Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Bersiap siap


__ADS_3

Di kediaman keluarga Gantara, Afna lebih banyak melamun dari pada melakukan aktivitas lainnya. Kazza yang masih merasa bersalah, segera ia menghampiri sang adik berusaha untuk menghiburnya.


"Afna, bolehkah kakak duduk didekatmu?" tanya Kazza yang masih berdiri didekat sang adik.


"Silahkan." Jawabnya sedikit ketus, Kazza pun tidak merasa kesal mendengarnya. Kazza menyadari, bahwa dirinyalah penyebabnya.


"Kamu masih marah dengan kakak?" tanyanya yang masih merasa jika sang adik terlihat masih kesal pada dirinya.


"Tidak, aku hanya merindukan suamiku saja." Jawabnya datar.


"Bagaimana kalau kakak antar untuk menemui suami kamu? sekaligus jemput Vella." Ucapnya.


Afna pun langsung menoleh kearah sang kakak, seakan mendapat perhatiannya.


"Benarkah? kakak mau mengantarku?" tanyanya.


"Benar, kakak tidak bohong. Sekalian, kakak mau jemput Vella untuk menjadi temanmu dirumah ini." Jawabnya sambil menatap serius adik kesayangannya.


Afna pun menyandarkan kepalanya diatas pundak milik sang kakak, berharap semua kegundahannya dapat terobati.


"Kakak akan berusaha untuk membantu suami kamu agar secepatnya kembali pulang, semoga di waktu dekat ini dapat terselesaikan semua masalahnya. Maafkan kakak yang sudah membuatmu terluka, kakak menyesal melakukan perbuatan bodoh kakak. Salah kakak yang tidak pernah mau percaya dengan prinsip papa, hingga semua harus mendapat imbasnya." Jawab Kazza yang masih penuh sesal akan perbuatannya.


"Sudahlah kak, semua sudah terjadi. Jadikan semua ini pelajaran yang berharga untuk kita, banyak ilmu yang harus kita petik dari semua kejadian yang telah kita lewati. Tanpa kita sadari kita merasakan bagaimana rasanya bertengkar, ternyata sangat menyakitkan." Ucap Afna sambil melihat bunga bunga yang bermekaran ditaman belakang.


"Ehem ehem, sudah baikan sepertinya. Nah, gitu dong ... kalian berdua itu harus kompak. Jangan seperti anak kecil yang berebut mainan, bertengkar tapi tidak mau saling terbuka." Ucap sang ibu mengagetkan.

__ADS_1


"Mama ..." ucap keduanya serempak memanggil.


"Mama sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kalian berdua, dan mama juga sudah menyiapkan untuk suami kamu. Hari ini Papa mau menemani kamu untuk menjenguk suami kamu. Mama yakin sama perasaan kamu, bahwa kamu pasti sudah merindukannya." Ucap ibunya dan tersenyum, berharap putrinya tidak larut dalam sedihnya.


"Afna mau pergi sama kak Kazza, Ma. Sekaligus mau menjemput Vella. Tidak apa apa, 'kan Ma?" jawab Afna berusaha untuk kuat.


"Vella? gadis yang pernah merawatmu?" tanya sang ibu menebak.


"Iya Ma, Kazza ingin mencarikan teman untuk Afna. Kazza berharap, Afna tidak lagi kesepian saat Zayen belum dibebaskan." Jawab Kazza menimpali.


"Hem ... sepertinya bukan itu saja sih menurut Mama, ada udangnya pasti ini ..." ledek sang ibu sambil mengedipkan matanya.


"Mama, apa apaan sih. Tidak lah, Kazza tidak pernah ada udang dibalik batu. Serius, karena Vella gadis periang dan mudah untuk berteman. Kazza rasa sangat cocok untuk menjadi teman Afna." Jawab Kazza membela diri.


"Ada udang dibalik batu juga tidak apa apa, Mama juga menyukai gadis itu. Sepertinya gadis itu memiliki pendirian yang sangat kuat, dan pantas untuk menjadi istrimu." Ucap sang ibu menggoda dan tersenyum, Kazza yang mendengarnya pun hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.


"Sudah, nanti kalian berdua terlambat. Sekarang kita sarapan pagi terlebih dahulu, setelah itu kalian berdua siap siap untuk berangkat." Ucap sang ibu untuk mengalihkan pembicaraannya kemudian segera masuk kedalam rumah dan diikuti kedua anaknya dari belakang.


Setelah sampai berada di ruang tamu, tiba tiba Afna teringat ketika mendapat perhatian penuh dari suaminya yang selalu memperlakukannya begitu tulus saat kakinya tidak dapat untuk berjalan dengan sempurna.


Saat melihat menu sarapan pagi, Afna kembali teringat hari hari yang telah dilewatinya bersama sang suami. Kini nafsu makannya pun seakan tidak ada selera untuk menikmatinya. Kedua orang tua Afna pun merasa sedih, benar benar tidak tega melihat putrinya kehilangan nafsu makannya.


"Afna, makanlah beberapa suapan. Kasihan yang ada didalam rahim kamu, pasti sangat membutuhkan asupan gizu dari kamu. Jangan lupa diminum vitaminannya dan juga susunya." Ucap sang ibu berusaha untuk mengingatkan, Afna hanya mengangguk pelan.


"Kakak suapin, ya? anggap saja suapan dari suami kamu." Ucap sang kakak memberi perhatian penuh untuk sang adik.

__ADS_1


"Kak Kazza tidak perlu repot repot untuk menyuapiku, aku masih bisa melakukannya sendiri." Jawab Afna menolaknya.


"Baiklah jika kamu tidak mau, tapi kakak mohon untuk dihabiskan porsi makannya. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu pada diri kamu dan juga janin yang ada didalam rahimmu." Ucap sang kakak yang juga ikut sedih melihat sang adik yang terlihat sangat sedih.


'Maafkan kakak, sebisa mingkin kakak akan melakukannya yang terbaik untuk kamu dan suami kamu.' Batin Zayen sambil menyuapi diri sendiri.


'Sayang, sampai kapan kita akan berpisah. Sungguh, aku sangat merindukanmu. Bagaimana jika hukumanmu tidak berkurang, apa aku sanggup melewati hari hariku bersama calon buah hati kita tanpamu. Aku benar benar tidak harus bagaimana, seakan hidupku gelap tanpamu. Apa yang aku makan tidak ada rasa apapun, hanya perhatianmu yang selalu terbayang dalam ingatanku.' Batin Afna sambil membolak balikkan makanannya.


Setelah sarapan pagi dirasa sudah selesai, Afna segera bangkit dari tempat duduknya. Begitu juga dengan Kazza dan kedua orang tuanya yang juga ikut meninggalkan ruang makan.


Sedangkan Afna kini tengah bersiap siap untuk menjenguk suaminya yang berada didalam sel tahanan. Afna menatap lekat wajahnya sendiri didepan cermin, ia teringat saat suaminya selalu mengganggunya disaat dirinya sedang menyisiri rambut panjangnya. Afna pun tiba tiba teringat dengan penampilan suaminya yang gondrong membuatnya merasa risih dan merasa enggan untuk didekati. Namun, sosok Zayen yang baru dikenalnya kini membuatnya semakin rindu.


"Aku tidak pernah menyangka, Kamu yang tidak aku suka bisa membuatku gila. Aku gila karena ketulusannya yang begitu besar rasa cintanya padaku." Ucapnya lirih didepan cermin.


Tok tok tok, suara Ketukan pintu tengah membuyarkan lamunannya. Afna pun segera membuka pintunya.


Ceklek, pintu pun terbuka oleh Afna. Terlihat jelas yang berada dihadapannya, sosok wanita yang pernah heboh karena ulah sang majikan.


"Mbak Yuni, ada apa?" tanya Afna.


"Nona sudah ditunggu Tuan muda di ruang tamu." Jawab Yuni sedikit malu, dirinya teringat akan kepolosannya. Afna yang memperhatikannya pun merasa heran dengan ekspresi wajah pembantunya.


"Mbak Yuni kenapa? sakit?" tanya Afna menebak.


"Tidak Nona, kalau begitu saya permisi." Jawabnya kemudian segera pergi meninggalkan Afna yang sedang berdiri diambang pintu.

__ADS_1


"Mbak Yuni sih kenapa, ya? tidak seperti biasanya. Ah! iya, aku sampai lupa. Waktu itu aku meninggalkan bekas yang memalukan, kode yang sangat keras tadi." Ucapnya lirih, kemudia meraih tas dan segera keluar dari kamarnya.


__ADS_2