Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 14


__ADS_3

Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan, tidak terasa sudah sampai di lokasi yang dituju.


Tuan Tirta maupun yang lainnya kini segera turun dari mobil. Seketika, Zayen teringat masa lalunya. Masa lalu yang penuh perjuangan dan kesabaran dalam menghadapi sebuah masalah. Banyak pelajaran yang Zayen terima, hingga dirinya tidak akan mengulangi sebuah kesalahan yang sangat fatal.


Puk puk puk.


Sang ayah mertua tengah menepuk punggung menantunya.


"Apakah kamu mengingatnya kembali? kenangan yang penuh berarti, bukan?" tanya tuan Tirta pada menantunya.


Zayen yang merasa dikagetkan, ia segera menoleh kearah sebelahnya. Tepatnya, ayah mertua yang tengah berdiri disebelahnya.


"Iya Pa, Zayen teringat masa masa itu. Zayen janji, tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Begitu juga dengan paman Dana, semoga beliau tidak mengulanginya lagi." Jawab Zayen dengan santun.


"Semoga, Papa yakin itu. Setiap orang berhak untuk berubah dan meninggalkan hal buruk. Sekarang, ayo kita temui paman Dana didalam. Sambutlah dengan hangat, buanglah kebencian kamu padanya. Meski perbuatannya begitu keji dimasa itu, yang diwaktu itu telah memisahkan kamu dan keluargamu. Namun, pada akhirnya kebahagiaan telah kamu dapati." Ucap ayah mertua mengingatkan, Zayen pun mengangguk.


"Iya, Pa. Zayen sangat bersyukur, kebahagiaan telah Zayen dapatkan." Jawabnya.


"Ya sudah, ayo kita masuk." Ajak tuan Ganan, yang lainnya pun mengikutinya dari belakang.


Sesampainya didalam, semua menunggunya dengan tenang. Tidak menunggu lama, sosok yang sudah lama tidak bersenda gurau bersama, kini telah dipertemukan kembali dengan persahabatan, pertemanan, dan seperti saudara sendiri yang telah lama tidak pernah bertemu.


Langkah demi langkah, tuan Alfan maju mendekatinya. Tuan Dana hanya menatapnya lekat penuh sesal atas perbuatannya yang memakan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, tuan Alfan langsung memeluk tuan Dana dan menepuk punggungnya pelan.


"Maafkan aku yang tidak pernah mengerti akan perasaanmu diwaktu lampau." Ucap tuan Alfan meminta maaf, sedangkan tuan Dana segera melepaskannya dan bertatap muka dengan sosok laki laki sebaya nya dan tersenyum.


"Kamu tidak bersalah, dan kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Justru karena perbuatanku, kamu dan istrimu telah kehilangan kebahagiaan. Maafkan aku, karena kecerobohanku kamu dan istrimu harus berpisah begitu lama dengan putramu. Aku menyesalinya, dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku siap menerima hukuman darimu lagi, aku akan menerimanya." Jawab Tuan Dana penuh penyesalan dan merasa malu, tentunya.


"Aku ikut senang melihat dan mendengarnya, semoga kita akan tetap seperti ini untuk seterusnya." Ucap tuan Ganan ikut menimpali, tuan Tirta pun iku mendekatinya.


"Semoga, persahabatan tetap persahabatan. Apapun itu, kita akan terus menjaga hubungan persahabatan kita seterusnya." Ucap tuan Tirta yang juga ikut menimpalinya, tuan Dana tersenyum dan diikuti sahabatnya. Kemudian ketiganya memeluk serta merangkul tuan Dana layaknya anak muda.


Setelah itu, Zayen mendekati tuan Dana dan memeluknya. Lalu, tuan Dana melepaskan pelukan dari Zayen dan keduanya saling bertatap muka.


"Maafkan Paman, jika paman telah berbuat jahat padamu. Paman sudah memisahkan kamu dengan kedua orang tuamu dan juga pada keluarga kamu. Paman janji, paman tidak akan mengulanginya lagi." Ucap tuan Dana dengan tatapannya penuh penyesalan yang mendalam tatkala menatap wajah Zayen begitu lekat.


"Kamu Kazza, 'kan?"


"Iya Paman, aku Kazza. Saudara kembar istri Zayen, Afna. Putra dari keluarga Danuarta, Paman." Jawab Kazza, kemudian mendekati tuan Dana.


"Maafkan Paman juga, karena ulah Paman telah mengadu domba dan membuatmu membenci adik ipar kamu sendiri." Ucap tuan Dana yang juga merasa menyesalinya.


"Seperti yang dikatakan oleh Zayen, kita semua sudah memaafkan paman. Kita tetap menganggap paman adalah bagian dari keluarga kita, Danuarta dan Wilyam." Jawab Kazza dan memeluk tuan Dana, kemudian melepaskannya.


Setelah cukup lama mengobrol, kini saatnya untuk pembebasan tuan Dana. Kebahagiaan dan kebersamaan yang sempat tertunda, kini akhirnya telah didapatkannya. Meski semua itu tidak mudah untuk dilaluinya, namun pada kenyataannya berakhir dengan kebahagiaan dan kebersamaan yang pernah terpisah.

__ADS_1


Persahabatan, tidak perlu membenci dan menghakimi serta menjauhinya. Justru, jika kebencian terus disimpan di hati, maka tidak akan pernah selesai dengan perasaan dendam.


Namun berbeda dengan saling mendukung dalam kebaikan serta terus mendekatinya dan membuang rasa benci dan dendam serta egonya. Maka, persahabatan akan tetap terus berlanjut bahkan tetap seperti saudara sendiri.


Setelah dilakukan proses dengan benar, kini saatnya pembebasan tuan Dana untuk meninggalkan tempat yang dimana penuh cambuk untuknya bisa berubah dan dijadikan tempat penuh pembelajaran yang sangat berharga.


Selama dalam perjalanan pulang, keempatnya kembali serasa seperti anak muda. Melepas rindu yang sudah sekian lama tidak pernah dilewati bersama. Senda gurau yang tidak lepas dalam perjalanan, kekonyolan pun tidak sedang memandang usia. Ke empatnya benar benar nampak lega dan bahagia bersama.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tuan Dana diantarkannya pulang ke rumah. Tepatnya di rumah yang sudah dipersiapkan oleh keluarga Wilyam, rumah cukup besar serta beberapa pelayanan rumah untuk melayani kebutuhan tuan Dana hingga diujung usianya.


"Ganan, aku bisa mencari keluargaku. Biarkan aku mencari tempat tinggalku sendiri, aku tidak ingin merepotkan kamu." Ucap tuan Dana merasa tidak enak hati.


"Jangan khawatir, sembari tinggal di rumah ini. Aku akan membantumu untuk mencari bagian keluargamu. Aku akan membantumu untuk mengambil hak mu dan kepemilikan kamu. Untuk sementara ini, bersabarlah sambil menunggu. Aku akan kerahkan anak buah ku untuk mencari tahu semuanya tentang keluarga kamu." Jawab tuan Ganan mencoba meyakinkan sahabatnya itu.


"Terima kasih banyak sebelumnya, yang jelas aku masih mempunyai seorang keponakan. Hanya saja, aku tidak sempat melihatnya. Karena keburu aku mendekam dalam penjara." Ucapnya sedih dan merasa bersalah.


"Jangan khawatir, aku akan segera menyelidikinya. Tapi, aku tidak bisa janji untuk bisa menemukannya. Yang jelas, aku akan mencoba membantumu sebisaku." Jawab Ganan terus berusaha untuk meyakinkan sahabatnya.


"Paman jangan khawatir, Zayen akan ikut menbantunya. Semoga, semua yang diharapkan paman akan segera terpenuhi." Ucap Zayen ikut menimpali.


"Jangan khawatir, kita semua sudah kembali seperti dulu. Tidak ada lagi dendam, kebencian lagi. Kita kembali menjadi keluarga, meski dalam status persahabatan." Ucap tuan Tirta yang juga ikut menimpali.


Semua mengangguk dan tersenyum bersama, kebersamaan yang saling mendukung dan saling membantu.

__ADS_1


__ADS_2