Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Terasa sesak didada


__ADS_3

Setelah Gio dan Vella pulang, kini tinggal Kazza dan ibunya yang masih berdiri di ruang tamu.


"Mama yakin? Afna meminta jeruk yang masam?" tanya Kazza yang masih tidak percaya.


"Kenapa? kamu tidak percaya? ikut Mama ke kamar Afna. Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri, dan pastinya kamu tidak akan percaya melihat Afna begitu menyukainya." Jawab sang ibu.


"Bikin penasaran saja nih Mama, Kazza jadi tidak sabar ingin melihat ekspresi Afna makan jeruk masam." Ucap Kazza sambil tersenyum.


'Aku yakin, bahwa Afna pasti akan terasa sangat ngilu saat makan jeruk yang sangat masam.' Batin Kazza sambil membayangkan ekspresi Afna saat makan jeruk yang sangat masam.


"Sudah, jangan bengong. Ayo masuk ke kamar Afna, pasti sudah menunggunya dari tadi. Kasihan jika keinginannya tidak segera dikabulkan, nanti bayinya bisa ngiler seperti kamu dulu." Ucap sang ibu, kemudian segera menapaki anak tangga menuju kamar putrinya.


Tok tok tok tok.


"Afna, ini Mama." Panggilnya sambil ketuk ketuk pintu.


Ceklek, Afna membukanya. Dilihatnya sang ibu yang sedang menenteng plastik yang terlihat jelas buah jeruk, Afna langsung menyambarnya.


"Wah! jeruknya terlihat segar, siapa yang mendapatkannya? sepertinya sangat menggoda." Tanya Afna dengan wajahnya yang sumringah.


"Siapa dong kakaknya, Kazza ..." jawab Kazza dan senyum lebar.


"Hem! biasa saja gitu." Ucap Afna ketus.


"Sudah sudah ... kalian berdua ini, selalu saja bikin Mama gregetan. Afna, coba dicicipin buah jeruknya." Ucap sang ibu.


"Baik Ma, tapi ... selera Afna berbeda lagi, Ma." Jawab Afna dengan lesu.


"Apa? kamu tidak lagi kepingin buah jeruknya? yang benar saja kamu, Afna. Jangan bikin kakak kamu ini pusing tujuh keliling dong ... kasihan." Ucap Kazza dengan tatapan memohon.


Afna hanya tersenyum mendengarnya, berbagai cara sedang Afna pikirkan dengan baik. Berharap ada sesuatu yang membuatnya semakin tersenyum, bahkan sampai sulit untuk menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Kak Kazza tenang saja, Afna akan makan jeruknya. Semua tidak akan ada yang mubazir, kakak jangan khawatir." Jawab Afna dan tersenyum.


"Tapi, jangan banyak banyak makan buah betul yang masamnya. Mama tidak ingin nanti sakit perut, kasihan lambung kamu. Lagian juga sudah hampir larut malam, tidak baik. Cukup secukupnya saja yang kamu makan, jangan berlebihan." Ucap sang ibu menasehati.


"Iya Ma, tapi ..." jawab Afna tiba tiba terhenti untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi kenapa, sayang? apakah ada sesuatu yang kamu inginkan lagi? katakan." Tanya sang ibu penasaran.


"Kak Kazza, Afna mohon ... banget. Kak Kazza nuruti permintaan Afna, ya?" jawab Afna dan memohon pada sang kakak.


"Katakan saja, sebisa mungkin akan kakak penuhi permintaan kamu. Asal tidak disuruh manjat pohon saja, sungguh menakutkan."


"Yakin? kalau kakak mau mengabulkan permintaan Afna, nanti tidak tahunya kak Kazza bohong." Ucap Afna sedikit tidak bersemangat.


"Sangat yakin, dan kakak tidak bohong." Jawab Kazza meyakinkan, meski sebenarnya sedikit ragu. Afna sendiri tersenyum mengembang saat mendengar ucapan dari sang kakak.


"Nih, jeruknya buat kakak. Jangan lupa dimakan, Afna benar benar ingin melihat kak Kazza makan jeruk ini, jangan menolak." Pinta Afna sambil memberikan satu jeruk pada Kazza, dengan terpaksa Kazza menerimanya. Seketika itu juga, semua giginya terasa ngilu dan serasa tidak bisa menahan salivanya.


"Tenang saja, Afna juga makan buah jeruknya kok, kak. Lihat ini, sangat segar." Ucap Afna sambil mengupas buah jeruknya dan langsung memakannya tanpa ada rasa ngilu sedikitpun, Kazza maupun ibunya hanya ngilu sambil memegangi kedua pipinya masing masing dan meringis seperti beneran ikut merasakannya saat melihat Afna yang begitu menikmati buah jeruknya.


"Enak tau kak, serius. Cepetan di makan, kak Kazza pasti akan ketagihan. Percaya deh sama Afna, ayo cepetan dimakan." Ucap Afna, Kazza sendiri masih terasa ngilu pada giginya. Meski dirinya sama sekali belum mencicipinya, namun rasa masamnya terasa sudah menjalar di bagian semua giginya.


Tanpa pikir panjang, Afna lsngsung mengambil buah jeruk yang ada ditangan sangat kakak dan dikupasnya. Setelah itu, segera diberikannya kembali kepada sang kakak buah jeruknya.


"Cepetan dimakan, jangan lupa dihabiskan." Perintah Afna yang sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi sang kakak saat makan buah jeruk yang masam.


'Apes benar nasibku, tadi di kios buah yang nyicipin aku. Sekarang dirumah pun masih aku yang harus menyicipi buah jeruknya, sungguh menyiksaku." Batin Kazza sambil menahan rasa ngilu.


"Kazza, cepetan dimakan buah jeruknya. Sudah malang ini, kasihan adik kamu yang harus istirahat." Ucap sang ibu yang juga sudah merasa ngantuk.


"Tapi Ma, ini sangat masam. Mana bisa aku menghabiskannya, satu siung saja sudah sangat menyiksaku." Jawab Kazza yang tidak tahan menahan rasa ngilu pada giginya.

__ADS_1


"Cepetan sih kak, ayo dimakan buah jeruknya." Pinta Afna yang sudah tidak sabar ingin melihatnya.


Dengan terpaksa, Kazza makan buah jeruknya yang benar benar sangat masam. Disaat itu juga, Kazza meringis menahan rasa ngilu pada area semua giginya. Afna dan sang ibu pun tertawa lepas saat melihat ekspresi Kazza yang saat makan buah jeruk yang begitu masam, tanpa terasa sudah menghabiskan satu buah jeruk.


"Minggir," ucap Kazza dan meraih air minum yang ada didekat Afna. Lalu segera ia menghabiskan air minumnya untuk menghilangkan rasa ngilu pada giginya.


"Ampun deh, aku tidak akan lagi lagi memakannya. Jangan sampai permintaan istriku nanti sama sepertimu, sungguh aku tidak kuat menahannya." Ucap Kazza yang sudah menyerah.


"Sudahlah, sekarang sudah hampir larut malam. Sudah waktunya untuk istirahat, jangan banyak bergadang." Ucap sang ibu, kemudian segera keluar dan diikuti oleh putranya dari belakang.


Kini tinggal lah Afna sendirian didalam kamar tanpa seorang suami yang menemaninya untuk tidur, benar benar sangat kesepian tanpa adanya seseorang yang dicintainya. Sakit memanglah sakit, lalu mau bagaimana lagi, semuanya butuh kesebaran untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


Pelan pelan, Afna memejamkan kedua matanya agar bisa terlelap dari tidurnya. Karena lelah akan pikirannya, Afna pun tertidur pulas dan ditemani mimpi yang sangat ia rindukan.


"Afna!!" teriak seorang laki laki dan terbangun dari mimpinya.


"Zayen, kamu kenapa? apa kamu tengah mimpi buruk? katakan." Tanya Seyn yang juga terbangun karena teriakan dari adiknya.


Dengan nafasnya yang tersengal sengal, Zayen berusaha untuk mengatur pernafasannya agar jauh lebih tenang.


Zayen segera bersandar ditembok dan meluruskan kedua kakinya, berusaha untuk menenangkan pikirannya sendiri.


"Ada apa denganmu? apa ada sesuatu yang sedang kamu pendam? katakan saja. Sebisa mungkin aku akan membantumu mencari jalan keluar." Tanya sang kakak sambil mengusap punggung Zayen dengan pelan dan berulang ulang.


"Tidak ada, aku hanya merindukannya saja. Entah kenapa, dadaku terasa sesak saat mengingatnya. Jantungku terasa sulit untuk memompa, bahkan aku merasa tidak berdaya. Aku benar benar merasa sangat bersalah dengannya, dia pasti sangat kecewa melewati hari harinya tanpa ada aku yang memperhatikannya. Sungguh, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Jawab Zayen sambil menatap tembok yang ada didepan pandangan kedua matanya.


"Bersabarlah, kamu pasti bisa melewatinya. Semoga saja besok orang tua kamu datang, dan aku akan memintanya untuk melalukan rencana yang sudah pernah kita ceritakan." Ucap Seyn berusaha meyakinkan.


"Semoga, aku hanya bisa berharap. Aku pun sudah tidak sabar ingin bertemu istriku, aku sangat merindukannya." Jawab Zayen sambil mengatur pernapasannya.


"Masih gelap, ayo kita lanjutkan tidurnya kembali. Lumayan masih ada waktu untuk istirahat, jangan sia siakan waktu istirahat." Ajak Seyn, Zayen pun mengangguk dan kembali tidur pada posisinya yang semula.

__ADS_1


__ADS_2