Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 6


__ADS_3

Vella masih diam, ia masih merasa takut jika sang kakak hanya mengerjai nya.


"Serius? kamu tidak lagi bercanda, 'kan?" tanya Zacky memastikan.


"Serius lah, kapan aku jadi suka bohong? hem. Tanya saja sama Vella, mau tidaknya terserah Vella." Jawab Gio meyakinkan teman akrabnya.


"Iya deh, aku percaya sama kamu." Ucap Zacky berusaha mempercayainya.


'Kamu pikir aku ini tidak tahu, pasti ada sebuah rencana yang kamu lakukan. Tumben saja, kamu menyerahkan adik kamu padaku.' Batin Zacky yang mencoba menebaknya.


"Vella, bagaimana menurutmu. Apakah kamu mau menemaniku hadir disebuah acara reuni bersama teman sekolahku." Ajak Zacky pada Vella.


Sedangkan Gio sang kakak hanya mengangguk sambil menatap adik perempuannya, Vella pun mengerti.


"Kalau kak Gio mengizinkan sih, aku mau mau saja. Lagian aku tidak pernah keluar dari rumah selain makan malam dan berbelanja, itu saja sih." Jawab Vella, kemudian menoleh kearah saudara laki lakinya.


"Sip, lah. Eh iya, kita makan siang dulu. Sebentar ya, aku panggil pelayanku." Ucap Zacky, kemudian segera ia bangkit dari posisi duduknya untuk meminta kepada pelayannya untuk segera menyajikan hidangannya.


"Tunggu, aku ikut. Aku mau memilih menu makanan yang aku rasa sangat ekstra."


"Hem, kebiasaan kamu. Ekstra pedas dan gurih, aku sudah tahu itu."


Karena sudah tidak sabar, langkah kaki Gio mendahului Zacky. Sedangkan Zacky yang mrngerti maksud dari temannya itu segera mengejar langkah kaki milik Gio yang terbilang sangat gesit.


"Gio, ada apaan sih? sepertinya kamu sedang menyimpan sesuatu, cepetan katakan padaku." Tanya Zacky yang masih penasaran.


Seketika, Gio menarik nafasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Aku mau meminta bantuanmu, lakukan lah sesuai apa yang aku perintahkan." Jawab Gio dengan tatapan seriusnya.


Zacky semakin penasaran saat mendapati tatapan dari Gio yang terlihat seperti sangat membutuhkan pertolongannya.


"Katakan saja, apa yang kamu ingin kamu perlukan. Aku siap membantu kamu, katakan lah." Ucap Zacky.

__ADS_1


Setelah merasa dapat mempercayai Zacky, Gio menceritakan semua permasalahannya tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Zacky yang mendapat penjelasan dari Gio, seketika mendadak tercengang seperti tidak percaya.


"Hei, kenapa kamu jadi bengong?" tanya Gio sambil melambaikan tangannya.


"Ah, tidak. Aku hanya merasa tidak percaya saja, jika Vella pernah bertunangan dengan


Kazza. Aku kira Kazza sudah menikah, rupanya masih sama sepertiku." Jawab Zacky sambil tertawa kecil.


"Hem, kamu tidak lagi menyindirku, 'kan?"


"Tentu saja, sedikit menyindirmu." Jawab Zacky sambil tertawa kecil.


"Ya sudah, aku kembali menemui adikku." Ucap Gio, kemudian langsung pergi meninggalkan Zacky yang masih berdiri mematung.


Seketika, dadanya terasa sesak. Nafasnya terasa berat, dadanya serasa tertindih batu besar dan sulit untuk bernafas. Bahkan, nyawanya terasa melayang begitu saja.


'Aku kira, aku masih memiliki kesempatan. Namun kenyataannya, kesempatan hanya menjadi jembatannya. Sungguh menyakitkan, tetapi apalah aku ini. Kalaupun bukan berkat Gio, aku tidak bisa menjadi sosok Zacky yang sukses seperti ini. Mungkin dengan cara ini lah, aku membalas kebaikannya. Walaupun perasaanku yang harus kecewa, dan tentunya terasa sangat sakit.' Batin Zacky sambil mengatur nafasnya, agar tidak terasa berat ketika menarik ulur nafasnya.


Setelah memesan pesanannya, Zacky kembali ketempat semula. Yaitu, tempat bersantai di ruangan khusus bersama Gio dan Vella.


'Kazza, beruntung sekali kamu mendapatkan Vella. Sudah cantik, dan tidak pernah membuat bosan bila berada di dekatnya.' Batin Zacky sambil mengunyah makanan yang menurutnya terasa hambar.


Setelah selesai menikmati makan siangnya, Gio segera berpamitan untuk segera pulang.


"Zack, terima kasih ya, atas traktirannya. Kalau begitu, aku pamit pulang." Ucap Gio berpamitan.


"Seperti sama siapa saja, Gi. Ini semua juga berkat bantuan dari kamu, usahaku menjadi sukses." Jawab Zacky merasa tidak enak hati.


"Maaf ya Zack, jika aku dan kak Gio sudah merepotkan kamu." Ucap Vella ikut menimpali.


"Kamu sangat lucu, tau Vell. Tiba tiba muka kamu mendadak pucat dan berubah menjadi pendiam, ini pasti gara gara kamu terlalu ketat, Gio." Jawab Zacky dan menoleh kearah Gio yang memberi tatapan tajamnya.


Sedangkan Zacky hanya tertawa kecil saat melihat ekspresi kakak beradik mendadak aneh, pikir Zacky.

__ADS_1


"Sial, awas kamu Zack." Ucap Vella yang tiba-tiba menunjukkan sikap aslinya dalam mengenal Zacky, seketika Gio hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Zacky hanya tertawa saat dirinya merasa lucu ketika melihat kakak beradik yang dikenalinya itu.


"Ya sudah kalau begitu, kita berdua pamit pulang." Ucap Gio berpamitan, Zacky pun mengangguk. Setelah itu, Gio dan Vella segera pulang.


Dalam perjalanan, Vella kembali menatap luar jendela sambil melamun. Sedangkan Gio fokus dengan setirnya.


"Kita mau ke Asrama anak anak atau ... kita langsung pulang?" tanya sang kakak.


"Kita pulang saja, Kak. Aku terasa capek, ingin istirahat." Jawab Vella sambil menyilangkan kedua tangannya didepan sambil bersandar.


"Rupanya kamu sudah mengenal Zacky, sejak kapan?" tanya sang kakak mencoba menyelidik.


"Sudah lama, saat aku menyukai balap motor." Jawab Vella dengan santai.


"Kirain, kenapa kamu tiba tiba menjadi pendiam? apakah kamu menyukainya?" tanya sang kakak terus mendesak.


"Ih, apa apaan sih kakak. Menyukai Zacky? tidak, aku tidak menyukainya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih." Jawabnya sedikit risih mendapati pertanyaan dari sang kakak.


"Kakak cuman tanya saja, memangnya tidak boleh? jika iya, itu urusan kamu dengan perasaan kamu sendiri." Ucap sang kakak sambil menyetir dan pandangannya fokus lurus kedepan.


"Tidak, aku sama sekali tidak menyukainya. Kenapa sih, kakak memberi pertanyaan mendesak begitu. Seperti wartawan saja, menggelikan." Jawab Vella sedikit bergidik ngeri mendapatkan pertanyaan dari sang kakak.


'Kenapa sih ini kak Gio, pertanyaannya mendesak begitu. Sudah dibilangin, jika aku itu tidak menyukai Zacky. Masih saja bertanya terus, hem.' Batin Vella sambil mengerucutkan bibirnya tanpa ia sadari.


"Idih, bibirmu itu kenapa di monyong monyongin gitu? hem." Ucap sang kakak, seketika Vella langsung mendadak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Kemudian, Vella menoleh kearah sang kakak dan tersenyum lebar. Gio sendiri hanya membuang nafasnya kasar.


Sedangkan ditempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Danuarta. Kazza sedang duduk santai diteras belakang rumah sambil menikmati secangkir kopi pahit tanpa seseorang yang menemaninya.


"Kazza, sejak kapan kamu duduk santai di belakang?" tanya sang ibu yang tiba tiba mengagetkan putranya.


"Mama, ngagetin saja. Baru saja kok, Ma. Ada apa, Ma?" jawab Kazza dan balik bertanya pada ibunya.

__ADS_1


"Tidak ada apa apa, Mama hanya kesepian. Sudah lama Zicko tidak datang kemari, Mama sudah sangat merindukannya." Jawab sang ibu.


"Bukannya waktu itu Mama baru saja mengajak Zicko jalan jalan? hem, Mama tidak lagi menyindir Kazza, 'kan?" ucap Kazza, kemudian menyeruput kopi hangatnya.


__ADS_2