
Afna yang mendengar penuturan dari suaminya, segera ia memeluk suaminya.
"Aku tidak mempermasalahkan kamu, sayang. Yang terpenting jaga kesehatan kamu, aku tidak ingin melihatmu sakit." Ucap sang istri sambil menyandarkan kepalanya pada suaminya.
"Terimakasih, sayang. Kamu sudah begitu perhatian terhadapku, dan juga pengertianmu kepadaku. Aku janji, jika kamu hamil nanti aku akan berhenti dari pekerjaanku ini. Aku akan mencari pekerjaan yang lainnya, yang pasti tidak akan meninggalkanmu sendirian diwaktu malam hari." Jawabnya, kemudian mencium kening istrinya dengan lembut.
"Sekarang mau langsung berangkat, atau ... mau tidur sebentar, sayang." Tanya sang istri sambil menatap suaminya berusaha untuk tersenyum, meski kedua matanya sudah terasa sangat mengantuk.
"Aku akan tidur sebentar, sayang. Lumayan istirahat ada satu jam, daripada tidak istirahat sama sekali." Jawabnya, kemudian meminta Istrinya untuk menggeser posisinya. Setelah itu, keduanya tertidur pulas dalam mimpinya masing masing.
***
Sedangkan di kediaman keluarga Danuarta, Kazza yang masih sibuk didepan laptopnya dan dengan ponselnya yang siap menerima pesan dari seseorang yang menjadi anak buahnya.
"Kata papa, Zayen mau membantu paman Alfan untuk menemukan putranya. Hebat sekali dia, beraninya menawarkan diri untuk membantu paman Alfan, aku tidak percaya dia bisa." Gerutunya penuh kesal.
'Dia saja sedang aku selidiki, terus dianya juga mau membantu mencarikan putranya paman Alfan. Apa aku tidak salah mengartikannya? aaah! benar benar aneh.' Batinnya serasa tidak percaya.
Saat Kazza hendak bangkit dari posisi duduknya, saat itu juga Kazza mendapatkan pesan masuk di ponselnya.
Dengan cepat, Kazza segera membuka pesan masuk dengan senyum yang mengembang.
'Viko sudah datang ke rumah Zayen, bagus. Berarti saatnya mengikuti arah kemana itu si Viko pergi.' Batin Kazza dengan senyum mengembang.
__ADS_1
'Ternyata anak buah paman Alfan cukup pintar, tapi kenapa tidak bisa menemukan putranya. Sungguh, sangat membingungkan, sampai saat ini pun tidak dapat ditemukan titik terangnya.' Batinnya lagi sambil meletakkan ponselnya diatas meja.
Karena rasa kantuknya yang benar benar susah untuk ditahannya, Kazza segera berbaring ditempat tidurnya. Berharap, ketika bangun dari tidurnya mendapat kabar gembira.
Sedangkan Zayen yang baru saja terbangun dari tidurnya, dengan cepat Zayen segera bangun dan bersiap siap untuk berangkat ke tempat yang dijadikan mata pencahariannya. Meski sudah hampir larut malam, mau tidak mau Zayen tetap berangkat untuk menerima barang yang sudah dikirim dari xxx.
Saat melangkah keluar dari kamarnya, ponsel Zayen pun bergetar. Seperti ada pesan masuk di ponselnya, Zayen segera membuka pesan yang masuk.
Bos! hati hati, dibelakangku sudah ada yang mengikutiku dengan mobil yang berbeda. Bagaimana ini, Bos?
'Apa! ada yang mengikuti Viko? siapa dia. Berani beraninya mau menjadi detektif dadakan, ingin masuk dalam perangkapku rupanya. Aku yakin, orang itu pasti mengenalku.' Batin Zayen penuh kesal.
Dengan cepat, Zayen langsung mengirim pesan balik untuk Viko.
Lakukan saja seperti yang pernah aku beritahu kamu, aku akan jalan kaki. Jika aku sudah cukup aman, aku akan memintamu untuk menjemputku. Begitu selesai mengirim pesan, Zayen segera keluar melewati lorong bawah tanah yang sering dilakukan setiap malam jika mendapati situasi darurat.
"Bos! kenapa terlihat gelisah seperti itu, ada masalah atau ada hal buruk yang akan kita alami sekarang ini, Bos." Tanya Viko yang juga ikut cemas, bahkan keseimbangan menyetirnya seperti orang yang sedang ugal ugalan.
"Aku tidak tahu, Vik. Sepertinya ada orang baru yang sedang mengintai kita, aku tidak menjamin kita akan selamat. Lihatlah, depan dan belakang kita." Jawab Zayen seakan dirinya tertangkap basah.
"Mobil apaan, Bos? depan memang ada mobil, belakang juga ada mobil. Aku masih belum mengerti, Bos. Maksudnya mobil depan dan belakang adalah orang yang ditugaskan untuk memata matai kita, Bos?"
"Benar! lambat sekali kamu berpikir, apa kamu kurang tidur. Sini, biar aku yang mengendarai mobilnya."
__ADS_1
"Jangan Bos, aku ngeri jika Bos Zayen yang mengendarai mobilnya. Aku terasa seperti naik jet sewa bukan jet pribadi, Bos."
"Banyak omong kamu, minggir." Ucap Zayen yang sudah tidak sabar dan langsung mengambil alih untuk mengendarai mobilnya.
Viko hanya bisa pasrah, jika memang akan ma*ti ya mati*lah, pikirnya.
"Bos! jangan ugal ugalan, Bos. Ngeri, aku trauma." Ucap Viko sambil menahan rasa takut, bahkan apa yang sedang dialaminya lebih menegangkan dari pada nonton film action.
Dengan kecepatan tinggi, Zayen melajukan mobilnya. Viko yang sedari tadi hanya berteriak teriak sekencang mungkin, bahkan sama sekali tidak mendapatkan respon dari Zayen, sedangkan Zayen terus fokus untuk mengejar mobil yang menurutnya mata mata.
Ssssssttttttt!!! diperempatan jalan yang terlihat sepi, Zayen menghentikan mobilnya dengan cara menghalangi jalanan. Mobil yang dicurigainya pun berhenti begitu saja, ingin balik kebelakang pun sudah dihadang mobil anak buah Zayen. Tidak hanya itu saja, mau membelokkan ke arah manapun sudah di terhalang mobil mobil milik anak buahnyw Zayen.
Dengan gesit, Zayen langsung mendekati mobil tersebut. Didalamnya, terlihat bapak bapak paruh baya. Zayen yang tidak mempunyai rasa percaya terhadap siapun, dirinya hanya mengetuk ngetuk kaca jendela kaca mobil.
Dengan terpaksa, jendela kaca mobil pun terbuka lebar. Dengan santai, bapak paruh baya tersebut menatap Zayen.
"Silahkan bapak ke luar dari mobil ini, kami akan mengantar bapak sampai didepan rumah bapak. Bahkan sampai didalam rumah sekalipun, silahkan turun."
"Maaf, Nak. Saya tidak bisa meninggalkan mobil saya ini, kasihan saya yang hanya memiliki satu mobil. Jika kamu mengambil mobil saya, maka saya tidak mempunyai kendaraan untuk bekerja." Jawabnya beralasan.
Seorang Zayen yang tidak mudah untuk mempercayai sesuatu yang penuh drama, Zayen tetap pada pendiriannya. Sekali tidak, ya tidak. Itulah Zayen, sosok laki laki yang susah untuk mengubah pendiriannya.
"Saya akan mengantarkan mobil bapak sampai depan rumah, hanya saja bapak dan ini mobil akan terpisah jalan pulangnya." Ucap Zayen dengan santai, sedangkan bapak tersebut masih juga pada pendiriannya.
__ADS_1
"Tidak bisa, Nak. Kasihani saya sedikit, saya takut jika kamu akan membohongi saya. Jadi saya mohon, jangan ambil mobil saya."
"Mau tidak mau, bapak akan saya antarkan pulang dengan selamat. Mobil ini pun juga akan saya antarkan pulang ke rumah bapak. Jika ada kerusakan pada mobil bapak, maka saya yang akan bertanggung jawab dan akan saya ganti yang lebih mulus lagi. Sekarang, silahkan turun. Jangan sampai yang lainnya ikut memaksa bapak untuk turun, silahkan." Ucap Zayen sebaik mungkin, meski dirinya sudah sangat geram. Zayen tetap tidak menunjukkan sikap keras terhadap orang yang lebih tua.