Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Was was


__ADS_3

Afna pun mengangguk, meski sebenarnya takut jika tengah malam harus sendirian dirumah. Mau tidak mau, Afna harus mengalah demi suaminya untuk bekerja. Meski Afna sendiri menaruh kecurigaan yang begitu besar, tetapi Afna berusaha untuk berprasangka baik kepada suaminya.


Afna tidak ingin hanya menebak dan langsung menuduhnya, pasti akan membuat suaminya memjadi murka. Iya, jika tebakannya benar. Kalau salah, akan membuatnya semakin murka. Mau tidak mau, Afna menuruti permintaan suaminya sendiri.


"Sekarang, pakailah pakaian kamu. Aku mau membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu aku akan segera berangkat." Ucap Zayen, kemudian ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Zayen segera mengenakan pakaiannya. Kemudian, Zayen menyambar Jaketnya. Sedangkan Afna lebih memilih untuk membersihkan diri dirumah.


Setelah merasa sudah cukup rapi, Afna dan Zayen segera pulang. Zayen pun teringat, jika dirinya harus menggendong istrinya seperti sebelumnya. Zayen tidak ingin, setelah istrinya sembuh akan banyak laki laki yang menggodanya. Ditambah lagi dengan Seyn, yang kapan saja bisa merebutnya kembali.


"Sudah siap? awas, nanti masih ada yang lupa dan tertinggal." Tanya Zayen sambil mengenakan jaketnya.


"Tidak ada, aku rasa sudah benar benar tidak ada yang tertinggal." Ujarnya sambil mencoba mengingat ingat, takut jika ada yang tertinggal.


"Baiklah kalau memang tidak ada yang tertinggal, aku akan menggendongmu kembali.


"Kamu yakin, nanti kamu keberatan bagaimana?"


"Tenang, aku ringan jika harus menggendongmu." Jawab Zayen langsung mengangkat istrinya dan menggendongnya, Afna kembali melingkarkan tangannya.


Keduanya kini memperlihatkan kemesraannya kepada orang orang tengah memperhatikannya. Zayen tetap dengan santai, tanpa ada rasa canggung maupun malu. Banyak sekali orang yang tengah membicarakannya, semua tertuju pada hal yang positif dari pada yang negatif.


"Sayang, disini aku tidak mendengar cibiran pedas dari mulut mereka mereka. Tidak seperti saat beli ayam geprek atau ayam bakar, mulutnya pedas pedas seperti sambalnya ibu penjual ayam bakar maupun ayam geprek." Ucapnya sambil berpikir penuh kegeraman.


"Karena disetiap sudut ada rekaman CCTV nya, itu lihat di setiap tempat ada si mata mata." Jawab Zayen sambil menunjukkan beberapa CCTV yang dilihatnya dengan mengerucutkan bibirnya. Tidak mungkin, Zayen menunjuk dengan jari telunjuknya. Posisinya saja masih menggendong istrinya, hingga membuat Zayen susah menunjuk dengan telunjuk jarinya.


"Oooh! pantes, aku kira."


"Sudah, jangan banyak bicara. Semakin banyak bicara semakin berat timbangan kamu." Ujar Zayen sambil meledek, Afna sendiri hanya tersenyum malu.


Tidak lama kemudian, Afna dan Zayen telah sampai di parkiran.


"Pak, tolong bantu saya ambilkan motor saya di sebelah sana dengan motor xxx." Ucap Zayen meminta pertolongan.


"Baik Nak, tunggu sebentar." Jawab tukang parkir yang usianya lumayan sudah cukup tua.

__ADS_1


Setelah motornya sudah berada didepannya, Zayen pun meminta tolong kembali kepada bapak tukang parkir tersebut.


"Pak, bisa minta tolong lagi, tidak?"


"Ooh iya, katakan saja."


"Tolong pegang motornya sebentar ya, Pak. Karena istri saya sedang tidak bisa menaikinya sendiri."


"Ooh, tentu saja bisa. Mari, nak .... saya pegang motornya."


"Baik Pak, terimakasih."


Zayen pun segera menurunkan istrinya diatas jok motor dengan pelan, setelah itu Zayen merogoh saku celanya mengambil dompet. Zayen mengambil beberapa lembar kertas untuk membayar parkir dan jasa meminta tolong.


"Ini, Pak. Sisanya untuk bapak, dan semoga cukup untuk bapak. Saya minta jangan menolaknya, jika bapak menolak mana saya akan bersedih."


"Tapi, Nak .... ini terlalu banyak. Saya ambil satu lembar saja, ini sudah Lebih dari cukup."


"Tidak, Pak. Bukankah dirumah ada anak istri Bapak, jadi berbagilah kepada mereka." Ucap Zayen meyakinkan, bapak tersebut akhirnya menerima pemberian dari Zayen.


"Terimakasih atas doanya, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang." Ucapnya berpamitan dan tersenyum, bapak tukang parkir pun membalas senyuman dari Zayen. Kemudian, Zayen langsung mengendarai motornya.


Didalam perjalanan, Zayen nampak gelisah. Tatkala teringat pesan dari Viko, ingin rasanya melajukan kecepatannya lebih tinggi. Namun, Zayen tidak berani melakukannya. Diingatnya sang istri yang kini sedang diboncengnya, membuat Zayen lebih memilih bersikap biasa dan terlihat tenang.


"Kita mau beli makanan dimana?" tanya Afna membuka suara didekat telinga suaminya sambil menyandarkan kepalanya di punggung


suaminya.


"Oh! iya, aku sampai lupa." Jawab Zayen, kemudian dirinya celingukan mencari warung makan yang masih buka dipinggir jalan.


Setelah beberapa kali celingukan, Zayen melihat ada sebuah warung makan yang masih buka. Zayen langsung membelokkan setang motornya.


Setelah sampai didepan warung, Zayen mencoba melambaikan tangan pada salah satu karyawan yang ada didalam warung. Karyawan tersebut pun langsung keluar, karena mengerti akan maksud lambaian tangan dari Zayen.

__ADS_1


"Ada apa ya, Mas?" tanyanya dengan ramah."


"Bungkuskan dua porsi ayam bakar dengan lengkap, saya tunggu disini."


"Baik, Mas. Ditunggu ya, Mas ..." jawabnya, Zayen pun mengangguk. Kemudian karyawan tersebut kembali masuk kedalam.


"Kenapa kamu tidak masuk saja, aku bisa menunggumu disini."


"Tidak, aku tidak suka membiarkanmu seorang diri. Dimanapun, terkecuali dirumah. Itu pun aku terpaksa, karena pekerjaanku yang tidak bisa aku tinggalkan."


"Iya, aku mengerti. Aku akan belajar dari kamu, belajar arti sabar dan menerima dengan lapang."


"Terimakasih, kamu sudah mau menjadi bagian hidupku ini." Jawab Zayen merasa belum pantas untuk menjadi suami Afna yang baik.


Tidak lama kemudian, ayam bakar yang dipesankan kini sudah berada di tangan karyawan tersebut.


"Ini, Mas. Ayam bakarnya, semoga suka."


"Terimakasih, berapa semuanya?"


"Cuman 60 ribu saja, Mas." Jawabnya.


"Oooh! iya, ini uangnya. Kembaliannya untuk kamu yang sudah menjadi jasa mengantarkan sampai didepan warung."


"Tapi mas, saya dilarang menerima kembalian dari seseorang."


"Ambil saja, suamiku tidak ada niat buruk dengan kamu. Percayalah, jangan takut." Ucap Afna menimpali mencoba untuk meyakinkan.


"Baik Mas, kalau begitu. Terimakasih banyak ya, Mas. Semoga masnya dimurahkan rizkinya dan dijauhkan dari mara bahaya." Jawabnya dan tersenyum.


Setelah membeli ayam bakar, Zayen kembali melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Afna sudah tidak lagi ketakutan, justru dirinya mempeerat pelukannya mesra. Zayen hanya senyum senyum sendiri tidak jelas, senyum bahagia kini Zayen rasakan. Dan tidak lagi ada rasa canggung atau malu malu.


Tidak lama kemudian, Zayen dan Afna telah sampai didepan halaman rumahnya. Dan dilihatnya sebuah mobil yang sudah markir di halaman rumahnya, Zayen kembali gelisah.

__ADS_1


Zayen segera menurunkan istrinya dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.


"Bos! kemana saja dari tadi. Aku coba menghubungi, tetapi tidak aktif. Aku kirim pesan hanya dibaca, ini sangat genting Bos!! malam ini kita harus berangkat." Ucap Viko yang lupa akan keberadaan istrinya Zayen, sedangkan Zayen hanya menatapnya dengan tajam. Seakan memberi ancaman yang mematikan, Viko yang merasa ditatapnya hanya menelan salivanya.


__ADS_2