Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Usaha yang tidak sia sia


__ADS_3

Afna masih terus berusaha menggerakkan pergelangan kakinya dengan pelan.


"Emmmmm" sambil menatap suaminya, Afna merasa bingung untuk memanggil suaminya. Sejak menikah Afna tidak pernah memanggil nama suaminya dengan sebutan spesial ataupun yang lainnya.


"Ada apa?"


"Emmm tidak ada apa apa, aku ingin belajar untuk berdiri. Meski hanya dua menit, aku ingin mencobanya."


'Sebenarnya bukan itu saja, aku hanya bingung untuk memanggilmu siapa. Tidak mungkin, jika aku tiba tiba aku memanggilmu dengan panggilan sayang. Dan tidak mungkin juga aku memanggilmu dengan sebutan nama, itu sangat tidak sopan. Jika aku memanggilmu sebutan suamiku, itu sangat rancu. Aaaah! kenapa aku menjadi dilema begini, padahal aku ingin memanggil suamiku dengan sebutan sayang. Seperti mama dan papa, sampai sekarang masih terlihat romantis. Tetapi aku .... tidak seperti yang aku bayangkan.


"Hei, sayang.... kenapa kamu bengong lagi. Kalau begitu, baiklah. Sebelumnya, apa kamu sudah yakin dan benar benar siap untuk belajar berdiri, jangan dipaksakan jika kaki kamu masih belum sanggup untuk berdiri." Entah ada angin apa, Zayen yang tiba tiba memanggil istrinya dengan sebutan sayang. Afna yang mendengarnya pun tercengang, seperti mimpi saat mendengar suaminya memanggil istrinya dengan panggilan sayang.


Puk! puk! berkali kali Afna menepuk nepuk kedua pipinya tanpa ia sadari sedang diperhatikan suaminya yang berada di depannya. Ibu Marna pun sedikit heran dengan Afna yang terlihat aneh, dan tentunya tidak seperti biasanya.


'Benarkah, suamiku ini memanggilku dengan sebutan sayang? sepertinya aku salah dengar deh. Tidak mungkin, laki laki aneh ini bukannya seperti bunglon. Dari sikapnya yang sering tidak jelas, membuatku bingung. Dan sekarang pun suamiku masih membuatku tidak mengerti akan maksud dari sikapnya dan pola pikir lainnya.' Gumam Afna yang masih berusaha untuk mencerna kata sayang yang tertuju pada dirinya.


"Sayang .... katanya ingin belajar berdiri, kenapa kamu masih saja bengong? hemmm ..." ucap Zayen berusaha menyadarkan istrinya yang terlihat banyak melamun.


"Maaf, aku tidak bermaksud cuek terhadap kamu."


"Tidak apa apa, sekarang aku akan membantu kamu untuk belajar berdiri."


"Terimakasih, sss ...." ucap Afna ragu dan malu tentunya.


"Ada apa? katakan saja, jangan malu. Nanti kamu akan rugi sendiri jika kamu malu malu begitu.


" Tidak ada apa apa, kok. Benera, aku tidak bohong.

__ADS_1


"Lalu, maksud kamu ssss ....itu, apa?"


"Tidak, itu sangat memalukan." Ujar Afna sedikit malu dan gugup.


"Maaf, Nona dan Tuan ... saya permisi, saya ingin pamit ke kamar mandi."


"Oooh, silahkan, Bu." Jawab Zayen sambil menunjuk kearah kamar mandi.


"Terimakasih, saya permisi." Ucap ibu Marna, kemudian menuju kamar mandi.


Sedangkan Afna masih bengong dan bingung tentunya. Ditambah lagi, dirinya tidak pernah menyebut ucapan sayang dengan orang yang dicintainya sekalipun.


"Apa yang kamu maksud dengan sangat memalukan. Sudah mulai pakai rahasia rahasiaan rupanya, baiklah." Ucap Zayen kemudian mengalihkan pemandangannya ke lain arah.


Mau tidak mau, Afna berusaha untuk berkata jujur. Meski kenyataannya sangat memalukan, Afna tetap berusaha untuk tenang.


"Maksud aku, eemmmm aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? aku bingung." Jawab Afna dengan reflek, kemudian menutup kedua matanya dengan telapak tangannya untuk menyembunyikan rasa malunya yang tidak melihat situasi.


"Lepaskan telapak tangan kamu, dan lihatlah aku." Ucap Zayen yang kini sudah berada dihadapan istrinya dengan jarak yang begitu dekat.


Dengan gugup, Afna mencoba membuka telapak tangannya yang tengah menutupi kedua matanya.


Kini, keduanya saling memandang. Detak jantung milik Afna kembali berdetak kencang, bibirnya pun kelu untuk berucap.


"Kenapa kamu bingung untuk memanggilku, aku tidak pernah melarangmu untuk memanggilku dengan sebutan yang kamu bisa. Asalkan itu sopan, bagiku tidak bermasalah." Ucap Zayen kembali dengan serius manatap istrinya.


"Aku hanya bingung dengan kamu yang memanggilku dengan sebutan sayang, maksud kamu memanggilku dengan sebutan sayang itu apa? aku masih belum mengerti." Jawab Afna dengan polos.

__ADS_1


"Kamu bingung soal aku memanggilmu dengan panggilan sayang?"


"Iya, aku bingung mencernanya. Bahkan kamu tidak pernah mengatakan cinta kepadaku."


"Kamu ingat ingat kembali dengan waktu yang sudah kita lewati berdua, ingat! berdua."


Afna masih belum juga mengerti, dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Afna berusaha untuk mencernanya, namun tidak dapat ia temukan.


"Sudahlah, jangan dipaksa untuk mengingatnya. Nanti kamu juga akan ingat sendiri, sekarang lebih baik kamu fokus untuk belajar berdiri. Jika kamu sudah mampu berdiri, maka mulai belajar untuk berjalan."


"Baiklah, bantu aku untuk berdiri." Pinta Afna sambil memegangi lengan suaminya untuk dijadikan pegangan saat dirinya mencoba untuk berdiri. Zayen pun membantunya untuk berdiri tanpa menggunakan tongkat penyangga.


Tanpa diduganya, Afna benar benar dapat berdiri dengan baik.


"Benarkah? aku benar benar bisa berdiri. Sayang! aku bisa berdiri." Ucap Afna dengan semangat, namun tiba tiba reflek dengan menyebut kata sayang untuk memanggil suaminya. Zayen tersenyum mengembang, Afna berubah menjadi kikuk dengan ucapannya sendiri. Sedangkan ibu Marna yang baru keluar dari kamar mandi pun tersenyum melihat situasi yang begitu romantis, meski dengan sikap keduanya yang terbilang malu malu.


"Maaf, aku keceplosan." Ucap Afna dengan malu, Zayen hanya tersenyum mendengarnya.


"Tidak apa apa jika keceplosan, bila perlu sesering mungkin. Jika tiap waktu, tiap memanggilku juga boleh. Aku tidak melarangnya, justru aku akan senang." Jawab Zayen dengan santai.


"Wah .... rupanya Nona benar benar sudah bisa berdiri, syukurlah. Ibu ikut senang melihatnya, sekarang Nona mencobanya untuk berjalan satu langkah satu langkah. Namun, jika belum siap jangan dipaksakan." Ucap ibu Marna mengagetkan.


"Akan saya coba, Bu ... semoga berhasil. Dan saya dapat berjalan dengan baik seperti dulu, saya akan memulai melangkahkan kaki untuk berjalan." Jawab Afna penuh semangat, Zayen pun masih berjaga jaga jika sewaktu waktu Afna terjatuh.


Dengan pelan, Afna mencoba untuk melangkahkan kakinya. Afna berusaha menjaga keseimbangannya, agar tidak terjatuh begitu saja.


Langkah demi langkah, Afna berhasil mencapai lima langkah. Wajah sumringah telah terpancar pada kedua sudut bibirnya. Afna kembali membalikkan badannya untuk mendekati suaminya.

__ADS_1


"Lihat aku, sekarang aku sudah bisa jalan, dan aku tidak lagi merasakan sakit maupun nyeri lagi pada kakiku ini. Lihatlah kakiku ini, sekarang kedua kakiku benar benar sudah bisa menopang badanku." Ucap Afna terlihat dengan penuh senyum mengembang saat dirinya kini sudah bisa berjalan lagi.


Dengan reflek, Afna memeluk suaminya dengan erat. Tanpa diminta, Afna menitikan air matanya semakin deras dan menangis sesunggukan. Dirinya tidak pernah menyangka, jika sakit pada kakinya akan sembuh dengan waktu yang begitu cepat.


__ADS_2