
Sesampainya di rumah, Viko mendapati sang ayah tengah fokus dengan layar televisi. Kemudian, ia mendekati sang ayah dan duduk disebelahnya.
"Kenapa Papa belum juga tidur?" tanya Viko sambil menatap layar televisi.
"Bagaimana denganmu? apakah pernikahan kamu akan dipercepat?" tanya sang ayah. Viko yang mendapati pertanyaan dari ayahnya pun tercengang, dan menoleh kearah sang ayah.
"Papa sudah mengetahuinya, barusan kedua orang tua calon istrimu menelfon Papa. Dan, memintamu untuk memberikan jawaban
Selain calon mertua kamu mau ke luar Negri, calon mertua kamu menginginkan pernikahan kamu dipercepat. Jika kamu mengulurnya, mungkin saja nunggu sampai tuan Alfan pulang dari luar Negri." Ucap sang ayah memberikan penjelasan.
"Katakan saja pada tuan Alfan, tidak masalah untuk dipercepat. Namun, aku tidak ingin ada pesta meriah. Cukup acara pernikahan kumpul bersama kedua belah pihak keluarga, itu jauh lebih baik." Jawab Viko.
"Baiklah, sekarang kamu beristirahat. Waktu sudah hampir tengah malam, besok pesan kamu akan Papa sampaikan." Ucapnya, lalu segera bangkit dari posisi duduknya.
Viko sendiri segera mematikan televisi, kemudian masuk ke kamarnya. Sesampainya didalam kamar, Viko menjatuhkan tubuhnya sambil membayangkan sesuatu yang membuatnya tersenyum tidak jelas.
Tiba tiba Viko teringat kejadian sesuatu yang ia lewati beberapa jam yang lalu, Viko merasa ada yang mengganjal dihatinya. Namun, segera ia menepis pikiran buruknya. Meski ia menepis nya, Viko tetap waspada.
Karena rasa kantuk yang sudah mengundang dan tidak dapat ditahan lagi, Viko terlelap dari tidur pulasnya. Sampai sampai ia lupa untuk mengganti pakaiannya.
Dilain sisi, Seyn sedang sibuk dengan pikirannya. Berkali kali mengingat sesuatu yang pernah terjadi, namun sulit untuk diingatnya.
"Kalau bukan gelang Afna, lalu ini gelang milik siapa? lalu gadis yang aku tolong ditaman itu siapa? aaah! bodohnya aku. Kenapa dari dulu aku tidak menemuinya di klinik, setidaknya aku mengetahui siapa dia. Dan kenapa juga aku menyangka Afna sang pemilik gelang ini, jika kenyataannya bukan Afna." Gerutu Seyn sambil melihat gelang tersebut dengan seksama.
Karena merasa prustasi dan tidak dapat mencari titik temu, Seyn meletakkan gelang tersebut diatas meja. Kemudian merebahkan tubuhnya diatas tampat tidur, lalu menatap langit langit kamarnya.
__ADS_1
Seyn pun teringat akan kebusukan dari mantan iatrinya yang pernah memanfaatkannya untuk mencapai rencana gilanya. Tidak hanya itu, Seyn kembali teringat dengan sosok wanita yang tidak kalah cantiknya dengan Afna. Seyn terus terbayang bayang akan sosok wanita yang pernah ia temui beberapa kali, namun segera menepisnya.
Dengan tekad yang bulat, Seyn akan mencari pemilik gelang tersebut. Dan, Seyn sendiri tengah berjanji untuk menemukan dan mengembalikan gelang pada pemiliknya. Meski kenyataannya sudah bersuami, Seyn tetap akan mengembalikannya.
Karena waktu yang cukup lama membayangkan sesuatu, Seyn pun segera memejamkan kedua matanya hingga dirinya terlelap dari tidurnya.
****
Pagi yang begitu cerah, semua melakukan aktivitasnya masing masing. Tidak ada yang tidak melakukan aktivitas meski hanya sekedar jalan jalan pagi.
Begitu juga dengan Zayen dan Afna yang sedang berkeliling disekitaran rumahnya sambil jalan jalan pagi dan menghirup udara yang sangat segar. Disaat itu juga, Afna teringat akan suasana kampung sang kakek yang udaranya masih bersih dan segar.
"Sayang, kita kesana yuk?" ajak Afna sambil menunjuk arah sudut taman yang tidak jauh dari pandangannya.
"Untuk apa, sayang? disana banyak orang. Nanti kamu tidak nyaman, kita jalan jalan disekitaran sini saja." Ujar Zayen yang tidak menyukai keramaian.
Langkah demi langkah, tidak terasa sudah sampai dihalaman rumah. Afna segera masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri.
"Kak Afna, tunggu. Kakak dari mana? oh iya, kak Zayen mana?" seru Adelyn memanggil, kemudian bertanya mengenai saudara kembarnya.
"Orangnya sedang lari lari kecil dihalaman rumah, ada apa ya?" jawabnya dan bertanya dengan penasaran.
"Aku mau meminta izin pada kak Zayen, rencananya hari ini aku mau pergi ke butik. Aku mau mengajak kak Aina untuk memesan gaun yang pas untuk ..." ucapnya terhenti, seketika itu juga Adelyn terasa malu untuk mengungkapkannya.
"Hem ... untuk pernikahan kamu dengan Viko, 'kan? ngaku saja. Tenang saja, pergi ke butiknya setelah pulang dari Kantor." Jawab Afna yang sudah mengetahuinya terlebih dahulu dari pada Adelyn sendiri, tepat yang akan menikah.
__ADS_1
"Curang, kenapa aku ketinggalan berita. Tapi, Viko tidak ikut 'kan? aku masih malu untuk bertemu dengannya." Ucapnya sedikit takut, jika dirinya di awasi calon suaminya sendiri. Sedangkan Afna sendiri hanya terkekeh mendengarkannya.
'Kenapa harus ikut sih? aku kan jadi gugup dan juga tegang.' Batin Adelyn sambil menggembungkan kedua pipinya.
"Namanya juga kejutan, sudahlah buruan mandi. Nanti kita telat pergi ke Kantor, mulai hari ini kamu harus belajar di dunia Kantoran." Ucap Zayen yang tiba tiba datang dan ikut menimpali.
"Iya ya, Kak ..." Jawab Adelyn segera masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Zayen dan Afna yang sudah terasa gerah dan ingin cepat cepat membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, semua tengah berada di ruang makan. Suasana rumah yang dulunya sangat sepi, kini semua telah berubah sejak hadirnya Zayen dan Afna. Rumah terasa hangat dan tidak lagi sunyi.
"Selamat pagi, Ma ... Pa, Kakek ... Omma." Sapa Afna dengan ramah, sedangkan Zayen menarik kursi untuk sang istri. Kemudian keduanya duduk dengan rapi, dengan telaten Afna melayani suaminya. Adelyn yang memperhatikannya pun tanpa berkedip, sang ibu yang melihat ekspresi putrinya hanya tersenyum.
"Adelyn ..." seru Omma Serly mengagetkan.
"Eh, Omma ... ada apa, Omma?" tanya Adelyn mendadak kaget.
"Kamu yang sabar, Nak ... bentar lagi kamu juga akan seperti Afna. Sekarang, kamu tinggal mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri." Ucap Omma Serly dan tersenyum.
"Tidak hanya itu, Omma. Adelyn juga harus menghentikan kebiasaannya yang suka balap motor, apa dikata jika sang suami menjadi pesaingnya." Ledek Zayen sambil menyuapi mulutnya.
"Tau dari mana, jika aku suka balap motor. Hem ... pasti dari Papa dan Mama." Tanya Adelyn merasa diselidik.
"Tidak penting tahu dari siapanya, yang jelas jelas foto kamu dan Neyney terpampang begitu jelas di kamar kamu." Jawab Zayen dengan santai.
"Sejak kapan kak Zayen masuk ke kamar aku, eh! tunggu. Neyney? maksud kakak, Neyla?" tanya Adelyn yang merasa aneh dengan sebutan Neyla berubah menjadi Neyney. Zayen pun mengangguk sambil menyuapi mulutnya kembali.
__ADS_1
"Neyney alias Neyla adalah teman sekolahku, dia unik." Jawab Zayen dengan santai, Afna yang penasaran pun segera menoleh kearah suaminya.
"Tenang, sayang. Aku tidak ada hubungan apa apa dengan Neyla, aku hanya berteman saja. Sudahlah, sini aku suapin. Tidak baik memikirkan sesuatu yang tidak penting, aku tidak pernah jatuh cinta dengan perempuan selain kamu." Ucap Zayen yang mengerti dengan tatapan serius dari istrinya.