
Kedua orang tua Zayen masih berada pada posisinya, begitu juga dengan Zayen sendiri yang tidak berubah pada posisinya bersama sang istri.
"Tidak penting siapa aku, karena hari ini juga aku akan melenyapkan wanita yang ada disampingmu itu!" Ucap laki laki tua yang berada didekat tuan Dana sambil menunjuk kearah sosok wanita anak semata wayang kakek Zio dengan tatapan ingin membunuh.
"Dan kamu Zeil, kamu tidak perlu khawatir dengan putrimu. Aku hanya ingin menjadikan putrimu untuk menjadi penggantimu." Ucap tuan Dana dengan senyum liciknya, tuan Alfan maupun Zayen benar benar semakin memuncak mendengarnya.
Sedangkan Zayen berpura pura membenarkan pakain istrinya bagian pundaknya, seraya membisikkan sesuatu pada Afna. Disaat itu juga, Afna mengangguk mengerti dengan apa yang sudah diperintahkan suaminya itu.
Dengan nekad, Zayen segera maju mendekati Adelyn. Ia sudah tidak sabar lagi ingin menyelamatkan saudara kembarnya itu. Sedangkan Afna langsung mendekati ibu mertuanya, berharap rencananya berhasil untuk menyelamatkan diri dari kebrutalan musuh keluarga suaminya.
"Stop! apa kamu itu tuli, hah! jangan maju kedepan. Sekali lagi kamu maju, maka sebuah peluru akan tembus di kepala adik kamu ini." Ucap tuan Dana mengancam sambil menempelkan ujung pistolnya tepat pada kepala Adelyn.
Sedangkan Adelyn sendiri tidak dapat memberontaknya, Adelyn benar benar tidak dapat berbuat apa apaun selain pasrah.
Afna segera menarik ibu mertuanya untuk mendekati sebuah lemari yang yang cukup besar dan berkode. Sang ibu mertua hanya bisa nurut dengan apa yang dilakukan oleh menantunya itu.
Tuan Alfan sendiri mendekati putranya, ia mengerti maksud dari menantunya yang tengah menarik istrinya.
"Lepaskan! putriku, Ordan!! apa perlu aku mengataimu seorang laki laki pengecut. Kamu beraninya hanya bermain dendam, otakmu benar benar sudah kotor dan menjijikkan cuih." ucap tuan Alfan yang sengaja memancing emosinya sambil meludah didepan tuan Dana.
__ADS_1
"Lihat lah ini, pelatuk ini akan aku lepaskan di kepala putrimu. Siap siap lah kalian akan menangis darah, dan kau! akan menyesal, Alfan!" Jawabnya sambil menekan pelatuk dengan tatapan yang sudah siap untuk membunuh. Tuan Dana dan seorang laki laki tua tengah tertawa lepas saat melihat tuan Alfan beserta anak dan istrinya penuh kekesalan, bahkan emosi yang semakin memuncak.
"Hentikan!! tuan Ciko Rajendra!" seru suara lelaki tua diambang itu, namun masih terdengar sangat jelas suaranya ditelinga. Tuan Dana maupun tuan Ciko segera menoleh kebelakang, pelatuk di pistol tuan Dana kiini tengah mengarah pada sosok laki laki tua, yang tidak lain pada kakek Zio yang tengah berdiri tidak jauh dari pandangan tuan Dana.
Prok! prok! prok! tuan Ciko yang juga tidak kalah tuanya seperti kakek Zio menepuk nepuk kedua tangannya, seraya apa yang sudah ditunggunya kini datang tepat waktu.
"Rupanya kamu mengetahui keberadaanku, tuan Zio. Dimana saudara laki laki kamu itu, apakah sedang memainkan temot kontrolnya?sayang sekali aku tidak takut. Semua ini ulah kamu, tuan Zio. Pernikahanku hancur gara gara kamu yang tengah memenjarakanku, dan kamu juga telah merebut calon istriku. Dan sekarang juga, aku akan membunuh kedua cucu kesayanganmu ini." Ucap tuan Ciko sambil menunjuk kearah Adelyn dengan ujung pistolnya pada posisi yang sedang terikat, kemudian tersenyum sinis sambil menunjukkan kebenciannya.
"Jika kamu ingin berbalas dendam, jangan kamu sakiti putriku. Apalagi cucuku, Aku tidak membiarkan kamu untuk menghancurkan keluargaku." Ucap kakek Zio penuh kekesalan.
Zayen maupun sang ayah yang mendengarnya pun sudah tidak sabar lagi ingin segera menghabisi lelaki bia*dab yang berada di depannya.
Tanpa pikir panjang, tuan Dana maupun tuan Ciko sudah siap untuk melepaskan pelatuk yang sudah tertekan pada salah satu jarinya. Keduanya mengerti, bahwa tuan Zio tidak datang dengan sendirinya. Di tambah lagi, semua memiliki anak buah masing masing. Sebelum polisi datang, tuan Dana dan tuan Ciko segera membalaskan dendamnya dengan cara melenyapkan yang bisa ditembaknya.
"Kau! harus mati juga, Zayen." Ucap tuan Ciko sambil menempelkan ujung pistolnya pada kening milik Zayen, dengan santai Zayen tersenyum didepan tuan Ciko.
"Lakukan jika kamu mampu melakukannya, aku tidak takut! lakukanlah." Jawab Zayen dengan senyum sinis.
Sedangkan tuan Alfan sendiri mendekati tuan Dana yang sedang mengarahkan pistolnya tepat pada ayah mertuanya.
__ADS_1
"Tembak aku, Ordan!" ucap tuan Alfan menantang dari belakang tuan Dana.
Disaat itu juga, tuan Dana kembali menolah kebelakang dan membalikkan badannya dan mendekatinya. Setelah itu, menempelkan ujung pistolnya tepat pada kening milik tuan Alfan. Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain saling menunjukkan kekesalannya. Namun berbeda dengan tuan Alfan, meski dengan tatapan penuh kekesalan. Sikapnya berusaha untuk tetap tenang dan tidak gegabah dalam bertindak.
"Bo*doh sekali kalian berdua, menyerahkan nyawa kalian padaku. Sedangkan anak perempuanmu dan istrimu belum tentu selamat dariku." Jawab tuan Dana, kemudian senyum sinis. Tuan Alfan maupun Zayen masih tetap tenang menghadapinya, sedikitpun tidak merasa gugup. Meski awalnya sedikit ragu dan bingung untuk menghadapi lawannya, dikarenakan sama sekali tidak memiliki senjata apapun pada keduanya. Hanya ilmu beladiri yang dimiliki tuan Alfan maupun putranya.
Sedangkan Afna dan ibu mertuanya masih berdiri ketakutan, keduanya sangat takut melihat dua laki laki yang sedang menyerahkan nyawanya pada orang orang bia*dab yang berada didepannya.
"Aku hitung sampai ketiga kalinya. Jika masih tidak ada jawaban dari kalian, maka akan aku lepaskan pelatuk ini dikepala kalian." Ucap tuan Dana dengan entengnya. Disaat itu juga, Afna dan ibu mertuanya saling berpegangan. Berharap, kejadian buruk cepat teratasi secepatnya. Afna benar benar tidak sanggup jika harus kehilangan suami yang sangat ia cintai, begitu juga dengan ibu mertuanya yang tidak sanggup harus kehilangan suami tercintanya.
"Satu!" ucap tuan Dana sangat keras.
"Dua!" Ucap tuan Ciko ikut menimpali dengan keras.
"Ti ----" ucap keduanya terhenti. Dengan sigap, Zayen maupun tuan Alfan langsung merebut pistolnya dan melintirkan tangan lawannya masing masing hingga ujung pistolnya kini mengarah pada bagian bawah dagu milik tuan Dana dan juga tuan Ciko.
Sedangkan Afna segera menekan tombolnya dengan terburu buru, ia memanfaatkan situasi saat semua anak buahnya ikut mengarahkan ujung pistolnya pada Zayen maupun tuan Alfan.
"Ma, ayo Ma. Kita pergi dari tempat ini, kita harus selamat." Ucap Afna dibarengi perasaan takut dan juga cemas, sang ibu mertua pun merasa tidak tega meninggalkan suami dan putranya.
__ADS_1
"Tidak, Afna. Mama tidak bisa meninggalkan Kedua anak Mama dan suami Mama." Jawab ibu mertua yang tidak bisa menuruti permintaan menantunya.
Mau tidak mau, Afna menarik paksa ibu mertuanya. Meski sangat berat menarik ibu mertuanya yang tetap bertahan didalam situasi yang sangat genting, Afna tetap memaksanya. Afna tidak perduli jika pada akhirnya sang ibu mertua akan membencinya, yang ada dalam pikirannya adalah pesan dari suaminya untuk menyelamatkan wanita yang sudah melahirkan suiminya.