
Didalam ruangan, tepatnya dimana Safa dan karyawan yang lainnya berkumpul. Semua merasa malu dan juga canggung pastinya, ditambah lagi dengan statusnya Adelyn yang sudah terkuak oleh orang orang kantor. Adelyn mendekati Safa, mencoba memastikan keadaan Safa yang terlihat pucat.
"Maafkan aku ya, Adelyn. Maksud aku, Nona. Maafkan aku, jika selama ini aku sudah banyak kesalahan dengan Nona. Aku baru menyadarinya, jika perbuatanku benar benar sangat tidak baik." Jawabnya penuh sesal, sebisa mungkin meminta maaf atas kesalahan yang sudah pernah ia lakukan.
Adelyn yang mendengarnya pun tersenyum. Meski awalnya kesal dan juga geram, sedikitpun Adelyn tidak memiliki dendam. Apapun untuk memberi hukuman, tidak semena mena dengan kekerasan. Tetapi bagaimana caranya untuk menghukum dengan hal yang positif, tentunya juga untuk membuatnya jera.
"Syukurlah, jika kamu menyadarinya. Semoga kamu tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Adelyn berusaha untuk tenang, dan tidak untuk mengumbar emosinya.
"Terima kasih ya Nona, sudah memaafkan aku. Aku janji, bahwa aku tidak akan mengulanginya kembali. Sebisa mungkin aku akan merubahnya untuk memjadi yang lebih baik lagi." Jawabnya.
"Iya, Nona. Maafkan kita semua, jika selama di kantor kita semua sering berprasangka buruk terhadap Nona. Kita semua janji untuk memperbaiki diri menjadi baik." Ucap salah satu karyawan mewakilkan para karyawan yang lainnya.
"Aku sangat senang mendengarnya, semoga kita tetap selalu rukun dan tidak ada lagi prasangka prasangka buruk pada diri kita masing masing." Jawab Adelyn, kemudian ia tersenyum. Begitu juga dengan Sasa yang ikut tersenyum mengembang, perasaannya pun ikut bahagia. Ditambah lagi memiliki seorang sahabat yang super baik dan memiliki kesederhanaan.
'Aku tidak pernah menyangka, jika seorang Adelyn yang menjadi OB rupanya bagian keluarga Wilyam. Sungguh, semua telah tertipu dengan kesederhanaannya. Benar benar sangat lihai memainkan perannya, hingga dia tahu satu persatu seperti apa karyawannya itu.' Batin Sasa yang masih terasa mimpi jika sahabatnya itu adalah bukan sembarang OB.
Setelah cukup lama mengobrol, tiba tiba pak Ardi dan temannya sudah berdiri diambang pintu.Seluruh anggota badan pak Ardi masih gemetaran, pikirannya pun tidak karuan. Ia terus memikirkan atas kesalahannya terhadap Adelyn, bayangan bayangan perbuatannya masih saja menghantuinya.
Dengan pelan, pak Ardi melangkahkan kakinya untuk mendekati Adekyn yang tengah duduk bersama Sasa, Safa dan juga yang lainnya.
"Pak Ardi," seru beberapa karyawan memanggilnya. Adelyn dan Sasa maupun Safa langsung menoleh kebelakang, dilihatnya ada pak Ardi yang semakin mendekat. Adelyn dan Sasa segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian saling berhadapan.
Pak Ardi masih merasa takut dan juga malu untuk meminta maaf, namun ia tidak ingin menjadi beban dipikirannya. Sebisa mungkin segera ia meminta maaf, apapun resikonya dan apapun jawabannya siap menerimanya. Sekalipun ia harus dipecat dari pekerjaannya, pikirnya.
"Nona Adelyn, saya mau meminta maaf atas kesalahan saya salama ini. Saya mengaku sangat bersalah atas perbuatan saya terhadap Nona, saya benar benar menyesalinya. Saya siap menerima hukuman dari Nona." Ucap pak Ardi sambil menunduk, ia tidak berani menatap Adelyn. Pak Ardi sendiri benar benar sangat malu dan penuh sesal.
"Pak Ardi tidak perlu menunduk, saya sudah memaafkan kesalahan pak Ardi terhadap saya diwaktu itu. Tapi, perbuatan pak Ardi harus dipertanggung jawabkan. Dikarenakan, kesalahan pak Ardi murni ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kantor. Saya berharap, pak Ardi akan mempertanggung jawabkan atas perbuatan pak Ardi." Jawab Adelyn.
__ADS_1
"Terima kasih banyak atas kebaikan dari Nona, saya akan mempertanggung jawabkan atas perbuatan saya. Meski saya harus dipecat dari pekerjaan, saya siap menerimanya. Karena saya menyadari bahwa saya lah yang bersalah." Ucap pak Ardi sedikit lega mendapatkan kata maaf dari saudara kembar Bosnya itu.
"Sasa, Safa, dan yang lainnya. Aku tinggal kalian semuanya, ya." Ucap Adelyn berpamitan, semuanya pun menjawabnya dengan serempak.
Sedangkan dilain sisi, ada dua insan yang sedang saling diam tanpa bersuara. Siapa lagi kalau bukan Neyla dan Seyn.
"Lama banget sih, kapan kita sampainya?" gerutu Neyla dengan posisi yang masih menyandarkan kepalanya di punggung milik Seyn.
"Sabar dikit kenapa sih, bentar lagi juga sampai." Jawab Seyn dengan ketus, sedangkan Neyla sendiri langsung melepaskan tangannya begitu saja.
PUKKK!!! Neyla menepuk punggung milik Seyn sedikit kuat.
"Aw!!! sakit tau!" ucap Seyn meringis kesakitan, seketika menghentikan motornya dan menepikan dipinggir jalan.
Begitu juga dengan Seyn, ia sendiri segera turun menuruti kemauannya Neyla yang terlihat sangat konyol, pikir Seyn.
"Ingat, jangan memegangiku. Aku pastikan kamu akan mendapat pasal dariku, ingat itu." Ancam Neyla yang takut jika Seyn akan mengambil kesempatannya.
"Iya, tenang saja. Aku tidak akan mengambil kesempatan darimu, kamu bukan kriteria ku. Kamu kurang ganas, bahkan kurang seram." Jawab Seyn sedikit memancing emosi Neyla.
"Tidak lucu!" ucapnya dan menatapnya taman pada Seyn. Sedangkan Seyn tersenyum puas melihat ekspresi Neyla yang begitu menggemaskan.
'Lihat saja, aku akan membuatmu mual dan pusing. Kamu pikir, aku tidak bisa mengerjai.' Batinnya dan menahan tawanya tatkala membayangkan ekspresi Seyn ketika mabok karena pusing dan mual akibat ulahnya itu yang sudah direncanakan dalam perjalanan.
Dengan senyum lebar sambil menatap lurus kedepan, Neyla mulai menyalakan mesin motornya. Terlihat jelas senyum mengembang pada kedua sudut bibirnya itu, sedangkan Seyn dapat menangkap senyum mencurigakan pada kedua sudut bibir Neyla yang terlihat jelas dari kaca spion tanpa sepengetahuan Neyla sendiri.
'Apa apaan ini anak, ngapain menambah kecepatannya. Benar benar gile ini anak, mau membuat aku pusing tujuh keliling.' Batin Seyn menerka nerka ulah Neyla, tanpa pikir panjang Seyn langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang milik Neyla dengan erat. Kepalanya pun disandarkan pada punggung milik Neyla.
__ADS_1
Seketika itu juga, detak jantung Neyla berdetak tidak karuan. Nafasnya pun tiba tiba berubah terasa sesak, seakan berat untuk menarik nafasnya dan mengeluarkannya dengan tenang.
Neyla langsung menepikan motornya dan mematikan mesinnya.
"Kenapa kamu berhenti? kamu harus bertanggung jawab. Kepalaku pusing berat, dan perutku ini terasa mual. Ini semua gara gara ulahmu, membuatku jantungan saja. Jika kamu mau balap, lihat dulu dibelakang kamu. Kasihan aku, belum menikah dan mati sia sia denganmu." Ucapnya yang masih melingkarkan kedua tangannya.
"Kamu bilang apa tadi, kamu belum menikah? hem." Tanya Neyla dengan menatapnya tajam.
"Aku masih bersegel, sama saja belum menikah." Jawabnya tersenyum menggoda, Neyla sendiri bergidik ngeri melihatnya.
Dengan ragu, Neyla memegangi tangan Seyn berusaha untuk melepaskannya. Ia tidak ingin perasaannya akan sulit untuk dikendalikan, dan semakin tidak terkontrol pikirannya.
Seyn pun kaget dibuatnya, ketika kedua tangan milik Neyla memeganginya. Entah ada angin apa, keduanya seakan terbawa suasana diluar pikirannya.
Saat Neyla ingin melepaskan tangan Seyn, justru Seyn langsung meraih tangan Neyla dan menggenggamnya dengan erat.
"Jangan lepaskan, aku merasa nyaman dengan semua ini." Ucap Seyn, seketika Neyla tercengang mendengarnya. Serasa mimpi mendengar ucapan dari Seyn yang terdengar lembut dan mendebarkan detak jantungnya itu.
"Bangun, jangan mimpi di siang bolong. Sebentar lagi kita sampai, dan pastilah kedatangan kita ini benar benar benar terlambat." Ucap Neyla mengalihkan pembicaraan Seyn yang terdengar hanya mengigau.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, ah kenapa aku terlihat bodoh didepan kamu. Lupakan saja, anggap saja tadi ada pangeran tampan tengah menggodamu. Sini, biar aku yang membonceng kamu." Jawab Seyn, kemudian segera turun dan berpindah posisi.
Neyla hanya nurut dan kembali pada posisinya dibelakang.
"Pegangan, jangan malu. Lupakan saja ucapanku yang baru saja kamu dengar, mungkin aku tadi sedang bermimpi." Perintah Seyn, kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Didalam perjalanan keduanya hening dan diam dalam pikirannya masing masing, hingga tidak terasa sudah sampai didepan gedung yang menjulang tinggi dan kokoh. Tepatnya gedung yang dimana Adelyn dan Viko mengadakan pesta pernikahannya.
__ADS_1