
Zayen segera mengeluarkan motornya, saat sudah berada di depan rumah. Zayen dikagetkan dengan suara dering dari ponselnya. Dengan cepat, Zayen langsung menerima panggilan telfonnya.
"Kamu dimana Yen, ingat! nanti malam ada acara di keluarga teman Papa." Ucapnya dari seberang telfon.
"Maaf, Kak. Sepertinya tidak bisa, aku sedang bersama mertuaku berlibur di kampung." Jawab Zayen dengan santai. Sang kakak pun langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Siapa yang menelfon, sayang?"
"Kak Seyn, kenapa?"
"Tidak apa apa, aku kira rekan kerja kamu. Aku takut, gara gara kamu ikut liburan ke kampung membuatmu kehilangan pekerjaan."
"Tidak mssalah jika aku harus kehilangan pekerjaanku. Kamu tahu? bagiku itu mudah jika untuk mencari pekerjaan kalau hanya untuk makan. Yang berart itu nafsunya, ingin ini itu. Sudahlah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan pekerjaanku. Sekarang kita jadi jalan jalan tidak, nih."
"Ah iya, aku sampai lupa."
"Afna, Zayen. Maaf, jika akak tidak jadi ikut. Kakak ada kesibukan, dan kakak lupa, jika kakak ada tugas."
"Tugas apaan?" tanya Afna penasaran.
"Tugas pekerjaan. Sudahlah, cepetan berangkat, nanti keburu sore." Jawab Kazza berusaha beralasan.
"Kalau kakak tidak jadi berangkat, ya sudahlah. Afna berangkat dulu ya, kak ... da da..." ucap Afna, kemudian segera menaiki motor bersama suaminya.
__ADS_1
Sedangkan Kazza masih berdiri mematung sambil melihat bayangan sang adik dan adik iparnya sampai tidak terlihat. Entah kenapa, dirinya merasa enggan untuk pergi bersama Zayen.
'Sepertinya aku harus mulai dari sekarang, aku harus mencoba untuk meminta bantuan paman Alfan. Siapa tahu saja, aku bisa mengungkap semua rahasia yang sudah membuatku penasaran.' Batin Kazza, kemudian kembali ke kamarnya.
"Loh, Kazza. Kenapa kamu tidak ikut jalan jalan bersama adik kamu? apa kalian berantem?" tanya Kakeknya.
"Tidak, kek ... Kazza hanya ingin menyelesaikan tugas. Kazza tidak mau lama lama, setidaknya pekerjaan Zayen dapat Kazza selidiki."
"Kazza, Kazza ... sampai kapan kamu akan berhenti berprasangka buruk."
"Sampai Kazza menemukan buktinya, jika memang tidak ada keburukan terhadap Zayen tidak masalah. Jika ada, Kazza tidak akan segan segan menjebloskannya di penjara. Hari ini juga, Kazza akan meminta bantuan paman Alfan."
"Hati hati, jika tuduhan kamu itu salah. Kakek hanya mengingatkan kamu saja, kakek tidak ingin ada kebencian dengan keluarga sendiri." Kakek Ferdi berusaha mengingatkannya, namun Kazza tetap pada pendiriannya.
"Biarkan saja, Pa. Kazza seperti itu, kita lihat apa hasilnya. Jika sampai tidak terbukti, mau tidak mau akan tinggal di Amerika selama lamanya." Ancam Tuan Tirta kepada putranya.
"Ada apa dengan Kazza, Pa? kok langsung masuk kamar. Kenapa tidak ikut Afna dan Zayen jalan jalan? apa mereka berantem?"
"Tidak, Kazza bilang mau menyelidik Zayen katanya. Entahlah, itu anak mungkin belum rela sang adik telah menikah. Biasa, anak kembar. Biasanya kemana mana bersama, sekarang harus sendirian. Mungkin Kazza merasa di duakan, dan tidak lagi dapat perhatian dari sang adik." Jawab Tuan Tirta menebak pitranya.
"Bisa jadi, biarlah. Nanti jika Kazza merasa capek dan bosan jadi detektif, pastinya akan menyerah sendiri." Ujar ibunya Kazza ikut menimpali.
"Sudah sudah ... lebih baik kita duduk santai sambil menikmati cemilan dibelakang rumah, sepertinya sangat nyaman untuk mengobrol. Biarkan Kazza sibuk dengan dunia detektifnya, siapa tahu saja punya bakat seperti Alfan." Ucap sang nenek, agar tidak terus terusan membahas soal Zayen. Mau bagaimanapun tidak baik berprasangka buruk terhadap seseorang yang tidak terlihat buruknya, pikir sang nenek.
__ADS_1
Kazza yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya, membuat Kazza semakin bersemangat untuk membongkar siapa adik iparnya tersebut. Meski keluarganya tengah melarangnya, Kazza tetap dengan pendiriannya untuk membongkarnya. Berbagai macam cara dan mengerahkan anak buah, Kazza sudah memulainya.
Kazza melakukan penyelidikan melalui titik rumahnya, hingga teman akrabnya yang sudah dijadikan nyawanya.
'Lihat saja, dengan cepat aku akan mendapatkan jawabannya. Kazza! putra dari keluarga Danuarta. Jangan harap bisa dikelabui oleh siapapun.' Batin Kazza dengan senyum sinisnya sambil menatap laptopnya.
Drrttt drrtttt ... ponsel milik Kazza tengah bergetar, menandakan ada pesan masuk. Kazza tersenyum penuh kemenangan saat melihat pesan masuk. Kazza pun segera membuka pesan tersebut.
"Maaf Tuan, Vella meminta untuk masuk kerja di Restoran. Apakah Tuan mengizinkan?"
"Sial!! kenapa pesan yang masuk dari Gio. Ini lagi, mau masuk kerja seenak jidatnya. Keluar pun seenak udelnya, bikin kesal saja." Gerutu Kazza merasa terganggu.
"Terserah, mau masuk atau tidak terserah dianya. Itu urusan kamu. Dan ingat! jangan kirim pesan lagi, jika sampai pesan kamu masuk lagi. Aku posting gaji kamu lima puluh tahun." Balas Kazza dengan kesal, yang diharapkan pesan masuk dari anak buahnya. Tidak tahunya dari sekretarisnya sendiri.
Cukup lama Kazza menunggu pesan masup dari anak buahnya, namun tidak kunjung juga yang masuk. Berkali kali Kazza mengusap layar ponselnya berharap ada pesan masuk, namun selalu sial.
'Aku jadi penasaran dengan rumah Zayen, kenapa dari dulu aku tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Setidaknya aku dapat melihat kondisi rumahnya, siapa tahu saja ada yang mengganjal. Semakin penasaran, dan ingin segera berkunjung di rumah Zayen. Mau tidak mau, besok harus pulang. Aku benar benar sudah tidak sabar untuk mengetahuinya.' Batin Kazza sambil berdecak kesal.
Setelah memakan waktu cukup lama menunggu, tiba tiba Kazza mendapati pesan masuk di ponselnya. Dengan cepat, Kazza segera membuka kunci layarnya.
Kazza langsung tersenyum melebar. Kazza sangat yakin jika pesan yang masuk adalah dari anak buahnya.
Dengan seksama, Kazza membaca pesan masuk. Terlihat senyum mengembang pada kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
'Viko, rupanya Viko kaki tangannya Zayen. Aku yakin, pasti akan ada yang lebih mengejutkan lagi. Yang harus diikuti adalah Viko, bukan Zayen. Aku yakin, Zayen pemegang remot kontrolnya. Sedangkan Viko adalah remot kontrolnya.' Batin Kazza dengan senyum melebar,
"Ternyata, paman Alfan benar benar jenius. Bisa mengarahkan anak buahnya sangat handal. Tapi ... kenapa anaknya hilang tidak dapat menemukannya. Bahkan hingga dua puluh tahunan, sampai sekarang pun tidak ada titik terang. Apakah lawannya jauh lebih kuat, hingga sangat sulit untuk menemukan putranya. Setidaknya paman Alfan memiliki ciri ciri yang bisa dijadikan bukti, dan kenapa juga tidak dilakukan sayembara. Agar putranya dapat ditemukan, lalu diadakannya tes DNA.' Batin Kazza penuh kemenangan, meski hanya teman dekatnya Zayen.