Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kumpul bersama keluarga.


__ADS_3

Masih dalam perjalanan, Afna masih diam dan pandangannya fokus lurus kedepan. Begitu juga dengan Zayen, dirinya fokus pada setirnya dan tanpa menoleh ke sisi kanan kiri.


Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Zayen telah berada didepan rumah milik orang tuanya. Afna pun celingukan ke sana kemari, dilihatnya tidak ada perubahan pada kondisi sekitaran rumah milik orang tua Zayen.


"Apa kamu sudah yakin?"


"Aku yakin, dan aku sanggup untuk menghadapi semuanya."


"Baiklah. Ayo, kita turun." Ajak Zayen sambil melepaskan sabuk pengamannya, Afna pun ikut melepaskannya.


"Aku minta jangan gendong aku, karena aku tidak mau terlihat lemah dimata keluarga kamu."


"Baiklah, aku hanya tidak ingin melihat kamu kelelahan."


"Kalau kamu selalu gendong aku, kapan aku ada waktu untuk berjalan." Jawabnya, kemudian Zayen segera turun dan membantu sang istri untuk menggunakan alat bantu penyangga tubuhnya.


Dengan yakin, Afna berusaha untuk bisa berjalan. Meski sedikit terasa sakit, tetapi berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya. Malu tidak malu, Afna berusaha untuk tegar.


Zayen dan Afna berjalan beriringan, keduanya sudah berada di dalam rumah. Hanya saja, keduanya masih berada di ruang tamu. Afna teringat saat dirinya dibawa ke rumah tuan Arganta, yang tidak lain bersama Seyn. Kala itu, Afna diperkenalkan oleh Seyn kepada ayahnya. Tuan Arganta pun begitu hangat menyambutnya, dan membuat Afna semakin yakin dengan keluarga Seyn. Namun, kenyataannya sekarang dirinya menikah dengan Zayen yang tidak lain adalah adik mantan kekasihnya.


"Kenapa kamu berhenti, ada yang kamu pikirkan?" tanya Zayen penasaran, tiba tiba Afna berhenti dan melamun di ruang tamu.


"Aku hanya sedang mengatur pernapasanku, itu saja. Aku tidak ingin terlihat pecundang seperti yang orang lain katakan." Jawabnya sedikit gugup, dirinya takut jika akan salah berucap dan terpancing emosinya.


"Ayo, kita ke ruang keluarga. Papa dan kak Seyn sepertinya sudah menunggu kita." Ucapnya, Afna pun hanya mengangguk.


"Wah .... rupanya kamu datang juga, Zayen." Sapa Seyn sambil melirik ke arah Afna yang tidak disangkanya terlihat sangat cantik, meski berpenampilan sederhana.

__ADS_1


Zayen yang melihat Seyn melirik ke arah istrinya, dengan sigap langsung menuntun Afna untuk segera duduk di sofa.


Seyn pun ikut duduk dengan posisi di depan Afna, Zayen pun sangat geram saat kakaknya begitu fokus memandangi istrinya.


"Afna, bagaimana kabar kamu? selamat datang di rumah ini, semoga kamu tidak lagi canggung. Maafkan aku atas kesalahanku terhadap kamu, andai saja kamu mengetahui yang sesungguhnya. Aah! sudahlah, tidak penting. Sekarang kamu sudah mempunyai suami, tidak perlu mengungkit masa lalu." Ucap Seyn sambil melirik ke arah Zayen.


Sedangkan Zayen begitu geram saat mendengar ucapan dari sang kakak. Darahnya pun mendidih, jantungnya pun ikut bergemuruh. Kedua tangannya pun mengepal kuat, sebisa mungkin Zayen menahan amarahnya. Dirinya tidak ingin membuat suasana terlihat mencekam dan terjadi adu mulut, bahkan bisa saja adu tonjok.


Sedangkan Afna hanya diam, tidak berani untuk menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya. Dirinya tidak ingin menambah masalah, dan juga tidak ingin salah berucap. Ditambah lagi suaminya, yang terkadang bisa marah yang tidak jelas. Sebisa mungkin Afna untuk tidak merespon ucapan yang kiranya memancing suasana.


"Kabar istriku baik baik saja, seperti yang kamu lihat. Tidak terlihat buruk, 'kan?"


Seyn pun tidak merespon sang adik, dirinya pun ikut kesal saat Afna tidak menjawab pertanyaannya. Justru yang menjawab pertanyaan darinya adalah Zayen, yaitu sang adik yang kini sudah menjadi suami sah mantan kekasihnya.


"Dimana papa, kenapa tidak terlihat."


"Dimana kakak ipar, sepertinya dari tadi tidak terlihat."


"Masih berada di kamar, sebentar lagi juga turun. Oh iya, sebentar lagi pernikahan ku dan Reina akan diadakan resepsi. Aku berharap kalian berdua datang, jang sampai tidak." Jawabnya.


"Aku tidak bisa janji, bisa saja aku ada acara dengan istriku. Bulan madu, atau... yang lainnya." Ucap Zayen tersenyum pamer, sedangkan Seyn terasa panas saat mendengar ucapan dari sang adik.


Seyn sangat kesal, ditambah lagi Afna semakin terlihat cantik dan tidak lagi memakai kursi roda. Yang berarti bisa dipastikan akan sembuh dari sakitnya, dan akan kembali normal seperti dulu.


Tidak lama kemudian, sang Ayah kini telah melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Zayen segera beranjak berdiri dan menghampiri untuk memberi hormat kepada ayahnya.

__ADS_1


"Selamat malam, Pa. Apa kabarnya?" sapanya basa basi, kemudian Zayen mencium punggung tangan milik ayahnya.


Afna berusaha bangkit dari tempat duduknya, dirinya pun ingin menyapa ayah mertuanya sebagaimana mestinya. Seyn yang melihat Afna sedang beranjak berdiri, dengan sigap mendekatinya.


Namun sayangnya, Zayen sudah lebih sigap dari Seyn. Zayen langsung membantu istrinya untuk berdiri. Seyn yang melihatnya hanya bisa berdecak kesal di dalam hatinya, kedua tangannya pun ikut reflek mengepal sangat kuat.


Zayen tersenyum sinis sambil melirik kearah sang kakak. Situasi yang terlihat panas, ternyata sudah diperhatikan oleh Reina. Siapa lagi kalau bukan istri Seyn yang dinyatakan tengah menghamilinya. Sebenarnya Seyn sendiri masih dilema, dirinya masih belum mempercayai dengan janin yang sedang di kandung oleh istrinya. Pasalnya, Reina adalah wanita biasa yang tengah mengaku anak orang kaya. Dan ternyata setelah keduanya melakukan hubungan terlarangnya, Seyn baru mengetahui kedoknya. Mau tidak mau, Seyn akan menikahinya.


Setelah Zayen membantu istrinya berdiri, Afna segera mendekati ayah mertuanya. Namun, orang tua Zayen melarang Afna untuk melangkahkan kakinya. Tuan Arganta tidak ingin telihat buruk dimata menantunya itu, apapun keadaannya tetap bersikap baik dengan istri putranya.


"Diamlah disitu, biar papa yang mendekati kamu." Tuan Arganta segera mendekati menantunya yang masih berdiri didekat tempat duduknya, Afna hanya nurut dengan ayah mertuanya.


"Selamat malam, Pa .. apa kabarnya?" sapa Afna seramah mungkin. Afna pun tidak lupa untuk mencium punggung tangan milik ayah mertuanya.


"Kabar papa sangat baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"


"Kabar Afna juga sangat baik, Pa."


"Syukurlah, bagaimana rasanya kamu tinggal bersama Zayen?"


"Sangat nyaman, Pa. Ditambah lagi rumah yang sangat sederhana, Afna benar benar mendapat pelajaran berharga. Suami Afna juga sangat perhatian, ditambah lagi jago memasak. Afna benar benar sangat nyaman tinggal bersamanya, Pa." Jawabnya sebaik mungkin, karena dirinya tidak ingin membuat suaminya kesal. Ditambah lagi ada mantan kekasih di hadapannya.


"Syukurlah, jika kalian berdua bersedia tinggal ditempat ini pasti papa sangat senang. Tetapi itu semua pilihan kalian, papa tidak memaksanya."


"Maaf, Pa. Sebenarnya Afna sudah nyaman tinggal di rumah sederhana milik suami Afna." Jawabnya mencoba meyakinkan.


Reina yang mendengarnya pun sangat kesal, karena mengira bahwa Afna akan merasa tersiksa menjadi istrinya Zayen yang seperti preman. Tetapi justru Afna terlihat baik baik saja dan tidak merasa tertekan.

__ADS_1


__ADS_2