang ayah.


"Ma."


"Iya, ada apa?"


"Kita berdua juga mau pulang setelah sarapan, karena Afna akan melakukan pengobatan pada kaki Afna. Tidak apa apa, kan Ma?"


"Tidak apa apa, Afna. Justru papa sangat senang, kamu ada semangat untuk sembuh. Papa doakan, semoga kaki kamu segera sembuh dan pulih kembali."


"Semoga doa papa dikabulkan. Terimakasih atas doa dari papa untuk istri Zayen, Pa. Untuk mama dan papa, hati hati dijalan. Maafkan Zayen yang harus mengajak Afna untuk kembali pulang kerumah Zayen."


"Ya sudah kalau begitu, kita berdua tidak ada larangan untuk kalian. Sekarang selesaikan sarapan kalian berdua terlebih dahulu. Papa dan mama berangkat duluan, jika kalian butuh sesuatu katakan saja dengan pelayan rumah." Ucap sang Ayah.


"Baik, Ma." Jawab keduanya serempak.


Setelah kedua orang tua Afna tidak lagi kelihatan bayangannya, kini keduanya kembali menikmati sarapan pagi.


"Sudah, cukup. Aku sudah kenyang, maafkan aku yang merepotkan kamu." Ucap Afna sedikit malu, Zayen sendiri menyudahi untuk menyuapi istrinya.


"Baiklah, aku mau menyelesaikan sarapanku. Jika kamu sudah tidak sabar menungguku, kamu boleh duduk santai di ruang yang kamu suka. Bukankah ini rumah kamu, pastinya kamu yang lebih tau tempat yang nyaman untuk menunggu."


"Aku akan menemanimu makan, dan aku tidak perlu pindah tempat untuk menunggumu."


"Terserah kamu saja, aku tidak memaksamu."


Zayen kembali menyendoki nasi goreng yang berada di piringnya. Dengan sigap, Afna langsung menyambarnya. Kemudian meletakkannya dihadapannya, Zayen hanya bengong melihatnya.


"Kamu kan bisa mengambilnya sendiri, kenapa kamu menyambar milikku. Bukankah kamu sudah aku suapin, dan kamu sudah menyudahinya. Lalu, kenapa tiba tiba kamu menyambar sarapan pagiku." Ucap Zayen yang merasa terganggu.


Tanpa perduli omongan suaminya, Afna langsung menyendoki nasi gorengnya dan menyuapi suaminya.

__ADS_1


"Aaak! perintah Afna sambil meragakan mulutnya untuk membuka.


Kini giliran Zayen yang tercengang melihat sikap Afna yang berubah seketika. Mau tidak mau, Zayen pun menerima suapan dari sang istri dengan tatapan penuh heran.


Zayen pun penasaran, kemudian meledek sang istri dengan mengecek suhu pada keningnya.


"Kamu tidak sembarang minum obat 'kan?" ledeknya sambil meninggikan satu alisnya.


"Enak saja, kamu pikir aku sedang gile? hem!" jawab Afna yang masih terus menyuapi suaminya.


"Kirain, secara kamu tiba tiba menyuapi aku makan dengan cara dadakan. Siapa tahu saja, ada demit yang menempel dibadan kamu. Hiih!!" Ucap Zayen sambil bergidik ngeri.


Afna hanya memasang muka masamnya yang dibuat cemberut. Merasa sedikit kesal, Afna langsung menyuapi mulutnya sendiri pada suapan yang terakhir.


Zayen yang melihat ekspresi sang istri hanya tersenyum tipis, Zayen terus memperhatikan istrinya yang masih mengunyah makanan tersebut. Namun, dirinya tidak menyadari ada sisa disudut bibirnya bagian sudut kanan.


Zayen semakin mendekat wajahnya, sedangkan Afna semakin gugup saat suaminya mendekatkan wajahnya.


"Kalau selesai makan itu, di beresin dulu semua pintu masuk." Bisiknya di telinga Afna, jantung milik Afna pun semakin berdegup sangat kencang, nafasnya terasa berat dan panas. Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menyapu sisa makanan disudut bi*bir milik istrinya begitu lembut Zayen memperlakukannya.


"Aku hanya mengingatkan kamu, pikiran kamu jangan jorok."


'Bukankah pikiran dia yang lebih jorok dariku, kenapa dia tidak mengakuinya. Oooh! tidak. Sudah mengambil kesempatan, tetapi masih menyalahkan aku. Dasa*r mes*um!" batinnya dengan perasaannya yang kacau.


Zayen pun langsung memundurkan posisi duduknya, kemudian kembali menatap wajah istrinya dengan lekat. Afna yang merasa diperhatikan pun sedikit risih, ingin rasanya berlari dan mengumpat.


"Apakah kamu marah, saat aku mengambil hakku?" tanya Zayen yang masih fokus menatap wajah istrinya yang terbilang sangat cantik.


"Tidak baik bicara seperti itu di ruang makan, banyak pelayan yang berseliweran."


"Biarin, kamu kan sang majikan. Jika ada yang berbuat onar tinggal kamu dipecat saja. Beres, 'kan?"


"Itu menurutmu, bagiku tidak."


Tanpa menjawab sepatah kata, Zayen langsung menggendong istrinya. Afna kaget secara tiba tiba, padahal ucapannya tidak menjerumus ke unsur yang terbilang aneh. Namun, Zayen langsung mengambil kesempatan emasnya.

__ADS_1


Karena langkah kakinya yang begitu cepat, Afna langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Zayen segera membuka pintu kamar dan langsung menurunkan istrinya di atas tempat tidur.


Ot*ak Zayen semaki tidak terkontrol, pikiran sudah menjalar kemana mana. Sedangkan Afna hanya bisa pasrah dengan suaminya yang terlihat sangat buas dari tatapan kedua matanya.


Nafas keduanya sama sama terasa berat untuk bernafas, dan juga terasa panas. Afna berkali kali mengatur pernapasannya, agar tidak terlihat ketakutan maupun gugup.


Afna masih melingkarkan kedua tangannya, sedangkan Zayen semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Keduanya saling beradu pandang. Zayen membelai rambut milik istrinya dengan lembut, pandangannya kini berubah menjadi teduh.


Afna semakin luluh dibuatnya, bahkan seluruh tubuhnya seakan tiada bertulang. Semua terasa lemas dan tidak berdaya, Zayen semakin menggebu untuk melakukan aksinya.


"Aku sudah tidak dapat mengontrol otakku jika aku harus berterus terusan menahannya, apakah kamu mau bertanggung jawab?" bisik Zayen didekat telinga istrinya. Afna bingung untuk menjawabnya, dirinya benar benar dilema dibuatnya. Disatu sisi kewajiban, dan disisi lain dirinya takut akan mendapat kekecewaan seperti kakaknya yang telah menghianatinya.


Zayen masih menunggu jawaban dari istrinya sambil menempelkan bi*birnya ke milik istrinya yang merah ranum.


Afna pun kesulitan untuk bernafas akibat Zayen yang sudah bermain dengan lembut. Dengan tekad yang bulat, Afna mengangguk untuk mengisyaratkan bahwa dirinya tidak menolak akan permintaan suaminya.


Zayen yang mendapatkan anggukan dari suaminya langsung tersenyum mengembang, dirinya tidak perlu memberinya pemaksaan atas keinginannya yang sudah tidak lagi tertahan.


Tanpa memikirkan apapun, Zayen langsung melakukan aksinya yang sudah tidak tertahan. Dirinya ingin segera meluapkan keinginannya yang sudah memuncak di ubun ubun. Satu persatu telah lepas yang sudah melekat pada tubu*hnya. Keduanya kini sama sama polo*s, hanya selimut tebal yang menyatukannya.


"Aku takut ...." ucap Afna yang tiba tiba teringat saat dirinya membaca artikel tentang malam pertama. Pikiran Afna tiba tiba tidak karuan.


"Aku akan melakukannya dengan sangat lembut, dan aku tidak akan melakukannya dengan kasar." Jawab Zayen sambil berbisik ditelinga istrinya. Afna hanya bisa mengangguk, karena dirinya tidak memiliki banyak kosa kata untuk diucapkannya.


Zayen kembali melakukan aksinya, Permainan pada keduanya semakin panas. Afna meringis kesakitan, Zayen terus berusaha untuk melepaskan pertahananannya.


"Sakkkk ...." Zayen langsung membekam mulut istrinya dengan telapak tangannya. Zayen terus dan terus meloloskan pertahanannya, Afna hanya menahan rasa sakitnya dan mencoba untuk bertahan. Semakin lama Zayen semakin liar, hingga dirinya tidak kuasa menahan gejolaknya dan loloslah pertahanannya pada Keduanya. Kini keduanya telah lemas terkulai setelah melakukan yang sudah sah untuk diinginkannya. Kini, Afna maupun Zayen telah menyempurnakan hubungan pernikahannya.


"Terimakasih, istriku. Maafkan aku, disaat kaki kamu yang belum pulih ini aku memintamu untuk memenuhi permintaanku." Ucap Zayen yang masih pada posisinya memeluk sang istri.


"Itu sudah menjadi kewajibanku, aku adalah hakmu."


"Aku mencintaimu, istriku ... meski ini terlalu cepat dan buru-buru dalam pikiran kamu, Tetapi inilah perasaanku untukmu."


"Terimakasih, aku akan belajar mencintaimu. Maafkan aku, yang belum mengerti akan perasaanku padamu."

__ADS_1


"Tidak perlu kamu jelaskan atau kamu ucapkan, sama sekali aku tidak mempermasalahkannya. Perasaan cinta itu unik, tidak bisa berucap tetapi dapat ditunjukkan dari segi manapun." Ucap Zayen dengan tenang.


__ADS_2