Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Dikagetkan


__ADS_3

Afna masih diam, lagi lagi dirinya takut akan salah ucap yang kedua kalinya. Zayen yang melihat ekspresi istrinya hanya tersenyum mengumpat.


"Sini, aku pijat kaki kamu yang satunya. Aku yakin, kamu pasti sangat capek." Ucapnya sambil meraih kaki kanan milik istrinya.


"Tidak perlu." Jawab Afna sambil menepis tangan suaminya yang ingin meraih kaki kanannya.


"Kenapa, aku bukan tukang pijat plus plus. Tidak perlu kamu berpikiran kotor, pikiran kamu terlalu jauh.


"Bukan itu maksudku, aku hanya tidak ingin merepotkan kamu saja."


"Aku tidak merasa di repotkan, kalau tidak mau itu hak kamu."


"Selimuti badan kamu, AC kamarku mati. Aku lupa untuk membenarkannya, malam ini di dalam kamar bisa jadi panas dan bisa jadi sangat dingin."


"Kenapa bisa begitu, seharusnya panas. Tidak mungkin bisa dingin tanpa AC."


"Sudahlah, ayo kita tidur." Ajaknya sambil menyelimuti sebagian tubuhnya.


Afna hanya mengangguk, dirinya benar benar takut jika suaminya tidak dapat dikendalikan. Apa lagi dirinya dalam posisi di rumah orang tuanya, pastinya memiliki kebebasan.


Sedangkan Zayen sudah memposisikan tidurnya sambil menyilangkan kedua tangannya pada dada bidangnya. Afna sendiri masih bingung untuk memposisikan tidurnya, ingin membelakangi suaminya takut tidak sopan.


Akhirnya, Afna mengikuti posisi tidur suaminya. Yang sama sama menatap langit langit, agar dirinya tidak membelakangi suaminya.


Dilihatnya sang suami yang sudah tertidur pulas, Afna segera memejamkan kedua matanya agar dapat tidur dengan pulas. Setelah cukup lama memejamkan kedua tangannya, Afna tertidur dengan pulasnya.


Berbeda dengan Zayen, suaminya Afna justru terbangun dari tidurnya. Dilihatnya wajah polos milik istrinya yang tetap terlihat cantik, Zayen memandanginya begitu lekat. Seakan ada getaran dalam tubuhnya, seraya dirinya susah untuk mengendalikannya.


Dengan pelan, Zayen mendekati wajah cantik istrinya yang terlihat polos. Dengan lembut, Zayen mengecup kening milik istrinya.

__ADS_1


'Ah, kenapa aku menciumnya. Seharusnya aku tidak menciumnya, apa aku sedang tertarik dengannya? aku rasa aku sedang gil*a.' Gumamnya, kemudian segera menyelimuti tubuhnya dan kembali tidur.


Di teras rumah, terdengar suara gaduh yang sangat jelas dan mengganggu pendengaran Zayen. Dengn sigap, Zayen langsung bangkit dari tempat tidurnya. Karena posisi kamarnya yang tidak jauh dari teras rumah, membuatnya merasa terganggu dalam tidurnya.


"Hei!! cepat! kamu panggilkan Zayen sekarang juga" ucap Seyn tanpa kesadarannya.


"Tuan Zayen sedang istirahat, tuan. Tidak mungkin saya memanggilnya.


"Se ... ka ... rang, aku lah yang ber .. hak mengatur. Cepat! panggilkan Zayen!! apa perlu, aku melayangkan peluru ini ke otak kalian. Hah!" Bentaknya dengan ancaman sambil memposisikan tembakannya.


"Stop!! pergi kalian semua." Perintah Zayen kesemua penjaga rumah, dirinya tidak ingin menjadi sasaran empuk dari sang kakak.


"Akhirnya, kamu bangun juga Zayen. Aku kira kamu butuh dobrakan pintu, karena kamu sedang asyik menikmati malammu bersama istrimu."


Zayen yang mendengarnya pun terasa geram, tatkala sang kakak membicarakan ranjangnya.


"Sekarang, aku minta sama kamu untuk melakukan perintahku yang sudah pernah aku katakan kepada kamu. Jika kamu tidak melakukannya, jangan salahkan aku jika peluru yang ada pada pistol ku ini akan melayang ke arah istrimu itu."


Dengan tersenyum sinis, Zayen masih menatap pistol yang berada ditangan Seyn yang sedang diselimuti emosi. Entah apa permasalahannya, Seyn begitu benci melihat sang adik. Seyn selalu ingin menghancurkan kehidupannya Zayen, apapun alasannya.


"Aku tidak mungkin melakukannya, aku tidak akan bisa untuk menghancurkan keluarga Danuarta."


"Untuk apa kak Seyn memintaku untuk menghancurkan keluarga Danuarta, bukankah kehidupan kak Seyn sudah cukup sempurna."


Dengan cepat, Seyn mendekati Zayen. Tanpa pikir panjang, Seyn langsung mencengkram lingkar leher pada bajunya Zayen sambil menempelkan ujung pistolnya pada bawah dagu milik sang adik. Sedangkan Zayen sendiri susah untuk bernafas akibat ulah dari sang kakaknya sendiri.


"Lepaskan! aku tidak mungkin melakukannya." Jawab Zayen sambil menahan cengkraman dari sang kakak.


DOR!! peluru pun melayang, semua yang ada di dalam rumah dibuatnya kaget dan terbangun dari tidurnya masing masing. Semua segera bergegas untuk keluar mencari sumber suara pistol yang sudah dihempaskan pelurunya.

__ADS_1


"Tidak ...... Afna berteriak sekencang mungkin, dirinya terbangun hingga dengan posisi duduknya. Jantungnya berdetak tidak karuan, nafasnya terasa panas. Pikiran buruknya pun kini tengah menghantuinya, Afna gemetaran saat mendengarkan suara pistol yang begitu nyaring dan menyakiti pendengarannya.


"Suamiku, dimana suamiku." Gerutu Afna sambil mencari keberadaan suaminya itu. Dengan sigap, Afna langsung menyambar tongkat penyangganya. Dirinya segera bangkit dari tempat tidurnya, dirinya khawatir akan suaminya dalam bahaya.


"Bagaimana ini, aku tidak bisa menuruni anak tangga. Aaah iya, aku lemparkan saja tongkat ini ke bawah. Aku harus mengetahui semuanya, aku tidak ingin terlambat sedikitpun." Gerutu Afna sambil mencari ide karena mengkhawatirkan suaminya.


"Kamu sudah gil*a! hah!" bentak Zayen yang mendapati istrinya membuang tongkat penyangganya.


Afna yang mendapat bentakan dari suaminya pun langsung tubuhnya gemetaran, wajahnya berubah menjadi pucat seketika.


"Urus suami kamu ini, dia sengaja aku pukul tengkuk lehernya. Sebentar lagi juga akan siuman." Perintah Zayen pada Reina yang sudah berdiri di bawah tangga.


Reina hanya nurut dengan apa yang diperintahkan oleh Zayen, kemudian Reina mengekori anak buah tuan Arganta yang sedang memapah Seyn menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar, dengan kesal Reina mengurus suaminya yang pingsan. Dan terpaksa Reina segera mengompresnya, berharap suaminya cepat sadarkan diri.


Sedangkan Zayen segera mengambil kedua tongkat penyangga milik istrinya.


"Zayen." seru sang ayah menghentikan langkahnya yang hendak menapaki anak tangga. Dengan cepat, Zayen langsung menoleh kebelakang. Dilihatnya sang ayah yang sudah berdiri tidak jauh darinya.


"Ada apa, Pa?" tanya Zayen seakan tidak ada masalah.


"Ada masalah apa kamu dengan Seyn. Kenapa ada suara tembakan disekitar rumah? katakan." Tanya sang ayah kembali, tanpa menyadari Afna masih berada diatas sambil menatap kebawah.


"Biasa, Pa. Seperti yang papa inginkan, apa lagi kalau bukan memaksaku." Sindir Zayen, sedangkan tuan Arganta tidak berani menjawab. Ditambah lagi baru menyadari ada menantunya di atas tangga.


"Papa tidak perlu khawatir, kak Seyn tidak cidera. Hanya pingsan, sebentar lagi juga siuman." Ujar Zayen, kemudian langsung menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Sedangkan tuan Arganta kembali ke kamarnya, beliau tidak mungkin mengajak putranya untuk bertengkar didepan menantunya. Bisa bisa apa yang direncanakan akan terbongkar, dan pastinya akan gagal rencana yang sudah direncanakan bersama temannya sejak Zayen tinggal bersamanya. Zayen ibarat musuh didalam naungan tuan Arganta, tanpa Zayen sadari. Zayen sendiri hanya menganggap dirinya dijadikan sebagai kambing hitam demi mendapatkan kekayaan.

__ADS_1


__ADS_2