Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Penyesalan


__ADS_3

Dibalik jeruji besi, Zayen ditempatkan bersama yang lainnya. Dilihatnya sosok laki laki yang tidak asing dimata Zayen, siapa lagi kalau bukan Seynan kakak dari orang tua asuhnya.


Kedua mata milik Seyn kini menatap Zayen tanpa terlihat ada kebencian pada dirinya.


Zayen yang mendapati sosok yang tidak asing baginya, segera ia mendekatinya.


Dengan pelan dan sedikit menahan rasa sakit, Zayen melangkahkan kakinya. Meski ada rasa kecewa, kesal dan geram sekalipun, Zayen berusaha menepis rasa kebenciannya itu.


"Kak Seyn, apa kabarnya?" sapa Zayen sambil mengulurkan tangannya. Mau bagaimanapun Zayen tetap memanggapnya sebagai sang kakak, meski dari kecil selalu dibedakan dan tidak pernah dianggap sebagai adiknya. Zayen tidak pernah membencinya, hanya menuangkan rasa kekesalannya saja.


"Untuk apa kamu bertanya kabarku? bukankah aku yang sudah membuatmu terluka dan masih harus berada didalam tahanan ini." Jawabnya yang masih kaku.


"Karena kamu adalah kakakku, salah?" ucap Zayen sedikit menahan kakinya yang terasa sakit. Seyn pun memperhatikan Zayen yang menahan rasa sakitnya akibat peluru yang tengah menembus kulit pada kedua lakiknya.


"Sok tahu kamu, kata siapa kalau aku kakak kamu? bukankah kamu adalah putra bagian dari keluarga Wilyam. Kamu hanya anak pungut dari keluarga Arganta, yang tidak lain kamu sebagai umpan balas dendam." Jawab Seyn yang masih berdiri sambil bersandar pada tembok.


"Terserah kak Seyn mau bilang apa tentangku, aku tetap menganggap kak Seyn adalah bagian dari saudaraku. Kita hidup bersama dalam satu atap sampai usia kita sama sama dewasa seperti ini, aku hidup dan tumbuh di dalam keluarga Arganta. Tidak cukup bagiku hanya mengucapkan terimakasih atas jasa keluarga Arganta yang telah membesarkanku, meski aku dijadikan umpan balas dendam kalian sekalipun." Ucap Zayen dengan tatapan seriusnya sambil memegangi jeruji besi yang berada disampingnya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak begitu sakitnya menahan luka pada kedua kakinya.

__ADS_1


"Halah, ngomong apa kamu." Jawab Seyn seakan tidak merespon ucapan dari sang adik.


"Terserah kak Seyn, aku hanya mengungkapkan apa yang aku bisa ungkapkan. Aku sadar, perlakuan buruk dari Papa untukku tidak selamanya buruk diakhir hidupnya kepadaku. Dan aku pun percaya kepada kak Seyn, pasti ada perasaan yang spesial untukku. Hah! bodohnya aku, mungkin saja itu haluku yang terlalu tinggi." Ucap Zayen, kemudian memutar balikkan tubuhnya untuk berpindah tempat istirahat.


Seyn yang mendengar penuturan dari sang adik terasa sangat teriris hatinya, dirinya benar benar mendapat tamparan keras dari setiap ucapan Zayen yang sama sekali tidak menunjukkan kebencian. Bahkan sikap dari adiknya tetap terlihat tenang tanpa ada beban kekesalan sedikitpun, meski kedua kakinya tengah terluka.


Tidak dapat dipungkiri, sedikit demi sedikit ada rasa penyesalan pada diri Seyn. Dengan lekat Seyn melihat Zayen yang tengah berusaha untuk duduk di lantai dengan susah payah ia melakukannya. Bahkan orang yang ada disekitarnya pun hanya bisa memandangi Zayen tanpa rasa belas kasih, Seyn yang melihatnya pun tidak terasa kedua matanya pun berkaca kaca.


Dengan cepat, ia segera mendekati sang adik dan membantunya untuk duduk dilantai.


"Zayen, aku bantu kamu." Ucapnya, segera ia membantunya dengan pelan pelan untuk duduk dilantai dan susul olehnya yang juga ikut duduk disampingnya.


Zayen pun segera menoleh kearah sang kakak yang seakan tidak percaya dengan apa yang tengah diucapkannya, seperti mimpi namun kenyataannya benar benar nyata.


Seyn pun ikut menoleh kearah Zayen, dan keduanya saling menatap satu sama lain. Dengan hati yang lapang, Zayen memeluk kakaknya. Begitu juga dengan Seyn yang juga ikut memeluk sang adik dan saling menepuk punggung, seolah saling memberi semangat.


"Aku pun meminta maaf, jika gara gara kehadiranku di keluarga Arganta membuat kak Seyn dan papa harus menerima masalah dari orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap Zayen sambil menatap serius sang kakak.

__ADS_1


"Terimakasih Zayen, kamu begitu sempurna untuk istrimu. Aku bangga memiliki seorang adik sebaik kamu, dan aku baru menyadarinya. Selama ini aku dan papa hanya haus kekuasaan, sampai sampai aku tidak mengenalmu lebih dekat. Aku menganggapmu hanya sebuah benalu yang harus disingkirkan, namun kamu juga menghasilkan. Bahkan kamu sendiri tidak menikmatinya, aku sadar sekarang." Jawab Seyn merasa malu dan juga merasa sangat bersalah atas perbuatannya terhadap sang adik.


"Sudahlah kak, lagian itu juga hasil dari perbuatan yang tidak baik. Semua yang kita miliki sudah tercium oleh pihak yang berwajib, tidak ada yang tersisa sedikitpun. Sekarang kita benar benar tidak lagi mempunyai apa apa selain perbuatan baik kita yang harus dipertahankan. Percayalah, setelah kita lepas dari tempat ini akan kita temui dunia baru kita." Ucap Zayen berusaha meyakinkan sang kakak.


"Benar yang kamu ucapkan, kita tidak mempunyai hak lagi dari hasil perbuatan buruk kita selama ini. Kita kembali miskin, dan tidak memiliki apapun yang bisa kita pertahankan selain perbuatan baik kita." Jawab Seyn sambil tersenyum dengan lega, tidak ada lagi beba kepada kakak beradik.


'Aku benar benar sangat beruntung, masih dipertemukan kembali dengan Zayen. Aku mengira bahwa Zayen tidak lagi berada dibalik jeruji ini, namun anggapanku salah. Dirinya tetap menerima hukuman sesuai hukuman yang berlaku, bahkan bisa dikatakan dari keluarga yang sangat kaya. Kenyataannya tanggung jawab yang telah diutamakan, sungguh aku merasa malu dengannya dan juga keluarga besarnya.' Batin Seyn penuh penyesalan.


'Akhirnya aku dapat melakukan rencanaku dengan baik, kak Seyn yang aku kira sulit untuk aku luluhkan. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan pikiran burukku ini, kak Seyn tengah mengakui kesalahannya. Semoga ini awal yang baik untukku melanjutkan rencanaku yang selanjutnya.' Batin Zayen penuh kelegaan, meski masih diambangi dengan rasa cemas jika pelakunya kembali menghasut Seyn.


Setelah keduanya meras cukup lega sesudah mengobrol dan saling meminta maaf, Seyn dan Zayen kembali istirahat.


"Rupanya kalian berdua kakak beradik, aku kira kalian berdua musuh. Jadi, kita tidak berani membantumu untuk duduk dilantai. Maafkan kami, kenalkan namaku Erwin dan ini disebelahku Seta." Ucapnya meminta maaf dan memperkenalkan diri.


"Iya, kita berdua kakak beradik. Namaku Zayen, dan ini kakakku namanya Seynan." Jawab Zayen sambil mengulurkan tangannya, begitu juga Seyn yang juga ikut berkenalan.


"Memangnya kalian berdua tidak saling menyapa dengan kak Seyn?" tanya Zayen penasaran. Bagaimana tidak penasaran, didalam satu ruangan tidak saling mengenal, pikirnya Zayen.

__ADS_1


"Kakak kamu banyak diam dan murung, setiap kita berdua mengajaknya mengobrol hanya tidak pernah meresponnya. Akhirnya kami hanya diam diaman." Jawabnya berusaha jujur.


__ADS_2