Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Takut Jatuh


__ADS_3

Zayen yang masih berada di belakang Afna segera menyingkir, dirinya tidak ingin membuat Afna merasa diinterogasi.


"Tunggu." Afna menghentikan langkah kaki Zayen, dengan sigap Zayen langsung memutar badannya dan menghadap ke arah istrinya.


"Ada apa." Zayen segera memutar badannya dan menatap sang istri dengan serius.


"Aku tetap ingin bersama kamu." Dengan nafas berat Afna berusaha untuk tidak terlihat tertekan.


"Pikirkan, jangan karena permintaan kedua orang tuamu hingga membuatmu merasa tersiksa. Masih ada waktu untuk kamu berpikir, tidak perlu terburu buru. Untuk saat ini aku masih bisa menjaga kehormatan kamu, tidak tahu nantinya jika aku mendadak amnesia. Mungkin bisa saja aku akan memaksamu, sudahlah istirahat sana." Ucap Zayen dengan enteng, kemudian kembali ke kamarnya.


Sedangkan Afna merasa malu sendiri, seakan akan dirinya seperti telah mengatakan cinta dan di tolak mentah mentah.


Dengan pelan, Afna membenarkan posisi duduknya. Afna segera berdiri dengan alat bantu tongkat penyangga. Meski terasa berat, Afna berusaha untuk tidak selalu merepotkan sang suami.


"Aaaaaw!!!!" teriak Afna yang tiba tiba terjatuh karena kakinya terkilir. Zayen yang sedang berada di kamar mandi langsung menyambar handuknya dan melilitkan di pinggangnya. Kemudian dengan sigap langsung menuju sumber suara, dan dilihatnya Afna yang sudah terjatuh dilantai dan meringis kesakitan.


"Kenapa kamu ceroboh, seharusnya kamu minta tolong aku. Lihatlah, kaki kamu pasti sangat sakit. Ayo, aku gendong."


"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri." Afna beralasan, agar tidak merasa merepotkan sang suami.


"Yakin, kamu bisa?" tanyanya sambil meninggikan satu alisnya.


"Tidak." Jawabnya lirih, Zayen pun segera menggendong Afna. Saat berada digendongan sang suami, Afna melingkar kedua tangannya pada leher Zayen. Keduanya bertemu dalam satu pandangan, Zayen memperlambat langkahnya untuk menuju kamar. Zayen menikmati pemandangan yang begitu menggodanya, dengan cepat Zayen langsung menepis pikiran kotornya. Begitu juga dengan Afna langsung memejamkan kedua matanya dan Zayen segera membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur.


"Aku ingin bersandar." Pinta sang istri, Zayen pun menurutinya.


Zayen baru menyadarinya, jika dirinya hanya memakai lilitan handuk yang menempel pada bagian tubuhnya. Afna yang melihatnya merasa takut, jika sewaktu waktu sang suami langsung menerkamnya.


"Jangan bergerak kemana mana, tunggu aku. Karena aku belum selesai mandinya, cukup bersandar dan jangan biarkan kaki kamu pindah tempat." Perintahnya, kemudian segera bangkit dari tempat duduknya diatas tempat tidur. Zayen langsung menuju ke kamar mandi, karena merasa sudah sangat gerah dan terasa sangat lengket di badannya.


Afna masih menahan rasa sakit pada kakinya, dirinya benar benar tidak kuat menahannya. Afna berusaha bersikap tenang, agar sang suami tidak terlalu mengkhawatirkannya. Meski sangat beresiko untuk dirinya sendiri.


Setelah cukup lama melakukan ritual dikamar mandi, Zayen segera keluar. Dengan gaya rambut gondrongnya, Zayen masih terlihat tampan. Bahkan dengan brewoknya yang tipis, Afna pun terkesima saat melihat dada bidang suaminya dan tubuh kekar milik sang suami.


Zayen yang merasa di perhatikan oleh sang istri yang bisa tersenyum.


"Jangan melamun, tidak baik seorang wanita melamun di kamar yang hanya di huni satu laki laki dan satu perempuan." Ucap Zayen yang sudah berani meledek sang istri, Afna yang merasa tersindir sedang melamun pun segera menepis pikiran kotornya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin berkomentar tentang kamu, tapi itu tidak mungkin." Jawabnya sambil memegangi kakinya yang sakit akibat terkilir.


"Komentar saja, kenapa tidak mungkin. Kamu pikir aku ini sangat buas, sampsi sampai kamu takut."


"Bukan begitu, aku hanya....." ucapnya terhenti, Afna takut menyinggung perasaan sang suami.


"Hanya apa? katakan."


"Tidak jadi, maaf. Aaa!! sakit." tiba tiba Afna teriak kesakitan.


"Tahan, aku ambilkan minyak untuk mengurut kaki kamu."


"Jangan kamu lakukan, Dokter melarangnya."


"Kata siapa? aku belum memeriksanya, bisa saja sakit pada kaki kamu itu bukan karena keretakan pada tulang. Lihatlah, badan kamu saja semua sehat. Hanya pergelangan kaki yang kamu rasakan sakit, 'kan? jawab."


"Aku lupa saat kecelakaan menimpaku, karena saat itu aku seperti tidak sadarkan diri. Yang aku ingat saat aku mencoba keluar dari mobil, disaat itu aku terjatuh dan kakiku terasa sangat sakit. Hanya itu yang aku ingat, karena kepalaku sangat pusing saat itu."


'Bagaimana kamu mau ingat, kamu sendiri mabok.' Gumamnya.


"Sudahlah, kamu tidak perlu menceritakan masalah kamu saat kecelakaan itu. Sekarang ya sekarang, yang dulu biarlah berlalu." Ucap Zayen memperingatkan, sedangkan Afna hanya bisa diam sambil mengangguk.


"A!" Zayen melotot kearah kedua mata Afna saat istrinya ingin mengerang kesakitan. Zayen tidak ingin pertahannya akan lolos begitu saja.


"Diam!" bentak Zayen menakuti. Mungkin dengan cara bentakan akan membuat keduanya sama sama serius. Yang satu terlihat muka masam, dan yang satunya terlihat muka kesalnya.


"Sakit....!!!!" maaf." teriak Afna sekencang mungkin sambil mencengkram lengan suaminya sangat erat.


"Ini masih pelan, kenapa kamu sudah heboh. Bagaimana kalau aku menerkam kamu, apa kamu akan berteriak sekencang ini."


Afna yang mendengar ucapan dari suaminya semakin bergidik ngeri, ingin rasanya segera mengumpat di dalam selimut agar tidak mendengar ucapan dari suaminya.


Afna berusaha menahannya, sebisa mungkin untuk tidak berteriak. Zayen yang melihat ekspresi istrinya hanya tersenyum mengumpat.


Dengan telaten, Zayen terus mengurut kaki istrinya agar rasa nyeri pada kakinya sedikit berkurang.


"Awas loh, kalau sampai kamu salah mengurutku. Nanti bisa bisa kakiku menjadi bengkak karena ulah kamu." Ucap Afna menghakimi, Zayen yang mendengarkannya pun tidak perduli. Dirinya terus mengurut kaki istrinya. Afna yang merasa tidak direspon, hanya bisa diam dan memasang muka masamnya.

__ADS_1


"Sudah, besok kita lanjut lagi. Sekarang sudah sore, aku mau pergi keluar membeli makanan. Kamu cukup siapkan piring dan air minum, itu saja."


"Aku ikut, aku ingin makan di luar."


"Jangan protes, nanti telinga kamu tidak kuat mendengar cibiran cibiran dari orang orang diluar sana."


"Jika kamu tidak malu, aku pun tidak malu dengan kondisiku yang seperti ini."


"Jangan menyesal, jika telinga kamu menjadi panas."


"Iya, aku tidak akan menyesal. Kalau begitu, aku mandi dulu." Ucapnya.


"Baiklah, aku tunggu di luar sambil mengelap motor."


Zayen langsung keluar sambil membawa lap untuk membersihkan motornya yang terlihat kotor. Sedangkan Afna segera membersihkan dirinya, karena tubuhnya terasa sangat gerah dan rusih.


Lumayan cukup lama di dalam kamar mandi, Afna sendiri terburu buru dan segera keluar dari kamar mandi karena lupa mengunci pintunya. Dengan cepat, Afna segera memakai pakaiannya.


Setelah selesai bersiap siap, Afna segera keluar dari kamar. Afna takut, jika sang suami kelamaan menunggunya.


"Maaf, jika aku membuatmu lama menunggu." Ucapnya mengagetkan sang suami yang sedang memanaskan motornya.


Zayen segera membalikkan badannya kebelakang. Dilihatnya Afna istrinya yang terlihat sangat cantik dan juga anggun meski dengan penampilannya yang sederhana . Zayen yang menatapnya lumayan cukup lama, dirinya pun tidak mengedipkan kedua matanya.


"Aku sudah siap, kapan kita berangkat?" ucap Afna sambil melambaikan tangannya untuk membuyarkan lamunan sang suami. Zayen yang merasa terhipnotis pun kaget dibuatnya.


"Sudah siap? baiklah, kita berangkat sekarang."


"Bagaimana cara menaikinya? aku tidak bisa."


"Aku lupa, seharusnya aku tadi pinjam mobil milik Viko. Tapi ya sudahlah, aku akan bantu kamu untuk naik motor. Diam, dan jangan protes." Afnan hanya mengangguk, pikirannya pun terasa takut. Karena baru pertama kalinya Afna naik motor, ditambah lagi sekarang ini dengan kondisi yang sedang sakit.


Dengan pelan, Zayen mengangkat tubuh Afna untuk naik motor. Sedangkan Afna dengan erat berpegang pada lengan Zayen.


"Aku takut, kalau aku jatuh bagaimana? aku belum siap untuk mati."


"Kalau kamu jatuh, berarti kamu akan sembuh. Seperti di film film itu, jika lupa ingatan mama akan sembuh dengan kecelakaan yang kedua kalinya. Kalau kamu belum siap untuk mati, maka taati suami kamu. Agar kamu meninggalkan kebaikan kebaikan selama kamu hidup." Jawab Zayen dengan mudahnya.

__ADS_1


Afna yang mendengarnya pun hanya menelan salivanya dengan susah.


__ADS_2