Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pertemuan


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, namun tidak secerah paginya Afna. Dengan malas, Afna masih berada didalam kamarnya. Terasa enggan untuk menuruni anak tangga, ia memilih untuk tidak keluar dari kamarnya itu.


Tok tok tok tok.


Suara ketukan pintu tengah membuyarkan lamunan Afna yang masih duduk didepan cermin sambil melihat beberapa foto dalam album pernikahannya bersama sang suami yang tidak pernah disangkanya.


"Masuk saja, pintunya tidak di kunci." Sahut Afna dari dalam.


Ceklek. Pintu pun terbuka dari luar, dilihatnya Afna yang masih dengan posisinya.


"Afna, kamu sedang apa?" tanya sang ibu mendekati putrinya.


"Eh, Mama. Ada perlu apa, Ma?" jawab Afna dan bertanya.


"Tidak ada perlu apa apa, sayang ... hari ini papa dan papa mertua kamu mau menjenguk suami kamu. Apakah kamu mau ikut? jika ia, bersiap siaplah. Setelah selesai bersiap siap segeralah turun, dan kita akan sarapan pagi bersama." Jawab ibunya memberi penjelasan.


"Mama tidak bohong, 'kan?" tanya Afna yang masih belum percaya.


"Mama tidak bohong, meksnya cepetan bersiap siap. Papa dan kak Kazza sudah menunggumu di ruang makan, setelah sarapan baru berangkat menjenguk suami kamu." Jawab sang ibu memcoba meyakinkan putrinya.


"Terimakasih ya, Ma. Kalau begitu, Afna mau bersiap siap dulu." Ucap Afna tersenyum mengembang.


"Jangan lupa, dandan yang cantik." Ledek sang ibu dan keluar dari kamar putrinya, Afna sendiri hanya tersenyum tipis karena malu.


Dengan bersemangat, Afna merubah penampilannya agar terlihat tidak pucat. Setelah selesai bersiap siap, Afna segera keluar dari kamarnya. Dengan pelan dan sangat hati hati, Afna menuruni anak tangga.


Sesampainya di ruang makan, Afna segera duduk dengan rapi.


Kazza pun memperhatikan penampilan saudara kembarannya itu, dilihatnya ada perubahan dengan penampilan Afna.


"Cie ... yang lagi mau ketemuan dengan sang pacar, eh salah. Yang benar itu sama suami tercinta dan tersayang, ah! sampai lupa." Ledek Kazza yang berada didepan Afna.


"Hem! bilang saja kalau kakak sudah memiliki calon istri, pakai ngeledek aku segala. Tidak ada yang lucu, tau." Jawab Afna dibuat ketus, kemudian mengambil beberapa porsi makan untuk dirinya.


Sebisa mungkin, Afna untuk menepis pikiran buruknya terhadap sang suami. Namun, tetap saja tidak bisa untuk menepisnya. Bayang bayang suaminya selalu menghantui pikiran Afna, hingga dirinya sulit untuk mengontrol perasaannya yang dipenuhi kecemasan terhadap suaminya sendiri.


"Afna, jangan lupa vitamin dan susunya diminum ya, sayang." Ucap sang ibu mengingatkan, Afna pun mengangguk dan menikmati kembali sarapan paginya.

__ADS_1


"Kak Kazza, mau ikut atau tidak?" tanya Afna sambil menyuapinya sendiri.


"Maafkan kakak, jik kakak tidak bisa ikut menemanimu. Kakak ada urusan penting dengan Viko, semoga ada jalan keluar untuk membebaskan suami kamu." Jawab Kazza mencoba meyakinkan saudara kembarannya.


"Terimakasih ya, Kak. Semoga usaha kakak dan Viko berhasil, Afna sangat berharap suami Afna segera dibebaskan. Afna sudah sangat merindukannya, bahkan sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya setiap harinya." Ucap Afna sedikit merasa tenang, saat mendegar semua telah berusaha untuk membebaskan suaminya.


"Habiskan dulu sarapannya, nanti dilanjutkan kembali jika sudah selesai sarapan paginya. Tidak baik saat masih menikmati makanan sambil mengobrol, takut nanti akan tersedak." Ucap sang ayah mengingatkan.


"Iya, Pa ..." jawab Afna dan Kazza serempak. Setelah itu, keduanya kembali menikmati sarapan paginya sampai habis tidak tersisa di piringnya masing masing.


Setelah selesai sarapan pagi, Afna dan sang ayah segera bersiap siap kembali.


"Afna, maafkan Mama tidak bisa menemani kamu menjenguk suami kamu. Nanti mama mertua kamu yang akan menemani kamu, jadi kamu tidak akan sendirian." Ucap sang ibu dengan lekat menatap wajah putrinya.


"Tidak apa apa kok, Ma. Lagian juga Papa ikut menjenguk suami Afna, Mama tidak perlu khawatir." Jawab Afna, kemudian tersenyum.


"Salam buat Zayen suami kamu, mama hanya bisa berdoa untuknya. Semoga suami kamu segera dibebaskan dengan cara yang mudah, dan bisa kembali lagi tinggal bersamamu. Untukmu, bersabarlah. Mama yakin kamu dan Zayen pasti bisa untuk melewatinya, kamu cukup berdoa." Ucap sang ibu mencoba untuk meyakinkan putrinya. Afna hanya mengangguk dan menjawabnya lirih.


"Kalau begitu, Afna pamit. Untuk Kak Kazza, Afna hanya bisa bantu doa. Semoga usaha kak Kazza dan Viko berhasil." Ucap Afna berpamitan, kemudian meninggalkan rumah bersama Papanya.


Didalam perjalanan, Afna hanya bisa diam dan sambil melihat luar lewat jendela kaca mobilnya. Sesekali ia membayangkan sosok suaminya yang sangat ia rindukan, tiba tiba dirinya teringat sesuatu.


"Kamu mau meminta apa? katakan saja."


"Afna pingin beli beberapa porsi ayam geprek, sudah lama Afna tidak menikmatinya bersama suami Afna. Papa tidak melarang Afna, 'kan?" pinta Afna dengan tatapan memohon.


"Kenapa Papa mesti melarangmu, Nak ... memangnya kamu mau mau beli dimana?" tanya sang ayah penasaran.


"Afna maunya di tampat langganan Afna, tapi ... Afna sedikit takut jika ada seseorang yang menyudutkan Afna karena suami Afna tengah dipenjara." Jawab Afna yang tiba tiba berubah sedih.


"Kenapa kamu bersedih, bahkan papa mertua kamu sudah mengakuinya di media manapun dan meluruskan tentang siapa suami kamu yang sebenarnya. Bahwa Zayen adalah putranya yang tengah hilang, dan terjebak dalam dunia hitamnya. Kamu tidak perlu khawatir, percayalah dengan Papa." Ucap sang ayah meyakinkan putrinya agar tidak terlalu cemas mengkhawatirkan tentang dirinya dan juga suaminya.


"Afna percaya sama Papa, dan tidak begitu mencemaskannya lagi." Jawab Afna dengan tenang, meski dirinya sendiri masih ada rasa sedikit takut tentang pembicaraan dari orang orang yang akan memojokkannya.


"Kita beli ayam gepreknya di tempat yang pernah kita beli ya, Pa ..." pinta Afna, sang ayah pun mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama kemudian, Afna dan sang ayah telah sampai ditempat penjual ayam geprek. Dimana lagi kalau bukan di tempat yang biasa Afna dan Zayen menikmati ayam gepreknya berduaan.

__ADS_1


Setelah sampai didepan warung makan, Afna segera melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobilnya. Dengan langkah kakinya yang pelan, Afna segera masuk kedalam warung untuk memesan beberapa porsi ayam geprek.


"Eeeh, nak Afna. Apa kabarnya, nak?" sapa ibu penjual ayam geprek.


"Ibu, kabar Afna baik baik saja. Ibu sendiri, bagaimana kabarnya?" jawab Afna dan balik menyapa.


"Kabar ibu juga baik, tumben pagi pagi sudah mendatangi warung ibu. Ada apa ya, nak Afna?" tanyanya penasaran.


"Afna mau pesan ayam geprek 20 porsi, Bu." Jawab Afna.


"Banyak banget, nak Afna ada acara?" tanyanya lagi.


"Tidak, tapi untuk makan bersama." Jawab Afna beralasan.


"Ooh! kirain ada acara apa. Ditunggu sebentar ya, ibu mau menyiapkan pesanan kamu." Ucapnya.


"Tidak perlu Bu, nanti akan ada yang mengambilnya. Saya mau pamit langsung, karena masih ada urusan lagi." Jawab Afna.


"Baik, Nak Afna." Ucapnya, setelah itu Afna langsung pergi dari warung makan.


Didalam perjalanan, Afna berusaha untuk menenangkan dirinya. Berharap tidak lagi menunjukkan kesedihannya didepan suami yang sangat ia rindukan.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, Afna dan ayahnya pun telah sampai ditempat yang dimana suaminya singgah.


Afna masih berusaha untuk mengatur pernafasannya, berharap pikirannya tetap tenang dan tidak terbawa suasana yang begitu menyiksa batinnya.


Disaat pikirannya dirasa sedikit tenang, Afna segera melepas sabuk pengamannya. Kemudian, ia membuka pintu mobilnya dan keluar.


Ditatapnya sebuah tempat tinggal yang begitu menyakitkan untuk diingatnya, sungguh menyakitkan dan membuat sesak didadanya.


"Afna, ayo kita masuk. Jangan terlalu kamu fikirkan yang berlebihan, kasihan calon buah hati kamu jika kamu terus terusan bersedih." Ucap sang ayah mengagetkan.


"Iya, Pa. Maafkan Afna yang banyak melamun, Afna tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Afna berusaha untuk tegar, meski sebenarnya sangat rapuh.


Sesampainya didalam ruangan, kini sudah ada kedua orang tua suaminya yang sedang mengobrol bersama. Afna masih berdiri tidak jauh dari pandangan suaminya, disaat itu juga Zayen tengah menoleh kearah wanita yang sangat ia rindukan dan sangat ia cintai.


Keduanya saling melempar pandangan satu sama lain, seakan sudah habis rasa kesabarannya.

__ADS_1


Otornya belum masak, cusss ke dapur. 😃😃


__ADS_2