Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Menyesali


__ADS_3

Seyn yang mendengarnya pun sangat geram dan kesal tentunya.


"Das*ar! baji*ngan kamu. Asal kamu tahu saja, bahwa kamu tidak jauh dari wanita mur*ahan, cuih! menjijikkan." Ucap Seyn sambil sedikit meludah didepan mantan istrinya.


"Terserah! kamu mau bilang apa, aku sudah bosan denganmu. Kamu laki laki yang tidak mengun*tungkan, sangat merugikan." Jawab Reina dengan sinis tanpa merasa malu sedikitpun meski ada orang orang yang ia kenal, siapa lagi kalau bukan Afna mantan sahabatnya dan Kazza juga tentunya. Hanya karena pernah ditolak Kazza, Reina melakukan hal konyolnya untuk membalaskan dendam melalui adiknya.


Tanpa menunggu lama, Reina segera pergi meninggalkan Seyn yang masih berdiri dengan nafasnya yang dirasa sesak menahan kekesalannya yang terpendam didalam hatinya.


Tanpa pikir panjang, Kazza segera menelfon Viko anak buah Zayen untuk melakukan penyelidikan pada Reina mantan istri Seyn.


Seyn yang kembali mendengar ucapan Reina pun terasa geram atas pernyataan dari bekas istrinya sendiri yang benar benar diluar dugaannya, sebisa mungkin Seyn untuk tidak terpancing emosinya. Berharap semua masalah segera terselesaikan dalam waktu yang sesingkat mungkin, meski harus bersabar untuk menunggunya.


Zayen yang menyaksikannya ikut merasa tidak terima atas perbuatan Reina terhadap istrinya dan juga kakaknya yang dengan mudahnya untuk melakukan perbuatan lak*natnya.


Nasi telan menjadi bubur, tidak akan dapat dikembalikan seperti semula. Itulah gambaran pada Seyn, yang kini hanya tinggal penyesalan yang dimilikinya. Seyn sendiri tidak dapat menyalahkan siapapun atas musibah yang ia terima atas perbuatannya sendiri.


Penyesalan tinggal lah penyesalan yang begitu dalam, itulah yang dirasakan oleh Seyn saat ini. Tidak ada satupun yang ia dapatkan selain penyesalan yang ia terima.


Calon istri bagai berlian dengan mudahnya ia buang dalam waktu dekat menjelang hari pernikahan, bahkan dengan mudahnya ia berikan kepada sang adik yang jelas jelas tidak mencintainya. Kini baru ia menyesali atas pilihannya sendiri, semuanya yang Seyn miliki telah hilang begitu saja tanpa ada yang tersisa sedikitpun. Bahkan dirinya harus kehilangan orang tuanya dan kini Seyn merasa bahwa dirinya telah menjadi sebatang kara dalam hidupnya.

__ADS_1


Kazza yang melihat kesedihan pada Seyn pun ikut merasa iba atas kepahitan yang kini Seyn dapatkan. Tidak hanya itu, Kazza sendiri yang melihat perbuatan Reina terhadap Seyn ikut geram atas perbuatannya yang selama ini ikut andil dalam kecelakaan saudara kembarannya, dengan yakin Kazza akan segera memenjarakannya.


Afna yang mendengar kebenarannya pun ikut merasa teriris hatinya, dirinya benar benar tidak pernah menyangka atas perbuatan dari sahabatnya sendiri yang telahmencelakainya.


Cinta yang pernah ia pertahankan dengan Seyn harus musnah hanya karena benalu yang tanpa memiliki rasa malu atas perbuatannya. Afna merasa lega setelah mendengar tuduhan Seyn pada mantan istrinya yang mengatakan tentang kebenarannya.


Zayen yang berada di balik jeruji besi tiba tiba merasa dilema atas pikirannya, Zayen terfikirkan atas statusnya sang kakak yang kini sudah bercerai dengan istrinya. Ditambah lagi Seyn pun rupanya belum juga menyentuh istrinya, semua yang Seyn lalui hanya jebakan dan permainan dari Reina mantan istrinya. Disaat ini juga Zayen benar benar menyimpan rasa ketakutan, Zayen dilema jika rumah tangganya akan diuji kembali dengan hadirnya sang kakak masuk dalam hubungannya bersama istri yang dicintainya.


Dengan kasar Zayen mengeluarkan nafasnya, berharap pikiran buruknya segera pergi menjauhinya. Sedangkan Kazza segera mendekati Seyn untuk mencoba menenangkan pikirannya.


"Seyn, kamu yang sabar. Aku akan segera menyeret mantan istrimu untuk menjadi penghuni tahanan ini, aku pastikan akan mendekam seumur hidupnya." Ucap Kazza mencoba untuk menenangkan Seyn yang tengah dirundung kekesalan.


"Jadikan semua ini pelajaran untuk kita, tidak hanya kamu yang bersalah. Akupun ikut bersalah atas perbuatanku terhadap Afna, sama halnya denganmu yang juga ikut membuat kesalahan. Kita sama sama belajar dari semua perbuatan kita, dan aku yakin kita pasti bisa untuk memperbaikinya." Ucap Kazza, kemudian keduanya saling memeluk dan menepuk punggung satu sama lainnya.


Seyn pun mendekati Afna, Zayen yang melihatnya memasang pendengarannya dengan sangat serius. Berharap, pikiran buruknya tidak akan pernah terjadi.


"Afna, maafkan semua atas kesalahanku terhadapmu. Aku menyesali atas perbuatanku selama ini terhadapmu, dan aku tidak akan lagi mudah mendapatkan hasutan yang kedua kalinya. Sekali lagi maafkan aku, maafkan aku." Ucap Seyn penuh sesal yang telah melukai perasaan wanita yang pernah ia singgahi hatinya.


"Aku sudah memaafkanmu dari dulu, dan aku mohon jangan mengganggu hubunganku lagi bersama Zayen adik laki lakimu. Aku sudah sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya. Sungguh, ia sangat berarti untukku. Bahkan aku bisa gila jika perpisahan terjadi padaku, aku tidak sanggup." Jawab Afna yang masih ada rasa takut akan perbuatan Seyn, Afna benar benar trauma mengingat tatkala Seyn mengatakan tidak mencintainya dengan terang terangan.

__ADS_1


"Terimakasih jika kamu sudah memaafkan aku. Kamu tenang saja, aku tidak akan mengganggu hubungan kamu dengan Zayen. Aku tahu rasanya sakit itu seperti apa jika harus berpisah, sangat menyakitkan." Ucap Seyn berusaha meyakinkan mantan kekasihnya dulu.


Zayen yang mendengar penuturan dari istri tercintanya merasa tenang dan juga lega tentunya, seseorang yang sangat dicintainya kini telah mengutarakannya dengan jujur tanpa ada rasa malu sedikitpun. Seyn yang mendengarnya pun sedikit tersindir akan pernyataannya diwaktu ia membatalkan pernikahannya. Mau tidak mau, Seyn harus menerimanya dengan lapang.


"Maaf, waktu anda sudah habis. Silahkan kembali masuk kedalam sel tahanan, obrolan kalian bisa dilanjutkan dihari esok." Ucap salah satu petugas untuk memperingatkan. Dengan langkah kaki yang berat, Seyn terpaksa masuk kedalam bersama yang lainnya.


Dengan langkahnya yang pelan Afna kembali mendekati suaminya untuk berpamitan pulang, meski sangat berat untuk ia ucapkan.


"Aku pamit pulang ya, sayang ..." ucap Afna yang bingung harus mengucapkan apa.


"Iya, hati hati denganmu. Jaga diri kamu baik baik, maafkan aku yang tidak bisa berada disisi kamu. Aku berjanji aku akan segera kembali untukmu dan calon buah hati kita, dan kita akan mewujudkan mimpi mimpi kita yang tengah tertunda. Bersabarlah untuk menungguku kembali, percatayalah denganku." Jawab Zayen tersenyum dan berusaha untuk menenangkan istrinya agar tidak larut dalam sedihnya. Afna pun ikut tersenyum, berharap sang suami tidak terlalu banyak memikirkan keadaannya.


"Kita pulang ya, Zayen dan Seyn. Jaga diri klan berdua baik baik, aku akan berusaha untuk membantu kalian berdua agar segera lepas dari tahanan yang terk*utuk ini." Ucap Kazza menimpali dan berpamitan.


"Terimakasih," jawab keduanya.


"Aku titipkan istriku padamu kak, maafkan aku yang sudah merepotkanmu." Ucap Zayen yang merasa tidak enak hati, Kazza pun tersenyum.


"Sudah sudah ... waktu kalian sudah habis." Ucap salah satu petugas.

__ADS_1


__ADS_2