
Sang ibu masih dengan lamunannya, tatkala melihat keharmonisan hubungan putranya dengan menantunya.
"Kita tidak lagi muda, sekarang anak anak kita lah yang akan menjadi penerus kita." Ucap tuan Alfan sambil melihat putranya yang sedang menuruni anak tangga sambil menggandeng tangan milik menantunya.
"Iya sayang, benar adanya yang kamu katakan. Sekarang kita sudah tidak lagi muda, anak ana kita sudah tumbuh dewasa. Bahkan, sebentar lagi kita akan segera memiliki cucu. Lihatlah, mereka berdua benar benar sangat serasi. Yang satu cantik, dan yang satunya tampan." Jawab istrinya dan tersenyum bahagia.
"Mama, Papa, sudah siap?" tanya Zayen mengagetkan kedua orang tuanya.
"Eh ... kalian sudah turun rupanya, Mama dan Papa sudah siap. Sudah tidak ada yang tertinggal, 'kan? coba diingat kembali. Siapa tahu saja ada yang lupa, dan ada sesuatu yang tertinggal untuk kalian bawa." Jawab sang ibu mengingatkan.
"Tidak ada kok, Ma. Kita berdua sudah siap untuk berangkat."
"Baiklah, jika memang benar benar sudah siap. Kalau begitu kita langsung berangkat, takut nanti pulangnya kesorean. Karena nanti malam kita akan kumpul bersama di kediaman keluarga Wilyam." Ucap sang ibu, Zayen pun mengangguk.
Setelah merasa tidak ada sesuatu yang tertinggal, Kedua orang tua Zayen maupun Zayen dan istrinya segera pergi untuk mendatangi rumah orangtua asuh Zayen.
Didalam perjalanan, Zayen masih terus melamun sambil memegangi tangan milik istrinya. Dirinya kembali teringat akan kenangan di kediaman rumah orang tua asuhnya, ia mengingat saat dirinya diperlakukan begitu buruk oleh ibu asuhnya.
"Sayang, jangan banyak melamun." Ucap Afna mengagetkan suaminya, Zayen pun segera menoleh ke samping dan tersenyum.
"Tenang, aku baik baik saja meski banyak melamun." Jawabnya santai.
"Hem ... iya deh, aku percaya." Ucap Afna dan bersandar di pundak suaminya.
Setelah menempuh jarak yang cukup lama, Afna dan Zayen maupun kedua orang tuanya telah sampai didepan rumah yang pernah Zayen tempati bersama orang tua asuhnya dan kakak laki laki. Tidak lama kemudian langsung melepas sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil.
__ADS_1
Zayen maupun Afna dan kedua orang tuanya kini menatap bangunan yang cukup mewah dipandang, Dan kini telah menjadi kenangan tentang perjalanan hidup Zayen dari bayi hingga tumbuh besar.
"Nak, ini kuncinya." Ucap sang ayah sambil menyerahkan kunci rumahnya.
"Terimakasih, Pa. Kalau begitu, ayo kita masuk." Jawab Zayen, kemudian menggandeng istrinya untuk masuk kedalam.
Dengan perasaan yang berkecamuk, Zayen berusaha untuk tenang saat akan memasuki rumah yang menurutnya penuh misteri dalam kehidupannya.
Ceklek. Zayen membuka pintunya dan segera masuk kedalam dengan posisi masih menggandeng istrinya, kedua orang tuanya pun mengikuti dari belakang.
Diruang tamu tepatnya, Zayen celingukan disetiap sudut ruangan. Sesekali mengamatinya, takut jika ada sesuatu yang penting terlewatkan. Selama tinggal dirumah orang tua asuh, Zayen tidak begitu perduli dengan kondisi rumah milik orang tua asuhnya.
"Zayen, di ruang mana dulu yang akan kita periksa. Apakah ada yang ruangan khusus? katakan." Tanya sang ayah yang semakin penasaran dengan isi rumah milik orang tua asuh putranya itu.
"Tidak ada ruangan khusus untuk Papa, ada pun hanya untuk menyimpan barang barang ilegal yang dijadikan barang dagangannya." Jawab Zayen dengan apa yang ia ketahui.
"Iya Nak, Mama setuju dengan apa yang dikatakan Papa kamu. Sepertinya di dalam kamar milik Papa asuhmu ada banyak jawaban tentang kamu." Ucap sang ibu ikut menimpali.
"Baiklah kalau begitu, Zayen akan mengajak Mama dan Papa untuk masuk ke kamar Papa." Jawab Zayen meyakinkan.
"Nah, kan ... aku tidak dijak untuk masuk." Ucap Afna yang mulai sensitif.
"Hem ... apa kamu lupa, bahwa tangan kamu saja masih aku pegang erat. Mana mungkin aku akan melepaskan kamu sendirian di ruang tamu ini, yang benar saja." Jawab Zayen berusaha untuk menenangkan istri tercintanya.
Afna pun tersenyum mendengarnya, ia baru menyadarinya bahwa dirinya mulai mudah terpancing oleh suasana yang membuatnya sensitif. Kedua orang tua Zayen hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Ceklek.
Zayen pun segera masuk ke kamar ayah asuhnya, kemudian diikuti istrinya dan kedua orang tuanya dari belakang.
Saat berada di ruang kamar milik orang tua asuhnya, Zayen mulai mencari tempat yang terbilang rahasia. Kedua mata milik Zayen tertuju pada sebuah lemari yang terbilang sangat besar.
'Lemari ini benar benar sangat besar, bahkan dari ukirannya pun begitu rumit. Apakah didalam lemari ini ada sesuatu yang telah dirahasiakan? semakin penasaran.' Batinnya sambil menatap lekat sebuah lemari yang ada dihadapannya.
Sedangkan kedua orang tuanya ikut mencari disekitaran kamar milik orang tua asuh putranya. Berbagai macam tumpukan buku buku, tuan Alfan membacanya satu persatu. Takut, jika ada sesuatu yang menyelip dihalaman buku tersebut yang cukup banyak berjejer rapi di rak buku.
Afna sendiri hanya bisa mematung diri, ia bingung harus memulainya. Ditambah lagi Afna tidak mengerti caranya untuk memeriksa sesuatu yang sangat penting. Karena dirinya sendiri tidak begitu mengerti masalah yang tengah dihadapan mertuanya maupun suaminya itu. Dari pada membuat kesalahan, Afna memilih diam dan tidak melakukan apapun.
Karena rasa penasarannya yang begitu menggebu, Zayen segera membuka lemari yang membuatnya sangat penasaran dengan isi didalamnya.
Setelah lemari tersebut dapat dibuka, didalaknya sama sekali tidak terlihat ada tanda tanda apapun dari lemari tersebut. Bahkan hanya beberapa pakaian yang ada didalamnya, lemarinya pun terlihat mulus tanpa ada yang membuatnya curiga.
Namun, seketika itu juga. Pikiran Zayen teringat saat dirinya masih kecil, tidak disengaja Zayen masuk kedalam kamar milik ayah asuhnya.
'Aaah iya, aku ingat. Papa pernah menggerutu, tapi aku tidak begitu perduli dengan ucapan Papa dulu. Papa pernah berucap bahwa dibalik lemari ini ada lemari tipis yang posisinya gabung dengan tembok. Aku yakin, pasti didalamnya lah ada sesuatu yang tersembunyi.' Batin Zayen berusaha mengingatnya.
Zayen pun langsung menyingkirkan pakaian pakaian yang berada didalam lemari tersebut, seketika itu juga kedua orang tuanya kaget dibuatnya.
"Zayen, apa yang sedang kamu lakukan? kenapa pakaiannya kamu singkirkan? apakah ada sesuatu? katakan." Tanya sang ayah pensaran.
"Coba Papa, Mama, dan kamu, Afna. Lihatlah baik baik lemari ini, apakah ada sesuatu yang mengganjal?" tanya Zayen balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak ada yang mencurigakan, lemarinya sangat mulus." Jawab sang ayah dengan apa yang dilihatnya.
"Iya, Nak. Benar banget dengan apa yang dikatakan Papa kamu, bahwa lemarinya terlihat mulus dan tidak ada yang mencurigakan." Ucap sang ibu ikut menimpali.