Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Benar benar tidak disangka


__ADS_3

Afna masih diam didekat pintu, perasaannya pun masih dihantui dengan sesuatu yang menakutkan.


"Kenapa masih diam, sayang. Buka saja pintunya, jangan takut." Ucap Zayen meyakinkan. Dengan yakin, Afna membuka pintu.


Ceklek, Pintu pun terbuka dari dalam. Kedua matanya pun terbelalak saat melihat sosok yang sulit untuk diungkapkan. Bukannya ketakutan, justru Afna bergidik ngeri melihatnya.


"Kamu siapa?" tanya Afna masih penasaran.


"Tara ... aku Viko. Ingat, V-i-k-o." Jawabnya sambil mengeja namanya dan membuka rambut palsunya. Afna langsung tertawa lepas, Zayen semakin bingung dibuatnya.


"Kamu bukan Viko, tetapi Vika." Ledek Afna dengan tawanya.


"Silahkan masuk." Ucap Afna mempersilahkan, sedang Zayen melihatnya pun bergidik ngeri sambil menelan salivanya susah payah.


"Sayang, yang benar saja kamu. Menapa bisa bisanya kamu memasukkan orang gila ke ruangan ini. Usir dia, aku tidak mengenalnya." Ucap Zayen bergidik ngeri saat melihat penampilan wanita jadi jadian.


"Bos!! jangan gila, dong! nih lihat. Aku Viko, V-i-k-o. Ingat? jika tidak ingat, syukurlah. Aku tidak pusing pusing membantumu keluar dari sel tahanan." Ucap Viko berdiri didekatnya dan sambil membuka rambut palsunya.


"Sialan! kamu, Vik! aku kira benar benar gila beneran." Jawab Zayen, kemudian tertawa kecil.


"Apa kabarnya, Bos. Aku tidak bisa lama lama, karena aku juga tersangka sekaligus buronan." Ucap Viko dengan tatapan serius, Afna yang mendengarnya hanya menatapnya sambil memperhatikan suaminya mengobrol dengan teman dekatnya.


"Nona, aku pinjam suami kamu sebentar. Tidak lama kok, hanya ingin membicarakan sesuatu saja. Jika kamu ingin mendengarkannya pun juga tidak apapa, aku tidak melarangnya." Ucap Viko menjelaskan, Afna hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

__ADS_1


"Cepat, katakan. Ada apa kamu datang kemari, awas! jika kamu sampai ceroboh. Umurmu akan bertahan di sel tahanan, ngerti." Tanya Zayen yang sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari sahabat baiknya.


"Bagaimana ya, Bos. Takut istrinya Bos Zayen akan marah besar, bagaimana kalau aku tulis saja lewat kertas putih. Tapi, kelamaan. Begini saja, mendingan Bos Zayen lebih baik mendengarkan saja rekaman ini. Lebih aman dan lebih jelas juga, pastinya." Jawab Viko mencari cari.


"Terserah kamu saja, mana ... cepat, berikan langsung kepadaku." Ucapnya yang sudah tidak sabar lagi.


"Baiklah, akan aku berikan rekamannya." Jawab Viko sambil merogoh saku pada celananya untuk mengambil sebuah ponselnya dan headsetnya.


Sambil merogoh saku celananya, kedua mata Viko tertuju kearah Afna yang kebetulan juga Afna menengok kearah Viko.


'Semoga saja, Nona Afna tidak mencurigaiku. Mam*pus gue, jika Nona berprasangka buruk terhadapku. Maafkan aku ini, Nona. Jika aku mengatakan langsung di depan suami kamu, maka yang ada kamu akan membenci kita berdua. Disangkanya kita seorang laki laki penggosip, sungguh terlalu jika itu terjadi.' Batin Viko sedikit takut menjadi sasaran prasangka buruk dari istri sahabatnya sendiri.


"Ini, Bos. Dengarkan baik baik, dan jangan sampai terlewatkan." Ucap Viko sambil menyodorkan sebuah ponsel dan juga headsetnya untuk mendengarkan penjelasan yang akan disampaikannya oleh Viko.


"Awas, kalau sampai yang aku dengar ini adalah suara anu inu ina. Akan aku jadikan kamu jaminanku, ngerti." Ucapnya.


"Makanya, buruan menikah. Agar tidak menjadi jomlo ngenes, Vik." Ledeknya sambil memasang headsetnya dan membuka kunci layar pada ponsel milik Viko.


Afna masih dengan rasa penasarannya, namun berusaha untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan kecurigaannya terhadap sangat suami dan sahabat suaminya yang sudah menjadi kaki tangan suaminya itu.


Dengan seksama dan serius, Zayen membuka rekaman milik Viko. Sedikit demi sedikit, Zayen menambahkan jumlah volumenya agar terdengar dengan jelas didengarnya.


Zayen begitu serius mendengarnya, seketika itu juga dirinya tercengang seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Zayen mengulangi kalimat dari Viko, takutnya salah mendengarkannya. Zayen pun menambah volumenya hingga full.

__ADS_1


'Yang melaporkan adalah saudara kembar istrimu, Bos. Yang tidak lain adalah Kazza Danuarta! kakak ipar Bos Zayen, Kazza mendapat petunjuk markas kita juga dari papa kandung Bos Zayen melalui anak buahnya. dan dalang dibalik hasutan Kazza, yang tidak lain adik ipar dari ayah asuh Bos Zayen. Sekarang telah bersembunyi entah dimana keberadaannya yang sekarang, orang tua asuh Bos Zayen hanyalah dijadikan kambing hitam. Sasaran selanjutnya adalah Seynan yang masih bisa dijadikan umpan.'


JEDDUAR!!! Zayen terasa tersambar petir mendengarnya, dan dirinya benar benar tidak menyangka jika kakak iparnya lah yang sudah melakukan rencananya. Dengan kuat, Zayen meremas bantal yang ada disampingnya.


"Benarkah semua yang kamu katakan, Vik?" tanya Zayen dengan nafasnya yang sedikit sesak untuk manarik nafasnya pelan.


"Benar, Bos." Jawabnya singkat, Afna yang melihat raut wajah suaminya pun seperti tidak percaya.


Zayen terlihat sedang menunjukkan amarahnya, dan kekesalannya. Kedua sorot matanya mendadak terlihat sangat tajam, rahangnya pun terlihat jelas mengeras. Afna segera mendekati suaminya, berharap bisa menenangkan emosi yang sedang menguasai pikirannya.


"Vik, apa yang kamu lakukan. Kenapa suamiku terlihat emosi dan seakan ingin menunjukkan amarahnya." Tanya Afna yang juga sedikit kesal dengan Viko, karena semua bersumber dari ponsel milik Viko.


"Maaf, Nona. Aku tidak bermaksud untuk membuat Bos Zayen kesal, dan yang aku lakukan ini ada benarnya. Untuk Nona, jangan salah menduga dan berprasangka buruk terhadapku maupun Bos Zayen. Jangan khawatir, kita berdua tidak lagi dalam bisnis yang dulu. Tetapi, kota berdua sedang melakukan penyelidikan siapa dalang penculikan suami Nona." Jawab Viko sejujur mungkin, dan sejelas mungkin. Afna yang mendengarnya pun tiba tiba teringat akan kesalahan dari saudara kembarnya, yaitu Kazza.


"Sudah, sayang. Kamu jangan ikut memikirkan masalah yang tidak perlu kamu pikirkan, ini urusanku dengan Viko. Kamu cukup doakan suami kamu ini, semoga tidak ada lagi kebencian maupun dendam yang berkepanjangan." Ucap Zayen sambil menatap istrinya dengan serius.


"Kamu yakin? kenapa kamu tidak meminta bantuan papa kamu, bukankah papa kamu juga memiliki banyak anak buah yang handal." Jawab Afna menatap lekat wajah suaminya.


"Kamu tenang saja, sayang. Kamu jangan khawatir, semua akan baik baik saja. Yang terpenting jaga kesehatan kamu, dan dijaga pola makannya." Ucap Zayen berusaha untuk meyakinkan istrinya.


Tok tok tok tok, suara ketukan pintu kini terdengar lagi. Afna dan Zayen kembali saling beradu pandang satu sama lin. Afna pun kembali merasa takut, saat mendengar ketukan pintu yang terdengar sangat jelas.


"Aku takut, sayang." Ucap Afna dengan cemas.

__ADS_1


"Mungkin saja, Mama yang mengetuk pintunya." Jawab Zayen menebaknya.


"Bagaimana ini, Bos. Kalau yang masuk pihak dari kepolisian, aku juga takut. Apa perlu aku bersembunyi? katakan, Bos." Tanya Viko yang juga ikut cemas memikirkannya.


__ADS_2